
...Chapter 60. Lazio dan Gadis Pendeta...
Kehidupan bermalas-malasan dengan banyak anak buah disekitar mengerjakan semua pekerjaan adalah mimpi ku dari dahulu.
Dan, di dunia lain ini aku mewujudkan nya.
Lepas dari cerita hidup, ada juga banyak pemuda yang pekerja keras di Dungeon ku ini demi untuk melindungi sosok yang dia sukai.
Pemuda Lazio, seorang kepala desa Meiya.
Lazio sosok pemuda yang ramah dan pekerja keras dalam menangani setiap permasalahan desa baik di luar ataupun didalam melihat dedikasi yang begitu besar.
Aku pun mengizinkan untuk memakan buah Evolusi dan merubahnya menjadi ras High Human disertai kemampuan baru nya yaitu
Unique Skill - Modelling.
Sebuah skill yang mampu menciptakan apapun dengan bahan yang dipegang nya.
Dan, inilah kisah nya ...
Saat Gobta kembali ke Desa Meiya, dia membawa dua gerobak satu berisikan Goblin merah wanita beserta anak-anaknya dan satu lagi para gadis yang diculik dan diprkosa oleh para Goblin.
Lazio dan Arin yang melihat Gobta itu sontak menghampiri nya.
"Kak Senior!" sapa Lazio saat tiba di dekat Gobta.
"Oh, Lazio. Bagus lah kamu disini! Bantu saya mengurus para gadis manusia! Saya akan menemui Master untuk membahas Goblin merah yang saya tangkap ini!" ucap Gobta.
__ADS_1
"Iya, serahkan kepadaku!" jawab tegas Lazio.
Gobta mengangguk kepalanya lalu, memegang bahu Lazio. Sesudah itu, dia berteleportasi membawa para Goblin merah.
Melihat itu, Lazio sontak menoleh kearah anak buah yang mana mereka manusia yang dilatih oleh Lazio.
"Kalian, cepat bantu aku menurunkan mereka!"
"Baik, ketua," jawab para anak buahnya.
Setelah itu, Lazio dan anak buah nya menempatkan para gadis manusia itu di klinik yang ada di desa luar dan beberapa manusia yang berjaga di sana, mereka bergegas mengambil potion Penyembuhan luka luar dan mental yang mana Potion itu buatan Luminox sendiri.
Selain itu, Lazio memerintahkan anak buah untuk memberikan mereka pakaian.
Setelah itu, Lazio menghampiri salah satu pasien yang mana Arin sedang menyembuhkan nya.
"Dia sudah lebih baik, ketua. Hanya tinggal menunggu waktu sadar mereka saja," jawab Arin.
Setelah meminum kan nya, para gadis wanita menjadi tenang kembali salah satunya wanita pendeta muda yang ada dihadapan Lazio.
Arin yang melihat itu sontak memeriksa nya.
"Nona, anda sudah bangun?!"
Gadis pendeta itu mengumpulkan kesadaran dan tenaganya lalu, dia bangun dari rebahan.
"Ini dimana?" tanya gadis Pendeta seraya memegang kepalanya.
__ADS_1
"Nona, saat ini berada di desa Meiya," jawab Lazio.
Gadis Pendeta sontak terkejut mendengar nya. "Ah, desa Meiya. Desa tempat para tentara bayaran itu?"
Arin mengangguk kepalanya, "Iya, disinilah!"
Lalu, Gadis pendeta itu melihat sekeliling nya yang mana melihat banyak gadis seusianya yang sedang berbaring ada juga yang sudah sadar dan dia pun mengingat-ingat kejadian yang menimpa dirinya yang mana dia teringat akan kejadian di goa gunung putih dan diselamatkan oleh sosok pria yang mengenakan zirah dan mengambil kesimpulan bahwa pria itu sosok yang menyelamatkan nya.
Lalu, Gadis Pendeta sontak duduk diantara dua kaki (Dogeza) diatas kasur.
"Terimakasih banyak telah menyelamatkan ku," ucap Gadis pendeta.
Ucapan gadis Pendeta itu membuat gadis yang lain mengalihkan pandangannya kearah Lazio dan Arin.
Setelah mereka saling bertukar pandang dan serempak membungkukkan badannya seraya berkata ..
"Terimakasih, Semua!"
Melihat itu, Lazio dan Arin tertawa kecil dan saling bertukar pandang.
Lalu, Lazio menggarukan kepalanya seraya berkata. "Hmm ... jangan berterima kasih kepada kami. Berterima kasih kepada Grand Master Nolan, pemilik dari Dungeon dan tanah ini!"
Mendengar jawaban Lazio, Gadis pendeta dan gadis lainnya menyambung ucapan mereka.
"Terimakasih, Grand Master Nolan."
Dan, sejak hari itu. Aku di panggil Grand Master Nolan Cahya.
__ADS_1