
...Chapter 27. Pemeriksaan dan Hobi Luminox....
Satu aktifitas pun berkurang dan kini aku harus fokus mengatur Dungeon meski, aku masih memiliki beberapa permasalahan namun, aku masih bisa tenang dan bersantai menghadapi nya.
Salah satunya permasalahan Keisha yang mana aku tidak bisa memenuhi misi nya untuk menyerahkan keprawanannya kepada ku.
Bagaimana mungkin, seorang perjaka 42 tahun yang belum pernah pacaran harus menyerahkan keperjakaan kepada wanita yang tidak mencintai nya yang bahkan itu hanyalah taktik semata.
Maka dari itu, aku pun mengabaikan nya sejenak.
Setelah sibuk mengurus pelelangan, kini aku harus melihat pasukan ku yang ada di lantai tiga yaitu Goblin dan Slime.
Setibanya aku dikejutkan dengan barisan Goblin yang sedang berlatih dari latihan pedang, panah, tombak dan beberapa juga sedang berlatih mengendarai serigala. Pemandangan itu seperti pasukan militer yang sedang berlatih.
Lepas dari itu, aku melihat para Goblin yang sebelumnya kurus dan lemah kini berubah tubuh penuh dengan otot dan salah satunya yang kuangkat sebagai pemimpin, Gobta berbadan lebih tinggi begitu juga Goina.
Ditengah aku memikirkan itu, Petapa Agung menjawab nya.
Ding!
[Lapor. Goblin yang diangkat sebagai pemimpin telah berevolusi menjadi Hobgoblin.]
Mendengar itu, aku terkejut senang lantaran mendengar sesuatu.
"Evolusi? benarkah? Unit milik ku bisa berevolusi?!"
Ding!
[Jawab. Ya, semua unit anda bisa berevolusi terkecuali ras yang sudah berada di puncak seperti ras dengan tingkat Primordial.]
"Jadi begitu, yang berarti Callista sudah tidak bisa berevolusi?"
Ding!
[Jawab. Betul tapi tidak menutup kemungkinan ras tertinggi mampu berevolusi dengan kondisi tertentu.]
"Aku mengerti."
Sesaat kemudian, kloning Nier dan para Goblin menyadari kehadiran ku hingga mereka menghentikan latihan nya dan menghadap ku seraya berlutut satu kaki.
"Master!" sapa serempak mereka.
Aku pun memberikan senyuman, "Kerja Bagus! Aku senang melihat hasil latihan kalian!"
"Terimakasih, master," jawab serempak para Goblin.
Aku yang melihat Goblin yang sebegitu banyak membuatku sedikit kebingungan.
"Petapa Agung, berapa jumlah mereka?"
__ADS_1
Ding!
[Jawab. Master, saat ini anda memiliki 1.200 Goblin yang terdiri dari.
200 Goblin pemanah.
250 Goblin Pedang.
300 Goblin tombak dan perisai.
50 Goblin pembunuh.
Dan, 200 Goblin rider. ]
Saat mendengar penjelasan Petapa Agung, aku terkagum sendiri dengan unit Goblin yang kumiliki ini.
"Luar biasa! Dalam waktu sekejap mereka sudah tumbuh sekuat ini."
Seusai itu, aku pun meninggalkan mereka dan menuju ke sarang Slime dan setibanya disana, lagi-lagi aku dikejutkan oleh unit ku yang mana kali ini jumlah Slime jauh meningkat.
Selain itu juga Muru berhasil menciptakan Slime baru diantaranya.
Slime Water.
Slime Silver.
Sesaat Muru menyadari kehadiran ku, dia sontak memberikan salam nya.
"Master," ucap Muru seraya berlutut satu kaki.
"Kamu kerja bagus, Muru."
"Terimakasih, Master," jawab Muru.
Pemeriksaan Slime dan Goblin selesai. Selanjutnya, aku pergi ke lantai empat di ruangan latihan yang mana Nier dan Neo sedang duduk bersila dan bermeditasi.
Lalu, setibanya aku disana mereka sontak membuka mata dan berlutut satu kaki.
"Master!" sapa Neo.
"Master!" sambung Nier.
Disaat mereka memberikan salam, aku pun memeriksa status mereka dengan mengunakan fitur kamera pengawas dan aku cukup senang dengan hasil latihan nya yang mana Neo sudah berada di level 101 dengan semua kemampuan berada di tingkat tinggi. Sedangkan, Nier sudah berada di level 125.
"Hasil latihan yang memuaskan. Terimakasih."
"Iya, Master. Ini semua berkat Master," jawab Neo dan Nier.
Setibanya disana, aku tidak melihat Luminox.
__ADS_1
"Nier, dimana Luminox?"
"Saat ini Luminox sedang berada di ruang samping dan maaf, Master. Menurut saya, Luminox tidak cocok berlatih fisik," jawab Nier yang masih berada di posisi berlutut satu kaki.
"Begitu, aku mengerti. Biarkan saja dia!"
"Baik, master," jawab Nier.
Seusai itu, aku pun meninggalkan tempat latihan menuju ruangan kecil disamping tempat latihan lantaran aku penasaran dengan kegiatan Luminox.
Dan, setibanya di ruangan kecil. Luminox dengan asyiknya sedang membuat ramuan dengan senang nya.
"Luminox, apa yang sedang kamu lakukan?"
Luminox yang mendengar sapaan ku sontak menoleh kearah ku dan terkejut hingga botol ramuan yang dipegangnya jatuh.
Lalu, Luminox pun cepat tersadar dan dia sontak berlutut satu kaki.
"Master, maaf. Saya akan latihan fisik sesuai perintah anda," jawab panik Luminox.
Saat melihat panik nya Luminox. Aku berjalan menghampiri nya dan memberikan tangan ku.
"Tidak apa-apa, Justru aku yang meminta maaf karena memaksakan kehendak ku kepada mu. Sekarang bangun lah!"
Mendengar ucapan ku itu, Luminox melihat ku dan dia juga meraih tangan ku lalu, berdiri.
Disaat Luminox ada dihadapan ku, aku memegang tangan yang satu nya lagi dan menyakinkan nya.
"Luminox, ini adalah rumah mu jadi kamu bebas melakukan apa saja karena kamu sosok yang berharga bagi ku."
Sesaat aku mengatakan itu, wajah Luminox memerah dan dia pun tersenyum memandangi ku.
"Terimakasih, Master," jawab Luminox.
Disaat yang bersamaan, Petapa Agung memberitahu sesuatu.
Ding!
[Lapor. Unique Skill tersegel di unit Luminox telah terlepas.]
Mendengar itu, aku sontak memberikan tahu nya kepada Luminox.
"Luminox, unique Skill yang tersegel didalam dirimu sudah terlepas."
Luminox tersenyum dan mengangguk kepalanya. "Ini semua berkat, Master."
Aku dan Luminox pun saling bertukar senyum.
Setelah itu, aku membuat ruangan ramuan di lantai empat juga agar kegiatan Luminox lebih nyaman dan berkualitas baik.
__ADS_1