
Sampai hari semakin gelap kami masih saja berada di hutan Pinus itu, aku mulai mempererat pegangan ku ke pinggang Mas Ami, Mas Ami menyadari itu dia tau aku ketakutan.
Dan motor Mas Ami berhenti, aku yang dari tadi memejamkan mata ku di belakang punggung Mas Ami, mulai membuka mata ku, ku pikir kami sudah sampai di rumah Abah atau setidaknya sampai di perkampungan tetapi, ketika aku membuka mata ku di sekeliling ku gelap.
Kami masih di hutan pinus, lalu kenapa Mas Ami berhenti, Mas Ami mulai menghidupkan lagi motor nya tapi tidak nyala juga, motor Mas Ami mogok.
"Liya kita turun dulu, Mas Ami mau periksa motor nya, ini kenapa pake mogok segala apa bensin nya habis".
Aku pun turun terduduk lemas di pinggir jalan sambil memperhatikan Mas Ami, waktu itu aku hanya seorang gadis kecil yang ketakutan di tengah kegelapan di dalam hutan pinus, aku hanya bisa menangis, aku menutup muka ku dengan kedua telapak tanganku, dan menangis.
"Liya berdoa yah jangan menangis, maaf yaa Liya, Mas Ami gak tau kenapa kita bisa tersesat, dan motor ini lagi, kenapa harus mogok?".
Ujar mas ami kesal, aku pun berdoa dalam hati tapi masih tidak bisa berhenti menangis kedua tangan ku masih ku pake menutupi muka ku, aku takut tidak mau melihat sekeliling yang gelap gulita tapi perlahan aku mendengar suara delman mendekati kami.
Aku mulai membuka kedua tangan ku dari muka ku, terlihat di kejauhan delman itu seperti memakai lampu penerang, tapi remang masih belum jelas siapa kusir nya, sampai akhir nya delman itu mendekat.
Dan ku pastikan bahwa itu adalah Abah, Kakek yang menolong Julian waktu itu, aku langsung berdiri senang sekali melihat Abah di atas delman itu, langsung aku menghampiri delman yang masih berjalan mendekati.
"Kakek...Kakek masih ingat aku...?".
Teriak ku kepada Kakek yang di sebut Abah itu, Kakek melihat ku, dan mengerutkan dahi nya yang sudah keriput.
"Neng Liya kenapa ada di sini?".
Aku senang sekali aku tersenyum, bahkan Kakek itu masih ingat namaku padahal kami baru bertemu sekali malam itu, itupun satu tahun yang lalu.
Abah turun dari delman nya, aku langsung memeluk nya seperti sedang memeluk Kakek ku sendiri yang lama tak bertemu, aku menangis di pelukan Abah, dan Abah mengusap rambutku.
"Tolong Kek tolong...".
Aku hanya bisa mengatakan hal itu karena ketakutan, Mas Ami melihat kami lalu, menghampiri.
"Sudah sudah jangan menangis kenpa kamu sampe ada di sini? ".
Kata abah masih mengelus ngelus rambut ku.
"Maap, anda Kakek kusir yang menolong adik nya neng ini?".
Kata Mas Ami bertanya kepada Abah ingin meyakinkan dugaan nya.
"Allah yang menolong saya hanya pelantara kalian sedang apa di sini?".
__ADS_1
Kakek berbalik bertanya ke Mas Ami, dan Mas Ami menceritakan kenapa kami sampai berada di sini, Mas Ami menceritakan soal anak nya yang keadaan nya seperti Julian dulu lalu, Mas Ami bercerita smua kejadian sampe kami tersesat, Kakek hanya mengangguk kan kepala nya.
" Ayo kita temui anak mu".
Kata Kakek itu sambil berjalan menuntun ku naik ke delman nya.
"Tapi motor saya mogok Bah bagaimana yah?".
Kata Mas Ami sambil menengok ke motornya yang tidak bisa jalan.
"Sudah tinggalkan saja, kalian naik delman saya saja, besok kamu ambil motor kamu, tidak apa apa tidak akan ada yang mengambil".
Kata Kakek sambil menaikan aku ke delman lalu, kakek pun naik ke delman, Mas Ami menurut dia pun menghampiri kami, dan duduk di
belakang Kakek, lalu Kakek mulai menjalan kan delman nya.
Tadi aku, dan Mas Ami sampai ke hutan pinus itu butuh beberapa jam sampai kami tersesat tapi kenapa sekarang hanya sekitar 30 menitan mungkin, kami sudah sampai di rumah ku dengan delman Abah, kami sampai di rumah, kami pun turun dari delman Kakek meyimpan delman nya d halaman rumah.
Aku memegang tangan Kakek membawanya masuk ke rumah seolah aku takut dia pergi, Mas Ami masuk duluan ke rumah menghampiri Andri yang masih tertidur di pangkuan Mamah nya.
Di sana ada Kakak- kakak, ku Julian duduk di samping Mamah nya Andri, Mamah ku langsung berdiri melihat Mas Ami ,dan Papah ku sudah pulang mereka sedang menunggu kami.
"Ketemu mas kenapa lama sekali?".
"Kami tersesat Bu.. untung Abah.. Kakek yang kami cari menemukan kami di hutan pinus tempat motor saya mogok, saya di antar Abah ke sini".
Semuanya terlihat kebingungan tapi langsung membalas salam ketika Abah mengucapkan salam.
"Asalamu alaikum... ".
Abah mengucapkan salam
"WA alaikum salam... alhamdulillah Terima kasih Abah mau datang, saya Papah nya Julian".
Papah menyodorkan tangan nya untuk bersalaman, Kakek itu pun yang di panggil Abah menyambut tangan Papah, Mamah tersenyum, dan bersalaman lalu Kakak-kakak ku mereka masih ingat dengan Kakek itu.
Kakek langsung menoleh ke Andri yang di pangku Mamah nya, lalu memegang tangan Andri, dan dada nya, Kakek pergi ke kamar mandi, dia sudah tau letak kamar mandi lalu dia berwudhu dan, solat dua rakaat lalu meminta segelas air, dan meminta ijin agar Andri di pangku nya.
Sekarang Andri di pangkuan nya, sambil Kakek mengucapkan ayat ayat suci Al-Quran, dan berbicara entah berbicara apa dan, dengan siapa, lalu Kakek menumpahkan sedikit air dalam gelas ke telapak tangan nya lalu, meminumkan nya ke Andri sedikit demi sedikit, lalu membaca doa-doa lagi selang beberapa menit, Andri membuka matanya, Kakek tersenyum dan, mengembalikan Andri ke Mamah nya.
"Ini Bu anak nya sudah bangun dia cape kasih minum ini, kasih makanan dia pasti lapar".
__ADS_1
Kata Kakek, kami sangat senang melihat Andri sudah bangun kami mengucapkan alhamdulillah, Julian langsung menghampiri Andri.
"Julian, Andri mau makan dulu yah kasian seharian belum makan".
Kata Mamah mengingatkan Julian agar tidak mengganggu Andri dulu.
"Kek terimakasih entah apa yang harus kami katakan, terimakasih Semoga Allah membalas semua kebaikan Kakek, kalo tidak ada Kakek kami tidak tau harus bagaimana, saya juga belum sempat mengucapkan terima kasih Kakek telah menolong anak saya Julian".
Papah memeluk Kakek, Kakek menepuk punggung Papah.
"Semua pertolongan dari Allah saya tidak bisa berbuat apa apa, saya hanya sebagai pelantara bersyukur kepada Allah dengan lebih mendekatkan diri kepada nya meningkatkan ibadah kalian".
Papah mengangguk, Mas Ami menghampiri Abah dan, mencuim tangan nya, Abah hanya tersenyum dan berpamitan.
"Jaga diri kalian baik- baik saya pulang dulu ya, insyaallah anak kamu akan baik baik saja, Julian juga baik baik saja kan sekarang".
kakek melirik Julian dan, Julian pun tersenyum lalu menghampiri Kakek dan, mencium tangan nya.
"Ya sudah saya pulang yah, saya sudah di tunggu, mungkin ini terakhir kita bertemu, ingat kalian harus lebih meningkatkan ibadah kalian lebih mendekatkan diri kepada Allah".
Lalu Kakek pun pulang, seperti biasa Kakek tidak mau menerima imbalan, Mas Ami malam itu tidak dagang, kami sekeluarga dan, keluarga Mas Ami berkumpul di ruang keluarga menonton tivi, sambil sesekali memperhatikan julian dan, Andri yang sudah mulai bermain kembali.
Mamah pergi ke dapur menyiapkan makan malam, kami makan malam bersama, aku lapar sekali dari tadi siang aku belum makan, setelah makan malam kami mengobrol.
Papah menceritakan semua nya ke Mas Ami tentang keadaan rumah kami, Papah memutuskan Mas Ami harus tau agar dia juga mengerti kenapa smua ini bisa terjadi.
Walaupun mungkin Mas Ami memutuskan untuk pindah kontrakan Papah tidak akan menghalangi tapi, Mas Ami memutuskan untuk tetap tinggal bersama kami, mengontrak di ruang garasi kami itu, entah karena alasan apa, tapi Mas Ami masih ingin tetap tinggal mengontrak.
Mungkin karena sewa mengontrak di tempat kami lebih murah, tapi bukan hanya karena itu juga Mas Ami melihat keluarga kami baik baik saja, Mas Ami mengikuti smua saran dari Papah untuk keluarga Mas Ami agar berwudhu sebelum tidur dan, tidak meninggal kan solat lima waktu, mengaji membaca Ayat ayat suci Al-Quran sesudah solat maghrib sampai isya sebelum Mas Ami pergi berdagang malam.
Ke esokan hari nya Mas Ami berniat untuk mengambil motornya yang dia tinggalkan di kebun pinus itu, pergilah Mas Ami mengambil motor itu sendiri, sekitar sejam kemudian Mas Ami sudah kembali, datang datang Mas Ami memanggil-manggil Papah dan, Mamah ku dengan wajah shock.
"Bu...Pak.. Bu... Pak..".
Istrinya Mas Ami keluar dari kamarnya menghampiri Mas Ami keheranan bertanya ke Mas Ami ada apa, tapi Mas Ami langsung menuju ruang keluarga di sana ada aku, Julian dan, Andri yang sedang bermain Mamah keluar dari kamar.
"Ada apa Mas? ,Papah nya anak anak sudah pergi".
Mamah menghampiri Mas Ami dengan kebingungan, ada apa dengan Mas Ami kenapa wajahnya terlihat shock sperti itu.
"Abah.. Abah.. sudah meninggal... ".
__ADS_1
Mas Ami dengan suara terputus putus, kami smua tidak bisa berkata apa apa masih kebingungan dengan perkataan Mas Ami....
(bersambung)