RUMAH BEKAS PESUGIHAN BUTA IJo

RUMAH BEKAS PESUGIHAN BUTA IJo
Bab 56 Si belang 1


__ADS_3

Satu minggu kemudian aku di anter Mamah untuk mendaftarkan ke sekolah SMA, dengan membawa surat-surat, dan tentunya surat beasiswa, aku langsung di Terima dan menunggu pengukuran baju seragam, dua minggu lagi untuk datang ke sekolah, tanpa sepeser pun biaya pendaftaran atau pun baju seragam dan buku-buku paket sekolah.


Lalu kami pulang menaiki angkutan kota aku duduk di kursi paling ujung, dan mamah di sebelah ku, di depan ku ada seorang bapak-bapak yang memperhatikan ku, aku merasa kan nya karena dia memang melihat ku terus dari ujung kepala sampai ujung kaki aku risi juga ini orang kenapa?, lalu aku menoleh padanya, bapak itu tersenyum ramah.


"Maaf ya nak kalo kamu merasa terganggu".


Ucap Bapak-bapak itu..degh.. aku merasa tidak enak sudah berprasangka buruk ke Bapak-bapak itu, seperti nya dia orang baik.


"Ada Apa Liya?".


Ucap Mamah bertanya pada ku ketika Bapak itu tiba tiba ngomong seperti itu, Mamah menoleh ke arah Bapak itu, Bapak itu mengangguk dan tersenyum.


"Maaf Bu tadi saya memperhatikan anaknya, dan anak ibu merasa tidak nyaman".


Mamah mengerutkan kening nya dan bertanya.


"Memang nya ada apa dengan anak saya? apa ada yang aneh?".


Tanya Mamah.


"Bukan Aneh Bu.. tapi anak Ibu ini, Apa ibu sebagai ibunya tidak merasakan ada yang lain dari anak ibu yang satu ini dengan saudara nya yang lain?".


Bapak itu berbalik bertanya, Mamah tertegun.


"Hmmm anak saya semua nya pintar cuman Liya agak menonjol daya tangkap nya dia lebih dari saudaranya".


Ucap Mamah, Bapak itu tersenyum.


"Bukan hanya lebih pintar dari saudara nya bahkan dari teman-teman sebaya nya yang lain makanya dia dapat beasiswa kan bu?, tapi dia juga pemarah kan, emosi nya kadang meledak ledak tapi jiwa sosial nya tinggi, dia juga lebih sensitif".


Aku dan mamah saling pandang, kami terkejut bagaimana dia bisa tau tentang aku?.


"Anak ibu ini istimewa, kelak ibu akan mengetahui nya satu persatu ibu akan terkejut dengan apa yang dia bisa lakukan, dia tidak sendiri bu, ada yang mengikuti nya".


Mamah makin kaget, tapi tidak mengerti apa maksud perkataan Bapak ini.


"Ada yang mengikuti nya? maksud nya? ada yang mau nyulik dia gitu? karena dia istimewa karena dia pintar dapat beasiswa gitu?".


Bapak itu tertawa mendengar pertanyaan Mamah, aku hanya diam memperhatikan mereka.

__ADS_1


"Tidak-tidak Bu bukan begitu tidak ada yang akan berani menyulik dia, bahkan ketika dia berjalan sendiri di malam hari tak akan ada yang brani, yang mengikuti nya bukan dari alam kita, kelak Liya juga akan tau sendiri, seiring waktu".


Ucap Bapak itu menatap ku yakin.


"Bukan dari alam kita maksud nya Pak? apa itu tidak akan mengganggu anak saya?".


Ujar Mamah khawatir.


"Liya dapat menerima nya jangan menolak nya nak biarkan dia menemani mu, kelak banyak ujian yang akan kau lalui, kamu tidak akan merasa sendiri ketika kau menangis dia akan mengelus rambut mu sampai kau tertidur".


Siapa Bapak ini mengapa dia seperti nya tau apa yang akan terjadi padaku? aku menatap nya tajam tak berkata apapun.


"Tapi kamu bukan anak yang lemah kamu tidak akan menangis karena seseorang menyakiti mu kamu menangis hanya karena ujian yang membuat kamu merasa sendiri dan dia ada untuk mu".


Ucap nya lagi.


"Aku punya Allah tempat ku mengadu dan menangis aku tidak akan pernah merasa sendiri, jika suatu saat aku dapat ujian yang sangat berat dan membuat ku menangis, aku hanya akan menangis kepada Allah dan mengadu kepada Allah bukan kepada makhluk ghaib lain nya".


Ucap ku Bapak itu tersenyum padaku entah apa arti senyum nya.


"Kiriii ".


Ucap Mamah ketika kami sudah sampai di depan rumah kami, mobil angkutan umum memang melintas depan rumah kami, kami pun turun, Bapak itu masih memperhatikan kami sampai mobil akutan umum itu pergi meninggalkan kami.


Ucap Mamah ku, aku mengangguk dan berkata.


"Mau di sebut orang pinter kali mah, sok tau yah Mah".


Kata ku waktu itu, itu pertama kali orang yang mengatakan bahwa ada makhluk lain mengikuti ku, kedua kalinya ketika aku sedang kemping, waktu itu aku kelas Dua SMA.


Aku semenjak duduk di kelas satu SMA, aku jadi suka ikutan kemping di lingkungan sekolah atau pun di luar lingkungan sekolah, di sekolah aku ikut extra kulikuler Pramuka, di luar sekolah ada teman teman bermain ku yang dari satu sekolah ataupun di luar sekolah kami membuat satu baskamp.


Ketika libur sekolah kami suka pergi kemping ke sekitaran hutan atau gunung di sekitar Lembang, seperti gunung tangkuban perahu, gunung putri, gunung batu, tapi hanya di sekitar lembang.


Karena tidak ada surat ijin dari sekolah itu juga Papah akan melihat dulu lokasi nya, karena tau kalo kami kemping di luar lingkup sekolah, jadi pihak sekolah tidak bertanggung jawab bila terjadi sesuatu.


Dari sekolah kami kemping ke luar kota Lembang, ke Ciwidey ke Banjaran, ke Gunung Puntang atau daerah Bale Endah Bandung selatan, bersama pembina pramuka dan guru lain nya kalo ada acara pramuka yang melibatkan seluruh anggota pramuka SMA sekabupaten Bandung.


Waktu itu aku libur sekolah aku dan teman-teman ku kemping ke daerah parongpong tepatnya di Lembang asri, tempat pemancingan dan kemping, seperti biasa Papah datang mengontrol jam 9 malam sambil bawa makanan cemilan untuk ku dan teman teman ku.

__ADS_1


Papah duduk di sebuah warung, di tempat itu memang berjejer warung-warung penduduk setempat yang berjualan, aku menghampiri Papah sambil cengengesan, aku tau Papah sebenarnya malas keluar malam-malam dingin lagi, tapi yah permintaan Mamah, dan untuk meyakinkan dirinya sendiri juga kalo anak nya ini aman.


"Kamu tuh seneng yah ngerjain Papah? kenapa sih gak di rumah aja gitu tidur di kamar enak hangat empuk pake kasur ini tidur di tenda pake tiker".


Ujar Papah pada ku yang menghampiri nya.


"Yeee siapa suruh pake di kontrol-kontrol segala yang lain juga gak tuh, papah nya gak pada datang, Pah kalo kita tidur di kasur terus, gak akan ada kenikmatan nya keistimewaan nya, coba kalo kita sesekali kemping dan tidur di tanah pas pulang ada kasur empuk kita akan lebih mensyukuri kenikmatan tidur di kasur."


Papah hanya mendelikan matanya padaku.


"Anak nya yah Pak?".


Tiba tiba ibu yang punya warung bertanya sambil meletakkan kopi yang Papah pesan di meja.


"Iya nih Bu, masa anak perempuan hobinya kemping, ibu sampe jam berapa di sini Bu?".


Ujar Papar ke pemilik warung itu.


"Saya biasanya sampe Jam sepuluh, Jam sebelas nanti di ganti sama anak saya sampe pagi, nanti saya ke sini lagi siang anak saya pulang"


Kata ibu itu, lalu duduk di bangku kayu di depan Papah lalu menoleh ke arah ku sambil tersenyum dan manggut, aku pun membalas tersenyum dan manggut ke Ibu itu.


"Saya bukan manggut ke si eneng".


Kata si ibu itu sambil tersenyum dan menepuk pundak ku, aku merengut nah terus kesiapa pikir ku, lalu aku membalikkan badan ku kebelakang, ku liat di belakang tak ada siapa-siapa.


"Saya mau pulang Bu udah malam nitip anak saya yah Bu".


Ucap Papah yang kemudian beranjak, dan menyeruput kopinya nya sampai habis.


"Gak usah di titipin ke saya Pak, anak bapak udah ada yang nungguin udah ada yang ngikutin ngejagain, bapak jangan khawatir".


Ucap Ibu ituh, Papah tidak mengerti menoleh ke arah ku, aku mengangkat bahu ku.


"Maksudnya Bu?".


Papah ingin ibu itu menjelaskan siapa yang ngikutin nunguin ngejagain anak nya.


"Itu si belang dari tadi duduk di belakang si neng nya".

__ADS_1


Papah menoleh lagi pada ku, lalu mengangkat alis nya, aku berdiri lalu berbalik ke belakang dan mengangkat lagi bahu ku, tidak ada siapa siapa di belakang ku.


(Bersambung)


__ADS_2