RUMAH BEKAS PESUGIHAN BUTA IJo

RUMAH BEKAS PESUGIHAN BUTA IJo
Bab 48 Ziarah kubur


__ADS_3

Teteh menoleh ke arah kami satu persatu, Teteh merasakan ada yang kami sembunyikan.


"Ada apa? Kenapa kalian seperti bingung seperti itu?, ada yang kalian sembunyikan?, Mah... Ada apa?"


Tanya Kakak sulung ku kebingungan melihat kami yang tertunduk, tak sanggup mengatakan bahwa, Kakek sudah meninggal, karena kami pun masih merasa sesak bila ingat kalau Kakek sudah tidak bersama kami lagi.


"Teh... Kakek..".


Ucap Mamah tapi terhenti, tak dapat meneruskan perkataan nya.


" Ada apa dengan Kakek Mah... katakan Mah.. Kakek baik baik saja kan Mah.. ".


Kakak sulung ku bertanya sambil tangan nya mengoyang kan lengan Mamah dan, air mata nya berlinang menetes di pipinya, seperti nya Teteh merasakan duka yang masih kami simpan.


"Kakek... sudah.. ".


Bibir mamah kelu hanya air mata yang keluar dari matanya yang mengisyaratkan kan kesedihan, kehilangan yang dalam.


"Kakek sudah apa Mah.. jangan katakan Kakek.. sudah.. sudah.. ".


Aku dan Teh Eli langsung memeluk Kakak sulung kami, kami menangis, tangisan Kakak sulung ku menjadi.


"Jadi benar? Kakek sudah meninggal? Eli.. Liya..?".


Ucap Teteh melepas kan pelukan kami dan, menatap kami satu persatu, kami hanya mengangguk dan, menangis.. kami memang sangat dekat dengan Kakek melebihi kedekatan kami bersama Papah di tambah lagi, Papah yang sikap nya menjauhkan diri dari kami bersikap acuh dan, tak perduli untuk menjauhkan kami dari makhluk itu.


"Kapan? kenapa Kakek meninggal?, Apa makhluk itu mencelakai Kakek?".

__ADS_1


Kakak sulung ku ingin mengetahui penyebab, Kakek meninggal dan, karena Teteh tau semua malapetaka yang selalu menimpa kami karena makhluk itu, Teteh langsung berasumsi makhluk itu, Buta ijo telah mencelakai Kakek.


"Dua bulan yang lalu.. gak Teh.. Kakek sakit, memang sudah waktunya Kakek harus kembali kepada sang Pencipta, Teteh ingat apa yang di katakan Kakek tidak ada makhluk yang bisa berhak mengambil nyawa makhluk lainnya tanpa seijin Allah, apalagi Kakek orang yang soleh, taat beribadah, Allah telah memanggilnya karena sudah waktunya nya Kakek beristirahat, kita hanya bisa mengikhlaskan nya mendoakan nya".


Dengan susah payah, Mamah mencoba membuat Teteh tenang dan, dapat menerima kepergian Kakek.


"Kakek..., dimana makam nya Mah? Kakek di Makam kan di Bogor?".


Masih dengan uraian air mata Teteh bertanya.


"Di Jayagiri Teh, di Tempat pemakaman Umum Jayagiri masih di daerah Lembang, nanti sore Teteh Ziarah kubur ya, di anter sama Liya atau Eli".


Kakak sulung ku mengangguk, menyetujui permintaan Mamah.


"Nanti Liya yang anter Mah".


Ucap ku menawarkan diri, Teteh menoleh pada ku, teringat oleh nya dulu kami waktu masih kecil aku berumur 3 tahun dan, Teteh Berumur 8 Tahun.


Aku dan, Kakak sulung ku di bawa Kakek ke rumah nya, teringat semua kasih sayang yang Kakek berikan kepada kami, Kakek mengajar kan kami untuk saling menjaga, menyangi dan, melindungi satu sama lain.


Teringat ketika kami bermain bersama atau pergi ke kebun untuk memetik cengkih di kebun cengkih kakek, berlomba lomba mendapatkan cengkih yang paling banyak, lalu Kakek akan memberi kami Upah, upah itu akan kami kumpulkan di sebuah celengan dari kayu yang kakek buat kan untuk kami.


Lalu kami akan membuka nya ketika kayu itu sudah tidak muat untuk di masukin koin hasil upah kami memetik cengkih di kebun Kakek, kami akan ke pasar dan, membeli kan sesuatu yang kami butuh kan, atau kami membuka nya ketika ada satu di antara kami yang berulang tahun dan, kami membuka celengan untuk membeli hadiah ulang tahun.


Kakek mengajar kan kami bahwa semua yang kita inginkan tidak bisa kita dapat kan dengan mudah, harus kita raih dengan kerja keras, dan hasil yang memuaskan akan menjadi kebanggaan dan kepuasan tersendiri, dan kita akan lebih menghargai apapun yang kita peroleh dari kerja keras dan, pengorbanan.


Teteh memeluk ku sangat erat, aku tau Teteh membutuhkan seseorang untuk berbagai kehilangan nya.

__ADS_1


"Kita semua sayang Kakek, Kakek tidak akan pernah meninggalkan kita, kenangan nya akan selalu bersama kita".


Ucap ku, Kakak sulung ku pun mengangguk dan tersenyum.


Sore setelah solat ashar aku mengantarkan kakak sulung ku ke Tempat pemakaman umum di Jayagiri Lembang, kami menaiki delman yang melintas di depan rumah, kebetulan delman itu kosong tidak ada penumpang, kami meminta tukang kusir delman itu mengantarkan kami langsung menuju ke pemakaman umum Jayagiri Lembang.


Kusir delman itu menyanggupi lalu mengantarkan kami, dan kami meminta nya untuk menunggu, kami membawa sebotol air, dan sekeranjang bunga untuk di siram dan di tabur di makam Kakek, Kakak sulung ku ketika sampai di hadapan makam langsung besimpuh memeluk tanah makam Kakek, dan menangis, aku jongkok dan, memegang pundak nya.


"Teh... ikhlas... Kakek akan sedih kalo liat Teteh kaya gini".


Teteh pun menggerakkan badan nya berjongkok dan menyeka air matanya.


" Teteh ingat, Kakek selalu bilang kalian harus kuat, harus tangguh jangan cengeng, harus jadi penyemangat satu sama lain, kita buktikan ke Kakek kalo kita bisa seperti itu, kita buat Kakek bangga".


Lagi lagi teteh hanya bisa tersenyum dan mengangguk menyetujui perkataan ku.


"Sekarang yang bisa kita lakukan hanya berdoa untuk Kakek semoga Kakek khusnul khotimah, di berikan tempat yang layak di sisiNya di Terima iman Islam nya di ampuni dosa dosanya, di jauhkan dari siksa kubur dan di terangi alam Barzah nya oleh doa doa kita".


Lalu kami pun berdoa di hadapan makam Kakek membacakan nya Surat al-fatihah 7 kali al Ikhlas 3 kali surat anas dan al palaq setelah itu menabur bunga dan, menyiram air di makam nya lalu mengucapkan salam.


"Assalamu'alaikum ahlad-diyaar minal mu'miniina wal muslimiin. yarhamulloohul mustaqdimiina minnaa wal musta'khiriin. wa inna insyaa alloohu bikum la-laahiquun. wa as alullooha lanaa walakumul 'aafiyah."


Artinya: Semoga keselamatan tercurah kepada kalian, wahai penghuni kubur, dari orang-orang beriman, dan orang-orang Islam, semoga Allah merahmati orang-orang yang mendahului kami, dan orang-orang yang datang belakangan. Kami Insyaallah akan menyusul kalian, saya meminta keselamatan untuk kami dan kalian.


Lalu kami pulang dengan menggunakan delman yang sama yang sudah menunggu kami, tukang kusir itu langsung turun dari delman nya ketika melihat kami keluar dari pemakaman umum, menuntun delman nya mendekat ke arah kami, lalu kami pun naik, dan meninggal pemakaman itu.


Pandangan ku, dan Teteh tertuju ke belakang, menatap pemakaman umum yang sekarang akan rutin kami kunjungi setidak nya setahun dua, tiga kali.. menjelang puasa, idul fitri, dan idul adha, atau ketika kami rindu, dan ingin memastikan diri bahwa pernah ada seseorang yang sangat berarti dalam hidup kami.

__ADS_1


Delman itu menuruni jalan menenggelamkan pandangan di belakang, pemakaman umum Jayagiri Lembang itu pun tak terlihat lagi, aku menggenggam tangan Kakak sulung ku, dan tersenyum, Kakak sulung ku membalas senyuman ku terlihat keikhlasan di wajah nya...


( Bersambung)


__ADS_2