RUMAH BEKAS PESUGIHAN BUTA IJo

RUMAH BEKAS PESUGIHAN BUTA IJo
Bab 69 Aku ingin pulang 1


__ADS_3

"aakkhhh, astaghfirullah hal ajim"


Ucap ku ketika aku tersadar, dan hampir terjatuh, kalo aku tidak cepat-cepat berpegangan pada sebuah ranting, dan langsung memeluk pohon beringin yang besar itu, aku memeluk nya erat erat walaupun batang pohon itu besar, pelukan ku hanya dapat memeluk seperempat batang pohon beringin itu, aku terduduk di sebuah cabang pohon beringin yang besar dan tinggi.


Aku memejamkan mataku, aku berharap ini hanya mimpi, aku berharap aku segera terbangun dari mimipi ku ini, aku lepas kan sebelah tangan ku dari memeluk pohon beringin itu, aku menampar pipi ku beberapa kali dan mencubit pipi ku.


"Bangun... bangun liyaa ini hanya mimpi".


Ucap ku sambil terus menampar pipi ku sendiri, dan mencubit pipi dan lengan ku yang satu nya lagi, yang ku gunakan untuk memeluk batang pohon beringin itu.


"Hihihihi...."


Terdengar suara cekikikan tertawa Nenek-nenek, aku membuka mata ku, mengarah kan padangan ku ke asal suara tertawa itu, aku mengedarkan pandangan ku ke kiri ke kanan ke atas, karena asal suara nya terdengar dimana-mana.


Akhirnya pandangan ku tertuju ke bawah pohon beringin, dan di sana jauh di bawah pohon beringin itu, seorang Nenek berdiri cekikikan tertawa, Nenek itu terlihat kecil dari pandangan ku yang berada di atas pohon beringin, aku memicing kan mata ku, menyelidik siapa Nenek itu.


Seperti nya aku pernah melihat nya, aku termenung sejenak dan yaaa, aku teringat Nenek itu, Nenek yang penuh korengan di tubuh nya yang aku temui tadi di jalan ketika aku berjalan bersama Ratih pergi menuju rumah Tante Ana.


Walau dari tempat ku berada sekarang aku tidak dapat melihat dengan jelas koreng yang memenuhi tubuh Nenek itu, tapi aku masih ingat struktur tubuh nya yang bongkok dan memakai tongkat dan baju kebaya abu-abu yang dia pakai.


"Nek tolong aku Nek... tolong turun kan aku dari sini, kenapa aku bisa sampai di sini Nek? siapa yang membawa ku naik ke sini?".


Ucap ku, dan lagi-lagi Nenek itu hanya tertawa cekikikan.


"Hihihi hihihihi... "


Aku merengut dan termenung kenapa Nenek itu malah tertawa, seperti senang melihat aku yang ketakutan berada di pohon beringin yang tinggi dan besar ini.


"Nenek kenapa tertawa, tolong aku Nek, panggil kan orang-orang untuk menolong ku"


Ucap ku, memohon kepada Nenek itu untuk memanggil orang-orang yang bisa menurunkan aku dari batang pohon beringin, di tempat aku berada aku bisa melihat ke bawah, ke sebrang jalan, aku bisa melihat orang-orang dan kendaraan yang melintas.


"Heyy.... Pak...Kang...Ibu... tolong aku..., aku di sini di pohon beringin tolong aku mau turun, aku tak bisa turun..aku mau pulang".

__ADS_1


Aku berteriak memanggil-manggil mereka yang ku lihat sedang melintas jalan, tapi mereka tak acuh pada ku mereka seolah tak mendengar suara ku yang memanggil dan meminta tolong, aku dengar Nenek itu tertawa lagi ketika melihat dan mendengarkan ku berteriak-teriak meminta tolong.


" Hihihihi hihihihi... mereka tidak akan mendengar dan melihat mu hihihihi...".


Ucap Nenek itu suara nya sangat jelas di telinga ku, padahal dia berada jauh dibawah sana.


"Kenapa mereka tidak mendengar ku Nek?, kalo begitu Nenek yang bicara pada mereka, tolong suruh mereka menurun kan ku dari sini".


Ucap ku berteriak pada Nenek itu, karena Nenek itu jauh di bawah dari posisiku yang berada duduk di batang cabang pohon beringin yang tinggi rimbun ini.


"Mereka tidak bisa mendengar mu, mereka tidak bisa melihat mu".


Ucap Nenek itu lagi suara nya sangat terdengar jelas seperti Nenek itu sedang bicara tepat di telinga ku.


" Tapi kenapa?, kenapa mereka tidak bisa mendengar dan melihat ku?,siapa yang menaikan ku di sini? siapa yang membuat aku berada di sini?.


Ucap ku lagi berteriak.


"Aing!!! (Aku)".


"Maksud nya Nek?".


Aku kebingungan dengan jawaban Nenek itu.


" Aing nu mawa maneh kadinya, aing nu naekkeun maneh ka tangakal caringin (aku yang membawa mu ke sana, aku yang menaikan mu ke pohon beringin".


Aku kaget, dan tak percaya dengan perkataan Nenek itu.


"Gak mungkin, mana mungkin Nenek bisa menaikan dan membawa ku ke pohon beringin ini, sedangkan Nenek memakai tongkat, Nenek tidak akan kuat membawa ku ke sini, Nenek sudah tua bagaimana caranya Nenek membawa ku ke sini".


Nenek itu tertawa cekikikan dan dia menoleh menatap ku, Nenek itu menengadahkan kepala nya pada ku, dan perlahan dia melayang naik ke atas menghampiri ku.


Mata ku terbelalak, menyaksikan Nenek itu melayang dan naik, perlahan tapi pasti, sekarang dia sudah berada di hadapan ku, korengan nya kini jelas terlihat terutama di muka nya.

__ADS_1


Aku yang kaget shock melihat nya terbang kini makin ketakutan dan ngeri melihat wajah Nenek yang penuh korengan, dan borok bolong-bolong nya semakin jelas dan menjijikkan sekarang dari pada tadi pertama kali aku melihat nya di jalan ketika aku berjalan bersama Ratih.


Aku memaling kan wajah ku dan memejam kan mata ku, aku sembunyikan wajah ku di lengan sambil tangan ku masih kuat memeluk batang pohon beringin itu, terdengar suara cekikikan tertawa Nenek korengan, membuat ku merinding kini aku percaya perkataan Ratih yang bilang kalo Nenek itu adalah makhluk halus.


"Mamah...Mah... tolong liya Mah..."


Kata ku sambil menangis


"Mamah......."


Aku berteriak sejadi jadinya berharap Mamah bisa mendengar ku, tanpa membuka Mata ku dan masih menyembunyikan muka ku di lengan ku dan masih memeluk batang pohon beringin besar itu, aku mendengar suara Mamah.


"Liya... ini Mamah... "


Suara itu samar terdengar oleh ku, aku berhenti menangis, dan ingin memastikan bahwa itu benar suara Mamah, aku memanggi Mamah lagi.


"Mahh...?Mamah dimana... tolong liya Mah... "


Aku berteriak, Nenek itu tertawa cekikikan makin keras.


"Liya ini Mamah, Mamah di sini Liya".


Terdengar lagi suara Mamah kali ini lebih jelas, seperti berbicara di telinga ku.


"Kunaon nutupan mata maneh, sok buka mata na, lain na tadi maneh resep pisan ningali keun aing?, teu eureun-euren nempokeun aing, (Kenapa kamu menutup mata mu, ayo buka mata mu, bukan nya tadi kamu begitu penasaran pada ku, kamu tak lepas melihat ku)".


Ucap Nenek itu dan tertawa cekikikan tak henti-henti


"Maaf Nek,... aku tadi cuman kasian ngeliat Nenek".


Ucap ku, masih menutup mata ku dan menyembunyikan wajah ku terdengar suara cekikikan Nenek it tertawa.


" Karunya? mun karunya ka aing Naha atuh nyumput kitu, sok buka mata na, maneh pan ka runya ka aing jadi maneh bakalan nga baturan aing didieu, aing teu boga batur maneh bakal nga baturan aing didieu hihihihi hihihi (kasian? kalo kamu kasian kenapa sembunyi seperti itu, ayo buka mata nya, kamu kasian kan sama aku jadi kamu harus temenin aku di sini, aku gak punya teman kamu akan jadi teman aku di sini, hihihihi hihihihi)".

__ADS_1


Ucap Nenek itu, dan cekikikan lagi yang membuat aku merinding dan semakin ketakutan.


__ADS_2