RUMAH BEKAS PESUGIHAN BUTA IJo

RUMAH BEKAS PESUGIHAN BUTA IJo
Bab 20 penampakan


__ADS_3

Papah melirik jam dinding, masih dengan memeluk Mamah di sopa ruang keluarga, waktu menunjukan jam 8 malam, satu jam lagi Papah harus pergi meninggalkan keluarga nya untuk bertugas menjaga vila di sebelah rumah nya, Papah menarik napas panjang seakan ada beban berat yang ingin dia lepaskan.


"Kenapa Pah?".


Sambil mendongakkan kepala menatap Papah yang sedang duduk memeluk nya, Mamah bertanya, karena Mamah yang di peluk Papah merasakan kegalauan Papah.


"Gak apa apa, Anak-anak udah makan malam Mah?".


Kata Papah menyembunyikan kegelisahan nya, Mamah menggelengkan kepala.


"Gak kaya nya belum, Papah juga belum makan malam, sebentar lagi Papah harus jaga vila kan?, kita makan dulu ya, Mamah siapin makan malam".


Papah menganggukan kepala nya, Mamah berdiri, dan pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam, sudah agak terlambat memang biasanya kami makan setelah solat isya.


Setelah beres memasak seadanya untuk makan malam, Mamah memanggil Papah, dan menghampiri aku, dan Kakak ku teh Eli di kamar Kakak ku sulung ku yang sekarang sudah tertidur, Istri nya Mas Ami, Andri, dan Julian pun masih di kamar Kakak ku.


"Ayo kita makan malam dulu, kalian belum makan kan?, biarin aja Teteh nya gak usah di tungguin Teteh nya udah tidur".


Kata Mamah mengajak kami untuk makan malam, kami pun mengangguk, dan beranjak dari tempat tidur menghampiri Mamah yang berdiri di ambang pintu kamar Kakak ku.


"Ayo mbak ikut makan malam bersama kami".


Mamah mengajak Istrinya Mas Ami untuk makan malam bersama.


"Udah makan saya tadi Buk, terimakasih, mau nidurin Andri kaya nya udah mengantuk".


Istrinya Mas Ami tersenyum, lalu menggendong Andri yang masih duduk di ranjang Kakak ku.


"Besok kita main lagi ya Andri".


Julian melambaikan tangan nya ke Andri sambil tersenyum, Andri yang ada di gendongan Mamah nya balas melambaikan tangan nya, mengangguk, dan tersenyum.


Kami pun makan malam, setelah makan malam kami berkumpul di ruang keluarga menonton tivi, jam sembilan kurang 15 menit malam, Papah masih duduk di ruang keluarga menonton tivi bersama kami, seperti nya Papah lupa jam sembilan Papah harus pergi menjaga vila kalo Mamah tidak mengingat kan nya.

__ADS_1


"Pah, siap siap sana pake jaket nya biar gak dingin, Papah kan mu jaga vila, tuh udah jam berapa, udah mau jam sembilan".


Papah melirik jam dinding, dan tersenyum tipis lalu bangkit dari duduk nya, pergi ke kamar untuk mengambil jaket nya, Mamah mengikuti Papah ke kamar.


"Kenapa Pah?, Papah khawatir sama Teteh?, gak apa-apa Pah kan ada Mamah, nanti kalo ada apa-apa Mamah tinggal manggil Papah gak jauh ini".


Mamah yang merasakan seperti nya Papah enggan untuk pergi meninggalkan rumah, Papah tersenyum, dan mengangguk.


"Iya Mah".


Sambil mengusap rambut Mamah, Papah tersenyum menyembunyikan kegelisahan nya dari Mamah, ketika Papah mau berangkat ke vila itu kami masih menonton tivi.


"Kalian jangan tidur malam malam yah..., jam sepuluh matiin tivi nya tidur..., Papah berangkat dulu ya..., asalam mualaikum...".


Kata Papah kami pun mengangguk, dan membalas salam nya.


"Wa alaikum salam".


Papah berjalan menuju vila itu, dari kejauhan terlihat Bibi yang mengurus vila itu sudah berada di depan gerbang rumah menunggu Papah, menggantikan nya untuk menjaga vila, Papah mempercepat langkahnya.


"Udah nungguin Bi?".


Kata Papah sambil tersenyum dan mengambil kunci yang sudah di sodorkan Bibi pengurus vila itu, ketika Papah sudah berada di hadapan nya, seperti nya Bibi sudah lelah, dan ingin segera pulang ke rumah untuk beristirahat, dan tidur.


"Iya.. saya pulang yah Pak..., udah ngantuk..."


Bibi pun berlalu berjalan kaki menuju rumah, seperti nya rumah nya juga tidak jauh, dia selalu berjalan kaki, datang subuh jalan kaki, pulang malam jalan kaki, pasti rumah nya tidak jauh.


Setelah vila ini, ada sekitar dua rumah besar lagi di deretan rumah ini, tapi kami tidak tau, apa setelah rumah terakhir ada perkampungan atau tidak, hanya terlihat kebun yang di pagari bambu, setelah rumah terakhir di deretan rumah kami, setelah kebun mungkin ada rumah penduduk yang lain, mungkin di sana Bibi tinggal.


Papah menghela napas panjang, ketika melihat gerbang vila yang megah itu dari luar rumah.


"Bismillah Hirohman Nirohim..."

__ADS_1


Kata Papah lagi lalu membuka gerbang vila itu, Papah masuk masih teringat di benak nya malam pertama dia menjaga vila itu, dalam benak nya apa yang akan terjadi malam ini?.


Papah berharap malam ini tidak terjadi sesuatu yang di luar nalar, kalo bukan karena keadaan ekonomi yang memaksa nya harus menjaga vila ini, Papah malas menjaga vila ini, Papah kapok setelah apa yang terjadi semalam, dari malam pertama kali Papah menjaga vila ini.


Jantung Papah berdegup kencang, Papah membuka pintu utama vila ini, seperti malam kemarin, vila itu begitu mewah Papah silau dengan suasana ruangan pertama yang bernuansa perak ke emasan seperti sebuah istana.


Papah berjalan melewati ruang utama menuju ruang tengah, mengamati sekitar ruangan, menyalakan tivi yg berada di ruangan itu, agar merasa tidak terlalu hening.


Papah duduk sebentar di sopa, mengutak ngatik channel tivi lalu memutuskan untuk melihat berita, Papah menaikan volume suara tivi , lalu beranjak dan berjalan untuk mengamati semua ruangan.


Sampai di ruangan tempat lukisan itu berada, Papah melirik lukisan itu, mengagumkan..., dalam benak nya dia tidak pernah melihat wanita secantik dalam lukisan itu.


Papah masih teringat kalo lukisan itu kemarin malam tersenyum padanya..., apakah itu hanya imajinasi ku?, bathin Papah lalu berlalu berjalan lagi meengitari vila itu, mengamati setiap ruangan dan halaman.


Saat itu belum ada CCTV seperti sekarang, setelah mengelilingi rumah itu Papah mulai merasa lelah, apalagi tadi siang dia tidak sempat tidur lagi, karena harus mengantar Kakak ku berobat.


Papah berjalan menuju dapur, dalam benak nya ingin membuat kopi agar tidak merasa mengantuk, Papah membuka pintu dapur berjalan melewati meja makan, menghampiri kitchen shet untuk membuat kopi, tapi di sana sudah tersedia secangkir kopi panas, yang asap nya dari dalam cangkir itu masih keluar seperti baru saja dibikin.


Papah tertegun keheranan, tidak ada siapa pun di vila itu selain dirinya, Papah menggumam.


"Siapa yang membuat kopi ini?. "


Gumam Papah, dan begitu terkejut nya Papah ketika di belakang nya ada yang menjawab nya.


"Saya Kang...".


Papah langsung tersontak kaget, namun tidak bisa bergerak, dia jelas sekali mendengar suara lembut, dan merdu dari belakang, suara seorang wanita.


"Saya buatkan untuk Akang..."


Lagi lagi suara itu terdengar..


(Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2