
Papah tertegun sejenak mendengar pertanyaan Mamah, lalu melangkah kaki nya kembali melanjutkan niat nya pergi ke kamar untuk mengganti pakaian, Mamah masih mengikuti nya dari belakang sampai ke kamar, Mamah masih menunggu jawaban dari pertanyaan nya.
"Pah...bagaimana kalo nanti dia membelinya dan ternyata uang yang kita Terima itu uang haram, karena kita sudah tau kalo Bapak itu mendapatkan uang dari hasil pesugihan?".
Papah membuka lemari baju, dan mengambil baju kemeja, dan celana katun nya.
"Mah kita menjual rumah, rumah yang kita beli dari hasil kerja keras, sekarang kita menjual nya ke Bapak itu yang kita dapat kan bukan dari hasil pesugihan dia, tapi dari hasil kita menjual rumah".
Masih sibuk memakai celana katun nya, Papah menyempat kan menjawab pertanyaan Mamah.
"Tapi pah.. kita tau uang yang kita Terima dari dia itu hasil pesugihan".
Keraguan masih menyelimuti hati Mamah untuk menjual rumah nya kepada pemilik vila itu, karena Mamah tak ingin uang yang di dapat kan nya adalah uang haram dari pesugihan.
"Bapak itu punya perusahaan, dia melakukan pesugihan untuk melancarkan usaha nya, uang yang kita Terima dari dia hasil dari perusahaan nya bukan dari jin itu, walaupun pelantara yang yang membuat usaha nya maju adalah dengan dia melakukan persugihan, toh kita menjual barang yang menjadi milik kita, bukan milik jin itu, uang yang kita Terima halal karena milik kita hak kita, Bapak itu yang melakukan persugihan bukan kita Mah, dia yang menanggung segala akibat nya, kita sebagai pegawai nya kita menjual tenaga kita mendapatkan hak kita, kita menjual rumah juga uang nya itu uang kita hak kita".
Mamah tertegun sejenak, masih mencerna, mencoba mengerti apa yang di katakan Papah.
"Percaya sama Papah Mah... uang yang kita Terima selama ini hasil kerja Papah dari dia sebagai penjaga vila itu halal, dan sekarang juga kita menjual rumah ke dia uang nya juga halal, karana kita mendapatkan dengan halal dengan cara yang halal".
Kedua tangan Papah menyentuh pundak Mamah, berusaha untuk meyakin kan Mamah, Mamah akhirnya mengangguk.
" Iya pah.. ".
Papah tersenyum mendengar jawaban Mamah, Papah lega akhirnya Mamah dapat mengerti.
"Jangan khawatir Mah, Papah tidak akan pernah memberi satu sen pun uang haram untuk keluarga kita".
Tak ingin ada keraguan yang mengganjal di hati Mamah, Papah berusaha untuk lebih meyakinkan Mamah.
"Coba Mamah bayangin di luaran sana berapa banyak orang yang melakukan pesugihan,? dan uang yang mereka Terima dari pesugihan mereka belanjakan di pasar, apa pedagang-pedagang yang dia beli dagangan nya mendapat kan uang yang tak halal? karena yang membeli nya melakukan pesugihan?".
Mamah mengangangguk.
"Apa itu adil? pedagang itu berdagang dengan uang hasil kerja keras nya dan halal, lalu dagangan nya di beli oleh orang yang melakukan pesugihan, kalo uang yang diterima nya tidak halal maka itu tidak adil karena yg dia jual hasil kerja keras nya yang halal, begitu pun kita sekarang Mah, ingat Mah Allah Maha adil dan Maha Mengetahui".
Mamah mengangguk dan tersenyum sekarang wajah nya penuh keyakinan dan percaya, mengerti apa yang di katakan Papah.
"Iyaa iyaa sekarang Mamah ngerti Pah... "
Dengan senyuman di wajah nya meyakin kah Papah, Mamah merasa lega sekarang setelah Papah menjelaskan dan tak ada keraguan lagi di hati nya.
"Alhamdulillah... ya udah Papah boleh pergi nemuin Bapak pemilik vila itu sekarang?".
__ADS_1
Kata Papah meminta ijin
"Iya hati hati Pah...".
Papah merengut kan kening nya.
"Hati hati? Papah pergi ke rumah tetangga sebelah Mah, bukan ke medan perang..".
Sambil menahan tawa Papah menggoda Mamah.
"Ih Papah yaahh ".
Papah tertawa melihat reaksi Mamah yang kikuk.
"Kenapa ?Mamah takut yah Papah jadi korban tumbal nya? jangan khawatir Mah, pesugihan pemilik vila itu minta korban tumbal nya wanita yang masih muda yang belum punya anak, jadi Papah aman karena Papah laki-laki, Mamah juga aman walaupun Mamah masih cantik dan belum tua, tapi Mamah udah punya anak empat, untung yah Mamah udah punya anak empat kita beruntung di selametin ma anak-anak".
Papah masih menggoda Mamah.
"Udah ah sana, udah di tungguin tuh".
Mamah medorong pundak Papah.
"Abis nya sih Mamah jangan terlalu mengkhawatirkan sesuatu berlebihan Mah, muka nya di tekuk terus nanti cepet tua, Mamah tuh cantik kalo lagi senyum ".
"Nah gitu beneran tuh cantik kan".
Papah belum puas menggoda Mamah.
"Iya Pah.. makasih.. ".
Papah tersenyum dan mencium kening Mamah, lalu berjalan melangkah kan kakinya keluar dari kamar, melewati kamar anak-anak nya menuju pintu ruang utama, Mamah mengikuti nya dari belakang.
Setelah Papah pergi, Mamah menutup pintu ruang utama, dan menguncinya lalu kembali ke ruang tivi bersama kami, Papah berjalan menuju vila itu, sesampainya di gerbang, Papah menekan bell gerbang itu, terdengar suara lari kecil di balik gerbang vila itu, lalu terdengar suara kunci gerbang di buka, terlihat Bibi berdiri di balik gerbang setelah di buka.
"Ayo Pak masuk, Bapak udah nungguin dari tadi".
Kata Bibi sambil kembali menutup dan mengunci gerbang kembali setelah Papah ada di halaman vila.
"Oh ya Bi.., Maap tadi ngobrol dulu sama istri saya, mastiin mau jual rumah apa gak nya".
Bibi tidak membalas perkataan Papah, setelah mengunci gerbang, kembali Bibi melangkah kan kakinya berjalan menuju ruang utama vila, di belakang Papah mengikuti nya, Bibi membuka kan pintu ruang utama dan masuk, Papah pun ikut masuk, dan berdiri di pintu, Papah melihat Seorang lelaki berbadan tinggi tegap berdiri membelakangi nya sedang memperhatikan aquarium yang di huni seekor ikan Arwana di ruang utama itu.
"Ini Pak, Bapak penjaga vila itu sudah datang"
__ADS_1
Bibi memberitahu pria itu, pria itu membalikan badan nya.
"Iya Bi terima kasih.. silakan duduk.. ".
Pria itu mempersilahkan duduk, pria itu umur nya sekitar 45-50, terlihat berwibawa walaupun dia hanya memakai switer panjang putih dan celana training.
"Terima kasih Pak.. maap membuat Bapak menunggu, tadi ada sesuatu yang harus d bicarakan dulu dengan istri saya".
Pria itu hanya tersenyum mendengar penjelasan Papah, dan dia pun duduk di sopa, di ikuti Papah yang duduk di sopa yang berada tepat di hadapan nya.
"Mau minum apa Kang? kopi?".
Pemilik vila itu menawarkan kopi ke Papah, Papah tersenyum dan mengangguk.
"Boleh pak..".
Papah menerima tawaran pemilik vila itu.
"Kopi dua Bi..."
Bibi pun manggut, lalu segera pergi ke dapur untuk membuat kopi, tinggalah Papah dan pemilik vila itu di ruangan itu.
"Kenapa mau di jual rumah nya Kang?".
Pemik vila itu membuka obrolan nya dengan Papah.
"Saya butuh uang Pak".
Pemilik vila itu tersenyum mendengar jawaban Papah.
"Siapa orang nya yang tidak butuh uang apalagi di jaman sekarang, lalu nanti Akang mu pindah kemana kalo rumah nya di jual?".
Kata pemilik vila itu suaranya terdengar berwibawa, tentu saja dia adalah pemilik sebuah perusahaan, di perusahaan nya semua orang menuruti perkataan nya.
"Belum tau Pak, rencana nya mau pindah ke sebuah kampung membeli rumah sederhana dan membuat usaha kecil kecilan di kampung itu".
Pria pemilik vila itu menatap Papah tajam.
"Memang uang yang Akang butuh kan sekarang untuk apa? berapa? Apa harus dengan menjual rumah?".
Ketika Papah akan menjawab pertanyaan pria pemilik vila itu, datang Bibi membawa nampan yang diatas nya tersedia dua cangkir kopi dan empat toples kue.
(Bersambung)
__ADS_1