
Setelah mengantarkan Om Toni ketempat peristirahatan nya yang terakhir, Papah pulang bersama Mamah manaiki sepedah Motor Mas Ami yang tadi pagi Papah pinjam, sebelum nya Papah sudah mengganti baju di rumah Om Toni, ketika Papah hendak menyolatkan Om Toni untuk yang terakhir kali nya.
Babeh memanggilnya untuk mengganti pakaian nya, memakai baju Om Toni,
Papah masuk ke kamar Om Toni, dan memakai baju koko yang sering Om Toni pinjam kan ketika mereka solat bersama, Papah mengedarkan pandangan nya kesetiap juru ruangan kamar itu yang di penuhi kenangan dirinya, dan Om Toni.
Dari kecil sampai mereka tumbuh dewasa, kamar itu sudah beberapa kali berubah dekorasi, tapi tetap kamar yang sama, kamar masa kecil mereka sampai mereka tumbuh dewasa.
Sesampainya Papah di rumah, Papah berteriak teriak memanggil makhluk ghoib yang ada di rumah nya, untuk menunjukkan dirinya.
"Keluar kauu... Buta ijoooo...keluuuaarrr hadapi akuuu, kau yang mencelakai sahabat ku!!!! aku tau ini perbuatan mu!!!".
Aku yang saat itu sedang bersama Kakak- kakak ku, dan adik ku di ruang keluarga, kami saling berpelukan ketika mendengar Papah berteriak teriak kami takut, shock,tidak berani menghampiri Papah yang berada di ruang utama, lalu terdengar Mamah berusaha menenangkan Papah.
"Pah istighfar pah... kami tau Papah sedih kehilangan Toni, kami juga Pah... kami juga kehilangan Toni kami juga sedih Pah... kasian anak anak Pah jangan seperti ini anak anak ketakutan".
Papah terduduk lemas, Papah menutup mukanya dengan kedua tangan nya, seperti nya Papah sudah tak tahan lagi, ingin mengakhiri semua teror yang selalu mengakibatkan orang orang yang dia cintai terluka bahkan kehilangan nyawa nya, Papah tak ingin ada korban lagi.
"Kalian harus keluar dari rumah ini".
Ucap Papah, Mamah yang mendengar perkataan Papah merengut kan kening nya, dan menghampiri Papah yang sedang duduk di sopa dengan muka yang masih di tutup nya dengan kedua tangan nya.
"Siapa Pah? Maksud Papah siapa yang harus keluar dari rumah ini?"
Papah membuka tangan yang menutupi wajah nya, dan menoleh ke arah Mamah yang sudah berada di samping nya.
"Tentu saja Mamah, dan Anak-anak siapa lagi?!"
Ucap Papah dengan tegas, Mamah menggelengkan kepala nya tak menyetujui keputusan Papah.
"Tapi kenapa Pah?, ini rumah kita kenapa kita harus pergi?".
Papah terlihat bingung dengan perkataan Mamah, Papah menatap Mamah dengan tajam.
"Setelah semua yang terjadi menimpa kita Mamah masih bertanya kenapa? Papah tak ingin ada yang terluka lagi atau lebih buruk lagi kehilangan nyawanya seperti Toni, dan lihat keadaan kita apa Mamah tak ingin memperbaiki keadaan kita? ".
Mamah meghela napas, Mamah mencoba menenangkan papah dengan menyentuh pundak nya, tapi Papah seketika itu berdiri, dan hendak melangkah kaki nya untuk pergi karena Papah kecewa Mamah tidak mendukung keputusan nya yang hanya ingin melindungi keluarga nya, dan masih saja Mamah ingin tinggal di rumah ini setelah smua musibah yang terjadi.
__ADS_1
"Pah dengar kan dulu Mamah, semua yang terjadi ini sudah atas kehendak Allah, Toni meninggal atas ijin Allah, sudah kehendak Allah kita harus merelakan nya, semua ini murni kecelakaan tak ada yang berhak mengambil nyawa manusia tanpa seijin Allah Pah...".
Papah melirik Mamah dengan tajam.
"Lalu yang terjadi di ruang keluarga? apa Mamah tidak ingat? bagaimana berantakan nya ruangan itu? Apa Mamah tidak berpikir ada sesuatu yang mengerikan terjadi pada Toni di ruangan itu sebelum Toni pergi? Toni pergi tanpa pamit, dan kita tak mendengar apapun di malam itu?!!
Mamah termenung mendengar perkataan Papah, yah memang tak dapat di ingkari pasti ada kejadian yang mengerikan di ruanga keluarga malam itu yang membuat Om Toni pergi tanpa pamit.
"Papah yakin Makhluk itu pasti datang menghampiri Toni, dan melakukan sesuatu yang membuat Toni ketakutan, dan pergi dari rumah".
Ucap Papah lagi dengan yakin.
"Tapi Pah, makhluk itu tidak membunuh Toni, Toni meninggal karena kecelakaan mobil, dan kehidupan kita Mamah yakin akan lebih baik, Babeh tadi siang berbicara dengan Mamah, Papah akan menggantikan Toni mengurus dealer di Bandung seperti yang sudah Toni katakan sebelum nya ke Babeh, Sebelum Toni pulang ke Bandung, di jakarta Toni, dan Babeh sudah sepakat Papah akan mengurus dealer di Bandung menggantikan Toni dan Toni hanya akan mengawasi, dan yah... Toni selalu ada bersama kita Pah.. mengawasi Papah"
Papah memejamkan matanya. meghela napas panjang
"Mamah tau apa yang dikatakan Toni sebelum meninggal, Dia bilang pergi dari rumah itu... buta ijo...selamat kan keluarga mu...!!"
Mamah terkejut, ketika mendengar perkataan Papah, Mamah langsung menoleh kearah Papah tanpa bisa berkata apa apa.
"Terserah kalo kamu tidak mau pergi!!"
"Maafin Papah yah...Papah gak marah sama kalian Papah lagi sedih".
Kami mengangguk
" Papah nya pergi yah Mah? "
Tanya Teh Eli Kakak ku, Mamah mengangguk.
"Iyaa Papah lagi butuh sendiri menenangkan dirinya".
Kami saling pandang.
"Gimana kalo Papah gak pulang lagi".
Ucap ku, aku khawatir Papah pergi lama lagi seperti dulu, Mamah tertegun mendengar pertanyaan ku.
__ADS_1
"Enggak, sebentar lagi juga Papah pulang, Ayo udah sana kalian mandi sebentar lagi kan solat maghrib, Papah pasti pulang makan malam sama kita".
Aku dan Teh Eli mengikuti permintaan Mamah, kami mandi, dan memandikan Julian, Mamah duduk di sopa menemani Kakak salung ku yang belum sembuh.
Setelah selesai mandi, dan memandikan Julian kami berkumpul di ruang keluarga menunggu Mamah yang sedang mengambil wudhu untuk solat maghrib bersama, setelah solat maghrib bersama seperti biasa, kalo tak ada Papah, Mamah mengajari kami mengaji hurup hijaiyah sampe waktu nya solat isya, lalu kami solat isya.
Papah belum juga pulang, setelah solat isya Mamah di bantu Teh Eli menyiapkan makan malam, aku menemani Kakak sulung ku, dan Julian di ruang keluarga sambil sesekali melihat ke pintu, Papah belum juga pulang pikir ku, dan yah Papah tidak ikut makan malam bersama kami.
Papah pulang larut malam, ketika kami sudah tertidur, Mamah yang masih terbangun menunggu suaminya pulang, mendengar suara gerbang di buka, Mamah mengintip dari jendela setelah yakin yang datang Papah, Mamah keluar dari kamar nya dan membuka kan pintu untuk Papah.
"Asalamualaikum.. ".
Ucap Papah ketika Mamah membuka kan pintu untuk nya, Mamah tersenyum, dan membalas salam Papah.
"WA alaikum salam..., Papah Udah makan?".
Papah hanya mengangguk lalu melangkah kan kakinya, Papah duduk di ruang keluarga, di sopa panjang dimana tempat Om Toni tertidur malam itu, Mamah menghampiri Papah.
"Pah... "
Belum Mamah selesai bicara Papah memotong perkataan Mamah.
"Papah mau tidur di sini malam ini, Mamah temenin Julian di kamar".
Mamah terdiam mendengar perkataan Papah, dan hanya bisa menuruti permintaan Papah, tak ingin ada perdebatan di tengah malam yang akan membangun kan Anak anak nya, Mamah pergi ke kamar nya.
Papah terduduk diam di sopa panjang itu mengingat ngingat kembali semua yang dia, dan Om Toni lakukan dan bicarakan malam itu, Papah menghela napas, lalu membaringkan tubuh nya di sopa panjang, dan bergumam.
"Ton.. datang lah ke mimpi ku.. aku hanya ingin tau apa yang terjadi pada mu malam itu, Aku tak akan bisa hidup tenang sebelum mengetahui yang telah terjadi di ruangan ini... ".
Sambil menutup matanya, Papah berbicara sendiri, dan akhirnya tertidur, dalam tidur nya dia bermimpi.. dia berada tepat di pintu masuk ruang keluarga melihat Om Toni.. Om Toni yang sedang tertidur, dan Papah melihat dirinya sendiri duduk di ruang keluarga itu sedang menonton tivi, dan berbicara pada Toni yang sudah tertidur, itu aku.. itu Toni... ini malam... itu..
"Toni.. ehh tidur gak bilang bilang... "
Papah melihat dirinya sendiri berbicara ke Om Toni yang sudah tertidur, lalu Papah melihat diri nya sendiri mematikan tivi dan tersenyum melihat Om Toni yang sudah terlelap lalu menyelimuti Om Toni, dan pergi ke kamar, Papah yang melihat dirinya pergi meninggalkan kan Om Toni yang tertidur di sopa sendiri bergumam.
"seharus nya aku tidak pergi... heiii jangan pergi... jangan pergi kembali.. ".
__ADS_1
Papah berbicara kepada dirinya yang dia lihat sedang berjalan melangkah keluar dari ruang keluarga, Papah menghalangi menghalangi dirinya itu, tapi dirinya hanya berlalu, tinggal Om Toni kini di ruang keluarga itu tertidur di sopa, Papah memperhatikan Om Toni dengan kecemasan, apa yang akan terjadi pikir nya,..
(Bersambung)