
"Itu Teteh teriak-teriak ke siapa?".
Ujar Teh Eli dengan wajah kebingungan.
" Iya, makanya ayo lihat".
Ujar ku sambil menarik tangan nya Teh Eli, kami beranjak dari tempat duduk, ketika kami hendak mau membuka kan pintu tiba-tiba lampu mati.
"Tenang liya...kamu jangan panik".
Kata Teh Eli yang tau aku gak suka kegelapan.
" Senter Teh di laci meja belajar".
Kata ku meminta Teh Eli mengambil senter di laci, Teh Eli pun dengan sigap, cepat- cepat menghampiri laci di meja belajar yang tepat di sebelah nya, ketika teh Eli menemukan nya langsung menyalakan senter nya.
Kami mendengar suara tangisan bayi, entah itu suara Azis, adik bungsu kami, atau Sahrul keponakan kami, tapi setelah kami mendengar suara Suami Teh herti, yang memanggil nya baru lah kami tau yang menangis Sahrul bayi nya Teh Herti.
"Mah...Mamah dimana? Mah ini Sahrul menangis, lampu nya kenapa mati?".
Suara Suami nya Teh Herti, Kakak ipar ku itu sedang tertidur lelap, terbangun kan oleh anak nya yang menangis, dia kebingungan kenapa Istri nya tidak ada di samping nya, dia tidak tau kalo Istrinya yang terbangun karena mendengar suara-suara di luar kamar, di kamar mandi, di dapur seperti biasanya, suara-suara tanpa wujud, Teh Herti marah, dan teriak-teriak.
Aku, dan teh Eli membuka kan pintu kamar, kami mengarah kan senter ke depan, terlihat Kakak sulung, dan Mamah sedang berdiri, Mamah dan Teh Herti menoleh kami, kami menghampiri mereka.
"Mah ada apa sih? ini lampu kenapa mati? Teh Herti tadi kenapa sih teriak teriak?".
Ujar teh Eli.
"Gak tau nih Teteh kenapa sih mesti teriak-teriak marah segala, kita kan udah tau itu teh, udah biasa teh, kenapa gak di acuhin aja sih, gak usah marah-marah kaya tadi Makhluk itu malah makin seneng, coba Eli periksa meteran listrik, Liya anter Kakak kamu periksa meteran listrik".
Ucap Mamah, lalu terdengar suara pintu kamar Teh Herti di buka, Kakak ipar ku menggendong bayi nya yang masih menangis, dia melihat ke arah kami karena Teh Eli mengarahkan senter ke arah nya.
"Lagi pada ngapain berdiri di sana, ini lampunya kenapa mati?".
Ujar nya kebingungan.
"Mah ini Sahrul nangis, Mamah kenapa ada di sini? Sahrul nya mau nyusu, gelap lagi jadi gak berhenti berhenti ini nangis nya".
Ujar nya lagi, lalu melangkah menghampiri kami.
"Gak Tau ini A, coba kita periksa meteran listrik nya, ayo liya".
Ucap teh Eli mengajak ku memeriksaa meteran listrik di garasi.
__ADS_1
" Ya udah biar Aa yang periksa, tapi kalian anter ya senterin, ini Mah Sahrul nya gendong kasih susu".
Ucap Kakak ipar lalu memberi kan Bayi nya ke istrinya, Teh Herti mengambil Bayi nya, menggendong nya, dengan berdiri dia menyusui Bayi nya, lalu kami berjalan menuju ruang garasi, meteran listrik berada di pojok dekat pintu garasi.
Kakak ipar ku di depan, aku, danTeh Eli di belakang menyorot kan lampu senter nya ke arah meteran listrik, Kakak ipar ku berhasil menghidupkan kembali listrik nya tapi kami di kejutkan oleh suara seseorang menggeram.
"Euuuhhhhmm... "
Suara nya begitu berat tapi jelas seperti marah.
Kami sontak kaget.
"Apa itu? Siapa itu".
Ujara Kakak ipar ku sambil menengok ke kiri, ke kanan, ke belakang, ke depan.
"Udah ayo Aa...."
Kata Teh Eli dengan menarik tangan Kakak ipar, kami berlari meninggal kan garasi, pas sampai di pintu garasi kami di kejutkan lagi oleh Suaminya tante Ana yang menginap di rumah kami, sudah tepat berada di hadapan kami nyaris saja kami tubrukan, Suaminya Tante Ana dengan wajah shock memegangi tangan Tante Ana.
"Akkkhhhh"
Teriak kami serentak, aku, Kakak ipar ku, dan Teh Eli yang belum hilang ketakutan kami karena suara geraman itu di tambah terkejut oleh kemunculan tiba-tiba Suaminya tante Ana, dan Tante Ana di hadapan kami.
Ucap kami bersamaan.
"Om ngagetin aja ihh lagi ngapain di sini!".
Teh Eli dengan napas yang tak beraturan.
"Lah kalian yang ngapain, Om ma Tante Ana mu pulang".
Ujar Suaminya Tante Ana.
"Kenapa ini? ada apa, Ana kamu mau kemana?"
Mamah yang sedang di kamar Teh Herti mendengar suara keributan menghampiri, Mamah melihat Tante Ana membawa tas nya.
"Ini Aa nya ngajakin pulang Teh".
Ucap Tante Ana.
"Tapi kenapa malam-malam begini? lihat udah jam berapa? jam 1:30, kamu lagi hamil tua gak baik malam-malam keluar rumah".
__ADS_1
"Teh.. tadi.. saya.. saya.. lihat pocong".
Ucap Suaminya Tante Ana terbata bata, Kami saling pandang.
"Beneran saya gak bohong, tadi itu mati lampu, saya lagi tidur Ana bangunin saya, katanya A mati lampu cari lilin, saya bangun saya dengar suara Teteh sama anak-anak, saya berbalik tadi nya saya mau bangun saya mau minta lilin ke Teteh, pas saya berbalik di depan saya ada...ada pocong..."
Ujar Suaminya Tante Ana sambil bergidik.
"Iya teh tadi Aa loncat dari tempat tidur, untung nya lampu nyala trus ngajakin saya pulang, Aa tadi gak bilang lihat pocong, beneran Tadi Aa lihat pocong?".
Ujar Tante Ana antara percaya dan tidak perkataan suaminya.
"Demi Allah ngapain Aa bohong, Tadi Aa langsung loncat dari ranjang karena muka pocong nya pas di depan muka, Aa gak bilang, Aa gak mau nakutin kamu".
Suaminya tante Ana mencoba meyakinkan kami.
"Tapi ini udah malam, kalian besok pagi-pagi aja pulang nya, Ana sedang hamil tua, Teteh gak akan ijin kan, ini udah jam 1:30, udah kalian tidur di ruang keluarga di temenin Liya sama Eli".
Mamah tidak mengizinkan suaminya Tante Ana membawa Tante Ana pulang ke rumah mereka, karena memang sudah tengah malam juga tante Ana lagi hamil tua, rumah mereka juga tidak terlalu dekat rumah mereka melewati Pasar Lembang sekitar 2-3km jarak nya dari rumah kami.
"Tapi Teh... Saya..".
Suaminya tante Ana masih ketakutan.
"Kamu sayang istri, dan anak yang ada di dalam kandungan istri kamu tidak?, pocong itu hanya mengganggu tapi tidak akan mencelakai, kalo kamu keluar dari rumah ini dengan keadaan seperti ini bersama istri mu yang sedang mengandung, bagaimana kalo terjadi apa karena ulah kamu ketakutan?, bukan pocong yang mencelakai tapi ulah kamu sendiri yang ketakutan yang akan mencelakai diri sendiri, kalo kamu mau pulang pulang sendiri jangan bawa Ana!".
Ucap Mamah dengan tegas, akhirnya Suaminya Tante Ana mengalah, kami tidur di ruang keluarga, aku dan Teh Eli menemani tante Ana dan suaminya, kami membawa kasur, dan bantal ke ruang keluarga untuk tidur.
"Tadi suara yang menggeram itu siapa ya?".
Ucap Kakak ipar ku, suaminya tante Ana makin tambah ketakutan.
"Suara menggeram apa? dimana?".
Tanya Suaminya Tante Ana, aku dan Teh Eli menoleh ke arah Kakak ipar ku, membelalakan mata kami dan menempelkan jari telunjuk kami di mulut kami mengisyaratkan agar kakak ipar kami diam tidak membahas nya sekarang.
" Sssshhhhttt".
Ujar aku dan Teh Eli bebarengan ke arah Kakak ipar ku, udah tau Suaminya tante Ana ketakutan baru lihat pocong di tambah lagi Kakak ipar ku berkata seperti itu, langsung saja Suaminya tante Ana menyelimuti dirinya sampe kepala dan Memeluk istrinya.
"Rumah ini benar benar horor".
Ucap Kakak ipar ku lalu melangkah pergi ke kamar istrinya.
__ADS_1
(Bersambung)