
Mobil Om Toni berhenti tepat di pintu gerbang rumah kami, Papah segera mempercepat langkahnya, Om Toni keluar dari mobil berdiri di pintu gerbang rumah kami, pintu gerbang rumah kami tidak terlalu tinggi hanya sedada orang dewasa, Om Toni coba meraih bell pintu gerbang yang berada di tembok samping pintu gerbang, namun dia hentikan niat nya karena mendengar suara Papah tepat di belakang nya, ketika Om Toni berbalik dan tersenyum Ke Papah, Tapi Papah malah langsung menyerang nya.
"Belum satu minggu Ton.. ngapain ke sini?, kamu kesini hanya ingin menemui istri ku huh?!! jangan haraaappp!!!.
Papah sudah tidak bisa membendung emosi nya, Papah melayang kan tinjunya ke muka Om Toni, Om Toni terlihat kaget sekali.
"Wey wey wey apa apa ini, istighfar... kamu kesurupan ya! bukan nya ngucapin salam malah ujug ujug nonjok, kamu kenapa, sadar wey istighfar".
Om Toni melihat muka Papah yang merah penuh amarah, untung Om Toni bisa berkelit dan menghindari pukulan Papah.
"Istighfar??!!! Aku apa kamu yang harus istighfar?!".
Papah menatap muka Om Toni dengan penuh kebencian.
"Lah memang nya aku salah apa?".
Muka Om Toni penuh dengan kebingungan, Mamah yang mendengar ada keributan keluar dari rumah.
"Masuuukk!!".
Ketika Papah melihat Mamah muncul di hadapan mereka, Papah dengan nada keras menyuruh Mamah untuk kembali masuk ke rumah, Mamah perlahan mundur, tapi Mamah memperhatikan wajah Om Toni yang kelihatan kebingungan, tidak seperti kemarin yang terlihat sombong angkuh dan menyebal kan.
"Masuk kata ku!! kenapa masih di sana Mah?! apa kamu juga ingin bertemu dengan Toni?!!".
Mamah kaget ketika Papah berbicara seperti itu kepada nya.
"Papah!!!".
Mamah bukan nya masuk malah menghampiri,membuka pintu gerbang dan menarik tangan Papah, membuat Papah makin kesal.
"Mamah gak denger Papah?! udah berani sekarang?! Apa Mamah...?!!".
Mamah membelalak kan matanya tak ingin papah melanjutkan perkataan yang tak pantas di dengar.
"Papah..!!!, dengar dulu mamah!!.
Mamah malah balas menggertak Papah lalu menarik tangan Papah, dan mendekat kan bibirnya ke telinga Papah.
" Papah lihat Toni.. seperti nya dia kebingungan ".
Papah melirik ke arah Om Toni yang sedang merenggut kan kening nya dan memperhatikan kedua teman nya itu dengan kebingungan.
"Ada apa ini!!?".
Kata Om Toni dengan wajah yang shock.
__ADS_1
"Dia hanya pura pura untuk menarik simpati Mamah".
Kata Papah dengan sinis dan membuang mukanya setelah melirik Om Toni.
"Simpati? maksudnya?, kalian ini kenapa?".
Om Toni makin tidak mengerti apa yang Mamah dan Papah bicarakan.
"Pah percaya saya Mamah, biar Mamah bicara dengan Toni".
Mamah dengan wajah memohon meminta ijin ke Papah untuk berbicara dengan Om Toni.
"Ya udah bicara nya di sini aja, jangan di samperin".
"Toni.. waktu kami seminggu bukan? kenapa sudah ke sini? ini baru dua hari".
Om Toni menggaruk kepala nya yang tidak gatal.
"Waktu kalian seminggu buat apa?".
Terlihat wajah Om Toni tdak di buat buat, dia memang sungguh tidak mengerti apa yang Mamah dan Papah bicarakan.
"Dua hari yang lalu kamu datang ke rumah, untuk menagih hutang dan kamu memberi kami waktu seminggu untuk melunasi hutang kami".
"Dua hari yang lalu? gila, Aku ada di Jakarta dua hari yang lalu, kamu ingat gak waktu kamu nelpon ngabarin anak kamu kecelakaan tangan nya patah, kamu mau pinjem uang ke aku, aku bilang aku lagi di Jakarta aku transfer uang ke rekening kamu, aku baru pulang tadi malam dari jakarta, aku ke sini ingin menjenguk anak kamu yang kecelakaan bukan nya nagih hutang!!!".
Papah dan Mamah saling pandang lalu melirik Om Toni lagi.
"Kamu gak usah bohong!".
Kata Papah meragukan Om Toni, Om Toni lalu berpikir sejenak dan dia masuk mobil lalu keluar lagi, Om Toni memberikan tiket tol dan Bon pembayaran Hotel di Jakarta, di Bill atau Bon pembayaran Hotel itu tercantum tgl check in dan check out Om Toni di Hotel itu, Mamah dan Papah saling pandang lalu beristighfar.
"Astaghfirullah hal ajim...".
Ucap Mamah dan Papah lalu Papah menghampiri Om Toni dan memeluk nya.
"Maafin aku Ton.. ".
Om Toni masih kebingungan.
"Seharusnya aku yakin dan tau kalo itu bukan kamu sahabat aku".
Ucap Papah masih memeluk Om Toni, Om Toni melepaskan pelukan Papah.
"Ada apa sih? Ada orang yang menyerupai aku ke sini? begitu maksud kalian? dan menagih hutang?".
__ADS_1
Papah mengangguk om Toni terlihat sangat terkejut, dan tidak percaya.
"Gak mungkin masa kamu gak ngenalin aku yang asli? kita tuh berteman dari kecil!!, kita udah kaya sodara!!".
Papah menundukan Kepala nya malu dan menyesal yang kini Papah rasakan.
"Kita ngobrol nya di dalam yu..".
Papah menarik tangan Om Toni untuk membawa nya masuk ke rumah, tapi Om Tomi menepis nya.
"Gak mau, bukan nya dari tadi ngajakin masuk nya! mending balik lagi aja deh cape cape baru pulang dari Jakarta ke sini mu nengokin ponakan khawatir!!".
Om Toni dengan wajah kesal.
"Ton... ".
Papah dengan tatapan memelas.
"Tapi penasaran juga ko bisa ada orang yang nyerupain aku sampe kamu gak bisa ngenalin mana yang asli, Ya udah lagian aku ke sini mau nengokin Teteh anak sulung kamu, Gimana teteh sekarang?".
Om Toni sambil melangkah kan kakinya, di ikuti papah dari belakang, Mamah tersenyum ketika Om Toni berlalu di hadapan nya, Papah menggelengkan kepala sambil memijit kepala nya lalu menghampiri mamah dan menggandeng nya masuk ke dalam rumah mengikuti Om Toni yang sudah duluan masuk ke rumah.
Aku melihat Om Toni datang, aku ketakutan, aku berlari Om Toni memanggil ku, tapi aku tak mau dengar, aku menghampiri Teh Eli, dan bersembunyi di belakang nya.
"Kamu kenapa Liya? kenapa ketakutan?".
Kakak ku teh Eli kebingungan melihat ku yang ketakutan dan bersembunyi di belakang nya, aku menunjukan jari ku ke depan, ke arah Om Toni.
"Itu kan Om Toni, kenapa kamu takut sama Om Toni?"
Aku mengangguk, Kakak ku Teh Eli sedang sekolah waktu kejadian Papah dan Om Toni bertengkar, jadi Teh Eli tidak tau kejadian nya, makanya dia heran kenapa aku ketakutan, karena aku belum sempat bercerita ke Teh Eli, dan Mamah, Papah pun tidak membicarakan nya.
"Liya sini sayang...kamu kenapa nak?".
Kata Om Toni, Mamah dan Papah menghampiri, Papah menghampiri ku dan meminta aku bersalaman ke Om Toni seperti biasa nya.
"Liya kemarin tuh yang datang gangguin Mamah bukan Om Toni, itu setan yang menyerupai Om Toni, ayo salaman ke Om Toni, ini Om Toni yang asli, kamu tau kan Om Toni yang asli baik ".
Kata Papah aku pun mengangguk dan menghampiri Om Toni.
"Om coba baca syahadat!".
Kata ku lantang tepat di hadapan Om Toni, aku berdiri beberapa langkah dari hadapan Om Toni masih belum menyalami nya, Om Toni mengerutkan kening nya.
(bersambung)
__ADS_1