
"Kreekk..."
Pintu kamar ku terbuka, aku terdiam sejenak, berdiri di depan pintu kamar ku, tapi aku tak mendengar lagi suara seseorang menyapu itu lagi, tapi aku mendengar seseorang sedang mengocek kan sendok kedalam gelas di dapur, aku berjalan menuju ke dapur melewati kamar teh Eli, ketika aku sedang berjalan pundak ku ada yang menepuk.
"Liya...!"
Ucap teh Eli yang menepuk pundak ku lalu menyeret ku ke kamar nya.
"Teteh iihh ngagetin."
Ucap ku ketika sudah masuk di kamar teh Eli, teh Eli yang menyeret ku masuk ke kamar nya.
"Kamu lagi ngapain malam-malam begini keluar kamar?."
Ucap teh Eli seperti kesal.
"Tadi ada suara orang menyapu, Liya mau tau itu siapa yang suka menyapu tengah malam?."
Kata ku menjawab pertanyaan teh Eli, teh Eli terlihat makin kesal.
"Udah tau yang nyapu tengah malam itu yang ngocekin sendok tengah malam itu bukan manusia, kamu masih ingin melihat nya?!!.
Ucap teh Eli, lalu duduk di tepian tempat tidur nya.
"Kamu tuh baru tadi siang kesurupan, sama Nenek-nenek sekarang baru bangun udah mau lihat hantu lagi?."
Ucap teh Eli lagi.
"Emang teh Eli udah pernah lihat hantu nyapu, Atau ngocekin sendok?."
Teh Eli hanya merenggut kening nya.
"Belum kan?, sama aku juga, maka nya aku pengen lihat, ada makhluk apa aja sih di rumah ini, yang kita tau kan cuman buta ijo, tapi suami nya tante Ana, pernah lihat pocong, Papah juga pernah lihat anak kecil, yang nyapu lantai tuh gak mungkin buta ijo soal nya tangan nya besar banget Teh, gak mungkin bisa pegang sapu yang kecil, nah tersangka kita di antara dua pocong atau anak kecil?."
Teh Eli manampar kepala ku, ketika mendengar perkataan ku.
"Udah gila kamu yaa, ini nih gara-gara kesurupan tadi kayanya, belum sadar bener kamu ya."
Ucap teh Eli, aku yang kena tampar kepala ku, hanya mengaduh.
__ADS_1
"Sakit tau..."
Ucap ku, teh Eli hanya menggelengkan kepala nya.
"Udah sini tidur nya, temenin."
Ucap nya, meminta ku menemani nya tidur.
"Tadi ko Teteh tau aku keluar kamar?."
Tanya ku, sambil menghampiri nya naik ke tempat tidur nya.
"Dari tadi tuh aku denger suara-suara, aku gak bisa tidur pengen ke kamar kamu tapi gak berani, pas kebeneran aku denger suara pintu kamar kamu terbuka, trus aku denger juga langkah kaki aku intip di jendela ternyata kamu."
Ucap teh Eli.
"Trus Teteh langsung buka pintu, terus langsung seret aku ke kamar, trus tampar kepala aku, padahal Teteh seneng kan pas lihat aku di luar."
Ucap ku, teh Eli mengangguk dan tersenyum cengengesan.
"Hehehe Udah ah tidur yu..."
Aku pejamkan mata ku, dan menutup kedua telinga ku, dan akhirnya aku pun tertidur, kami terbangun kan oleh Mamah yang panik, ketika Mamah masuk kamar ku, akan membangun kan ku untuk solat subuh, tapi aku tidak ada di kamar.
"Liyaaaa...Liyaaa."
Teriak Mamah, di luar kamar, aku dan teh Eli yang sedang tertidur pun terbangun karena suara panggilan Mamah.
"Iyaa, Mah ini... aku di kamar Teh Eli."
Aku menyahuti panggilan Mamah, Mamah pun menghampiri pintu kamar teh Eli, dan membuka nya.
"Alhamdulillah, kirain Mamah kamu di bawa Nenek-nenek yang tadi siang kamu kesurupan, yang kata nya mau bawa kamu."
Ucap Mamah, setelah mendapati aku sedang duduk terbangun bersama teh Eli di tempat tidur nya Teh Eli, aku menoleh ke Teh Eli, teh Eli tertawa mendengar perkataan Mamah.
"Iihh Mamah."
Ucap ku, mereka tidak tahu kalau tadi malam aku memang pergi ke tempat si Nenek itu, ke alam nya ke dunia lain dalam mimpi ku.
__ADS_1
"Ya udah ayo copet bangun solat subuh!."
Perintah Mamah, kami pun bangun menurutinya, kebetulan Papah sedang ada di rumah dan kami pun solat subuh berjamaah di imami Papah.
Papah hanya dua hari di rumah, pada hari aku kesurupan itu Papah baru datang dari Cirebon, hari jumat Papah datang, dan pada hari minggu sore Papah kembali lagi ke Cirebon, Mamah sempat menanyakan kabar tentang teman Papah yang akan membeli rumah kami, tapi kata Papah tidak ada kabar lagi dari teman nya itu
Mungkin teman nya Papah yang berniat membeli rumah kami itu, sedang sibuk dengan proyek batu bara nya di Kalimantan, lagi pula teman Papah bilang, dua bulan lagi akan mengabari, jadi kami hanya menunggu waktu dua bulan, bila tidak ada lagi kabar dari nya, berarti kami harus menunggu lagi orang yang berminat dengan rumah kami ini, entah sampai kapan.
Entahlah, kadang kami ingin sekali segera pindah dari rumah kami itu, tapi kadang juga tidak, kadang kami merasa tidak ingin menjual rumah itu, karena terlalu banyak kenangan, rumah itu sudah menjadi bagian keluarga kami dengan berbagai cerita di luar nalar nya.
Satu minggu kemudian Nenek ku, dan Om Dani datang untuk menjenguk Tante Ana, Om Dani yang sudah trauma oleh penampakan buta ijo di rumah kami, tak mau singgah ke rumah kami.
Om Dani langsung membawa Nenek ke rumah Tante Ana, kami pun pergi ke rumah Tante Ana untuk menyambut kedatangan Nenek, sekaligus menengok Tante Ana yang baru dua minggu melahirkan, kami menginap lagi beberapa hari di rumah Tante, kebetulan waktu itu Sekolah masih libur.
Setelah beberapa hari menginap kami kembali ke rumah, walaupun Nenek masih ada di rumah tante Ana, tapi kami tau bagaimana keadaan rumah kami bila kami tinggalkan berhari-hari akan seperti rumah yang di tinggalkan bertahun-tahun, kumuh, kotor, lembab dan tidak terawat, padahal hanya beberapa hari tidak berminggu bulan atau bertahun-tahun.
Benar saja, ketika kami datang ke rumah dengan di antar kan delman, tukang delman itu berkata.
"Ibu sudah berapa bulan rumah nya di tinggalkan?."
Tanya kusir delman itu yang delman nya di parkir kan di halaman depan rumah kami, kusir delman itu memperhatikan rumah kami, yang tampak kumuh menyeramkan kan seperti rumah hantu.
"Tiga hari Mang... belum seminggu boro-boro beberapa bulan."
Ucap ku, menjawab pertanyaan kusir itu sambil turun dari delman, Kusir delman mengerutkan kening nya, Mamah hanya tersenyum, dan memberikan uang kepada kusir delman itu.
"Ini Mang, terima kasih ya..."
Ucap Mamah, supir delman itu mengangguk dan mengambil uang yang Mamah berikan.
"Sama-sama Bu,..."
Ucap kusir delman itu, lalu memutarkan delman nya untuk kembali ke pangkalan delman, di pasar Lembang, kusir delman itu ketika berlalu, mata nya tidak lepas memperhatikan rumah kami.
Kami, Mamah, Aku, teh Eli, Julian, adik perempuan ku Neng Yeni dan Aziz adik bungsu kami yang di gendongan Mamah, kami melangkah menuju pintu rumah kami.
Teh Eli yang membawa kunci membuka pintu rumah, seperti biasa, rumah kami yang hanya di tinggalkan beberapa hari keadaan nya di dalam seperti kapal pecah, sarang laba-laba di mana-mana, lembab dan udara nya sangat pengap, tidak segar.
(Bersambung)
__ADS_1