RUMAH BEKAS PESUGIHAN BUTA IJo

RUMAH BEKAS PESUGIHAN BUTA IJo
Bab 25 Rahasia yang terungkap 2


__ADS_3

Aku berlari ke kamar orang tua ku, ku bangun kan Papah yang sedang tertidur pulas.


"Pah bangun Pah... tolongin Mamah... Papah.... bangunnn ada om Toni datang gangguin Mamah...".


Aku goyang goyang kan tubuh Papah ku, setengah berteriak aku memanggil Papah.


"Papaaaahhhhhhh banguuuuunn!!".


Lalu Papah terbangun dengan kebingungan.


"Ada apa Liya?, kenapa teriak teriak..?".


Papah berkata sambil membalikan tubuh ke arah lain dari hadapan ku, dan matanya masih terpejam.


"Papah cepet banguun".


Aku berteriak lagi.


"Iyaaa iyaaa kenapa ini Papah bangun.. ada apa sih".


Akhirnya Papah bangkit, dan duduk di tepi ranjang.


"Tolongin Mamah...".


Seketika Papah tersontak kaget, dan berdiri.


"Om Toni gangguin Mamah.. ".


Papah makin kebingungan.


"Kamu tuh ngomong apaan di gangguin gimana".


Lalu papah melangkah kan kakinya dengan cepat.


"Dimana Mamah sama om Toni nya?".

__ADS_1


Sambil berjalan tergesa-gesa, dan kebingungan Papah bertanya.


"Di ruang tamu Pah".


Kata ku yang mengikuti Papah dari belakang, lalu Papah mempercepat langkahnya ke ruang tamu.


"Ada apa ini, Toni lepaskan tangan mu dari lengan istri ku!!."


Ketika sampai di ruang tamu Papah melihat Mamah yang sedang meronta ronta berusaha menepis kan tangan Om Toni dari lengan nya, tersirat kemarahaan, dan kebingungan di wajah Papah, Om Toni melirik ke Papah, dan tersenyum sinis, Mamah segera berlari ke Papah, dan berdiri di samping Papah sambil berkata.


"Toni udah gila Pah, tadi dia ngelecehin Mamah".


Muka Papah terlihat geram, menahan amarah.


"Apa maksud kamu Toni?, berani nya kamu sama perempuan!!, dia itu istriku, apa kamu lupa atau udah gila kerasukan apa kamu?".


Om Toni tersenyum sinis lagi, dan berkata.


"Aku hanya menawarkan kebahagiaan untuk nya, dari pada sama kamu dia sengsara, kamu gak akan bisa membahagiakan istri, dan anak-anak kamu, jangan kan membahagiakan mereka, ngasih makan mereka aja kamu pinjem duit sama aku".


Papah makin tersontak kaget tak percaya kalo di hadapan nya adalah Toni teman semasa kecil nya sampai kuliah bareng, dan sekarang pun terakhir kali dia bertemu dengan teman nya ini masih baik baik saja, dulu Papah tidak pernah sekali pun meminjam uang dari Om Toni, karena dulu Papah tidak pernah kekurangan semenjak Papah tidak bekerja itulah, Papah meminjam uang pertama nya untuk membeli tivi, lalu tanpa sepengetahuan Mamah, Papah suka pinjam uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan terakhir kemarin pas Papah pinjam untuk berobat Kakak Sulung ku.


"Sudah lah kamu gak usah balikin uang nya, tinggal kan saja istri, dan anak-anak mu untuk ku, aku yang akan mengurus mereka, kalo perlu aku kasih kamu uang berapa yang kamu mau asal kamu tinggal kan istri mu".


Dengan enteng nya Om Toni berkata sambil dia melangkah menuju sopa di ruang tamu, dan hendak duduk tapi Papah menghampiri nya, dan secepat kilat menonjok hidung Om Toni, sampai hidung Om Toni berdarah.


"Sialan kau jadi kau menginginkan istri ku?, dari kapan kau menginginkan istri ku?!, selama ini kau menginginkan istri ku?!!".


Papah menonjok om Toni lagi sampai om Toni jatuh tersungkur, Mamah menghampiri untuk menghentikan Papah, Mamah meraih lengan Papah, dan menarik nya.


"Pah sudah Pah..., istighfar Pah...,jangan terbawa emosi...".


Om Toni yang jatuh tersungkur berdiri, dan tersenyum, dan menyeka darah segar yang keluar dari hidung nya.


"Beri aku waktu sebulan, aku akan bayar hutang ku!!".

__ADS_1


Kata papah sambil menunjuk dengan tangan yang satu nya, karena Mamah sedang memegangi tangan nya yang satu nya lagi.


"Satu minggu... aku beri kamu waktu satu minggu, kalo dalam waktu satu minggu kamu tidak bisa melunasi hutang mu, aku akan kembali lagi ke sini untuk menjemput istri dan anak anak mu".


Papah tersontak kaget amarah nya kembali tersulut.


" Kamu gila toniiiii!!! kamu sungguh menginginkan istri ku?, hutang ku berapa?!!tidak lebih dari 10 juta,!!".


Papah maju lagi seperti hendak menonjok kan tinju nya lagi ke Om Toni.


"Ini bukan soal uang..., ini tantangan buat kamu, kita lihat apa kamu bisa bertanggung jawab untuk keluarga mu!!, kalo kamu tidak bisa memenuhi tantangan nya, kamu gak usah khawatir selain kamu bebas dari tanggung jawab mu menafkahi istri, dan anak anak mu, aku akan memberikan mu uang berapa pun yang kamu minta, dan aku akan membawa istri dan anak-anak mu!!".


Papah sudah tak dapat lagi menahan amarah nya, setelah mendengar perkataan Om Toni, Mamah tidak bisa menahan tenaga Papah, genggaman Mamah terlepas dari tangan Papah, Papah melepaskan amarah nya memukuli om Toni berkali-kali, tapi aneh nya Om Toni tidak membalas Papah, Om Toni tersungkur lagi jatuh ke bawah. dan Papah masih tetap memukuli nya, Mamah berteriak teriak meminta tolong memanggil Mas Ami, untuk menghentikan Papah, Mamah khawatir kalo Papah lupa diri, dan membunuh Om Toni, lalu gimana kalo Papah di penjara.


"Pah... sudah Pah hentikan Pah istighfar ingat anak-anak Pah... Mas Amiiii.. tolong mas Ami... ".


Untung lah Mas Ami saat itu sedang ada di kamar nya, dan mendengar teriakan Mamah, Mas Ami terkejut dia bingung apa yang sedang terjadi.


"Mas tolong tarik Papah nya anak anak, itu orang bisa mati !!".


Kata Mamah sambil menangis, lalu mas Ami menghampiri, dan menarik Papah yang tidak henti-henti ! nya memukuli Om Toni, Mamah pun membantu Mas Ami menarik Papah, Setelah Papah berdiri Mamah memeluk nya...


"Pah istighfar Pah... sadar Pah.. ingat anak anak kalo Papah membunuh Toni bagaimana dengan kami Pah...? kalo Papah di penjara...istighfar Pah..sabar Pah...".


Papah mencoba mengendalikan dirinya setelah mendengar perkataan Mamah, Om Toni yang sudah babak belur wajah nya berdiri, dan tertawa...


"Hahahaha... liat istri mu tak ingin kau memukuli ku, dia membela ku dia menghentikan mu tak ingin kau memukuli ku dia sayang aku Hahaha... ".


Mamah membelalakan mata nya tak menyaka Om Toni akan berkata seperti itu.


"Aku tak ingin suami ku jadi pembunuh!!! pergi kau dari sini peeerrrgiiiii...!!!".


Mamah berteriak, dan menunjuk ke Om Toni, Om Toni lagi-lagi tersenyum, dan berkata.


"Ingat yaaa satu minggu..!!!".

__ADS_1


Lalu om Toni melangkah menuju pintu membuka kan pintunya, dan melangkah keluar dengan membanting kan pintu keras sekali, Mamah memeluk Papah, dan menangis...


(Bersambung)


__ADS_2