
"Mamah merasa ada yang lain dari diri kamu, bukan kamu yang sebenarnya, kadang omongan kamu yang suka kebeneran kalo ngomong suka kejadian bener, kamu yang mindahin barang barang berat, kamu yang suka ngerasain dan tau ada makhluk ghaib, malah kamu tau bentuk nya kaya gimana, trus kalo kamu lagi marah... Mamah suka takut".
Ujar Mamah, sambil bergidik.
"Trus ada yang lain lagi gak Mah?".
Aku bertanya seperti itu karena aku tau, Mamah lah orang nya yang paling bisa melihat kejanggalan yang tidak aku sadari, karena orang yang paling dekat dengan ku dan tau keseharian ku.
"Kalo kamu lagi dzikir, kamu suka sila, seperti nya kamu nyaman dengan posisi mu bersila saat berzikir, padahal kan yang suka bersila laki-laki, tapi kalo kamu lagi mengaji tuh bikin adem".
Ucap Mamah lagi.
"Tapi suara nya Liya kan Mah?".
Mamah mengangguk.
"Menurut Mamah, ada apa dengan Liya Mah?".
Aku menanyakan pendapat Mamah ku sendiri ingin meyakinkan diriku, yang ku rasakan kejanggalan dalam diri ku ini bukan perasaan ku saja.
"Mamah gak tau Liya, Mamah gak yakin, karena Mamah bukan orang yang bisa melihat alam ghaib, tapi Mamah merasakan bahwa kamu ada yang mengikuti, kamu inget orang yang di angkot dulu waktu kita daftar sekolah, kamu masuk SMA?".
Aku mengangguk, Mamah termenung dan berkata.
"Seperti nya dia benar, tapi sudah lah jangan terlalu di pikir kan ya, selama tidak merugikan kamu, tapi ingat jangan sampai semua itu menjadi kan kamu musrik menyekutukan Allah naujubilah!".
Ucap Mamah lagi dengan mengusap wajah nya.
"Astaghfirullahalazim...Insya Allah Mah gak akan pernah, Liya janji sama Mamah Liya gak akan selemah itu, percuma dong Mah kita pernah tinggal di rumah bekas pesugihan buta ijo belasan tahun, tiap hari di teror horror tapi malah membuat kita lebih mendekat kan diri kepada Allah".
Mamah tersenyum dan mengangguk lalu berkata.
"Sekarang pun harus seperti itu semua kejanggalan ini hanya akan membuat Liya lebih mendekat diri kepada Allah menyerah kan semuanya kepada Allah, karena Allah Maha mengetahui".
Ucap Mamah saat itu, dan setelah beberapa bulan dari perbincangan kami saat itu, aku di tugas kan KKN di sebuah desa di sumedang, di sebuah desa yang kata Abah Kardi tali alas nya Makhluk ghaib, yang membuat si belang lebih intens mendekat pada ku.
Sekitar hampir dua bulan kami tinggal di desa itu, tepat nya Enam minggu, alhamdulillah semua nya berjalan lancar, kami menyelesaikan tugas KKN kami dengan hasil yang baik, dan meninggal kan kesan baik pula kepada warga setempat.
Kami menjaga tatakrama, perlakuan kami, dan bersosialisasi dengan warga dengan baik, ketika waktu nya tiba kami pulang kembali ke Bandung, malam nya sebelum kami pulang warga mengadakan malam perpisahan.
Semua warga berkumpul, kami menyalakan api unggun, memasak nasi liwet, bahkan Abah Kardi rela menyembelih Kambing nya, menjadi kambing guling untuk kami dan warga menikmati nya malam itu.
__ADS_1
Pada Pagi harinya warga berbondong-bondong datang ke rumah Abah Kardi, mereka membawa berbagai macam oleh-oleh untuk kami bawa pulang, seperti ranginang, gula aren, wajit(cemilan yang terbuat dari gula merah di campur beras ketan, atau kelapa atau nanas dan buah buahan lain nya) ada yang memberi pisang, keripik, dan lain sebagai nya.
Sampai ber dus-dus indomie yang di dalam nya isinya bukan Indomie tapi smua oleh-oleh dari warga, kami membaginya ber Enam untuk di bawa pulang ke rumah masing-masing, kami akan merindukan desa ini.
Merindukan keramahan warga nya, merindukan keindahan alam nya, kebersamaan dan kekeluargaan yang masih erat terasa dan mereka menghormati alam, menjaga alam hidup damai dengan alam.
Mobil jemputan kami sudah datang, warga membantu kami menaikan barang barang dan dus oleh-oleh pemberian mereka ke mobil jemputan kami, kami hanya membawa tas ransel masing-masing ketika keluar dari rumah Abah Kardi.
Kami berpamitan kepada keluarga Abah Kardi, dan berterima kasih kepada mereka karena telah bersedia menampung kami dengan ikhlas dan tanpa bayaran sepeser pun, ketika kami ingin memberikan uang Abah Kardi menolak nya.
Memang sebelum nya kami sudah merencanakan untuk memberikan sejumlah uang yang sudah kami kumpulkan, tapi Abah Kardi menolak nya, lalu kami menyumbangkan nya ke mesjid yang berada di desa itu, mesjid tempat anak nya Abah Kardi mengajar ngaji anak-anak warga desa.
Aku melangkah kan kaki ku berjalan menuju ke mobil jemputan kami, kami meninggal kan rumah Abah Kardi, aku menengok ke belakang, Abah Kardi dan Umi tersenyum dan melambaikan tangan nya, lalu Abah Kardi manggut penuh hormat, aku tau Abah Kardi bukan manggut pada ku, tapi pada si belang yang mengikuti ku dari belakang.
Kita kembali melanjutkan ke beberapa tahun yang lalu, ketika aku masih di rumah bekas pesugihan Buta ijo, setelah aku turun dari angkot yang mengantarkan ku pulang dari Mendaftarkan sekolah SMA.
Ketika aku, dan Mamah turun dari angkot, kami membicarakan pria di angkot yang mengatakan bahwa aku akan ada yang mengikuti, kami mengatai pria itu sok tau ingin di sebut orang pintar, karena waktu itu belum terjadi kejanggalan-kejanggalan, aku mengalami dan merasakan kejanggalan setelah aku berumur 17 tahun, dan kami sudah pindah dari rumah bekas pesugihan itu.
Aku dan Mamah berjalan menuju rumah kami, Mamah membuka kan gerbang pintu rumah, aku berdiri memandangi rumah kami di luar gerbang.
"Rumah yang megah, namun mengapa aura nya mencekam, padahal rumah selalu di bersihkan tiap hari, plang rumah ini akan di jual bergoyang tertiup angin, sudah bertahun-tahun plang itu berdiri di depan rumah kami, kenapa tak ada seorang pun berminat untuk membeli rumah kami.
Hanya satu orang yang berminat, tamu Papah yang pengusahaan batu bara dari kalimantan itu, dan aku yakin tamu Papah yang pengusaha baru bara dari Kalimantan itu, bukan orang sembarangan, apakah dia akan jadi membeli rumah kami dua bulan lagi?, apa benar setelah dua bulan nanti kami akan pindah dari rumah ini?.
"Liya.. Liyaa Liya...ayo masuk!, lagi ngapain berdiri melamun di depan gerbang?".
Mamah memanggil ku, setengah berteriak, membangun kan ku dari lamunan ku.
"Iiii iyaaa Mah".
Ucap ku tergagap ketika tersadar dari lamunan ku karena panggilan Mamah, aku pun bergegas menghampiri Mamah.
"Ngelamunin apa sih?, mikirin omongan orang yang di angkot itu ya?".
Ujar Mamah yang mengira aku memikirkan omongan orang yang di angkot itu.
"Gak ko Mah, iih ngapain mikirin omongan orang gak jelas itu".
Kata ku sambil berjalan menuju pintu utama rumah kami, lalu aku memberi salam, dan membuka kan pintu karena memang pintu jarang di kunci waktu siang.
"Asalamualaikum".
__ADS_1
Aku memberi salam, namun tak ada jawaban, Mamah menghampiri ku lalu Mamah pun mengucapkan salam, sama tak ada jawaban dari Teh Eli ataupun Julian, rumah sepi pada kemana, pikir ku".
"Lagi pada tidur siang kali".
Ujar Mamah seperti tau pikiran ku, dan tiba-tiba telepon rumah berbunyi.
"Liya angkat telpon nya".
Ujar Mamah yang sedang berjalan menuju kamar nya memeriksa anak-anak nya yang tidak keliatan satu pun batang hidung nya, aku mengangkat telpon.
"Asalamualaikum, hallo".
Ucap ku ketika menerima telpon.
"WA alaikum salam.. Liya ini Ratih".
Balas seseorang di balik telpon yang ternyata teman SMP ku.
"Iya Ra ada apa? kamu udah nyampe rumah, aku ini baru nyampe".
Ucap ku lagi.
"Iyaa aku juga baru nyampe, eh liya aku mau nanyain, Kata kamu dulu ruang garasi kamu di kontrakin kan? sekarang bisa di kontrakin lagi gak?".
Tanya Ratih.
"Kaya nya enggak deh Ra, soal nya rumah ku dua bulan lagi uda ada yang mu beli".
Jawab ku.
"Mu ada yang beli? emang rumah kamu mu di jual?".
Tanya Ratih lagi.
"Iyaa, udah dari beberapa tahun yang lalu emang mau di jual, kan udah lama di pasang plang di depan rumah ku rumah ini di jual, emang kamu gak lihat pas main ke rumah ku?".
Kata ku balik bertanya.
"Enggak, aku kan sering main ke rumah kamu gak ada tuh plang tulisan rumah ini akan di jual".
Degh... aku langsung terdiam... jadi orang-orang gak lihat plang itu? pantesan aja rumah ini gak ada yang minat, orang mereka juga gak lihat plang rumah ini di jual, ini pasti kerjaan makhluk itu lagi, bathin ku.
__ADS_1
(Bersambung)