
"Ra kasian yah Nenek itu, kaya nya dia kena penyakit kusta deh, liat Ra kulit nya penuh dengan korengan, borokan gitu".
Ucap ku pada Ratih, sambil tak melepaskan tatapan iba ku tertuju kepada Nenek-nenek yang sedang berjalan memakai tongkat nya itu di depan kami, Nenek itu berjalan menuruni jalan sedangkan aku dan Ratih berjalan menanjak.
Kami sudah melewati pohon beringin besar, ketika melewati pohon beringin besar itu jalanan terlindung oleh pohon beringin besar, membuat kami merasa sejuk terlindung dari panas matahari siang itu, Nenek itu melirik kan matanya pada ku dengan tatapan sinis, dia tepat di hadapan ku karena kami berjalan berlawanan arah.
"Jangan di liatin liya...kaya nya Nenek itu gak suka deh kamu liatin".
Ucap Ratih sambil menundukan kepalanya ketika Nenek itu tepat berada di hadapan kami, tepat nya di depan sebelah ku, ketika Nenek itu tepat di hadapan ku aku masih saja tak dapat melepaskan pandangan ku dari nya, sampai Nenek itu berkata.
"Naon maneh nempokeun(apa kamu ngeliatin)".
Aku terkejut, aku hanya bisa tersenyum kecut dan mengangguk, takut sekaligus kasian.
"Tuh kan aku bilang juga apa, jangan di liatin kamu mah iihh".
Ucap Ratih sambil menyeret lengan ku setengah berlari, aku masih sempat nya melihat Nenek itu ke belakang, tapi tepat ketika Nenek itu melewati pohon beringin tepat nya berada di bawah pohon beringin, Nenek itu menghilang.
"Raaaa, Nenek itu menghilang, tadi dia di dekat pohon beringin itu, Ratih lihat deh ko gak ada".
Ucap ku menghentikan langkah ku, Ratih menepis kan tangan ku dan berlari.
"Raaa, tunggu kamu kenapa lari, kamu tadi liat kan Nenek itu Ra?.
Aku memanggil Ratih yang sudah berlari meninggalkan ku, aku yang masih berdiri kebingungan karena Nenek itu menghilang tepat di bawah pohon beringin, aku melihat Ratih yang sudah jauh meninggalkan ku karena Ratih berlari, aku pun berjalan dengan kesal menyusul Ratih, kenapa sih Ratih harus lari segala bathin ku.
"Kamu ngapain sih mesti lari segala".
Ucap ku, ketika aku melihat Ratih sudah menunggu ku di depan rumah Tante Ana.
"Kamu tuh yah Liya, iiihhh...".
Ucap Ratih tak meneruskan ucapan nya dan hanya bergidik.
"Kenapa? kamu tadi lihat Nenek korengan kaya kena kusta itu hilang di bawah pohon beringin itu?".
Tanya ku lagi pada Ratih, dan Ratih hanya bergidik tidak menjawab pertanyaan ku.
__ADS_1
"Iiiihh.. ".
Ucap Ratih sambil bergidik
"Kamu lihat kan?".
Tanya ku lagi ingin memastikan bahwa bukan hanya aku saja yang melihat Nenek itu.
"Lihat nih, lihat nih bulu kuduk bulu tangan ku berdiri".
Ucap Ratih sambil menunjukkan tangan nya
"Kenapa?, aku bukan nanya bulu kuduk atau bulu tangan mu berdiri apa enggak, aku tanya kamu tadi lihat Nenek-nenek itu gak?".
Ucap ku kesal lalu menghempas badan ku di kursi teras Rumah Tante Ana.
"Iyaa, Liya aku lihat, tapi aku gak berani liat, cuman liat sekilas pas lihat Nenek itu penuh korengan aku gak berani lagi liat, eh kamu malah terus liatin Nenek itu, sampai Nenek itu bilang naon maneh nempokeun (apa kamu ngelihatin), trus kamu bilang Nenek itu hilang pas di bawah pohon beringin, aneh aku kok kamu gak lari?".
Aku termenung mendengar pertanyaan Ratih.
"Memang kenapa harus lari?".
"Kamu gak merasa ada yang aneh gitu?, kalo Nenek itu sakit korengan kaya kusta gitu pasti di rumah gak akan berkeliaran di luar kaya gitu, trus pas dia bilang naon nempokeun, beneran aku merinding makanya aku langsung narik tangan kamu, dan kamu bilang dia hilang di bawah pohon beringin udah aku yakin Nenek itu bukan manusia Liya.., maka nya aku langsung lari".
Ucap Ratih sambil bergidik beberapa kali.
"Jadi maksud kamu Nenek itu makhluk halus gitu? di siang bolong?".
Kata ku seolah tak sepemikiran dengan Ratih, aku berdiri dan mengetuk pintu rumah Tante Ana dan mengucapkan salam.
"Aslamu alaikum... Tante.. "
Rumah Tante Ana sepi tak ada yang menyahut salam ku, seperti nya Tante Ana sedang tak ada di rumah.
"Kaya nya gak ada orang deh".
Ucap Ratih yang masih duduk di kursi teras rumah Tante Ana, aku hanya mengangguk.
__ADS_1
"Mau nungguin atau pulang lagi".
Tanya Ratih lagi.
"Tungguin bentar yah sambil istirahat dulu".
Ucap ku lalu kembali duduk di kursi teras rumah Tante Ana d sebelah Ratih, haus dan lapar itu yang ku rasakan, bangun tidur tadi aku belum sempat minum trus jalan menanjak siang bolong di bawah terik matahari yang menyengat.
"Lama gak yah,? gimana kalo pulang nya sore?".
Ucap Ratih, sambil menggeser punggung nya ke belakang bersandar ke kursi, kasian Ratih seperti nya dia juga kehausan.
"Kita tungguin setengah Jam ya Ra, kalo setengah jam gak datang kita pulang".
Ucap ku, Ratih mengangguk menyetujui.
"Liya tadi kamu kenapa sih ngeliatin Nenek itu terus, kamu gak merinding apa lihat Nenek itu?".
Tanya Ratih.
"Aku kasian Ra... kemana yah keluarga nya? ko Nenek lagi sakit udah pake tongkat korengan borokan kaya gitu di biarin keluar sendiri, ko kamu bisa berpikiran dia makhluk halus Ra?".
Ucap ku dan balik bertanya.
"Pertama nya aku gak kepikiran dia makhluk halus, cuman gak berani aja lihat nya takut nya Nenek nya merasa risih kita liatin, bener kan Nenek nya marah ke kamu, lagian mukanya juga serem gitu, udah borokan terus keliatan dia juga merhatiin kita matanya sinis ngeliatin kita, trus pas kamu bilang Nenek itu ngilang di pohon beringin, coba kamu pikir ko dia bisa tiba tiba ngilang dideket pohon beringin itu, apa lagi kalo bukan makhluk halus?".
Aku terdiam, termenung memikir perkataan Ratih, iya juga sih kemana Nenek itu ko tiba tiba ngilang pas deket pohon beringin itu.
"Liya pulang aja yuk ke rumah kamu, kaya nya Tante kamu masih lama deh pulang nya, tapi jangan jalan pohon beringin itu lagi ya, jalan pasar aja".
Ratih mengajak ku pulang, aku merasa gak enak, lagian juga aku udah haus dan lapar banget belum makan siang, belum tentu Tante Ana kembali pulang cepat kerumah nya, aku mengangguk menyetujui nya, lalu berdiri dan menyimpan kantong pelastik hitam yang berisi jamu bersalin di gagang pintu rumah Tante Ana.
Kami pulang berjalan kali ini kami melewati pasar Lembang yang ramai dan macet, di sepanjang jalan kepala ku sudah mulai pusing, karena cuaca yang panas di tambah lagi jalanan yang kami lewati macet oleh mobil angkutan umum, dan delman dan orang-orang yang berdesakan, namanya juga pasar.
Keluar dari pasar aku masih harus berjalan cukup jauh untuk sampai ke rumah ku, sekitar 2Km dari pasar melewati jalan raya, dan cuaca yang masih panas terik, sesampainya di rumah kepala ku pusing sekali, penglihatan ku kabur, lalu seketika pandangan ku gelap.
Aku pun tak dapat mempertahankan kesadaran ku lagi, aku tergeletak jatuh di lantai, dan ketika aku membuka kan mata ku, aku berada di sebuah pohon besar, aku duduk di sebuah batang pohon besar.. pohon beringin besar.
__ADS_1
(Bersambung)