
Papah melanjutkan perkataan nya tak menghiraukan perkataan Mamah yang meminta nya untuk makan dulu, Mamah melirik ke Papah tanpa expresi di muka nya, malah Papah yang keliatan bingung melihat expresi Mamah yang biasa saja, Papah merenggut kan kening nya.
"Mamah sudah tau Pah..."
Mamah berkata sambil terus melanjutkan makan nya.
"Kok Mamah tau, tau dari siapa?".
Kata Papah masih belum juga melahap makan malam.
"Pah makan dulu nanti kita bicaranya".
Kata Mamah lagi sambil melirik kepada kami anak-anak nya, Mamah memberi isyarat kepada Papah untuk tidak membicarakan nya di hadapan kami, seperti nya Papah mengerti lalu mulai melahap makan malam nya.
"Jin khorin itu apa Pah?."
Kakaku Eli bertanya kepada Papah.
"Jin khorin itu..."
Belum juga Papah melanjutkan perkataan nya Mamah menyela ucapan Papah.
"Papah..."
Mamah menaikan nada ucapan nya, dan menggeleng kan kepala, mengisyaratkan bahwa Mamah tidak setuju Papah menjelaskan nya kepada kami anak-anaknya.
"Kenapa Mah?."
Papah merasa tidak ada salah nya menjelaskan kepada anak-anak nya, toh selama ini kami sudah terbiasa, Mamah tidak menjawab pertanyaan Papah hanya melanjutkan makan nya, dan meminta kami anak-anaknya segera menghabiskan makanan kami.
"Ayo di habis kan makan malam nya, kalo makan jangan bersuara, Teteh sama Teh Eli udah makan belajar ada PR kan?".
Mamah mengalihkan pembicaraan.
"Iyah Mah..."
Kakak-kakak ku menjawab sambil menghabiskan makan malam nya, Papah hanya bisa melirik ke kami, dan Mamah tanpa bersuara lagi menghabiskan makan malam nya.
Setelah selesai makan malam, Kakak-kakak ku belajar di kamar nya, aku dan Adik ku main d ruang tivi sambil menonton tivi datang Andri ingin ikut nonton TV, dan bermain bersama Julian, Papah dan Mamah duduk di sopa di ruang tivi bersama kami.
"Mamah sudah tau dari siapa kalo yang datang malam itu bukan Abah tapi Jin khorin nya? ".
__ADS_1
Papah memulai pembicaraan masih dengan rasa penasaran, dari mana Mamah tau yang datang malam itu Jin khorin nya Abah, Mamah melirik ke Papah.
"Mana mungkin orang yang sudah meninggal bisa jalan ke rumah kita kan Pah? tentu saja itu Jin khorin nya, orang yang meninggal sudah tidak bisa berinteraksi dengan manusia apalagi menolong manusia, mereka butuh doa dari kita, tidak ada yang perlu memberi tahu Mamah Pah..."
Mamah menjelaskan, menjawab pertanyaan Papah yang marasa keheranan melihat reaksi Mamah yang biasa saja bahkan tanpa expresi di wajah nya, Papah berpikir Mamah akan penasaran dan akan menanyakan bagaimana obrolan Papah dengan Pak Ustadz.
"Tapi Mamah tidak penasaran atau aneh gitu?".
Kata Papah sambil meminum teh nya.
"Aneh Pah? dengan keadaan kita di rumah ini apa yang harus di aneh kan lagi? bukan sekali dua kali kita mendapatkan hal hal yang di luar logika, Mamah sudah tidak ingin membicarakan nya kita sudah tau sudahlah cukup tau, tidak usah di bicarakan apalagi di depan anak-anak, Mamah khawatir keadaan psikologi mereka Pah, anak anak sedang dalam pertumbuhan fisik, mental dan psikologi nya, Mamah tidak ingin mereka tidak bisa hidup normal seperti anak-anak lain nya".
Papah hanya terdiam mendengarkan penjelasan Mamah, ternyata itu sebab nya tadi di meja makan Mamah tidak ingin Papah menjelaskan soal Jin khorin ke Teh Eli.
"Iya Mah...,Mamah benar kita tidak tau efek nya ke anak -anak kita, tapi Papah yakin mereka bukan anak penakut, mereka anak-anak pemberani, semoga smua kejadian yang mereka alami di luar narar membuat mereka menjadi lebih kuat iman nya kepada Allah".
Kata Papah sambil menghela napas.
"Papah bisa bayangkan apa yang telah Liya alami itu bukan hal yang mudah untuk anak seusianya, Liya pernah di ganggu makhluk itu dengan menunjukan tangan nya yang besar tepat di muka Liya sampai Liya tidak bisa bicara, papah masih ingat?, dan kemarin malam ketika Liya, dan Mas Ami tersesat di hutan pinus di dalam kegelapan hutan dia shock terduduk lemas dan menangis, sekarang dia tidak mau kalo tidur lampu kamar di matikan, mungkin sampai nanti besar dia akan seperti itu takut kegelapan trauma Pah.. ".
Mamah benar sampai sekarang aku tidak bisa bila mati lampu atau di tempat kegelapan, aku akan langsung merasa sesak dan menangis, bahkan ketika aku tertidur lelap lalu tiba tiba mati lampu aku akan bangun dengan merasa kan sesak tidak bisa bernapas padahal aku tidak punya penyakit asma.
Kata Mamah sambil menundukan Kepala nya, Papah hanya bisa menenangkan Mamah dengan mengelus rambut nya.
"Sabar ya Mah, besok Papah akan cari pinjaman ke teman".
Untuk saat ini Papah hanya bisa meminjam ke teman nya, yang selalu baik bersedia meminjamkan uang nya, uang kontrakan dari Mas Ami yang hanya 100rb waktu itu mungkin senilai dengan 1 jt saat ini, sudah Mamah bayar kan listrik air telepon, dan membeli beras dan sembako, yang hanya cukup untuk satu minggu dengan anak 4 yang sedang dalam masa pertumbuhan, Mamah sudah semaksimal mungkin mengatur keuangan.
" Tapi Pah.. kemarin aja pinjem buat beli tivi belum di bayar, masa mau pinjem lagi?, makin besar hutang kita nanti bagaimana kita membayar nya Pah,?.
Sebenarnya Mamah kurang setuju kalo Papah harus meminjam uang, walaupun temen nya baik tidak menagih, tapi hutang tetap hutang harus di bayar, sedangkan Papah belum punya pekerjaan sampai sekarang, bagaimana Papah membayar nya?, dan sampai kapan harus meminjam uang.
"Tapi papah gak bisa biarin anak kita kelaparan Mah, sabar yaa semua pasti ada jalan nya, Insya Allah Papah akan dapat pekerjaan mungkin belum waktunya, untuk sekarang kita hanya berusaha, yang bisa kita lakukan meminjam dulu, temen Papah bilang juga kalo udah dapet kerjaan Papah bisa nyicil bayar nya".
Berusaha menenangkan hati Mamah, Papah meyakin kan Mamah, dan membuat nya setuju untuk meminjam uang ke temen Papah, Kakak-kakak ku keluar dari kamar nya setelah mengerjakan PR mereka menonton tivi bersama kami.
Setelah jam 9 Andri di panggil Mamah nya untuk tidur, setelah Andri masuk ke kamar nya Julian beranjak duduk nya ke pangkuan Papah menonton tivi sampai tertidur, sudah hampir jam sepuluh malam, Mamah menyuruh kami masuk untuk tidur, kami pun masuk kamar tidak lupa berwudu dulu sebelum tidur.
Ke esokan hari nya ketika Kakak-kakak ku akan berangkat ke sekolah, dan Papah seperti biasa nya pergi ke rumah teman nya, kali ini bukan untuk mencari pekerjaan tapi untuk meminjam uang, sekalian Papah mengantarkan Kakak-kakak ku ke sekolah seperti biasa, diluar terdengar seseorang mengucapkan salam.
"Asalamualaikum... asalamualaikum.. "
__ADS_1
Beberapa kali orang itu mengucapkan salam, Papah yang kebetulan dekat dengan pintu keluar sedang memakai sepatu membalas salam, dan membuka kan pintu.
"Wa alaikum salam..".
Sambil mengangguk, dan tersenyum Papah membalas salam orang yang di luar.
"Maaf Pak mengganggu, saya dari rumah sebelah saya mau pinjam tangga, Bapak punya tidak?".
Seorang pemuda memakai kaos putih, dan celana training hitam, dan sendal jepit itu mengutarakan maksud kedatangan nya.
"Oh ada, tapi lumayan berat kang, memang nya rumah yang mana?, jauh tidak biar saya bantuin angkat tangga nya".
Jawab Papah.
"Gak kok Pa, itu rumah vila itu Pak dari sini juga keliatan kan".
Pemuda itu menunjukan rumah besar yang selalu di kunci gerbang nya itu, tetangga kami yang belum pernah kami lihat penghuni nya.
"Oh itu rumah nya akang?".
Papah bertanya.
"Bukan Pak saya cuman tukang kebun".
Pemuda itu menjawab sambil cengengesan, dari penampilan nya sih memang sudah Papah duga kalo dia cuman pekerja rumah itu, karena rumahnya begitu besar pasti pemilik nya orang kaya, dan pemuda yang datang ini sangat sederhana
"Oh.. yaa sudah, ayo saya bantuin angkat tangga nya".
Lalu Papah pergi ke halaman belakang rumah untuk mengambil tangga yang terbuat dari aluminium, di belakang pemuda itu mengikuti Papah, lalu ke-duanya mengangkat tangga itu berjalan menuju rumah besar yang gerbang nya selalu di gembok itu, sudah hampir setengah jam lebih Papah belum kembali, Kakak-kakak ku masih menunggu Papah untuk berangkat bersama.
"Mah ko Papah lama sih..takut kesiangan nih masuk sekolah".
Teh Eli sudah gelisah menunggu Papah sambil terus melihat jam yang hampir jam setengah delapan.
"Ya udah kalian duluan aja , mungkin Papah bantuin akang yang tadi dulu".
Kakak- kakak ku pun berangkat sekolah karena takut kesiangan kalo menunggu Papah, 20 menit kemudian Papah pun datang dengan senyum senyum di wajah nya.
"Mah... Papah dapet kerjaan..".
(bersambung)
__ADS_1