
Dalam dua hari itu perut Mamah membesar seperti sedang hamil Sembilan bulan, Papah membawa Mamah ke Klinik, dari pihak Klinik menyatakan tidak sanggup harus di bawa ke Rumah Sakit.
Mamah langsung di bawa saat itu juga menggunakan Ambulans ke Rumah Sakit Hasan Sadikin, Teh Eli langsung menelpon Kakek ku yang ada di Bogor, memberi kabar bahwa Mamah sakit, dan menceritakan awal mu awal kenapa Mamah sakit.
Kakek, dan Tante Ana setelah mendengar Mamah sakit mereka langsung berangkat ke Bandung ke rumah kami, karena khawatir, adik bayi yang baru di lahirkan selama dua minggu tak ada orang dewasa yang mengurus hanya Teh Eli, karena Kakak sulung ku berada di Tasikmalaya bersama suaminya.
Aku, Teh Eli, dan Julian Waktu itu sebisa mungkin menjaga adik bayi kami yang rewel menangis mungkin karena tidak biasa minum susu dari dot, atau entah lah kenapa adik bayi kami begitu rewel.
Biasa nya kalo ada Mamah adik bayi tidur, tidak rewel seperti ini, malahan kami yang suka mengganggu adik bayi agar terbangun, dan Mamah bilang bayi usia sebulan belum bisa di ajak main kerjaan nya tidur menyusu tidur lagi, malahan ketika buang air besar, atau di ganti popok pun adik bayi tidur, kami hanya berharap Tante Ana dan Kakek cepat-cepat datang.
Waktu itu kami ber empat Aku, Julian, dan Teh Eli yang menggendong Adik bayi kami berkumpul di ruang keluarga, kami melihat jam dinding saat itu pukul 4 sore.
Kakek tadi terakhir menelpon jam Satu siang Kakek bilang sekitar jam 2 Kakek berangkat dari Bogor, jadi kemungkinan Kakek tiba sekitar jam 8 malam ke Bandung, karena perjalanan dari Bogor ke Bandung sekitar 5-6 jam.
Tapi tiba-tiba ada yang mengetuk pintu ruang tamu, kami tau itu bukan Kakek, dan Tante Ana kami sempat ketakutan tapi ketika kami mendengar orang yang mengetuk pintu memberi salam, suara nya seperti nya nya kami kenal, itu Bibi pembantu vila yang dulu Papah pernah bekerja.
"Asalamualaikum... Teh Eli.. Iiyaa.. Julian... "
Kami senang sekali akhirnya ada orang dewasa yang menemani kami, kami segera berhamburan menuju ruang utama untuk membuka kan pintu, dan yah...memang Bibi pembantu vila itu, memang Bibi sesekali suka main ke rumah, mengobrol dengan Mamah
"Alhamdulillah..."
Ucap kami bertiga, ketika membuka pintu, yang di hadapan kami orang yang sudah kami kenal.
"WA alaikum salam, silahkan Bi.. masuk"
Kata Teh Eli dengan sumeringah senang.
"Iya tadi Papah nya kalian nelpon, katanya Mamah di rumah sakit, Papah kalian khawatir sama adik bayi nya gak ada orang dewasa jagain, makanya Bibi cepet cepet ke sini".
Kami mengangguk, ternyata Papah menelpon Bibi ke vila, dan meminta bantuan Bibi karena Bibi satu-satu nya tetangga kami, Papah meminta Bibi untuk datang menemani kami, sampai Kakek, dan Tante Ana datang.
__ADS_1
"Iya Bi.. maaf merepotkan"
Ucap Teh Eli, Bibi pun tersenyum.
"Gak apa- apa namanya juga tetangga, sini biar adik bayi nya Bibi gendong".
Ujar Bibi lalu meminta Teh Eli untuk memberikan adik bayi kami pada nya, Teh Eli memberikan adik bayi yang menangis ke Bibi, Bibi menggendong adik bayi kami, alhamdulillah beberapa saat kemudian adik bayi tidak menangis lagi dan tertidur di gendongan Bibi.
Sekitar jam sembilan malam Kakek, dan Tante Ana sampai di rumah kami, kami berhamburan memeluk Kakek dan Tante Ana, kami menangis, kami menceritakan kepada Kakek, dan Tante Ana bagaimana Mamah kesakitan karena perut nya membesar, kami mengkhawatirkan Mamah, kami sedih saat itu kami takut kalo Mamah akan meninggal.
"Mamah kalian akan baik baik saja, sudah jangan menangis nanti malam kita solat tahajud ya, kita berdoa sama Allah agar Mamah kalian sembuh".
Ujar Kakek menenangkan kami, walaupun sebenarnya Kakek pun mengkhawatirkan, dan sangat sedih mendengar anak sulung nya mendapatkan malapetaka seperti itu.
"kalian sudah makan belum?,adik bayi kalian dimna?"
Tanya kakek, kami menggelengkan kepala, kami merasa tidak lapar, tidak ada selera untuk makan.
Tante Ana menghampiri kami dengan adik bayi di gendongan nya, ketika kami sedang berbicara sama Kakek, Tante Ana melihat Bibi sedang menggendong adik bayi sambil membuat susu dot di dapur.
"Terima kasih Bi.. sudah mau menjaga cucu-cucu saya"
Ucap kakek berterima kasih ke Bibi yang sudah berbaik hati menjaga cucu-cucunya, Bibi tersenyum dan mengangguk.
" Iya Pak.. gak apa apa udah seharusnya, kalo begitu saya mau pamit dulu, sudah malam".
Bibi berpamitan pulang, Kakek melihat jam dinding menunjukkan jam sembilan malam lebih.
"Oh iya Bi, sekali lagi terima kasih, maap yah saya gak bisa anterin, rumah nya dimana biar Ana dan Eli anterin Bibi".
Ujar Kakek, karena Bibi hampir sebaya dengan Kakek gak enak kalo harus di antar Kakek yang bukan muhrim nya.
__ADS_1
" Gak usah saya udah biasa pulang dari Vila juga suka jam segini, deket ko Pak rumah saya, di belakang vila itu ada perkampungan rumah saya di sana".
Ujar Bibi menolak di antarkan, lalu Bibi pun pulang ke rumah nya.
"Ana coba liat di dapur ada makanan tidak, anak anak belum makan, kamu masak sama Eli, biar bayi nya bapak yang gendong".
Tante Ana mengangguk, dan memberikan adik bayi ke Kakek lalu Tante Ana pergi ke dapur di temani Teh Eli, Kebetulan di dapur persedian makanan masih penuh, Tante Ana memasak di bantu Teh Eli, lalu kami makan walaupun sebenarnya tidak berselera, setelah itu kami berkumpul di ruang keluarga sedangkan Kakek masuk ke kamar ku, Kakek bilang jangan di ganggu, kami mendengar kakek melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran, suara kakek yang sedang mengaji membuat hati kami tenang, kami tertidur di ruang keluarga bersama tante Ana.
Pada tengah malam, Kakek membangun kan aku dan Teh Eli, untuk solat tahajud bersama Kakek.
"Liya.. banguun Eli..bangun.. bantuin Kakek yah"
Ucap Kakek, aku tidak mengerti, bantu apa yang Kakek Maksud.
" Bantuin apa kek?"
Tanya ku, lalu Kakek tersenyum.
"Bantuin Kakek do'ain Mamah kamu, kita solat tahajud, kita bertiga, biarkan Tante Ana jagain Julian sama Adik bayi nya, kamu sama Teh Eli solat tahajud bantuin Kakek berdoa buat Mamah,".
Kami mengangguk, menyetujui permintaan Kakek, lalu pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu, dan kami pun solat tahajud, berdoa dan membaca ayat-ayat suci Al-Quran sampai subuh.
Pagi harinya Kakek menyusul Papah ke Rumah Sakit Hasan Sadikin, sampai seminggu Mamah di rawat di Rumah sakit lalu pulang Ke rumah, sebenarnya Mamah belum di perbolehkan pulang, dan pihak rumah sakit menyarankan kan agar Mamah di oprasi, karena ada tumor di perut Mamah, tapi tumor itu tumor gepeng, dan tidak besar, tapi kenapa perut Mamah besar sekali seperti hamil sembilan bulan, sedangkan hasil USG memang ada Tumor tapi tidak besar mungkin sebesar piring pisin, tatakan cangkir, dan bentuk nya gepeng.
Mamah tidak ingin di oprasi, Dokter pun memberi kan obat yang katanya bisa memperkecil tumor yang ada di perut Mamah, dan lagi Tumor nya jenis tumor jinak yang tidak akan tumbuh, hasil analisa dokter penyakit Mamah tidak terlalu berbahaya tetapi kenapa keadaan Mamah begitu mengkhawatirkan
Akhirnya Mamah di bawa pulang dari rumah sakit, hampir setahun Mamah sakit, di rumah Mamah hanya berbaring Tante Ana yang mengurus rumah dan adik bayi di bantu aku, dan teh Eli, selama hampir satu tahun Tante Ana tidak pulang ke Bogor, sedangkan Kakek pulang ke Bogor hanya sebulan sekali datang menjenguk.
Kalo kambuh sakit perutnya Mamah menangis kesakitan, kami sedih sekali melihat keadaan Mamah, selain pengobatan medis kami pun memberi Mamah air-air doa, dari kiyai atau ustadz, dan kami pun melakukan solat tahajud setiap malam, membacakan Ayat-ayat suci ke dalam segelas air setelah solat, dan memberikan nya ke Mamah, untuk di minum dan di usapkan ke perut nya.
Dengan kesabaran, dan ke ikhlasan Mamah menerima segera ujian dari Allah, dengan ijin dan kuasa Allah, Alhamdulillah Mamah sembuh.
__ADS_1
(Bersambung)