
Ujian datang silih berganti seperti nya tak bosan menghampiri keluarga kami, baru saja dua hari Mamah sembuh dari sakit nya, kami mendapatkan musibah lagi, Dealer tempat Papah bekerja kebakaran.
Saat itu kami sedang di ruang keluarga waktu menunjukkan jam 8:30 malam, aku, Teh Eli, Julian, Tante Ana, Mamah yang sudah sembuh sedang menggendong bayi, kami sedang menonton Tivi.
Terdengar suara telpon rumah berdering, Papah menelpon mengatakan bahwa Papah akan pulang terlambat, karena Papah sedang di perjalanan kembali lagi ke Dealer, karena ada Satpam yang menyusul nya memberhentikan laju jalan mobil nya di tengah jalan, dan meminta Papah untuk kembali ke Dealer, karena sedang terjadi kebakaran di Dealer saat itu juga.
Entah apa penyebab kebakaran di Dealer itu, padahal Papah hanya sekitar 10 menitan keluar dari Dealer untuk pulang ke rumah, dan Papah terkejut ketika mobil nya di susul oleh sebuah motor, dan motor itu tiba-tiba berhenti di depan nya dan ternyata pengemudi motor itu Satpam yang bekerja di Dealer tempat Papah bekerja, Satpam itu meminta Papah untuk kembali ke Dealer nya.
Malam itu Papah tidak pulang, Papah pulang ke esok hari nya dengan wajah lesu, cape, Papah terlihat berantakan sekali, Mamah hanya bisa memeluk Papah, dan berkata.
"Sabar ya Pah.., Papah mandi lalu tidur istirahat".
Ucap Mamah, Papah mengangguk, dan pergi ke kamar mandi untuk mandi, tak ada sepatah kata pun dari Papah, Dealer yang di Bandung di tutup, dan Papah terpaksa harus pergi ke Ci rebon untuk bekerja di Dealer yang di Cirebon, karena membuka Dealer yang baru di Bandung membutuhkan biaya yang bukan sedikit, dan ada beberapa mobil yang hangus di lalap si jago merah yang menyebabkan kerugian yang besar, jangan kan untuk membuka Dealer baru di Bandung, bahkan Papah tidak dapat menutupi kerugian Dealer yang terbakar.
Maka pergilah Papah ke Cirebon dan pulang sebulan sekali, Papah meminta Kakek lebih sering mengunjungi kami, dan Tante Ana untuk tidak pulang ke Bogor, Tante Ana menyanggupi menemani Mamah.
__ADS_1
Karena Tante Ana lama tinggal bersama kami, akhirnya Tante Ana mendapatkan jodoh, pemuda asli Lembang Bandung yang jatuh cinta dengan kecantikan, dan kebaikan Tante Ana, setelah satu tahun berpacaran akhirnya mereka menikah.
Resepsi pernikahan di adakan di rumah kami di Lembang, setelah menikah hanya beberapa bulan Tante Ana tinggal bersama kami lalu Tante Ana, dan suami nya mengontrak sebuah rumah tapi tidak jauh dari rumah kami.
Belum genap dua tahun umur adik bayi ku, Mamah hamil lagi bersamaan dengan kehamilan Tante Ana, Mamah ada niat untuk menggugurkan kandungan nya yang waktu itu masih usia dua bulan, tapi Papah melarang, dan ketika usia kandungan Mamah 5 bulan, Kakek sakit, waktu itu Kakek datang ke rumah untuk menjenguk kami tapi entah kenapa Kakek tiba tiba sakit perut nya sakit, dan di bawa ke rumah sakit katanya magh kronis, Kakek tidak pulang lagi ke Bogor.
Mamah, dan Tante Ana yang sedang hamil merawat Kakek, tapi umur Kakek sudah waktunya, magh kronis yang di derita Kakek mengantarkan nya ke Sang Pencipta, Kakek meninggal setelah dua bulan sakit magh kronis yang di deritanya.
Kepergian Kakek meninggalkan kesedihan dalam hidup ku, aku sangat kehilangan nya, Kakek adalah guru ku, sahabat ku, Papah ku, Kakek selalu ada untuk kami ketika kami membutuhkan nya, Kakek menggantikan peran Papah ku, kasih sayang nya, kesabaran nya, Kakek mengajarkan ku banyak hal terutama soal agama, keimanan, kesetian, cinta, kehidupan, dan kasih sayang.
Papah, tau kami sangat kehilangan Kakek, Papah memeluk kami dan meminta maaf, karena selama ini untuk melindungi kami, Papah bersikap tak peduli, dan acuh kepada kami, sehingga kami lebih dekat dengan Kakek.
Bahkan Kakek mengajar kan sedikit ilmu bela diri untuk ku menjaga diri, kenangan kenangan bersama nya tidak akan pernah aku lupakan seumur hidup ku, setiap aku mengenang nya tak ada satu pun kenangan yang tidak berharga bersama nya.
Kakek bukan asli dari Lembang Bandung, Kakek adalah tamu di Lembang tapi entah mengapa ketika Kakek meninggal banyak pelayat datang, bahkan kami tidak mengenal nya hanya beberapa teman Papah, dan teman nya suami tante Ana, dan keluarga Suami Tante Ana yang kami kenal, tapi yang melayat penuh, mobil-mobil berdatangan sampai macet untuk melayat, dan menyolatkan kakek.
__ADS_1
Ada yang mengira kalo yang meninggal seorang Pejabat, atau Pengurus di Lembang, Kakek di makam kan di pemakaman umum Jayagiri Lembang, mobil-mobil berjejer yang mengantarkan nya kepemakaman.
Sampai sekarang kami selalu membicarakan hal itu kenapa, ketika Kakek meninggal banyak pelayat yang datang, dan mengantarkan Kakek ke pemakaman sampai membuat jalan kota Lembang macet saat itu.
Sampai ke 7 hari meninggal nya Kakek, banyak orang yang melayat, dan malam nya kami tahlilan banyak orang datang untuk tahlil, walaupun kami tidak mengenal mereka entah siapa mereka, resepsi pernikahan Tante Ana undangan yang datang tak sebanyak Orang yang melayat, dan datang ke rumah untuk tahlil bersama mendoakan Kakek.
Keluarga dan tetangga yang di Bogor pun mereka mengadakan tahlilan, jadi tahlilan ada di dua tempat di Bandung, dan di Bogor, Katanya di Bogor pun sama, Rumah Kakek yang di Bogor selalu penuh dengan orang orang bertahlil sampai 7 hari.
Kakek selamat jalan... terima kasih atas semua yang telah kau berikan, yang telah kau ajarkan insyaallah kami Cucu-cucu mu, akan menjadi kan semua yang telah kau ajarkan kepada kami menjadikan ladang pahala yang mengalir untuk mu ke alam Barzah..
Setelah sekitar 10 hari Kakek meninggal kami mendengar dari Bibi, bahwa pemilik vila yang dulu Papah sempat bekerja, pemilik vila itu meninggal, tapi di vila itu tak terdengar tahlilan mungkin di lakukan di rumah keluarga nya, setelah pemilik nya meninggal vila itu kosong di gembok dan, Bibi pun tidak bekerja lagi di situ.
Dua bulan kemudian setelah meninggal nya Kakek, adik ku anak ke Enam lahir, Papah memberi nya Nama Muhammad aziz apardi, nama belakang nya Apardi adalah Nama belakang Kakek ku.
Waktu itu adik ku yang anak ke lima berusia baru Dua tahun, Julian 12 tahun, Aku 15 tahun, dan Kakak ku Eli 18 tahun, dan Kakak sulung kami 21 tahun sudah menikah, dan tinggal bersama suaminya di Tasikmalaya.
__ADS_1
Kakak sulung ku datang ketika Mamah melahirkan adik bungsu kami setelah beberapa tahun tidak pulang, bahkan Kakak sulung ku tidak tau kalau Kakek sudah meninggal karena Kakak ku tinggal di kampung dan tidak ada telepon yang bisa kami hubungi.
( Bersambung)