RUMAH BEKAS PESUGIHAN BUTA IJo

RUMAH BEKAS PESUGIHAN BUTA IJo
Bab 55 dilema


__ADS_3

Apa kami senang bila rumah ini terjual?, dan akhirnya kami akan bebas dari teror horor yang selama ini menghantui kami, yang sudah menjadi bagian dari kehidupan kami, rumah ini, rumah pertama untuk kami rumah dimana tempat kami pulang.


Rumah masa kecil ku, masa kecil yang tidak semua anak seusia ku mengalami nya, rumah ini mengajar kan ku bahwa rumah adalah tempat dimana sebuah keluarga yang di dalam nya, saling mendukung, melindungi, memperkuat, satu sama lain.


Rumah ini mengajarkan ku arti kehidupan yang sebenarnya, aku belajar lebih menghargai setiap nikmat yang telah Tuhan berikan, aku sempat merasakan tidak punya ayah selama setahun, aku tau bagaimana rasa nya menjadi anak yatim.


Aku sempat merasakan hanya makan satu piring bersama saudara saudara ku yang hanya di taburi dengan minyak jelantah, aku tau bagaimana rasa nya menjadi orang susah dan betapa satu piring nasi itu berharga untuk orang-orang di luar sana, yang yang keadaan nya jauh lebih kesusahan mengajarkan aku untuk berbagi, ringan tangan, dan menyayangi orang yang keadaan nya tak seberuntung kita.


Dan aku belajar dari orang-orang yang pernah singgah di rumah ini yang telah meninggal kan kami, Om Toni, Abah kusir delman, dan Kakek, mereka meninggal kan kesan dan pesan yang dalam, mereka menolong tanpa pamrih, tulus dan ketika orang baik meninggal hanya jasad nya yang meninggal kan kita, tapi nama nya kebaikannya nya akan abadi.


Mamah, dan Papah tanpa mereka sadari, banyak hal yang mereka dapatkan dari segala ujian yang selama ini tak henti menerpa kami, Papah dan Mamah belajar tentang kesetian, kekuatan cinta, dan kepercayaan.


Ketika Papah meninggal kan Mamah selama satu tahun hilang kesadaran tapi batin Papah tidak bisa di bohongi, karena kekuatan cinta nya kepada keluarga, batin nya tetap memilih keluarga nya walaupun dia hilang ingatan.


Kekuatan cinta Papah yang membuat nya lolos dari ujian Mayang Sari siluman ular, dan kekuatan cinta Mamah yang selalu bertahan setia menunggu ketika Papah hilang satu tahun lama nya, mendukung Papah ketika Papah tidak mempunyai pekerjaan, menyemangati nya dan mempercayai nya.


Saling menghargai saling mengerti saling mempercayai, saling menerima dan saling memberi, tidak hanya sepihak, tidak bertepuk sebelah tangan


yang paling utama kekuatan iman, yang membuat mereka takut berjalan tidak dalam ridho Nya, Tuhan maha mengetahui, maha penolong, dan maha penyayang kepada umat nya, yang selalu berada di jalan Nya untuk mencapai Ridho Nya.


Siang itu setelah Papah memperlihatkan surat rumah, dan seperti nya mereka sudah menyepakati satu hal, Papah dan Tamu nya itu pamit, Papah kembali ke Cirebon Siang itu juga setelah melihat adik-adik ku yang masih tertidur, bahkan tidak tau kalo Papah nya sudah pulang, Papah pamit kepada kami dan bilang.


"Sabar yaa sebentar lagi semua nya akan berakhir kalian akan punya kehidupan yang baru, rumah yang lebih nyaman untuk kalian, percayalah Papah melakukan yang terbaik untuk kalian, kita tidak akan berpisah lagi seperti ini dan Papah akan dengan bebas menunjukan rasa sayang Papah kepada kalian".


Yah selama ini Papah bersikap tak acuh seakan tak perduli kepada kami jarang mengobrol bercanda di rumah seperti dulu, hanya untuk menjauhkan kami dari makhluk itu, karena ketika Papah menunjukan kasih sayang nya kepada kami, makhluk itu menggunakan kami sebagai kelemahan Papah.


"Hati-hati Pah.. Oya Pah dua minggu yang lalu Teh Herti pulang ke rumah".


Ucap Teh Eli teringat Kakak sulung ku yang datang dua minggu yang lalu tidak sempat ketemu Papah, Papah kaget dan sekaligus senang mendengar berita itu.


" Yang bener,? bagaimana keadaan Kakak kalian? kenapa Mamah tidak cerita, Mah Mamah.. ".


Papah memanggil Mamah untuk memastikan, Mamah pun menghampiri Papah.


" Iya Pah, ada apa? ".


Ucap Mamah.


"Teteh bener dua minggu yang lalu pulang? gimana keadaan nya? kenapa gak bilang ke Papah?".


Papah memberondongi Mamah pertanyaan.


" Alhamdulillah Teteh baik-baik saja Kita sudah punya Cucu laki-laki nama nya Syahrul apandi umur nya baru 4 bulan lucu Pah gendut putih, hidung nya mancung kalo ketawa ada lesung pipit nya".


Ucap Mamah dengan antusias memberitahu Papah.


" Alhamdulillah,.. Papah sudah punya cucu, sayang Papah gak sempat ketemu berapa hari kemarin Teteh menginap di rumah?".


Terlihat kebahagiaan di wajah Papah mendengar kabar bahwa dia sudah punya cucu.


"Teteh harus segera pulang karena mereka tinggal bersama orang tua suaminya yang sudah sepuh, dan sakit sakitan takut terjadi apa-apa kalo di tinggal lama hanya dua hari di rumah, Maaf Mamah belum sempat cerita tadi kita sibuk sama tamu nya Papah kan, untung Eli ingetin".


Mamah tidak bisa menceritakan semuanya tentang Kakak sulung ku ke Papah, karena Papah pasti sedih sekaligus marah kalo mendengar semua hal tentang Teteh sedangkan Teteh nya sendiri tidak keberatan dan menerima kehidupan baru nya bersama suaminya.

__ADS_1


Tapi setidak nya Teteh berjanji tidak akan ke sawah orang lain lagi untuk mendapatkan upah, Mamah yakin Teteh akan menepati janji nya, dan lagi Mamah sudah memperingatkan Suami Kakak sulung ku untuk tidak mengijinkan istrinya pergi ke sawah orang lain untuk mendapatkan upah, apa pun alasan nya, Papah tersenyum.


"Ya sudah, Teteh kasih alamat yang lengkap di Tasikmalaya?, kapan-kapan kalo ada waktu dan rizki lebih kita main ke sana".


Ucap Papah dengan semangat.


"Beneran Pah?!".


Aku dan teh Eli serempak ketika mendengar kami akan mengunjungi Kakak sulung ku, Papah mengangguk dan tersenyum.


"InsyaAllah semoga ada rizkinya ya do'ain Papah".


Ucap Papah, lalu Papah pamit pergi ke Cirebon dan akan pulang setelah dua minggu lagi, setelah dua minggu kemudian Papah pulang , Papah turun dari mobil di depan pintu gerbang rumah kami, dan membuka kan pintu gerbang nya lalu memasukkan mobil ke halaman rumah, turun dengan beberapa kantong oleh-oleh untuk kami dan Mamah.


"Asalamualaikum..".


Papah memberi salam Mamah yang sudah berdiri di pintu rumah menyambut kedatangan Papah.


"wa alaikum salam..".


Mamah membalas salam Papah dan mencium tangan Papah, Papah mencium kening Mamah."


"Mamah baik-baik aja kan?".


Tanya Papah.


"Alhamdulillah... Mamah udah lebih sehat sekarang Pah, Papah cape perjalanan jauh ayo istirahat tidur dulu, trus nanti bangun mandi, pasti seger, atau Papah laper mau makan dulu?".


Ucap Mamah ketika mereka berjalan memasuki rumah.


Kami yang mendengar kedatangan Papah menghampiri nya dan mencium tangan nya, Papah hanya tersenyum tidak berkata apa-apa lalu pergi ke kamar nya untuk tidur, kami membuka oleh oleh dari Papah.


"Mah seminggu lagi pendaftaran masuk SMA, Papah bisa nganterin gak?".


Aku yang sudah lulus SMP saat itu akan Melanjutkan sekolah ku Ke SMA, aku berharap Papah bisa mengantarkan ku mendaftar ke SMA.


"Biar Mamah aja yah Liya yang anter kamu soal nya Papah cuman dua hari kan di rumah hari senin Papah udah berangkat lagi pulang nya sebulan lagi, jadi gak akan bisa kan Papah nya lagi kerja di Cirebon".


Ucap Mamah, aku hanya mengangguk dan menundukkan kepala ku sebenarnya kecewa aku ingin Papah yang anter, karena selama ini Papah tidak pernah mengantarkan ku ke sekolah, bahkan mungkin Papah tidak tau sekolah SMP ku dimana.


Tapi ya sudahlah memang Papah sedang tidak ada di rumah sedang kerja, Papah juga kerja untuk untuk kami, agar kami bisa meneruskan sekolah dan mendapatkan kehidupan yang layak.


Jam 5:30 sore Papah bangun dari tidur nya, lalu Mandi, lalu kami solat maghrib berjemaah, setelah itu kami mengaji bersama, sampai waktu solat isya, setelah solat isya, mamah dan Teh Eli menyiapkan makanan untuk makan malam.


Aku menjaga adik bungsu ku, Papah, julian dan adik perempuan ku sedang bermain di ruang keluarga dengan mainan yang Papah bawa tadi siang, setelah beberapa saat mamah memanggil untuk makan malam kami pun menghampiri, kami duduk di meja makan.


"Sini Liya biar Aziz Mamah yang gendong".


Aku yang duduk di meja makan dengan adik bungsu ku yang masih bayi yang usianya baru 1 bulan di gendongan ku.


"Gak apa apa mah, Aziz nya juga gak nangis ko tidur malah Liya bisa ko makan sambil gendong Aziz, kasian kalo di tinggal di kamar sendiri, Mamah makan aja".


Mamah mengangguk menyetujui.

__ADS_1


"Ya udah kita makan berdua kamu gendong Aziz nya, Mamah yang suapin kamu".


Ucap Mamah lalu mengambil piring dan nasi, menambah masakan lain nya untuk kami makan berdua.


"Asiikk".


Aku kesenangan Mamah mau nyuapin aku .


"Ah Eli juga mau dong Mah di suapin".


Ucap Kakak ku iri.


"Julian juga mau".


Ucap Julian juga iri.


"Neng juga...".


Kata adik perempuan ku yang masih belajar ngomong itu ikut- ikutan.


"Papah juga mauuuu".


Ucap Papah gak mau kalah kami semua tertawa.


"Pah liya Minggu depan masuk SMA loh udah mulai daftar".


Ujar Mamah masih di ruang makan sambil menyuapi ku lalu menyuapi dirinya sendiri.


"Oh berapa biaya pendaftaran nya hari jumat Papah kirim uang buat pendaftaran sekolah ya."


Ujar Papah.


" Gak usah, aku dapat beasiswa gratis masuk SMA".


Ucap ku dengan dingin.


"Beneran ko Papah gak tau? selamat ya liya kamu pinter hebat kamu".


Ucap Papah menyimpan sendok nya terlihat di mata nya kebanggaan kepada anak nya, aku hanya tersenyum kecut.


"Kan Liya emang udah dapet beasiswa dari kelas satu SMP Pah, Papah nya aja yang gak pernah nanya, sibuk terus".


Mamah menoleh ke arah ku, dan menggeleng kepala nya mengisyaratkan aku tidak boleh bilang seperti itu, aku diam dan menunduk.


"Kalian kan sudah tau alasan nya kenapa, Kalian pikir Papah tidak kangen seperti dulu bercanda, bercerita tertawa dekat dengan kalian seperti dulu, InsyaAllah semua nya akan kembali seperti dulu kalian sabar".


Ucap Papah, di matanya terlihat penyesalan Papah meminta maap kepada ku dengan pandangan nya yang sendu dan aku pun mengerti, aku tersenyum dan mengangguk.


"Oya Pah bagaimana jadi Bapak yang kemarin mau beli rumah kita?.


Tanya Mamah.


"Dia sekarang lagi di Kalimantan Mah ngurusin bisnis batubara nya, katanya sekitar dua bulan lagi dia pulang akan langsung beli rumah ini, kita tunggu aja yah, kalo jadi dua bulan lagi kita pindah dari rumah ini".

__ADS_1


Jadi sekitar dua bulan lagi kami menempati rumah ini, entah lah antara senang, dan tidak karena rumah ini sudah menjadi bagian dari kehidupan kami.


(Bersambung)


__ADS_2