
"Kalian solat?, mengaji?, rumah itu harus di rukiyah Mas, setidaknya baca kan ayat suci Al-Quran ke dalam sebotol air, dan masukan garam lalu siramkan ke smua ruangan, saya dulu suka lakukan itu di rumah jadi mereka gak brani menampakan diri, yah cuman makhluk itu punya cara lain, Mas tau sendiri kan di rumah itu kami banyak masalah."
Mas Ami mengangguk.
"Seperti nya saya juga akan pindah Bu, istrinya saya dan Andri sekarang sudah gak tinggal sama saya, udah saya titipkan ke mertua dulu, mungkin bulan depan saya udah gak ngontrak di sana Bu, maaf yah Bu, waktu ada Ibu dan keluarga saya masih kuat tapi sekarang saya gak kuat Bu"
Mamah mengangguk, dan tersenyum.
"Iya Mas saya mengerti, gak apa apa kalo Mas mau pindah jangan di paksakan kalau tidak nyaman, saya juga udah bilang dari dulu silakan kalo Mas Ami nyaman, dan betah tapi kami sudah menceritakan bagaimana keadaan rumah itu, kami tidak menyembunyikan keadaan rumah itu dari Mas Ami."
Itulah pertemuan terakhir kami dengan Mas Ami bulan selanjutnya, Mas Ami tidak datang lagi untuk memberikan uang kontrakan, seperti nya Mas Ami sudah pindah dari rumah kami, ketika Papah datang, Mamah menceritakan apa yang dikatakan Mas Ami ke Papah tentang rumah kami.
Hari berganti, bulan berlalu, entah sudah berapa bulan kami tinggal di Desa itu tapi belum setahun, muncul lah masalah- masalah, kecemburuan sosial dengan keadaan kami yang serba kecukupan.
Kalo Papah datang kami biasa pergi keluar karena memang dari dulu seperti itu, Papah kalo ada waktu dan rizki lebih, membawa kami jalan jalan ke tempat wisata, dan pulang nya kami belanja, karena Papah sebulan sekali pulang nya, tapi kami selalu berbagi dengan tetangga.
Dan kecemburuan anak gadis tentangga kepada Kakak-kakak ku yang banyak di sukai pemuda di Desa itu, yang membuat orang tuanya ikut mengunjingkan keluarga kami.
Walaupun kami sudah berusaha baik, tidak menghiraukan omongan mereka, tapi tetap saja ada saja yang jadi bahan untuk mereka jelekan, katanya Kakak-kakak ku pemalas lah, suka pergi ke salon di modalin sama Mamah nya biar keliatan cantik, biar dapet anak orang kaya, mana mau mereka sama pemuda Desa yang miskin, dan sampai ada yang bilang bahwa keluarga kami melakukan pesugihan, astaghfirullah hal ajim...
__ADS_1
Sampai pada suatu saat, ada satu keluarga datang ke rumah untuk melamar Kakak ku Teh Eli yang waktu itu masih duduk di kelas satu SMP, tentu saja Mamah, dan Papah menolak nya karena masih terlalu dini untuk di nikahkan.
Lalu mereka meminta Kakak ku Teh herti yang menikah dengan anak nya, karena teh herti Kakak sulung ku usia nya lebih tua dari Teh Eli, tetapi orang tua ku tetap tak mengizinkan, karena Teh herti juga masih kelas 3 SMP waktu itu belum cukup umur, walaupun Kakak-kakak ku badan nya tinggi, tapi mereka umur nya masih di bawah umur untuk di nikahkan.
Tapi di Desa anak gadis yang usia nya belasan tahun malahan belum tamat SMP memang sudah di nikah kan, tapi tidak dengan orang tua ku, mereka berasal dari keluarga yang mementingkan pendidikan, setidaknya Lulus SMA dan usianya sudah 17 thn ke atas mungkin orang tua ku pun menyetujui nya.
Tapi waktu itu Kakak-kakak ku teh herti masih usia 16thn, dan teh Eli 14 thn Masih terlalu dini untuk menikah, keluarga lelaki yang datang kerumah itu sangat marah besar, dan akhirnya kami memutuskan untuk pindah kembali ke rumah kami yang di Lembang, ke rumah bekas pesugihan buta ijo.
Teman Papah yang mengontrak rumah itu kebetulan mereka sudah pindah dua bulan yang lalu, karena tidak tahan dengan penampakan-penampakan makhluk halus, yang menampakan sebagai pocong, genderewo, dan kuntilanak.
Sebelum pindah, Papah berkonsultasi dulu dengan seorang Ustadz di Subang yang mempunyai sebuah pesantren, lalu Ustadz itu menyarankan agar rumah kami di rukiyah dulu sebelum kami tempati kembali.
Kakek bilang jangan pindah dulu ke rumah itu sebelum Kakek datang, karena Mamah menceritakan bahwa rumah itu sudah kosong selama 2 bulan, karena yang mengontrak rumah itu tidak kuat dengan teror makhluk astral di sana.
Tiba lah hari kami pindah lagi ke rumah kami di Lembang, ke rumah yang sudah di tinggalkan oleh kami hampir satu tahun, dan di tinggalkan oleh keluarga teman Papah dua bulan yang lalu. Rumah bekas pesugihan buta ijo.
Kakek seperti janji nya, datang sehari sebelum kami pindah, Kakek mendampingi kami pindah ke rumah itu, Truk yang mengangkut barang-barang kami sudah tiba duluan di rumah itu, beberapa menit kemudian kami datang.
Papah membuka kan gerbang rumah terlihat rumah yang kotor, dan tidak terurus menambah keangkeran rumah itu, terakhir kali kami meninggal kan rumah itu masih bersih dan terurus, tidak tampak menyeramkan seperti sekarang ini, plang rumah ini akan di jual di depan rumah kami masih berdiri, walaupun hampir miring dan hampir rubuh, Papah mencabut plang bertuliskan rumah ini akan di jual itu.
__ADS_1
"Kita akan membuat plang baru dari besi, rumah ini akan tetap kita jual, kita hanya akan diam di sini sementara waktu, kita akan segera meninggalkan tempat ini lagi setelah terjual"
Ucap Papah, Kakek yang berdiri di belakang Papah menepuk pundak Papah.
"Ayo kita masuk!."
Ucap Kakek, dan Kakek melangkah kan kaki nya berjalan menuju pintu rumah itu di depan kami, lalu berdiri di depan pintu membuka kunci pintu, dan berdiri di ambang pintu rumah lalu berkata.
"Kalian semua ikuti doa ini".
Masih di ambang pintu Kakek berdoa, di ikuti kami mengikuti membaca doa yang Kakek ucapkan.
"Allohumma inni as’aluka khoirol maulij wa khoirol madkhol. Bismillah walajna, wa bismillah khorojna, wa ‘alallahi tawakkalna, Asalamu alaina WA ala ibadillahis shalihin."
Artinya: “Ya Allah, aku memohon tempat masuk yang terbaik. Dengan pertolongan-Mu, kami masuk dan keluar. Hanya pada-Mu, kami pasrah dan tawakal, Semoga Allah melimpahkan sejahtera-Nya atas kami dan atas hamba-hamba-Nya yang saleh.. amiin.."
Lalu kakek membacakan Al Fatihah, al Ikhlas, al palaq, an nass, dan ayat kursi... kami pun mengikuti nya..
(Bersambung)
__ADS_1