RUMAH BEKAS PESUGIHAN BUTA IJo

RUMAH BEKAS PESUGIHAN BUTA IJo
Bab 39 Pertengkaran


__ADS_3

"Liya kenapa?, kamu nangis?".


Kakak ku Teh Eli menghampiri ku yang sedang menangis memeluk bantal di kamar, aku tidak menghiraukan nya, tangis ku makin menjadi, Teh Eli duduk di ranjang menghela napas dan diam membiarkan ku menangis.


" Papah yah..?"


Tanya Teh Eli setelah beberapa saat, aku pun menoleh dengan air mata yang masih membasahi pipi ku tak bisa aku bendung.


"Papah udah gak sayang kita lagi teh?".


Teh Eli menggelengkan kepala nya menjawab pertanyaan ku.


"Liya, Papah sayang kita, Papah lagi sibuk kerja buat kita, Papah cape banyak pekerjaan".


Aku menenggelamkan lagi muka ku ke bantal, aku tak setuju dengan ucapan Teh Eli, sesibuk sibuk nya Papah dia tak sedingin, dan, acuh seperti sekarang ini.


" Kamu mau Teteh temenin tidur?, udah setahun kita gak ketemu, Teteh kangen, tapi kamu nya malah sedih".


Aku tak ingin sendiri malam itu, tapi aku tak menjawab pertanyaan Teh Eli, hanya diam memeluk bantal membelakangi nya, Teh Eli memeluk ku dari belakang.


Aku tau, dia juga tau kalo Papah sudah berubah dia juga merasakan yang aku rasakan, tapi dia tidak seperti aku, dia pandai menyembunyikan perasaan nya, akhirnya kami tertidur di kamar ku.


Hingga beberapa saat kemudian kami terbangun oleh suara Mamah berbicara dengan Papah, seperti nya mereka sedang berdebat.


"Sampai kapan Pah?, apa salah kita?, sampai kapan Papah mau seperti ini menjauh dari kami?".


Mendengar suara itu aku membalikan badan ku, aku menoleh ke Teh Eli, ternyata dia juga sudah terbangun, kami saling pandang, Teh Eli menempel kan jari telunjuk di bibir nya mengisyaratkan agar aku diam tak bersuara, aku mengangguk.


"Sudah cukup Pah sudah setahun lebih Papah berkabung untuk Toni, kami tau Papah sedih kehilangan Toni kami juga, tapi kenapa Papah menjauh dari kami apa salah kami?".


Ucap mamah lagi.


"Ini bukan tentang Toni!".


Terdengar suara Papah.


"Lalu apa?, karena kita tidak pindah dari rumah ini?, sudah setahun lebih kita memasang plang rumah ini di jual, tapi rumah kita belum terjual bagaimana kita bisa pindah sebelum rumah ini terjual?, uang dari mana kita dapat membeli rumah baru?, atau Papah mau kita mengosongkan rumah ini dan, mengontrak?, rumah kontrakan mahal, kita hanya bisa mengontrak rumah kecil dengan anak-anak?".


Mamah meminta penjelasan dari Papah tentang sikap nya selama ini yang seakan menjauh dari kami, ternyata bukan hanya perasaan ku saja Mamah pun merasakan nya.


Aku menoleh lagi ke teh Eli, dan menatap nya tajam, seakan aku ingin Teh Eli mengakui kebenaran bahwa papah memang telah berubah, Teh Eli menundukan kepala nya, ketika aku menatap nya seakan dia malu telah menyembunyikan perasaan nya dari ku, bahwa dia pun merasakan nya.


"Kalian tidak mengerti, semua yang Papah lakukan ini untuk kebaikan kalian!".


Dengan nada kesal Papah berkata dan, terdengar suara langkah seperti nya Papah melangkah kan kaki nya menuju kamar, karena kamar ku bersebelahan dengan kamar orang tua ku jadi aku jelas sekali mendengar langkah mereka memasuki kamar.


"Jadi karena pekerjaan?, karena Papah sibuk?, seperti itu?, dulu Papah lebih sibuk dari sekarang, dulu Papah pernah kerja di sebuah perusahaan swasta yang lebih besar tapi, Papah masih bisa menyempatkan waktu bersama kami, dulu kami adalah prioritas no satu buat Papah, dan Papah tak se acuh, dan sedingin ini kepada kami, sadar Pah ini bukan Papah yang kami kenal!".


Lalu kami mendengar suara, Mamah yang menangis, aku memeluk Teh Eli yang berbaring di samping ku, dan aku menangis, Teh Eli mengelus rambut ku, aku menengadah kan muka ku, ku lihat air mata jatuh di pipinya, aku memeluk nya lebih erat, baru kali ini kami mendengar Mamah, dan Papah bertengkar.

__ADS_1


"Kalo kamu benar benar mengenal aku suami mu ini, kamu tau yang aku lakukan adalah untuk kebaikan kalian, kamu tidak akan menanyakan alasan kenapa kenapa kenapa!!!, sudahlah sudah malam, aku mau istirahat!!"


Aku benci Papah,.. mendengar Papah berbicara dengan nada keras dan membuat mamah menangis, semenjak malam itu aku membenci Papah, baiklah pikir ku, kalau Papah ingin menjauhi kami, kami pun akan menjauhi nya.


Hari- hari berlalu aku sudah terbiasa dengan sikap Papah, dan aku pun menjauhi nya, kami tidak perduli, tidak mengharapkan Papah atau, menunggu Papah sarapan atau pun, makan malam bersama lagi, atau pun solat berjamaah lagi, pergi pagi, dan pulang malam bahkan hari libur pun Papah pergi katanya menemui klien nya.


Hanya nafkah lahir yang Papah berikan kepada kami, yah Papah mencukupi semua kebutuhan kami, tapi tidak dengan kebutuhan bathin kami, perhatian, dan kasih sayang dari seorang Papah yang dulu pernah kami rasakan, kini tak kami rasakan lagi.


Sampai satu tahun berlalu waktu itu aku kelas empat SD, tidak biasanya Papah sudah pulang sebelum solat isya, dan Papah makan malam bersama kami, dalam kecanggungan akhir nya Papah bicara.


"Dalam dua hari lagi kita akan pindah dari rumah ini".


Mendengar Papah berkata seperti itu kami saling berpandangan, tapi tetap diam, bahkan Mamah yang kelihatan kebingungan tetap diam.


"Papah akan pergi ke Cirebon untuk membuka Dealer cabang di sana, dan Papah pulang nya sebulan sekali".


Ucap Papah lagi, Mamah memberanikan diri bertanya karena tidak mengerti kalo Papah mau ke Cirebon pulang sebulan sekali lalu, kenapa kita harus pindah, apa Papah mengajak kita ke Cirebon?.


"Maksud Papah kita pindah ke Cirebon?"


Tanya Mamah.


"Gak, kalian pindah rumah ke sebuah Desa, nama nya Cibodas masih di kecamatan Lembang, Papah udah dapat rumah yang mau di kontrakan di sana,


sebelum rumah ini terjual kalian tinggal di sana, Papah sendiri yang pergi ke Cirebon, nanti Papah pulang sebulan sekali ke Cibodas"


Mamah makin keheranan, aku berpikir apa lagi ini, kalo kami tidak ikut Ke Cirebon kenapa harus pindah rumah segala?, Papah bisa pulang ke sini sebulan sekali.


Tanya Mamah lagi


"Rumah ini tidak kosong, Teman Papah akan mengontrak rumah ini tinggal di sini dengan keluarga nya".


Mamah memijit kepala nya, makanan yang ter hidang kan tidak kami sentuh, kami anak- anak memperhatikan kedua orang tua kami yang sedang... entah apa ini nama nya berbincang atau berdebat?.


"Mengontrak?, Teman Papah tidak membeli rumah kita?, hanya mengontrak?, dan kita pergi dari rumah ini juga mengontrak rumah lain nya, sedangkan rumah kita sendiri kita kontrakan? Kenapa harus seperti itu Pah?".


Mamah semakin tidak mengerti jalan pikiran Papah.


" Karena papah tidak ingin kalian tinggal di rumah ini, tanpa Papah! "


Ucap Papah lalu tiba-tiba Teh Eli berdiri, dan berkata.


"Tapi selama ini juga kami tinggal di rumah ini tanpa Papah!! apa bedanya sekarang Papah pergi ke Cirebon?, Papah tidak pernah ada di rumah setiap hari!!".


Teh Eli lalu beranjak dari duduk nya dan, melangkah kan kaki nya hendak meninggal kan meja makan, ketika teh Eli berjalan aku pun berdiri, tapi papah membentak ku.


"Liya duduk!! Eli kamu juga, kembali ke sini!!".


Teh Eli menghentikan langkah nya, tapi tak kembali ke tempat duduk nya.

__ADS_1


"Papah bilang kembali ke sini, Papah gak mau dengar kalian membantah Papah, dan menanyakan alasan kenapa kenapa kenapa!!!! yang Papah lakukan smua ini untuk kebaikan kalian"


Teh Eli berlari ke kamar nya.


"Baik kami tidak akan membantah, atau menanyakan alasan nya kenapa, kalau menurut Papah ini yang terbaik untuk kami lakukanlah tapi, Mamah hanya ingin mengingat kan Papah, tak mudah untuk anak-anak berada dalam, keadaan seperti ini, lingkungan baru sekolah baru, mereka butuh waktu".


Ucap Mamah, lalu mamah mengambil piring ku dan, mengisi nya dengan nasi, dan lauk pauk nya, mengambil piring Kakak sulung ku juga, dan piring Julian.


"Seminggu lagi Papah akan berangkat ke Cirebon jadi kalian harus pindah sebelum Papah berangkat Ke Cirebon, jadi beresin smua barang barang kalian dari sekarang".


Papah menegaskan, Mamah tidak berkata apa apa masih sibuk dengan piring yang di isi dengan nasi, dan lauk pauk kali ini untuk teh Eli yang sedang di kamar, Mamah beranjak dari meja makan untuk mengantarkan sepiring nasi dan lauk pauk nya itu untuk Teh Eli, Tapi Papah mencegah Mamah,.


"Gak usah di anterin!".


Ucap Papah.


" Pah sekali ini aja!".


Ucap Mamah dengan tegas, Papah tidak menjawab, Papah mulai melahap makan malam nya, kami pun mulai makan walaupun tidak berselera.


Lama Mamah di kamar Teh Eli, sampai kami selesai makan, mamah keluar dengan piring yang masih tersisa nasi, aku pun menyudahi makan malam ku tanpa menghabiskan nya, karena perut ku terasa kenyang walaupun hanya beberapa sendok makanan yang aku makan, aku tak berselera.


Aku berdiri pergi ke wastafel membuang sisa makanan ke tempat sampah, dan mencuci piring bekas aku makan, dan pergi menghampiri teh Eli di kamar nya.


Aku melihat teh Eli sedang membereskan baju bajunya, ketika aku datang dia menoleh dan tersenyum pada ku


"Lagi ngapain teh?".


Tanya ku, walaupun aku tau dia sedang membereskan baju nya.


"Ngepak baju, kan dua hari lagi kita akan pindah, sana kamu juga beresin baju nya masuk masukin ke tas, udah beres kita ngepak barang barang kita, kita bantuin Mamah ngepakin barang barang yang ada di rumah".


Kata Teh Eli bersandiwara lagi menyembunyikan kekecewaan, kemarahannya, sama seperti yang aku rasakan.


Dua hari kemudian akhirnya semua barang sudah di dalam truk, kami akan pindah ke sebuah Desa yang bernama Cibodas, baru pertama kali aku mendengar nama desa itu saat itu.


Truk berisi barang barang kami sudah melaju di depan, aku dan, keluarga ku mengikuti dari belakang menaiki mobil invetaris Papah dari kantor Dealer tempat Papah bekerja.


Dari rumah kami ke Ci bodas waktu perjalanan sekitar satu jam, di sepanjang jalan yang kami lewat pemandangan kebun, dan pohon pinus yang rimbun berjejer.


Kami menuruni bukit melewati tempat wisata, air terjun Maribaya, lalu jalanan mulai menanjak melewati hutan, dan bukit baru sekitar setengah jam terlihat lah perkampungan rumah-rumah penduduk.


Terpampang di gapura jalan.


"Selamat datang di Desa Cibodas"


Kami melewati perkampungan dan, setengah jam kemudian sampai lah kami di rumah kontrakan itu, penduduk di Desa ternyata sudah berkumpul di depan rumah kami, mereka ingin melihat penduduk baru yang baru pindah, aku baru tau kalau penduduk di kampung seperti ini menyambut kedatangan penduduk baru.


"Lihat kalian di sini banyak tetangga, Papah tidak khawatir meninggal kan kalian, mereka baik baik dan, ramah"

__ADS_1


Kami yang belum turun dari mobil saling pandang.


(Bersambung)


__ADS_2