RUMAH BEKAS PESUGIHAN BUTA IJo

RUMAH BEKAS PESUGIHAN BUTA IJo
Bab 43 Kembali 2


__ADS_3

"Bismillah hirohman nirohim...".


Ucap Kakek ketika Kakek mulai melangkah kan kaki nya memasuki rumah, kami pun mengikuti nya, melangkah kan kaki kami memasuki rumah, bau tak sedap, dan lembap yang pertama kali kami rasakan ketika mulai memasuki ruangan, Kakek segera menyalakan lampu ruangan, Papah membuka semua gorden, berdebu, dan sarang laba-laba memenuhi seisi ruangan rumah, seperti sudah bertahun-tahun tidak berpenghuni.


Hari itu kami membersihkan rumah seharian, seluruh ruangan, kamar-kamar tidur, dapur, kamar mandi, ruang tengah ruang tamu, dan ruang garasi bekas Mas Ami tinggal kini kosong, kami sempat di kagetkan suara Julian yang pertama kali masuk ruang garasi bekas Mas Ami mengontrak, Julian tiba tiba berteriak memanggil Papah, dan Mamah.


"Papah... Mamah.... ".


Teriak Julian sontak kami kaget, dan menghampiri Julian yang sedang berdiri di depan kamar Bekas keluarga Mas Ami, Julian berdiri, dan menutup mukanya dengan kedua tangan nya.


Papah langsung menghampiri, dan memeluk Julian, kami semua menghampiri Julian.


"Ada apa Julian?, kenapa kamu di sini sendirian? Kamu lihat apa?".


" Ada Laki-laki hitam Pah.. itu di situ".


Ujar Julian masih menutup muka nya dengan satu tangan nya, dan tangan yang lain menunjukkan ke arah dalam kamar.


"Kenapa kamu ke sini Julian?".


Tanya Papah lagi, Julian membuka tangan yang menutup muka nya.


"Kangen Andri Pah".


Kakek menghampiri Julian, dan Papah, lalu Kakek melangkah kan kakinya ke kamar itu.


"Bawa Julian pergi dari kamar ini".


Ujar Kakek tanpa membalikkan badan nya masih berdiri, dan menyelidiki kamar itu.


" Ayo Julian, Andri sudah tidak di sini, nanti kita main ke rumah Andri"


Papah membawa Julian pergi dari kamar bekas Mas Ami, kami melanjutkan membereskan rumah, sampai adzan magrib berkumandang kami menghentikan kegiatan kami, lalu kami membersihkan diri, dan mengambil wudhu untuk solat berjemaah di ruang keluarga.


Papah masih menunggu Pak Ustadz yang dari Subang, yang katanya akan datang bersama santri nya untuk me rukiyah rumah kami, tapi sampai isya Pak Ustadz masih belum datang juga, Papah berencana untuk menyusul nya tapi, Kakek melarang Papah.


"Sudahlah kita akan me rukiyah rumah ini tanpa Ustadz, Bapak tidak ijin kan kamu pergi untuk menyusul, yang mendiami rumah ini kamu dan keluarga mu, kalian pemilik rumah ini kalian yang berhak atas rumah ini, dan kalian memiliki ikatan batin dengan rumah ini, kuatkan iman kalian, tak ada kekuatan yang melebihi kekuatan selain Allah".


Ucap Kakek, Mamah menyetujui ucapan Kakek untuk tidak menunggu atau menyusul ustad, dan mendukung Kakek untuk memimpin kami melakukan rukiyah.

__ADS_1


"Iya Pah percayalah kita bisa, biar Bapak yang memimpin, Papah gak usah nyusul nyusul segala, kalau pun Ustad datang terlambat biarkan saja nanti mereka melakukan rukiyah lagi sekarang kita dulu sekeluarga yang melakukan nya"


Papah akhirnya menyetujui.


"Ingat yah anak anak apa pun yang terjadi nanti ketika kita me rukiyah rumah ini hilangkan ketakutan kalian, tidak ada yang perlu di takutkan tak akan ada yang dapat menyakiti kalian tanpa seijin Allah, bila kalian mendengar atau melihat sesuatu kalian tidak perlu takut jangan hiraukan, tetap pokus jangan menutupkan mata karena kalian ketakutan, mereka malah senang, dan sengaja akan lebih menakuti kalian , kecuali kalo kalian mengantuk tidur lah, baca Al-Quran dengan hati yang tulus meminta keridhaan Allah untuk melindungi kita dari makhluk ciptaan nya"


Kakek berpesan, dan meyakinkan kami sebelum kita melakukan rukiyah bersama, lalu kami solat sunat taubat dua rokaat, dan solat sunat istikharah dua rakaat, jam menunjukan jam 8:30 malam tapi suasana begitu sepi mencekam.


Setelah solat sunat kami, membaca al-fatihah 7 kali al-ikhlas, al palaq, an nass, ayat kursi 7 kali, 7 kali, lalu membaca surat al imran, dan doa Nur buat, lalu kakek mulai membaca surat al Baqarah kami mengikuti.


Entah jam berapa tapi masih blum tengah malam, kami mendengar orang, menyapu lantai entah dimana, lalu di dapur suara suara berisik seperti smua perabotan di dapur di lempar, dan di kamar mandi seperti ada orang yang sedang mandi.


Seperti kata Kakek untuk tidak menghiraukan, karena kami tau itu tujuan mereka agar kami ketakutan, dan menghentikan membaca Al-Quran, kami tetap berusaha pokus, tapi rasa lelah, dan mengantuk, tidak bisa tertahan kan, karena seharian kami cape membersihkan, dan membereskan rumah.


Kami anak-anak, satu persatu tertidur dengan masih menggunakan mukena, aku, dan Kakak-kakak ku tertidur di ruangan keluarga, Julian sudah lebih dulu tertidur, beralaskan sejadah nya, tinggal Mamah, Papah, dan Kakek mereka sampai subuh, bahkan ketika adzan subuh berkumandang, dan aku terbangun masih ku dengar lantunan surat yasin yang mereka bacakan.


Aku terbangun, dan membangunkan Kakak-kakak ku, kami pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudhu, kami melewati dapur terlihat perabotan di dapur berserakan ketika kami akan membereskan, terdengar suara Mamah dari belakang.


"Sudah biarkan saja, nanti Mamah yang bereskan, kalian ambil wudhu sana sebentar lagi kita solat subuh berjamaah"


Kami menuruti permintaan Mamah, kami mengambil wudhu, dan Mamah membereskan dapur, ternyata suara semalam itu benar-benar terjadi, makhluk itu menjatuh jatuh kan barang-barang yang ada di dapur, agar kami tidak bisa berkonsentrasi bukan hanya pendengaran kami saja.


Kami kembali ke ruang keluarga untuk melakukan solat subuh berjamaah, ketika kami kembali ke ruang keluarga di sana kakek sedang menunggu kami, tapi kakek tidak sendiri, ada Papah di sebelah Kakek mereka sedang mengobrol sontak kami bertiga kaget bukan kah tadi Papah sedang bantuin mamah di dapur?!!.


"Akhhhh"


Spontan kami berteriak, Papah dan Kakek terkejut lalu bangun dari duduk mereka, dan menghampiri kami.


"Kalian kenapa?"


Tanya Papah, julian yang masih tertidur, terbangun karena teriakan kami dan berlari menghampiri Kakek.


"Gak ada apa-apa julian, jangan takut"


Ujar Kakek, kami masih terdiam lalu memperhatikan Papah, menyelidiki apa yang di hadapan kami ini Papah atau bukan?.


"Kalian kenapa berteriak?!"


Tanya Papah lagi, kami, aku dan Kakak-kakak ku saling pandang.

__ADS_1


"Ini beneran Papah?".


Kakak sulung ku bertanya untuk memastikan, Papah mengerutkan kening nya, lalu melihat ke Kekek.


"Kalian melihat Papah kalian dimana tadi sebelum di sini?".


Tanya kakek.


"Di dapur Kek lagi bantuin Mamah".


Kata ku, Papah mendengar aku berkata seperti itu langsung berlari ke dapur.


"Mah... Mamah... ".


Papah memanggil Mamah, Ketika sampai di dapur, tidak ada siapapun, Papah sempat panik ketika tidak menemukan Mamah di dapur, tapi terdengar suara Mamah dari belakang Papah, Mamah keluar dari kamar mandi.


"Iya Pah.. "


Papah menghela napas lega, kami menghampiri mereka, masih dengan wajah yang kebingungan sekarang kami tidak tau bagaimana cara membedakan mana yang asli.


"Mamah gak apa-apa?".


Mamah mengerutkan kening nya.


"Iyaa Mamah gak apa-apa, ini baru beres ambil wudhu, kenapa emang?".


Papah melirik ke kami yang sedang memperhatikan mereka.


"Tadi Mamah beresin dapur sama siapa?".


Papah malah balik bertanya.


"Sendiri Pah, tadi anak anak mau beresin, tapi Mamah bilang gak usah biar Mamah aja, sambil nungguin mereka wudhu Mamah beresin dapur, udah mereka selesai wudhu terus Mamah wudhu, emang kenapa sih?".


Ucap Mamah masih dengan wajah kebingungan.


" Tadi Anak-anak bilang, mereka lihat Papah bantuin Mamah di dapur "


Jawab Papah sambil menoleh ke kami, kami menganggukan kepala.

__ADS_1


(bersambung)


__ADS_2