RUMAH BEKAS PESUGIHAN BUTA IJo

RUMAH BEKAS PESUGIHAN BUTA IJo
bab 13 jin khorin abah


__ADS_3

"Mas Ami ngomong apa sih? gak mungkin Abah meninggal, Mas Ami lihat sendiri kan semalam Abah sehat walafiat malah bisa bantuin kita bangunin Andri, jangan ngomong sembarangan Mas Ami!."


Mamah dengan nada kesal, setelah mengerti apa yang dikatakan Mas Ami, Mas Ami menghela napas, istrinya membawakan segelas air untuk nya.


"Ini Mas minum dulu, kalo ngomong tuh yang bener loh Mas, ucapan itu doa, masa ngedoain yang udah nolongin anak kita meninggal sih Mas... atau bener yah Abah meninggal?."


Istrinya Mas Ami kebingungan sambil melirik Mamah yang berdiri d samping nya, Mamah mengerutkan kening nya masih tidak percaya dengan perkataan Mas Ami, Mas Ami meminum air yang di berikan istrinya.


"Demi Allah saya tidak berbohong, saya juga tidak percaya tapi saya melihat sendiri dengan mata kepala saya, Abah.. sudah mau di mandikan waktu saya datang ke rumah nya.. Abah semalam sudah meninggal di rumah sakit..."


Kami semua terduduk lemas dan mengucap inalillahi wa ina ilaihi rojiun, aku menghampiri Mamah dan bertanya ingin meyakinkan diri ku sendiri.


"Mah.. Abah yang semalam kerumah yang bangunin Julian sama Andri beneran udah meninggal?."


Tanya ku ke Mamah, Mamah menganggukan kepala nya, tak terasa air mata ku menetes, rasa kehilangan yang sangat walaupun dia bukan Kakek ku sendiri, tapi kenapa rasanya sakit sedih aku rasakan mendengar bahwa beliau sudah meninggal, padahal kami hanya bertemu dua kali.


"Lalu siapa yang semalam datang menolong kita Mas..?"


Mamah dengan suara lemas bertanya sambil menengadahkan kepala nya ke Mas Ami yang masih berdiri.


"Entahlah Bu, itu lah yang membuat saya kaget, saya mau ngambil motor saya yang berada di hutan pinus itu tapi ternyata motor saya ada di halaman rumah Abah, dan hutan pinus yang semalam saya dan Liya lewati, ternyata gak seluas yang saya dan Liya alami semalam, seperti hutan pinus itu tidak ada ujung nya, hanya sekitar sepuluh menitan hutan pohon pinus itu dari rumah Abah, dan saya menemukan motor saya yang tadinya ada di hutan pinus, ternyata ada di halaman rumah Abah, dan rumah itu sudah ada bendera kuning nya, saya tidak tau kalo itu rumah Abah, saya bertanya ke orang yang mau melayat, siapa yang meninggal?, orang itu bilang Abah meninggal, saya tanya lagi Abah siapa?, dia bilang Abah kusir delman, saya tanya lagi Abah yang suka nolongin orang kena gangguan makhluk ghaib?, dia bilang iya siapa lagi tidak ada kusir delman yang di panggil Abah di sini selain beliau katanya, dia di panggil Abah karena dia sesepuh di kampung ini, dan karena kebaikan nya yang suka menolong orang kena gangguan makhluk ghaib tanpa meminta imbalan, saya masih tidak percaya Bu.. saya tanya lagi ko bisa ?, kenapa bisa meninggal?, dia bilang semua makhluk hidup pasti meninggal Mas kenapa bilang ko mana bisa Abah juga kan manusia biasa, Abah sakit sudah lama, kemarin pagi pagi di bawa ke rumah sakit, karena penyakit Abah makin kritis sempat tak sadarkan diri, lalu keluarga nya membawa nya ke rumah sakit, tapi Abah tidak bisa di selamat kan lagi sudah waktunya Mas,..semalam Abah menghembuskan napas nya yang terakhir di rumah sakit, lalu saya pergi masuk ke rumah nya ingin meyakinkan diri saya bahwa itu benar benar Abah yang semalam ke rumah menolong Andri, saya melihat Abah yang terbaring kaku di tutupi kain, saya membuka nya dan benar Bu... itu Abah..."


Mas Ami menceritakan kejadian yang baru saja dia alami, menjelaskan dan membuat kami makin percaya bahwa Abah sudah tiada, lalu siapa yang semalam menolong kami?, siapa yang semalam membawa aku dari hutan pinus itu?, dengan delman nya yang mengelus rambut ku...?

__ADS_1


Aku tidak bermimpi semua keluarga ku melihat nya, dan jelas Abah lah yang semalam menolong Andri, bagaimana mungkin Abah sudah meninggal lalu siapa yang semalam...?, jangan kan aku yang waktu itu masih anak -anak Mas Ami, istrinya dan Mamah yang sudah dewasa pun tidak bisa habis pikir.


Kami semua tidak bisa mengerti kebingungan, apa yang sebenarnya terjadi, karena kejadian semalam adalah kejadian nyata yang kami alami, kalo semalam Abah meninggal siapa yang datang ke rumah kami, pertanyaan itu yang berputar putar d kepala kami.


"Kita melayat Mas,antar kan kami kerumah Abah."


Mamah berkata sambil berdiri dan pergi ke kamar, menganti baju nya memakai kerudung , aku dan Kakak-kakak ku pun, kami semua ingin melihat Abah untuk yang terakhir kali nya, setidak nya ingin mengucap kan rasa hormat, dan terima kasih karena kebaikan nya.


Kami semua pergi kecuali Papah, karena Papah belum pulang ke rumah, Papah seperti biasa masih berusaha mencari pekerjaan, pulang nya paling cepat sore paling telat sebelum isya Papah pulang, kami tidak bisa menunggu Papah, kami ingin melihat Abah sebelum di makam kan.


Sesampainya di rumah Abah, kami masih bisa melihat Abah yang sudah di kapani, tapi kami masih bisa melihat wajah nya, barulah kami yakin bahwa itu benar benar Abah yang semalam ke rumah.


Keluarga Abah bertanya siapa kami, karena mereka baru pertama kali ini melihat kami, kami hanya bisa bilang bahwa kami orang yang pernah di tolong Abah, kami mengucap turut berduka cita, dan menghibur keluarga mereka agar tabah, dan mendoakan Abah agar di terima iman Islam nya, semoga khusnul khotimah dan mendapatkan tempat yang layak di sisi Nya amiin..


Kami ikut ke tempat pemakaman keluarga, tempat dimana Abah akan di makam kan sampai acara pemakaman selesai, kami tidak mengatakan kepada keluarga nya bahwa Abah semalam ke rumah kami, kami tidak mau membuat mereka kebingungan, mereka sedang berduka yang seharusnya di hibur.


"Nanti malam saya akan sempat kan ke rumah Abah untuk tahililan Bu,setelah tahlilan saya dagang."


Kata Mas Ami ke m


Mamah, Mamah pun mengangguk.


"Papah nya anak anak juga pasti mau pergi tahlilan Mas, nanti bareng yah Mas sama Papah nya anak- anak."

__ADS_1


Mamah meminta Mas Ami untuk pergi tahlilan bareng Papah, Papah pasti ingin pergi tahlilan, bisa di bayangkan bagaimana reaksi Papah kalo tau Abah yang semalam ke rumah telah meninggal malam itu.


Jam 5:30 sore Papah baru pulang, Papah sangat terkejut sama hal nya seperti kami yang baru pertama kali mendengar kalo Abah meninggal, Mamah berusaha meyakinkan Papah, dan menceritakan semuanya bahwa kami sudah pergi ke rumah Abah, dan melihat sendiri bahwa Abah benar benar telah meninggal, dan kami mengantarkan nya ke pemakaman.


Setelah solat maghrib Papah, dan Mas Ami pergi untuk tahlilan, sekitar jam 8 :00 malam Papah dan Mas Ami pulang, Mas Ami langsung pergi berdagang mie tek tek dan Papah pulang tahlilan dari rumah Abah langsung tertegun duduk di ruang tivi.


Mamah menghampiri Papah membawa kan segelas air untuk Papah


"Ini Pah minum dulu..."


Mamah memberikan segelas air, Papah mengambil nya dan meminum nya sampai habis seperti kehausan.


"Kita makan malam Pah, anak- anak sudah menunggu Papah untuk makan malam."


Mamah mengajak Papah untuk makan malam, Papah pun mengangguk tanpa mengatakan sepatah kata pun, dan berjalan ke ruang makan, kami sudah menunggu Papah untuk makan.


"Mah... tadi Papah setelah beres tahlilan, Papah ngobrol dengan Ustadz yang memimpin tahlil, Papah bilang ke Pak Ustadz kalo semalam Abah ke rumah kita, Papah tanya ke Pak Ustadz kalo Abah meninggal malam itu lalu bagaimana bisa Abah ke rumah kami, dan menolong anak nya Mas Ami..."


Kata Papah di meja makan, sudah tidak sabar lagi ingin menceritakan nya ke Mamah.


"Ya sudah Pah nanti ngobrol nya sekarang makan dulu."


Mamah menyela perkataan Papah, tapi Papah sudah tidak bisa menahan ingin segera memberi tahu Mamah, seperti nya Papah sudah dapat jawabannya dari pertanyaan dan kebingungan kami.

__ADS_1


"Mah kata Pa Ustadz, yang datang ke rumah semalam itu bukan Abah tapi itu Jin Khorin nya Abah..."


(bersambung)


__ADS_2