
"Aku gak akan peluk Om Toni kalo Om Toni gak baca syahadat!".
Ucap ku dengan lantang, Om Toni tersenyum lalu membaca dua kalimat syahadat.
"Asha dualla illaha illallah WA asha duana Muhammad darosullallah".
Aku tersenyum dan berlari memeluk nya menyalami tangan nya dan mencium pipi nya.
"Makin pinter aja kamu ya..".
Kata Om Tomi, lalu mencium pipi ku, aku menyentuh wajah Om Toni.
"Nah yang ini beneran Om Toni, karena Om Toni yang kemaren wajah nya bonyok di pukulin Papah".
Kata ku sambil mengelus wajah Om Toni, Om Toni membelalakan matanya lalu melirik ke Papah, dan Mamah.
"Iya tadi Mamah heran ngeliat Om Toni wajah nya mulus, padahal kemarin kan bonyok masa dua hari udah sembuh, trus muka nya itu kebingungan, makanya Mamah ngebantah Papah, waktu Papah minta Mamah masuk ke rumah".
Kata Mamah.
"Iya ya kenapa gak kepikiran ".
Kata Papah.
"karena Papah lagi emosi, pikiran nya gak jernih".
Kata Mamah lagi, kakak ku Teh Eli menghampiri aku yang sedang di pangku Om Toni, Teh Eli menyalami Om Toni.
"Aku gak ngerti loh Om.. aku gak tau apa apa".
Kata Teh Eli dengan wajah yang serius, Om Toni tersenyum.
"Mending gak tau apa-apa, kalo tau nih kaya Liya, jadi ketakutan, dimana Teteh?, udah baikan belum?".
Om Toni berdiri, dan menurun kan ku dari pangkuan nya.
"Lagi nonton tivi Om".
Kata teh Eli lalu aku dan teh Eli menghampiri Kakak ku, di ikuti Om Toni dari belakang, di ruang keluarga ada Julian dan Andri lagi main, duduk di atas karpet dengan mainan mereka yang berserakan, Kakak ku berbaring di sopa menonton tivi, ketika kami datang Teteh berusaha bergerak untuk duduk , Om Toni menghampiri Teteh, dan mencegah Teteh untuk bergerak.
"Udah gak usah banyak gerak dulu, tiduran aja".
Kata Om Toni ,aku menghampiri Julian dan Andri membereskan mainan nya, dan membawa Julian dan Andri ke halaman rumah untuk main sepedah.
"Maaf yaa, Om Toni baru sempet nengokin kamu, udah baikan sekarang?".
Om Toni mengusap rambut Teteh, Teteh tersenyum dan mengangguk.
"Gak apa apa Om, Om kan sibuk, dah baikan ko Om".
Om Toni memang sudah seperti keluarga kami, perhatian nya kepada kami seperti seorang paman ke keponakan nya sendiri.
"Hebat kalian memang anak anak kuat dan hebat, Om kagum sama kalian, orang tua kalian beruntung punya anak-anak seperti kalian".
Kata Om Toni, yah itulah sebab nya Om Toni sayang ke kami, karena Om Toni tau kehidupan kami, bagaimana kami satu sama lain saling melindungi walaupun dalam kesusahan, kemiskinan kami selalu saling menguatkan, kami bukan anak anak manja seperti kebanyakan anak anak yang lain nya.
"Banyakin makan telur rebus, biar cepet sembuh bagus loh itu".
Kata Om Toni lagi, lalu Papah datang dan duduk di sopa, Papah menghela napas, Om Toni melirik Papah, lalu berdiri dan berjalan menghampiri Papah lalu duduk di sebelah Papah.
"Kejadian nya gimana sih? dia bener bener mirip aku?".
__ADS_1
Om Toni penasaran apa yang sudah terjadi, masih tidak percaya kalo ada seseorang yang menyerupai nya, Papah mengangguk mengiyakan pertanyaan Om Toni.
"Nagih hutang? ko dia bisa tau aku pinjemin kamu duit? siapa dia?".
Papah menggelengkan Kepalanya, membuat Om Toni makin penasaran.
"Kamu ceritain semua nya, gimana kejadian nya, dari pertama dia datang, ko bisa kamu sampe gak ngenalin aku?".
Om Toni menuntut penjelasan dari Papah.
"Waktu itu aku emosi gak bisa berpikir jernih sama seperti tadi, benar yang istri ku bilang, tapi gimana aku gak emosi, aku melihat kamu dengan mata kepala ku sendiri melecehkan istri ku".
Om Toni sontak terkejut.
"Istri mu itu sudah seperti Kakak ku sendiri bagaimana mungkin aku melecehkan nya?, kamu tau kenapa aku tidak mengunjungi nya selama se tahun ketika kamu menghilang? padahal aku cemas, tapi aku menahan diri karena aku menghargai nya, aku tau istri mu tidak akan pernah menerima tamu laki laki memasuki rumah nya ketika suami nya tak ada di rumah, kamu pernah lihat aku datang ke sini ketika kamu sedang tidak ada di rumah? aku selalu sempat kan menelpon dulu dan menanyakan apa kamu ada di rumah, seperti tadi aku menelpon yang mengangkat telpon Eli, aku tanya ke Eli apa Papah ada di rumah, Eli bilang Papah ada om, baru aku berani kemari, karena aku menjaga agar tidak terjadi fitnah, bagaimana aku melecehkan seseorang yang kehormatan nya ku jaga?".
Papah tertunduk.
"Dia tau kelemahan ku, aku bisa buta, hilang akal kesadaran ku ketika seseorang menyentuh istri ku, waktu itu aku hanya ingin membunuh mu, walaupun waktu itu aku sadar itu bukan kamu, aku tidak mengenali mu tapi kecemburuan, emosi ku mengalah kan akal sehat ku".
Lalu Papah menceritakan smua kejadian nya ke Om Toni.
"Jadi kamu berencana menjual rumah ini? buat bayar hutang sama aku?, jadi menurut kamu siapa yang menyerupai aku? jin yang berada di rumah ini?".
Om Toni mengedarkan pandangan nya ke seluruh ruangan.
"Udah deh sekarang aku gak mau ada yang nyerupain aku lagi, kerja sama aku di dealer ya.. jadi tiap hari kita ketemu tuh jin gak kan bisa ujug ujug datang ngaku-ngaku jadi aku, kalo kamu gak mau udah aku lunasin aja hutang kamu,".
Sebenarnya Om Toni tidak pernah ingin di bayar hutang nya, Om Toni memberi pinjaman karena Om Toni tau Papah tidak akan pernah mau menerima uang dengan cuma cuma.
"Kerja di dealer kamu Ton? beneran? Tapi aku gak ada pengalaman di dealer Ton".
Om Toni tersenyum sinis dan berkata.
Papah menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Bisa aja kamu, memang nya ada lowongan?.
Om Toni menganggukan kepala nya.
"Aku udah bilang kan aku pergi ke Jakarta, itu Babeh buka cabang di Jakarta, jadi karyawan yang di Bandung yang udah pengalaman di oper ke Jakarta".
Om Toni memanggil Papah nya dengan panggilan Babeh, jadi orang tua Om Toni membuka dealer di Jakarta, karena Jakarta kota besar dan dealer nya baru, membutuhkan tenaga kerja yang berpengalaman karena persaingan bisnis di Jakarta yang menuntut Kepropesionalan.
Papah dan Om Toni kalau sudah ngobrol tidak ingat waktu, sudah waktunya solat magrib, kalau tidak di ingat kan mereka pasti melewatkan solat maghrib, setelah solat magrib bersama, Papah dan Om Toni sudah kambali asyik mengobrol, Om Toni makan malam bersama kami dan memutuskan untuk menginap di rumah, malam itu malam jumat, jadi Papah tidak pergi menjaga vila, sepertinya Papah juga sudah memutuskan untuk berhenti menjaga vila, dan menerima tawaran Om Toni bekerja di dealer nya.
"Aku harus balikin nih uang kepemilk vila Ton, dia membayar ku di muka untuk pekerjaan ku minggu depan".
Papah merogoh saku celana nya, dan menunjukkan uang itu ke Om Toni, Om Toni tersenyum.
"Jangan khawatir, kehidupan mu dan keluarga mu akan lebih baik percaya sama aku, mulai senin kamu gantiin aku di dealer yang di Bandung".
Papah tertegun, lalu melirik Om Toni.
"Kamu mau pindah ke Jakarta?".
Tanya Papah, Om Toni mengglengkan kepala nya.
"Gak yang di Jakarta nanti kakak ku di sana, aku gak kemana mana, aku mau istirahat cape".
Om Toni menghela napas me menyandarkan punggung nya di sopa.
__ADS_1
"Kaya nya tabungan nya dah banyak nih, pake mu istirahat segala".
Om Toni tersenyum.
"Tabungan ku udah aku berikan semua ke Babeh untuk buka cabang di Jakarta".
Papah mengangguk.
"Makanya nikah, jadi ada semangat kerja buat nafkahin keluarga".
Kata Papah lagi, sambil tinju nya melayang ke pundak Om Toni.
"Aku ingin menikah dengan Bidadari syurga".
Papah tertawa mendengar perkataan Om Toni.
"Hahaha Mati dong...".
Kata Papah bercanda, Om Toni hanya tersenyum, malam itu mereka mengobrol sampai larut malam jam 1:30, Papah baru masuk ke kamar nya, meninggalkan Om Toni yang tertidur di sopa ruang keluarga.
Papah terbangun saat subuh ketika Mamah membangun kan nya untuk solat subuh, Papah terlihat malas bangun karena semalam bergadang dengan Om Toni, Mamah keluar dari kamar bermaksud untuk membangun kan anak-anak nya, tapi Mamah melihat ada yang aneh di ruang keluarga, kenapa terlihat berantakan sekali? sopa bergeser dari tempat nya, bukan kah Toni tidur di sana lalu Mamah melangkah menuju ruang keluarga, Mamah melihat tivi berpindah tempat meja sopa terbalik, mainan julian, dan hiasan hiasan dalam lemari kaca berserakan di bawah lantai, seperti ada goncangan hebat terjadi di ruangan itu, dan.. Om Toni... dimana dia...Mamah shock dan berteriak teriak memanggil Papah...
"Pah... papah..."
Dengan suara histeris berteriak Mamah memanggil manggil Papah, Papah tersontak kaget rasa kantuk nya langsung hilang, langsung berdiri dari ranjang nya dan setengah berlari menghampiri Mamah, ketika berada di ruang keluarga, Mamah, dan Papah saling pandang dengan wajah shock tanpa bisa berkata apa-apa belum reda ketegangan di ruangan itu, mereka di kaget kan oleh suara dering telpon, Papah melangkah menghampiri telpon yang berbunyi di sebuah meja di ruang keluarga.
"Hallo... ya saya sendiri...apa?!!, iyaa.. baik saya segera ke sana"
Mamah menghampiri Papah yang masih mematung di meja telepon.
"Ada apa Pah? tadi siapa? "
Papah melirik Mamah, memandang Mamah dengan nanar di mata nya.
"Toni kecelakaan Mah, tadi Babeh yang menelpon, Toni sekarang di RS Hasan Sadikin"
Mamah tersontak kaget, tangannya menutup mulut nya.
"Astaghfirullah..."
Papah melangkah kan kaki nya meninggal kan Mamah yang kini lemah tergulai duduk di lantai, Papah menggendor kamar Mas Ami.
"Mas... Mas Ami.. boleh pinjam motornya Mas... "
Mas Ami membuka pintu kamar nya, dengan mata yang masih setengah terbuka lalu memicingkan matanya.
"Iya Pak..".
Mas Ami masih belum sadar betul dari mimpi nya.
"Pinjem motor nya Mas, saya mau ke rumah sakit teman saya kecelakaan".
Mas Ami mengangguk.
"Ohh iyaa boleh, sebentar Pak saya ambil kuncinya".
Mas Ami lalu masuk lagi ke dalam kamar dan kembali dengan kunci motor di tangan nya.
"Terimakasih Mas...".
Papah tanpa membuang waktu, hampir setengah berlari menuju garasi membuka pintu garasi dan menyalakan motor, Mamah menghampiri Papah yang sudah mulai melajukan sepeda motor.
__ADS_1
"Pah... hati-hati...
(bersambung)