RUMAH BEKAS PESUGIHAN BUTA IJo

RUMAH BEKAS PESUGIHAN BUTA IJo
bab 58 Abah Kardi 1


__ADS_3

Ketika sampai di sebuah desa itu, kami di sambut oleh beberapa orang pengurus desa setempat, lalu kami di bawa ke rumah kepala desa, setelah memperkenalkan diri masing-masing, dan mengobrol dengan kepala desa, dan aparat nya, kami di antar kan ke tempat dimana kami akan tinggal untuk beberapa minggu ini selama bertugas KKN.


Di sebuah rumah penduduk, yang kebetulan yang punya rumah nya sesepuh di desa itu, orang yang di segani, bukan karena dia orang kaya tapi karena ilmu kabhatinan nya, bisa di bilang orang pintar lah, pemilik rumah itu nama nya Bah Kardi.


Bah Kardi tinggal bersama istri, dan anak bungsu nya laki laki mempunyai bengkel tidak jauh dari rumah nya, dan cucu perempuan nya yang masih sekolah SMP yang sudah yatim piatu.


Mereka sangat taat beribadah, anak nya pun mengajar ngaji di mushola dari sore sepulang dia dari bengkel, dia akan ke mushola untuk mengajar ngaji dan pulang setelah isya bersama keponakan nya.


Sebelum nya ketika pengurus desa mengantarkan kami ke rumah Bah Kardi aku merasa, seolah aku pernah ke tempat itu, dan semua kejadian hari itu dari pertama kali aku menginjakan kaki ku di desa bertemu kepala desa, dan berjalan menuju ke rumah Bah Kardi aku merasa semua itu pernah terjadi.


Aku pernah mengalami nya, malahan aku tau apa yang akan orang katakan, malah sempat aku menebak sendiri ketika salah seorang akan mengatakan sesuatu, dan rumah Pak Kardi, aku merasa tidak asing aku seperti pernah kesini padahal baru pertama kali aku ke sini.


Salah seorang teman ku menyadari hal itu ketika aku mengucapkan perkataan salah satu aparat desa, teman ku duduk di samping ku, dan aku setengah berbisik mengatakan yang seorang aparat desa belum katakan, setelah aku mengatakan nya, lalu benar saja aparat desa itu mengatakan nya, teman ku kaget.


"Liya ko kamu tau dia mau bilang seperti itu?".


Ucap teman ku Dewi yang duduk di samping ku, dan mendengar yang ku katakan, aku hanya menggelengkan kepala karena aku juga heran kenapa.


"Dejavu, kamu merasa pernah mengalami hal ini?".


Ucap teman ku bertanya, aku menganggukan kepala, lalu kami terdiam, dan ketika kami berjalan menuju rumah Bah Kardi, aku yang berjalan di depan, repleks menoleh ke belakang, dan setengah berteriak memperingatkan Dito teman ku.


"Awas Dit.. kamu entar kepeleset".


Dito yang mendengar hal itu menoleh padaku, dan bilang.


'Masa sih.. ".


Baru juga Dito bilang masa sih dia beneran kepeleset.


"Tuh kan aku bilang.. ".


Kata ku, sambil ketawa teman teman ku yang lain nya ikut menertawakan Dito yang jatuh kepeleset.


"Malah pada ngetawain, sakit tau, bukan nya nolongin, Liya nih pake ngedoain kepeleset segala, ngedoain tuh yang baik-baik napa Li.. ".


Kami malah makin ngetawain Dito, salah satu pengurus desa membantu Dito berdiri, tapi beneran kaki nya keseleo, dan gak bisa di pake jalan bener karena sakit katanya jadi Dito jalan nya pincang-pincang gitu.

__ADS_1


"Yeee siapa yang ngedoain".


Kata ku sambil menutup mulut ku, ingin menghentikan ketawa ku, gak enak juga kasian tapi gak bisa nahan untuk ketawa, liat Dito yang jatuh kepeleset dengan muka yang kaget sekaligus lucu.


"Liya lagi kena dejavu To..."


Ucap dewi yang sudah tau aku mengalami hal hal yang seperti terulang lagi.


"Hati hati loh Neng, katanya sih klo kita kena dejavu itu tanda nya kita di ikutin sama jin, ada jin atau makhluk ghaib kaya gitu bersama kita, jadi ketika kita tidur, alam bawah sadar kita di bawa oleh jin itu ke masa yang akan datang, yang akan terjadi, jadi kita seperti pernah melakukan nya".


Kami semua berhenti tertawa dan terdiam mendengar perkataan pengurus desa itu.


"Oh gitu ya Pak jadi Liya.. ada yang ngikutin mahkluk ghaib dong."


Kata Dewi dengan menunjukan tangan nya ke arah ku, aku menepis kan tangan.


"Apaan sih."


Ucap ku.


"Yah yang saya tau seperti itu tapi wallahu alam, tanyain aja ke Abah Kardi dia tau orang yang di ikutin jin apa gak, dan bisa nanya kenapa bisa ngerasain dejavu kaya gitu."


Kami mengucapkan salam, dan besalaman satu persatu ke mereka, entah kenapa perasaan ku seperti..., aku merasa bahagia bercampur gugup ketika akan masuk rumah Bah Kardi, jantung ku berdebar lebih cepat.


"Asalamualaikum..."


Ucap kami bersamaan, ketika memasuki pintu rumah Bah Kardi.


" WA alaikum salam... tuh geuningan geus daratang sok lalinggih-lalinggih, calalik.. ( WA alaikum salam nah udah pada datang silakan masuk duduk)."


Lalu kami satu persatu masuk, dan duduk, dan giliran ku, aku tersenyum dan hendak menyalami Abah Kardi. Bah Kardi sumeringah melihat ku.


"WA alaikum salam..."


Ucap Bah Kardi padahal aku tidak mengucapkan lagi salam.


"Hebat si Neng bobogaan na serab Abah, moal aya nu daekeun ngaganggu pangawalna ge si Belang geuning( hebat si Neng kepunyaan nya, silau Abah, gak akan ada yang berani ngeganggu, pengawal nya juga si Belang)."

__ADS_1


Ucap Abah Kardi ketika aku mencium tangan nya, dia setengah berbisik berkata seperti itu, jadi teman teman ku yang sedang sibuk mengobrol dengan yang lain nya, dan berkenalan dengan keluarga Abah Kardi tidak mendengar apa yang Abah Kardi katakan pada ku.


"Abah saya ingin..."


Kataku tapi tidak aku lanjutkan, karena Abah Kardi memotong perkataan ku.


"Abah juga ingin ngobrol sama kamu nanti ya."


Ucap Abah sambil manggut, dan menepuk pundak ku, aku tersenyum dan mengangguk, lalu aku duduk, kami berbincang bincang, Abah Kardi mengobati kaki Dito yang keseleo di urut lalu di tarik nya kaki Dito, sehingga Dito berteriak terkejut sekaligus sakit linu, tapi hanya sebentar kemudian dia merasa kaki nya sudah tidak sakit lagi dan bisa berjalan dengan baik.


"Aakhh, sakit Bah..."


Ucap Dito ketika Abah menarik kaki nya dengan cepat, dan menimbulkan suara tulang yang beradu dreuk.


"Alah sebentar aja sakit nya, laki laki harus kuat, ayo coba berdiri masih sakit gak kaki nya?."


Ucap Abah lalu, Dito pun berdiri dan menggerakkan pergelangan kaki nya.


"Alhamdulillah udah gak kerasa sakit Bah... enak sekarang di pake jalan juga kaya yang gak pernah keseleo, hebat si Abah Terimakasih Bah..."


Abah Kadri mengangguk dan tersenyum.


"Ini tuh gara-gara Liya tuh Bah, ngatain awas entar keseleo jadi keseleo beneran."


Ucap Dito sambil menunjuk ke arah ku, aku yang di tunjuk menaikan alis ku.


"Iya nih Bah temen kami Liya lagi kena dejavu, katanya dia di ikuti sama jin atau makhluk ghaib kaya gitu, apa bener Bah?."


Tanya Dewi penasaran.


"Iya Bah katanya dejavu itu kita di ikuti jin atau makhluk ghaib, trus jin atau makhluk ghaib itu bawa kita ke waktu yang akan datang, di alam bawah sadar kita ketika kita tertidur, bener itu Bah?."


Kata Irfan teman ku ikutan bertanya, Abah tersenyum dan berkata.


"Kebetulan aja itu mah..."


Ucap Abah Kardi sambil menoleh pada ku, dan tersenyum, seperti nya Bah Kardi tau aku tidak ingin teman teman ku tau tentang makhluk ghaib yang mengikuti ku.

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2