
Aku berjalan tak menghiraukan seringaian Nenek korengan itu, ketika aku berjalan melewati pembatas yang membuat aku terjatuh itu, aku pikir aku akan berada di jalan ternyata aku terbangun di kamar tidur ku, Papah sedang memegang kaki ku, Mamah di sebelah ku sedang mengucapkan ayat-ayat suci Al-Quran ketika aku membuka mata ku Mamah mengucapkan Alhamdulillah dan meminta ku untuk beristighfar.
"Alhamdulillah...Istighfar Liya!."
Ucap Mamah aku pun beristighfar, bangun dan duduk di tempat tidur ku, Mamah memberikan ku segelas air, lalu Ratih datang menghampiri ku.
"Liya nya udah sadar Tante?. "
Tanya Ratih, Mamah mengangguk, Ratih naik ke tempat tidur ku dan memegang tangan ku, aku kebingungan ada apa ini pikir ku, tadi aku kenapa?, bukan nya tadi aku masih berjalan untuk meninggal kan pohon beringin kenapa sekarang aku sudah berada di sini di tempat tidur ku.
"Kok aku udah ada di sini?."
Tanya ku pada Ratih dengan kebingungan.
"Memang tadi kamu dimana?."
Ratih balik bertanya.
"Tadi aku di pohon beringin itu Ratih, yang tadi kita lewati."
Ucap ku, Ratih menoleh ke Mamah, Mamah mengerutkan kening nya.
"Ngapain kamu di pohon beringin itu?."
Tanya Ratih lagi.
"Nenek... kamu ingat Ratih?, Nenek korengan yang kita jumpai di jalan waktu kita akan pergi ke rumah Tante Ana?, Nenek itu yang membawa ku ke sana."
Jawab ku, Ratih menoleh ke Mamah lagi.
"Bener kan Tante, apa yang Ratih bilang itu makanya tadi Liya ketawa nya kaya Nenek-nenek."
Ucap Ratih, berbicara pada Mamah ku, Mamah mengangguk lagi, aku makin kebingungan mendengar perkataan Ratih.
"Ketawa ku seperti Nenek-nenek?, maksudnya?."
__ADS_1
Tanya ku, sambil melirik ke semua orang yang ada di sekeliling ku, ada Mamah, Papah, seperti nya Papah baru saja datang dari cirebon, teh Eli, Julian, Tante Ana dan suaminya Tante Ana, semua nya ada di kamar ku, mengelilingi ku dengan wajah yang khawatir.
"Tadi kamu kesurupan Liya, kamu tertawa seperti Nenek-nenek, dan bilang katanya dia akan membawa mu, katanya kamu tadi ngeliatin dia terus."
Ujar Mamah, aku menoleh ke Ratih, Ratih pun mengangguk, mengiyakan perkataan Mamah.
"Jadi tadi aku kesurupan Nenek korengan itu?, gimana ceritanya?."
Tanya ku penasaran karena tadi aku pikir aku sedang bermimpi.
"Tadi kamu ngamuk-ngamuk Liya, Papah kamu dan suaminya tante Ana dan dua orang teman nya suami Tante Ana sampai ke walahan megangin kamu."
Ucap Ratih lalu menceritakan apa yang terjadi pada ku, Ratih bilang Ketika sampai di rumah aku pingsan, lalu aku ngamuk dan mau pergi dari rumah, bilang nya ini bukan rumah aku, aku mau kembali ke pohon beringin.
Mamah bilang ini rumah mu kamu yang mau pulang ke pohon beringin pulang saja sendiri, tapi katanya aku bilang tidak mau aku akan bawa anak ini bersama ku, tadi anak ini liatin aku terus, berbicara dengan berbahasa sunda, lalu aku tertawa, tapi tawa ku, Ratih bilang seperti Nenek-nenek.
Bukan suara ketawa ku, lalu Mamah menanyakan pada Ratih tadi kami sudah dari mana, setelah pergi ke Rumah Tante Ana, Ratih bilang tidak pergi ke mana-mana, cuman tadi kami pergi ke rumah tante Ana melewati jalan perkampungan, jalan Cijeruk.
Dan Ratih menceritakan kejadian bertemu dengan Nenek-nenek, dan Nenek-nenek itu menghilang di pohon beringin yang kami lewati, lalu kata Ratih aku berteriak teriak minta tolong, dan me manggil-manggil Mamah dengan mata tertutup.
Aku terdiam mendengar penjelasan Ratih tentang apa yang terjadi, lalu Ratih menanyakan apa yang aku alami, aku pun menceritakan, apa yang ku alami tadi, yang ku rasakan aku sedang bermimpi.
Itulah pertama kali nya aku merasakan kesurupan, yang aku rasakan seperti mimpi kita berada di tempat yang berbeda dari semenjak itu aku tidak pernah kesurupan lagi, sekali dalam seumur hidup ku.
"Ini makan dulu, kamu pasti lapar dari siang kamu belum makan."
Ucap teh Eli dengan menyodorkan sepiring nasi dan lauk pauk nya, aku pun mengangguk dan menerima piring yang teh Eli berikan padaku.
"Mau di suapin?."
Tanya Teh Eli, aku menggelengkan kepala, dan tersenyum, aku pun mulai melahap nasi dan lauk pauk dalam piring itu, karena memang aku lapar di tambah lagi tadi aku kesurupan badan ku sakit-sakit.
Tangan ku biru-biru karena, aku tadi mengamuk dan meronta-ronta ingin pergi dari rumah, dan Papah, suaminya tante Ana dan kedua teman nya memegangi ku dengan sekuat tenaga mereka, maka nya tangan dan badan ku sakit-sakit.
Setelah makan aku pun merasa mengantuk, rasa nya cape sekali, aku merebah kan badan ku ke tempat tidur, dan memeriksa tangan ku yang sakit.
__ADS_1
"Maaf ya Liya tadi om kepaksa megangin kamu kuat-kuat, tangan kamu jadi biru-biru,"
Ucap suaminya Tante Ana, aku pun tersenyum dan mengangguk.
"Ya udah kamu istirahat ya, tidur, berdoa dulu sebelum tidur"
Ucap Papah, menghampiri ku.
"Pah bisa tolong anterin Ratih pulang?,"
Tanya ku ke Papah, Papah pun mengangguk dan berkata.
"Iya nanti Papah anterin sekalian nanti Papah jelasin kenapa Ratih pulang nya malam, tapi tadi Ratih udah nelpon yah Ra ke Mamah nya."
Ujar Papah sambil menoleh ke Ratih, Ratih pun mengangguk, mengiyakan.
"Maaf yah Ra.. karena aku kamu jadi pulang kemalaman, kamu dari pagi main ke rumah, sampai pulang malam gini gara -gara aku kesurupan."
Ratih tersenyum sambil garuk-garuk kepala nya yang tidak gatal.
"Aku khwatir tau, aku sendiri yang gak mau pulang sebelum lihat kamu sadar, yaa udah kamu istirahat ya tidur, aku mu pulang, besok aku main lagi ke sini liat keadaan kamu, jangan kesurupan lagi ya."
Ucap Ratih sambil tersenyum, aku pun menangguk dan tersenyum.
"Terima kasih yah Ra..."
Ucap ku Ratih pun tersenyum lagi, lalu keluar dari kamar ku dan pulang ke rumah nya di antar Papah, aku pun sudah tidak dapat menahan kantuk ku, ketika semua orang sudah meninggal kan kamar ku, aku pun tertidur dengan pulas.
Dan... lagi-lagi aku bermimpi, aku berada di pohon beringin itu lagi tapi kali ini aku tidak berada di atas, tapi di bawah pohon beringin, aku pun memutar badan ku mengedarkan pandangan ku, kenapa aku di sini lagi pikir ku.
Ini benar pohon beringin yang tadi, aku pun segera menampar pipiku, dan mencubit lengan ku, agar aku terbangun pikir ku dalam mimpi, ketika aku sedang berusaha membangun kan diri ku sendiri dari mimpi ku, aku mendengar suara langkah kaki, dan suara hentakan kayu.
Aku pun menoleh, aku melihat Nenek-nenek, dengan memakai kebaya abu-abu beserta kain samping nya dan memakai tongkat, dia tersenyum pada ku, tapi Nenek-nenek itu, dia tidak korengan, apa ini Nenek-nenek yang sama?.
(Bersambung)
__ADS_1