
Abah Kardi memberi kami dua kamar, satu kamar untuk perempuan, dan satu kamar untuk laki-laki, karena hanya ada dua kamar kosong di rumah nya, kamar anak-anak nya yang sekarang sudah berumah tangga, dan tinggal di luar kota hanya setahun sekali mereka datang ketika idulfitri mereka berkumpul.
Kami membawa barang-barang kami ke kamar, membereskan barang-barang kami, ada lemari pakaian yang kosong dan bupet yang sengaja di simpan di kamar kami, untuk menyimpan peralatan KKN kami, setelah beres beres kami bergantian mandi.
Karena kamar mandi hanya ada satu, jadi kami mandi berdua-berdua, untuk mempersingkat waktu karena, gak enak ma keluarga Abah Kardi, sudah sore mereka juga pasti mau pakai kamar mandi nya untuk mandi, dan ambil wudhu solat maghrib.
Aku mandi bareng Dewi, karena sesama wanita yah, aku dan Dewi gak ragu ragu langsung buka baju, tapi aku terkejut ketika Dewi bilang padaku.
"Liya.. kamu kenapa? punggung kamu ko kulit nya belang gitu?."
Aku kaget mendengar Dewi berkata seperti itu, langsung aku menoleh ke belakang ke punggung ku.
"Belang gimana... maksud kamu... yang bener kamu Wi?!."
Ucap ku panik.
"Beneran Liyaaa sebelah putih sebelah lagi gelap gitu."
Ucap Dewi lalu menghampiri ku dan memastikan.
"Gelap gimana Wi maksud nya?!."
Aku menengok Ke kiri ke kanan ingin melihat punggung ku.
" Yang kanan putih, emang kan kulit kamu putih tapi ini yang kiri gelap gitu item Liya, kaya kalo abis berenang gitu loh yang ketutup baju ma yang gak suka belang kan, tapi ko ini di punggung doang terus ko yang kiri doang, nanti deh di kamar ada kaca kan, kamu bisa lihat."
Aku pun segera mandi, dan cepat-cepat pergi ke kamar meninggal kan Dewi, di kamar masih ada Yanti, dan Rara teman ku, aku suruh mereka keluar.
"Keluar dulu aku mau ganti baju."
Kata ku meminta mereka keluar.
"Ya udah ganti baju aja sama cewek ini."
Ujar Yanti.
"Iiihh itu kamar mandi udah kosong cepet sana mandi entar keduluan sama anak cowok loh."
Ujar ku mencari alasan agar mereka meninggal kan kamar.
"Iya yaah yuk ah Ra bawa peralatan mandinya, eh Dewi mana? masih di kamar mandi kan?."
Ucap Yanti yang udah siap dengan alat mandi nya.
"Bentar lagi juga keluar, udah sana."
Kata ku sambil mendorong mereka keluar, aku penasaran ingin cepat cepat melihat punggung ku, setelah mereka keluar aku berdiri di depan cermin lemari pakaian, lalu aku membalikan badan ku dan membuka handuk ku.
" Astaghfirullah... apa ini...?kenapa...?."
Aku, terduduk lemas di sisi ranjang kamar itu, lalu terdengar suara Dewi sedang membuka pintu, tapi pintu nya aku kunci.
"Liyaaa kamu di dalam? buka pintu nya, kenapa sih pake di kunci segala?."
__ADS_1
Ujar Dewi di balik pintu.
"Bentar Wi aku lagi pake baju."
Kata ku sambil lekas aku memakai baju, dan membuka kan pintu kamar.
"Lama iihh aku pake handuk doang, gimana kalo anak bujang nya Abah pulang dari bengkel, lihat aku pake handuk doang."
Dewi menggeretu.
"Ntar lagi kalo ke kamar Mandi bawa baju salin."
Kata ku lalu kembali duduk di sisi ranjang dan menyisir rambut ku.
"Eh Liya udah lihat punggung kamu di kaca belum?."
Ucap Dewi mengingat kan.
"Udah Wi... itu mah bekas kemarin aku ma keluarga ku ke pantai, aku pake baju pantai gitu, yang sebelah ketutup sebelah lagi enggak, jadi belang."
Ucap ku berbohong, yah aku berbohong, berbohong untuk menutupi, entah menutupi apa aku pun masih bingung, tapi aku tak ingin teman ku berpikiran yang lain-lain, aku tidak ingin mereka memandang aneh padaku.
"Oohh kamu udah liburan ma keluarga ke pantai..., pantes."
Ucap Dewi sambil ngangguk- ngangguk, lalu kami mendengar suara seseorang memberi salam dari luar rumah.
" Asalamualaikum.. "
"WA alaikum salam..."
Ucap aku dan Dewi Sambil menghampiri pintu ketika di buka ternyata tetangga membawa makanan untuk kami.
"Ini Neng ada sedikit makanan, lumayan buat ngopi ngopi sambil ngobrol."
Ucap Ibu-ibu itu dengan tersenyum ramah.
"Terima kasih Bu...ngerepotin, bentar ya saya panggil Umi dulu."
Ucap ku, sambil menerima piring yang berisi makanan itu, lalu aku ke dapur memberi tahu Umi, kami memanggil Umi ke istrinya Abah Kardi, karena Abah memperkenalkan istri nya dengan sebutan Umi.
"Umi ini ada tetangga ngasih makanan."
Ucap ku, Umi yang sedang mengiris sayuran menghentikan aktivitas nya.
"Oh ya sudah bawa sini, simpen aja di meja buat nanti kalian sesudah makan malam bisa ngopi."
Ucap umi.
"Iya Umi, itu Ibu-ibu nya masih di depan."
Ucap ku lalu Umi pun berdiri, dan menghampiri tamu nya, lalu mengucapkan terimakasih.
"Nuhun nyak meuni nga riweh keun, hampura tadi keur di dapur ieu keur masak( terimakasih ya ngerepotin aja, maap ya tadi lagi di dapur ini lagi masak)."
__ADS_1
Ucap Umi.
" Ihh teu ku nanaon umi, hampura ngan saayaana, nuju masak naon umi, bilih bade di bantosan( gak apa apa umi maap seadanya, Umi lagi masak apa ada yang bisa saya bantu?)."
ucap tetangga nya.
"Hayu atuh rek nga bantuan mah( ayo kalo mau bantuin)."
Ucap Umi, lalu mereka pergi ke dapur, begitulah orang desa, mereka baik baik, ramah saling bantu, saling berbagi dengan tetangga, tidak seperti orang kota dengan tetangga nya pun mereka tidak kenal.
Malam itu kami solat maghrib bersama, lalu makan malam bersama, setelah makan malam kami mengobrol, kami mengobrol sampe jam sembilan malam, teman teman ku pamit untuk tidur mungkin karena kelelahan karena hari pertama kami baru sampai, dari perjalanan jauh tadi siang.
Dari Bandung ke Sumedang, sedangkan Sumedang nya juga bukan Sumedang kota, jauh lagi dari kota sekitar dua jam an, aku dan teman teman ku masuk kamar, teman teman ku karena kelelahan cepat sekali langsung tertidur, hanya aku yang masih terjaga, aku tidak bisa tertidur walaupun sudah ku coba.
Sudah jam 10:30 malam, aku gelisah dan kegerahan, aku keluar kamar, aku melangkah kan kaki ku ke pintu depan pikir ku, aku akan duduk di depan rumah menghirup udara segar, ketika aku membuka pintu, dan melangkah keluar aku melihat Umi, dan Abah Kardi sedang duduk di kursi, di depan rumah mereka.
"Eh ada Umi sama Abah."
Ucap Ku sambil tersenyum.
"Sok kadieu geus di tungguan ku Abah( Ayo sini udah ditungguin sama Abah)."
Ucap Abah, Umi pun menoleh padaku tersenyum, dan manggut.
" Maksud nya Bah? Abah lagi nungguin saya?."
Tanya ku memastikan.
"Iyaa siapa lagi, ini lagi ngobrolin kamu ke si Umi."
Aku pun menghampiri mereka, ternyata Umi juga tau, aku duduk di antara mereka, mereka tersenyum padaku Umi memegang tangan ku
" Tong sieun nyak(Jangan takut yah)."
Ucap Umi seperti mengerti yang aku rasakan, aku juga bingung dengan perasaan ku, apa aku takut?.
"Abah, Umi.. saya bingung, saya percaya, dan tidak percaya, saya tidak tau harus berbuat apa?."
Ucap ku sambil menunduk, karena aku yakin Umi dan Abah sudah mengerti yang aku rasakan.
"Banyak yang ingin kamu ketahui, dan ingin kamu tanyakan kan? sok.. kedal keun(silakan utarakan)."
" Apa benar ada jin yang mengikuti saya Abah?."
Tanya ku, ini yang ingin selalu aku tanyakan agar aku yakin, Abah tersenyum dan mengangguk.
"Kamu masih belum yakin?, dengan perasaan kamu sendiri selama ini?, kalo kamu mau kamu bisa berkomunikasi dengan nya, kamu bisa melihat nya dan berbicara langsung dengan nya, apa kamu sudah siap?."
Ucap Abah.
" Jadi benar Abah ada jin yang mengikuti saya?, sekarang dia ada di sini?."
(Bersambung)
__ADS_1