RUMAH BEKAS PESUGIHAN BUTA IJo

RUMAH BEKAS PESUGIHAN BUTA IJo
Bab 32 pertemuan 2


__ADS_3

Pria yang bertubuh tinggi tegap, wajah nya cukup tampan untuk seusianya, dia terlihat berwibawa, berkarismatik dan ramah, ini lah pertemuan pertama kali Papah dengan Tuan nya pemilik vila.


Setelah Bibi menyimpan dua cangkir kopi dan 4 toples kue di meja bibi kembali ke dapur, Papah masih belum menjawab pertanyaan pemilik vila itu.


"Kalo Akang mau jual rumah nya berarti Akang mau berhenti jadi pejaga vila saya kang? ".


Pemilik vila itu menambahkan pertanyaan, padahal pertanyaan sebelum nya juga belum Papah jawab.


"Iyaaa, seperti nyaa seperti itu Pak".


Papah menundukan kepala nya, ketika Papah melihat raut wajah tak senang pemilik vila.


"Memang nya Akang butuh uang berapa sampai harus menjual rumah?".


Dari nada bicara nya seperti nya Pemilik vila ini tidak setuju dengan keputusan Papah untuk menjual rumah, karena dia harus mencari pekerja baru untuk menjaga vila nya.


"Saya punya hutang Pak, dan dalam tempo beberapa hari lagi harus segera saya bayar".


Masih dengan menunduk Papah menjawab.


"Iya berapa?".


Kata pemilik vila itu lagi ingin kepastian.


"Saya punya hutang kurang lebih 10 jt Pak".


Jawab Papah.


"Rumah akang itu saya perkira kan harga nya sepuluh kali lipat dari uang yang Akang butuh kan sekarang untuk membayar hutang, pendapat saya tidak usahlah menjual rumah nya kang, saya akan beri akang pinjaman bagaimana?".

__ADS_1


Papah mengerutkan kening nya, Papah ke sini bukan untuk mendengarkan pendapat pemilik vila itu, menjual rumah sudah menjadi keputusan nya berdua dengan Mamah, karena selain ingin melunasi hutang Papah ingin merubah kehidupan nya dan keluarga nya, karena Papah yakin semua masalah yang dia hadapi sekarang karena rumah itu, dan Papah juga ingin melindungi keluarga nya dari teror teror makhluk ghaib di rumah itu, karena Papah yakin buta ijo yang menghuni rumah nya itu, tidak akan berhenti meneror keluarga nya sampai maksud dan tujuan nya tercapai.


"Percuma dong Pak.. saya melunasi hutang dengan berhutang ke Bapak, justru saya ingin menjual rumah karena saya tidak ingin punya hutang lagi".


Bapak pemilik vila itu berdiri lalu mengambil secangkir kopi di meja, dan meminum kopi yang sudah hangat kuku sekarang, lalu dia menghampiri jendela, dan berdiri di depan jendela memandang ke halaman vila nya, Papah memperhatikan gerak gerik pemilik itu.


"Kalo Akang menjual rumah itu ke saya, saya rugi dua kali kang, pertama saya rugi karena saya membuang buang uang percuma karena saya tidak membutuhkan rumah Akang, setelah saya beli rumah nya akan kosong, sayang kan?, yang kedua saya rugi juga karena Akang gak akan kerja lagi di vila ini, saya harus nyari pengganti Akang, sedang kan saya sudah percaya sepenuh nya ke Akang untuk jagain vila ini, susah Kang cari orang yang bisa di percaya jaman sekarang ini".


Masih di depan jendela, pemilik vila itu membelakangi Papah yang masih duduk di sopa.


"Tapi saya dan istri saya sudah memutuskan menjual rumah itu untuk memperbaiki kehidupan kami Pak, biar pun punya rumah yang sederhana tapi kami merasa aman, nyaman, bebas dari hutang".


Papah tetap dengan pendirian nya.


"Memang nya ada apa dengan rumah itu, apa ada yang membuat Anda dan keluarga tidak aman dan nyaman tinggal di sana?, bukan hanya karena hutang?".


Pemilik vila itu membalikan badan nya menatap Papah.


Papah sambil tersenyum, Papah tidak ingin membagi masalah nya lebih jauh lagi dengan orang yang baru saja dia temui.


"Apakah selama rumah itu belum terjual Akang akan tetap bekerja dengan saya menjaga vila ini?".


Pemilik vila bukan nya menjawab pertanyaan Papah, dia malah balik bertanya ke Papah,pemilik vila itu melangkah kan kaki nya dan kembali duduk di kursi yang tadi dia duduki.


"Yah untuk sementara ini, karena saya belum punya pekerjaan lain, sambil saya menunggu rumah saya terjual saya akan tetap kerja di sini menjaga vila Bapak".


Pemilik vila itu tersenyum, dan mengangguk seperti nya dia senang dan berharap rumah Papah tidak terjual dalam waktu dekat.


"Baiklah tapi pikirkan tawaran saya, Akang bisa meminjam dulu ke saya untuk melunasi hutang Akang, biar Akang gak terburu buru menjual rumah dengan harga murah, karena hutang yang harus segera di bayar, Akang bisa membayar nya ke saya dengan cara di potong gaji Akang tiap minggu nya, karena saya juga berniat untuk menaikan gaji Akang minggu ini, atau Akang mau membayar nya ke saya nunggu rumah Akang terjual juga tidak apa apa, saya hanya niat membantu Kang."

__ADS_1


Papah mengangguk, dan tersenyum mendengar tawaran yang di berikan pemilik vila itu.


"Iya Pak saya hargai kebaikan Bapak, Terima kasih sebelum nya, saya akan membicarakan nya dulu dengan istri saya".


Papah sebenarnya kecewa, karena sebelumnya Papah berpikir kalo pemilik vila itu memanggilnya karena berniat membeli rumah nya, ternyata dia memanggil karena khawatir tidak ada yang menjaga vila nya, kalo Papah pindah dan berhenti bekerja menjaga vila ini, bahkan dia menawarkan pinjaman dan menyarankan kan agar Papah tidak jadi menjual rumah karena tidak ingin Papah berhenti bekerja menjaga vila nya.


"Iya sudah, di minum kopinya Kang..., udah dingin tuh".


Pemilik vila itu mengingat kan Papah untuk meminum kopi yang belum di minum Papah dari tadi, lalu pemilik vila itu merogoh saku nya membuka dompet nya, dan mengambil beberapa lembar uang dari dompet nya.


"Ini Kang bayaran Akang untuk minggu sekarang".


Papah yang sedang meminum kopi nya hampir tersendak, dan menumpahkan kopinya ke celana katun nya.


"Tidak usah Pak, bagaimana kalo besok lusa rumah saya terjual, dan saya tidak sempat kerja untuk Bapak menjaga vila ini".


Pemilk vila itu tersenyum.


"Menjual rumah itu tidak gampang Kang, ambil lah kalo rumah nya terjual besok lusa dan Akang belum sempat menjaga vila, kembalikan lagi uang nya, dan ingat saya di sini sampai hari minggu, kalo Akang berubah pikiran ingin meminjam uang untuk bayar hutang".


Masih menyodorkan beberapa lembar uang di tangan nya, lalu Papah pun mengambil uang itu, dan menghitung nya, tapi jumlah nya lebih dari kemarin, kemarin uang yang Papah Terima 50rb, sekarang Papah menerima 75 rb, mungkin nilai nya sama dengan 750 rb sekarang.


"Pak, ini uang nya kelebihan ".


Papah menyodorkan uang 25rb ke pemilik vila itu.


"Saya udah bilang Kang, saya akan menaikan bayaran Akang minggu ini, yah itu ambil lah".


Papah mengangguk walaupun sebenarnya Papah heran, sampai segini nya pemilik vila itu ingin Papah tetap bekerja untuk nya di vila ini, padahal masih banyak orang yang butuh pekerjaan, kalo Papah tidak manjaga vila nya lagi pemilik vila itu akan dengan mudah nya mencari orang yang mau menjaga vila nya.

__ADS_1


Setelah menerima uang bayaran di muka untuk minggu depan, Papah pamit ke pemilik vila itu, sebenarnya Papah kecewa Papah pikir pemilik vila itu memanggilnya untuk membeli rumah nya, papah pulang dengan kekecewaan sekaligus heran dengan kebaikan pemilik vila itu, Papah di antar Bibi sampai gerbang, setelah Papah keluar Bibi mengunci lagi pintu gerbang itu, Papah berjalan menuju rumah nya, di ke jauhan Papah melihat mobil Om Toni sedang melaju di gang jalan menuju ke rumah kami...


( Bersambung)


__ADS_2