
Mamah berdiri di pintu gerbang vila tempat Papah bekerja, menekan bell, dan menunggu, menekan bell nya lagi untuk yang kedua kali nya, dan menunggu lagi, masih belum ada tanda tanda yang menanggapi, Mamah menekan bell nya lagi untuk yang ketiga kali nya dan menunggu, ketika Mamah akan menekan bell yang ke empat kali nya terdengar suara dari dalam vila itu.
"Iyaaa tunggu sebentar..."
Lalu terdengar seseorang membuka kunci pintu gerbang, dan membuka pintu gerbang, muncul lah sosok wanita tengah baya, dengan ekspresi keheranan wanita setengah bayaa itu bertanya kepada Mamah.
"Ada keperluan apa ya?."
Mamah yang di tanya tersenyum, dan menjawab.
"Saya tetangga sebelah bi, suami saya bekerja di sini menjaga vila malam hari, ini bibi ya?."
Mamah menjelaskan, Bibi mengangguk, dan tersenyum ramah.
"Oh iya Bu..., ini istrinya Bapa yang jaga vila itu ya..., ada keperluan apa Bu?."
Ucap Bibi keheranan, ada apa Mamah datang ke vila itu?.
" Gak apa apa Bi..., saya hanya ingin memperkenalkan diri, selain itu kita juga bertetangga tapi tidak saling kenal kalo ada apa-apa kan, atau ketemu di jalan bisa saling sapa kalo sudah kenal, gak apa apa kan saya main ke sini bi?."
Mamah memberi alasan, bibi terdiam sejenak.
"Saya hanya pegawai di sini Bu, tapi silahkan kalo mau masuk main ke sini, mungkin mau lihat bagaimana tempat suami nya bekerja."
Bibi membuka pintu gerbang lebih lebar, dan mempersilahkan Mamah masuk.
"Gak apa apa nih Bi saya masuk lihat lihat?."
Ucap Mamah, dengan ragu masuk ke vila itu.
"Gak apa-apa saya percaya sama Bapak yang jagain vila ini, Ibu istrinya, saya juga harus percaya sama Ibu, lagi pula tetangga ini kan?."
Sambil kembali menutup, dan mengunci pintu gerbang vila itu Bibi meyakinkan kan dirinya, dan Mamah.
"Iya Bi, udah lama kerja di sini?."
Mamah mulai mengintrogasi Bibi.
"Ada setahun lebih Bu?."
Jawab Bibi.
"Bibi sendiri aja di sini?, yang tinggal di sini siapa aja bi?."
Tanya Mamah lagi.
"Gak ada siapa siapa Bu, saya sendiri, nanti di ganti sama suami Ibu malam, saya pulang suami ibu gantiin saya di sini."
Bibi menjelaskan sambil berjalan di depan Mamah, Mamah mengikuti dari belakang, Bibi membuka pintu ruang utama, dan mempersilahkan Mamah masuk, Mamah terkesima melihat ruang yang megah.
__ADS_1
"Silakan Bu masuk.. kita kebelakang yah, kita ke dapur mengobrol nya di sana."
Ucap Bibi membuyarkan lamunan Mamah, Mamah mengangguk, dan mengikuti Bibi dari belakang sampai lah mereka di ruangan tempat lukisan itu berada, Mamah menghentikan langkah nya, dan memperhatikan lukisan itu.
"Cantik sekali... itu lukisan siapa Bi?."
Ucap Mamah, Bibi pun menghentikan langkah nya, dan menghampiri Mamah.
" Gak tau Bu itu punya majikan tuan pemilik vila ini, itu cuman lukisan Bu, mana ada wanita beneran secantik itu."
Kata bibi sambil melirik ke lukisan itu.
"Ayo Bu."
sekali lagi Bibi membuyarkan lamunan Mamah, yang sedang mengagumi lukisan wanita itu, lalu mereka berjalan menuju dapur.
"Silakan Bu duduk, mau minum apa? kopi apa teh?."
Bibi menawarkan Mamah minuman, Mamah tersenyum dan duduk di meja makan.
"teh aja bi."
Bibi membuat kan secangkir teh, dan menyodorkan nya beserta beberapa toples kue.
"Ibu sudah lama tinggal di sini?."
ucap bibi sambil duduk di meja makan.
Mamah menjawab pertanyaan Bibi, dan menceritakan keadaan nya di rumah, tapi tidak menceritakan soal makhluk ghaib yang sering meneror kami, setelah mengobrol tak terasa sejam lebih Mamah di sana, Mamah berpamitan untuk pulang, bibi mengantar kan Mamah sampai ke pintu gerbang vila itu.
"Maaf ya bi kalo kedatangan saya mengganggu bibi."
Kata Mamah, sambil berdiri di depan pintu gerbang itu.
" Gak apa-apa, saya senang ada temen ngobrol."
Ketika Bibi sedang berbicara lalu Mamah menengadah kan Kepala nya ke atas, pandangan nya tertuju ke sebuah kamar yang berada di lantai kedua vila itu, Mamah melihat ada seorang wanita sedang berdiri di jendela kamar memperhatikan mereka.
"Bi itu siapa?."
Spontan Mamah menunjuk ke kamar yang berada di lantai ke dua kamar itu, Bibi pun sontak menoleh, dan menengadah kan kepala nya, mencari apa yang di maksud Mamah.
"Siapa Bu gak ada siapa siapa."
Bibi sambil celingukan mencari, tapi seketika itu wanita itu menghilang ketika Bibi menoleh.
"Tadi ada wanita berdiri di jendela kamar itu Bi."
Mamah menjelaskan.
__ADS_1
"Gak ada Bu..., saya gak lihat, kan saya udah bilang Bu saya sendiri di sini, Tuan juga ke sini nya sendiri gak pernah bawa siapa pun ke sini."
Ucap Bibi.
"Tapi tadi saya lihat Bi... "
Mamah gelagapan sambil menunjukkan jarinya ke kamar.
"Ibu salah lihat kali..."
Bibi tersenyum tipis.. Mamah merasa gak enak hati.
"Iya mungkin Bi, saya salah lihat, maap ya Bi kalo gitu saya pulang ya Bi terimakasih..."
Mamah berpamitan pulang, sesekali Mamah menoleh ke belakang, pandangan nya tertuju ke kamar atas, jelas sekali pikir nya tadi melihat seorang wanita berdiri, atau memang dia salah lihat... Mamah pulang dengan kebingungan, dan merasa tidak enak hati juga memikirkan mungkin Bibi pikir Mamah gila atau mengada-ngada.
Sesampainya di rumah, Mamah mendapati aku, Julian, dan Andri masih bermain, dan Mamahnya Andri sedang menonton tivi, Mamah pergi ke dapur mengambil Segelas air lalu duduk di sebelah istrinya Mas Ami.
"Udah pulang Bu?."
Istrinya Mas Ami bertanya.
"Ibu tadi dari mana?."
Tanya istri nya Mas Ami lagi, lalu Mamah menceritakan kemana dia pergi tadi, dan menceritakan semuanya ke istrinya Mas Ami, kalau Mamah melihat wanita berdiri di jendela kamar atas, tapi menghilang, lalu Mamah meminta istrinya Mas Ami untuk tidak bercerita atau mengatakan nya kepada siapa pun, kalau Mamah tadi pergi ke vila itu.
Ketika Mamah sedang mengobrol dengan istri nya Mas Ami bell pintu berbunyi, Mamah beranjak pergi untuk melihat siapa yang bertamu dan membuka pintu, ternyata yang datang teman nya Papah yang selalu Papah pinjami uang, om Toni namanya, om Toni temen Papah sedari kecil, sampai mereka kuliah bersama, om Toni belum menikah , om Toni punya dealer mobil di Bandung, om Toni anak dari keluarga yang berkecukupan, dealer yang dia jalankan sekarang pun itu milik orang tua nya.
"Eh kamu Ton, pa kabar, ayo masuk, bentar yah Papah nya anak-anak lagi tidur."
Mamah mempersilahkan om Toni masuk, Om Toni tersenyum.
"Kamu yah, udah punya anak 4 masih cantik."
Mamah mengerutkan keningnya, ko tiba tiba Om Toni berkata seperti itu?, seperti bukan dirinya, biasa nya dia sangat sopan gak kan berani bicara seperti itu.
"Apaan sih kamu Ton, bentar aku panggilin Papah nya anak anak."
Mamah dengan reaksi canggung, dan mulai melangkah kan kakinya tapi Om Toni meraih lengan Mamah.
"Aku ke sini buat nemuin kamu bukan suami kamu!."
Otomatis Mamah menepis kan tangan om Toni.
"Kamu tuh gila ya.. gak sopan kaya gini, ingat yaa aku ini tuh istrinya teman kamu, dari kecil kalian udah kaya sodara, ada urusan apa kamu sama aku?!."
Om Toni tersenyum, dan berkata.
"Kamu masih betah sama suami kamu?, dia sudah miskin sekarang, lebih baik kamu tinggalin dia aku mau nerima kamu dengan 4 anak kamu, kamu dan anak-anak kamu gak akan sengsara seperti sekarang ini."
__ADS_1
Mamah menggelengkan kepala nya, tidak percaya apa yang di katakan om Toni, aku yang mendengar Mamah berbicara dengan nada keras, mengerti ada keributan lalu aku pergi ke kamar untuk membangun kan Papah...
(bersambung)