
Mamah menoleh ke arah kami, kami mengangguk, mengiyakan perkataan Papah.
"Mamah sendiri ko, gak ada yang bantuin, emang Papah tadi bantuin?"
Papah menggelengkan kepala, mendengar pertanyaan Mamah.
"Papah lagi ngobrol sama Bapak tadi nungguin kalian wudhu".
Ucap Papah dan melirik Kakek.
"Anak-anak berteriak kaget ngeliat Papah lagi ngobrol sama Bapak, mereka bilang Papah di dapur bantuin Mamah, Papah gak ngerasa maka nya papah langsung nyamperin ke dapur, Alhamdulillah Mamah baik baik saja, Papah khawatir terjadi sesuatu sama Mamah"
Mamah mengangguk, kami tertegun,hening sejenak tanpa kami utarakan kami sudah tau apa yang terjadi.
"Ya sudah Ayo kita solat subuh berjamaah".
Ucap Kakek, membuyarkan keheningan kami, kami pun kembali ke ruang tengah untuk melakukan solat subuh berjamaah, setelah solat subuh kami membaca kembali ayat ayat suci al Quran dan berdoa, setelah itu kakek berdiri, dan menyiramkan air yang berisi garam dan ayat ayat suci Al-Quran yang dari semalam sampai subuh kami bacakan.
"Kemari lah kalian duduk, Papah ingin berbicara".
Ucap Papah kepada kami Anak-anak nya, kami menghampiri Papah yang sekarang duduk di sopa, Mamah duduk di sebelah Papah, Kakek masih menyiramkan air di seluruh sudut ruangan sambil membaca doa.
"Kalian pasti bingung sekarang kalian berpikir bagaimana kalian bisa membedakan mana Papah yang asli, karena makhluk itu menyerupai Papah, dan Papah yakin dia akan menyerupai Papah lagi suatu saat"
Ucap Papah lalu mengedarkan pandang nya kepada kami satu persatu, Mamah menghela napas.
"Ingat yang Papah katakan ketika kita selesai makan malam, pertama kali kita pindah ke Cibodas,? Papah mengatakan alasan nya, dan meminta maaf kepada kalian, kalian ingat obrolan kita malam itu?"
__ADS_1
Kata Papah sambil meletakkan jari nya di bibir agar kami tidak mengatakan apapun, kami mengingat ngingat apa yang kami bicarakan malam pertama kami pindah ke Cibodas, dan papah meminta maaf tentang hal apa?, setelah kami mengingat kami mengangguk.
"Sekarang Papah akan seperti itu lagi, yang harus kalian tau Papah melakukan ini untuk kalian dan kalian tau alasan nya kenapa"
Kami mengerti yang Papah katakan, bahwa Papah akan kembali seperti dulu, mngacuhkan kami, bersikap seolah tidak perduli dan tidak menyayangi kami, untuk melindungi kami, karena makhluk itu akan menggunakan kami sebagai kelemahan Papah.
"Jadi kalian juga bisa membedakan, ketika makhluk itu menyerupai Papah".
Ucap Papah lagi, tersirat kesedihan di mata Papah ketika menatap kami satu persatu, tapi Papah harus melakukan ini untuk melindungi kami, kami tau berat untuk Papah menjauhi kami Anak-anak yang di sayangi nya, tapi ini jalan satu satunya agar makhluk ini tak menggunakan kami untuk melemahkan Papah, kami hanya bisa tertunduk, kami tau Papah terpaksa melakukan ini, tapi kami butuh kasih sayang Papah.
"Pah apa tidak ada cara lain? "
Tanya Mamah menoleh ke Papah lalu melirik ke kami, yang sedang tertunduk sedih, membayangkan kalau mulai besok kami harus kehilangan Papah kami, bersikap seolah Papah tidak bersama kami, papah menggelengkan kepala nya.
"Sampai kapan?"
Mamah bertanya lagi dengan wajah sendu, terpaksa harus menerima, keputusan Papah.
Papah meghela napas...
"Dan kita juga gak bisa beli rumah baru, untuk saat ini, kita hanya mengandalkan rumah ini terjual baru bisa beli rumah baru, kalo kita mengontrak, pindah sana pindah sini, dan membiarkan rumah ini kosong, membiarkan rumah ini ancur dan kita tidak punya rumah.. "
Papah menengadah kan wajahnya ke langit-langit lalu menutup muka nya, terlihat kebingungan, kekhawatiran dan berat nya beban yang Papah rasakan sekarang.
"Astagfirullah hal ajim...kalian do'akan saja Papah semoga Papah dapat jalan keluar secepatnya, untuk saat ini kalian bersabar dan ingat kata-kata Papah, apa pun yang Papah lakukan untuk kebaikan kalian"
Ucap nya lagi, kami mengangguk, dan tersenyum, berusaha meringankan beban Papah, memberi nya semangat bahwa kami dapat melewati semua ini.
__ADS_1
Ke esokan hari nya kami harus berhadapan dengan Papah yang menyibukan dirinya kembali dengan pekerjaan, bersikap acuh dan tak perduli kepada kami, dan setelah beberapa hari Kakek pun harus kembali ke Bogor.
Hari berganti, bulan berlalu, tahun pun terlewati, seperti nya Papah benar makhluk itu tidak berusaha mencelakai kami lagi seperti sebelum nya, karena sikap Papah yang tidak perduli, dan mengacuh kan kami seolah tidak menyayangi kami.
Hanya gangguan-gangguan sperti orang yang sedang mandi tengah malam, orang yang sedang masak di dapur atau mengocek sendok seperti sedang bikin kopi, atau sedang menyapu rumah itu sudah biasa buat kami.
Aku pun beranjak remaja aku masuk SMP kelas Satu tahun itu, dan kakak sulung ku sudah tamat SMA, dan Teh Eli kelas Tiga SMA ,Julian kelas Lima SD.
Kakak sulung ku dari semenjak kelas Dua SMA sudah berpacaran dengan seorang pemuda berasal dari Tasikmalaya, pemuda itu bekerja di Bandung di sebuah Meubeul Furniture, setelah Lulus SMA, Kakak ku tidak melanjutkan sekolah nya, setahun kemudian Kakak sulung ku menikah dengan pemuda itu.
Kakak sulung ku setelah menikah di bawa pindah oleh suami nya ke Tasikmalaya, dan Kakak ku eli lulus SMA, Teh eli pun tidak ingin melanjutkan sekolah, dan kami dapat berita mengejut kan dari mamah, bahwa Mamah hamil.
Waktu itu usia Mamah sudah tidak muda lagi menginjak umur 40 thn, antara senang, dan terkejut karena di usia nya Mamah harus punya bayi yang seharusnya punya cucu, tapi kami senang karena akan hadir bayi lucu di rumah kami.
Lahir lah adik perempuan ku yang cantik dan lucu, Papah memberi kan nya nama Neng Yeni Handayani, tapi sayang sebelum 40 hari usia kelahirannya Mamah tiba tiba sakit.
Saat itu dua minggu setelah melahirkan adik ku Mamah di kamar bersama adik bayi ku sedang tiduran, karena mamah masih nifas, mamah belum bisa solat maghrib.
Aku Teh Eli, dan Julian selesai solat maghrib, Papah baru pulang dari kantor , Papah duduk di ruang keluarga, aku dan Kakak ku teh eli yang baru selesai solat maghrib keluar dari kamar, kami melihat ada bola api entah dari mana datang nya tapi jelas bola api itu dari langit langit rumah, dan bergerak sangat cepat menghampiri Papah, kami beteriak dan spontan menunjuk bola api itu.
"Papah... awas itu apa... !"
Teriak ku dan Teh Eli, Papah menoleh dan langsung menghindari bola api Itu, bola api Itu jatuh tepat di belakang Papah, karena papah menunduk dan menghindari nya dengan menyebut.
"Allah Hu akbar.. "
Lalu, Bola api itu berubah menjadi Asap, kami semua membacakan ayat kursi, Mamah yang tidak tau kejadian itu, tiba tiba bangun, dan hendak pergi ke kamar mandi ingin buang air kecil, kami yang masih shock dengan kejadian bola api yang sekarang berubah menjadi asap, dan asap itu melayang- layang di udara kami masih memperhatikan asap itu dan kami melihat Mamah, lalu asap itu menerpa Mamah yang hendak pergi ke kamar mandi, dan Mamah pun terjatuh.
__ADS_1
Papah segera berlari menghampiri Mamah, dan membawa Mamah yang tak sadarkan diri ke kamar, badan Mamah demam selama dua hari, dan perut nya yang tadinya sudah mulai kempis setelah dua minggu melahirkan kini berubah menjadi besar lagi seperti yang sedang hamil 9 bulan.
(bersambung)