
Malam itu Aku, dan teh Eli tidur di ruang keluarga menemani, Tante Ana, dan Suaminya yang tidak berani tidur di kamar Teh Eli yang katanya ada pocong, tapi aku belum pernah lihat ada pocong di rumah ini.
Kalo suara-suara geraman dan tangan yang sangat besar, lalu menyerupai Mamah, atau Papah aku memang mengalami nya sendiri, tapi memang jin bisa menyerupai apa pun, dan siapa pun begitulah tipu daya mereka untuk menyesatkan manusia.
Hanya Dua hari Kakak sulung ku tinggal di rumah, Kakak sulung ku harus pulang lagi ke tasik, karena khawatir meninggal kan orang tua Kakak ipar ku yang sudah sepuh dan sakit sakitan, apalagi Ayah nya Kakak ipar ku terkena stroke tidak bisa berjalan, dan ibunya sudah sepuh tidak akan bisa merawat suaminya.
Sebelum pergi ke Bandung, Kakak sulung ku, dan Kakak ipar menitipkan orang tua Kakak ipar ke sepupu nya, yang kebetulan bertetangga dengan mereka, tidak enak menitipkan orang tua nya lama-lama, walaupun kami masih kangeun karena bertahun tahun tidak ketemu, tapi kami mengerti keadaan Kakak sulung kami.
Dua minggu setelah Kakak sulung ku kembali ke rumah orang tua suaminya di Tasikmalaya, Papah pulang membawa seorang tamu, dan ternyata tamu itu orang yang tertarik membeli rumah kami.
"Asalamu alaikum..."
Papah memberi salam, dan membuka pintu yang tidak di kunci, kami yang mendengar suara Papah memberi salam menjawab salam nya, dan menghampiri ke pintu ruang utama untuk memastikan bahwa itu benar Papah, karena Papah biasa nya pulang sebulan sekali, ini baru beberapa minggu Papah pergi.
"Wa alaikum salam...".
Papah menoleh pada kami dan tersenyum, lalu menyuruh tamu nya yang masih berada di depan pintu untuk masuk ke rumah.
"Silahkan Pak masuk... silahkan duduk Pak."
Ujar Papah kepada tamu nya dan tamu nya pun masuk sebelum duduk, tamu itu melihat ke arah kami Anak-anak nya Papah, dia tersenyum dan berkata.
"Ini anak-anak nya Pak? wah sudah gadis-gadis ya."
Papah mengangguk, dan tersenyum lalu memperkenalkan kami dengan tamu nya itu.
"Ini Eli anak kedua saya, ini Liya anak ke tiga saya, yang besar sudah menikah sekarang ikut suaminya ke Tasikmalaya, yang ke empat, laki-laki nama nya Julian, kemana Julian Teh?"
Ucap Papah kepada tamu nya, dan menanyakan Julian ke Teh Eli.
"Lagi Main sepedah di luar Pah."
Ucap Kakak ku Teh Eli lalu kami menghampiri tamu nya Papah dan bersalaman, lalu tamu itu duduk di sopa ruang tamu.
"Mana Mamah Teh?, Panggil Mamah nya Teh, bilang ke Mamah, Papah bawa tamu."
Ujar Papah meminta kami untuk memberitahu Mamah tentang kedatangan Papah, Mamah sedang di kamar bersama Adik-adik ku yang masih bayi, kami pun menuruti permintaan Papah untuk memanggil Mamah.
"Oya mungkin Istri saya sedang menidurkan bayi kami, saya punya anak yang masih bayi dua Pak, yang satu dua tahun, yang bungsu baru beberapa minggu kemarin melahirkan."
__ADS_1
Ucap Papah lagi ke tamu nya itu, Tamu nya Papah mengangguk, dan tersenyum.
"Alhamdulillah.. banyak anak banyak rizki Pak, kata orang tua jaman dulu bilang."
Kata tamu nya Papah sambil tersenyum, Papah tersenyum dan berkata.
"Iya Pak karena semua anak yang di lahir kan sudah di bekali rizki oleh Allah, membawa rizkinya masing-masing, jadi jangan pernah takut asal kan kita mau berusaha, saya yakin Pak setiap saya melangkah kan kaki keluar untuk mencari nafkah buat anak-anak saya, saya akan pulang dengan membawa rizki yang telah Allah titipkan pada saya untuk istri dan semua Anak-anak saya, Alhamdulillah cukup untuk makan, dan sekolah mereka asal kan kita pandai bersyukur semua akan lebih mudah."
Ujar Papah, tamu nya Papah menyetujui perkataan Papah dan berkata.
"Orang tua jaman dulu itu gak pernah asal ngomong Pak, buktinya orang tua-orang tua jaman dulu punya banyak anak, tapi mereka masih bisa membeli tanah di mana mana untuk anak cucu nya kelak."
Ketika Papah dan tamunya lagi asyik mengobrol, datang Mamah menghampiri mereka.
"Pah.. "
Ucap Mamah memanggil Papah ketika tiba di ruang tamu.
"Tumben Papah udah pulang kan biasa nya sebulan sekali."
Ucap Mamah lagi lalu menoleh ke tamunya Papah, Mamah memanggutkan kepala dan tersenyum.
Mamah dan tamu itu bersalaman, lalu Mamah duduk di samping Papah.
"Papah udah bilang keadaan rumah kita?."
Mamah berbisik ke telinga Papah, belum selesai Mamah berbicara Papah tersenyum, dan memotong pembicaraan Mamah.
"Udah Mah, iya kan Pak?, Bapak sudah tau keadaan rumah kami yang di huni makhluk buta ijo, bekas penghuni rumah ini sebelum kami, yang dulu nya melakukan pesugihan di rumah ini, saya sudah bilang ke Bapak kami tidak akan menyembunyikan keadaan rumah ini, karena kami tidak ingin nanti Bapak merasa tertipu atau menyalahkan kami bila suatu hari terjadi sesuatu yang di luar nalar terjadi di rumah ini."
Tamu itu mengangguk, dan tersenyum.
"Iya Buk jangan khawatir bapak sudah bilang ke saya semuanya, tentang rumah ini dan alasan Keluarga Ibu ingin menjual rumah ini."
Mamah keheranan mendengar pernyataan tamu itu.
"Lalu kenapa Bapak masih ingin membeli nya?, apa Bapak tidak khawatir suatu saat terjadi sesuatu hal yang tidak di ingin kan, seperti gangguan-gangguan makhluk astral di rumah ini sangat lah nyata Pak, atau Bapak tidak percaya tentang makhluk ghaib?."
Tamu itu tersenyum mendengar perkataan Mamah.
__ADS_1
"Saya percaya Bu, saya membeli nya bukan untuk saya tinggali bersama keluarga, tapi rumah ini nanti akan saya rubuh kan, dan akan saya bangun sebuah kontrakan, jadi siapa pun penghuni rumah ini tak akan terikat oleh rumah ini karena bukan pemilik nya hanya mengontrak."
Ujar Tamu Papah menjelaskan.
"Lalu bagaimana kalau nanti nya makhluk itu mengganggu penghuni kontarakan nya?."
Tanya Mamah lagi.
"Mereka yang kuat bisa meneruskan kontrakan nya, yang tidak kuat bisa pergi tanpa terikat dengan rumah ini kapan pun mereka bisa pergi mencari kontrakan lain."
Mamah menoleh ke Papah, Papah mengangguk kan kepala lalu Mamah menoleh lagi ke Tamu nya Papah, ketika tamunya Papah mulai berbicara lagi, Mamah dan Papah memperhatikan dengan serius.
"Karena Bu..yang saya tau rumah bekas pesugihan itu akan terikat dengan pemilik baru yang menempati rumah itu, hanya di dalam rumah itu ketika keluar dari rumah ini makhluk itu tak bisa menjangkau kalian, makhluk itu tak kan pernah berhenti mengganggu, dan akan terus menunjuk kan eksistensi nya kepada keluarga Ibu, agar di akui dan akan berhenti bila keinginan nya tercapai."
Mamah termenung, mengingat ngingat, yah memang betul ketik di luar rumah, atau ketika kami mengontrak di Cibodas kami ingat semua teror horor yang terjadi di rumah ini, dan kami heran kenapa keesok harinya setelah terjadi teror horor kami tidak pernah membicarakan nya seolah lupa.
Ketika kami bercerita tentang rumah ini, kami di luar rumah berniat untuk melakukan tawasulan di rumah atau merukiyah rumah tapi ketika kami sudah ada di rumah, tak terlintas untuk melakukan nya.
"Kalo di kontrakan yang mendiami nya kan bukan hanya satu keluarga, dan mereka bukan pemilik rumah ini".
Lanjut tamunya Papah yang berminat membeli rumah kami itu.
"Tapi bagaimana kalo ada salah satu keluarga yang mengontrak, mengetahui ada Buta ijo, atau ada salah satu dari mereka yang mengikuti kemauan Buta ijo itu untuk menyugih nya, apa kita tidak ke bawa dosa nanti nya Pak? mahkluk itu pasti mencoba satu persatu, keluarga yang mengontrak di rumah ini."
Ucap Mamah dengan kekhawatiran nya.
"Itu bukan urusan kita Bu, setiap orang beda-beda keimanan nya, itu pilihan mereka kita tidak akan terbawa dosa."
Mamah mengangguk, dan tersenyum.
"Baiklah silahkan Bapak mau melihat lihat dulu rumah nya?."
Ucap Papah menawarkan tamunya itu melihat-lihat rumah kami.
"Tidak usah toh rumah nya akan saya rubuh kan, saya hanya ingin melihat surat rumah nya jadi saya tau berapa ukuran rumah ini."
Seperti nya kali ini kami akan benar-benar pindah dari rumah ini, apa kah ini waktunya kami terbebas dari rumah bekas pesugihan yang penuh teror horor, tapi penuh dengan kenangan masa-masa kecil kami yang lain dari anak-anak yang lainnya.
(Bersambung)
__ADS_1