RUMAH BEKAS PESUGIHAN BUTA IJo

RUMAH BEKAS PESUGIHAN BUTA IJo
Bab 35 Bidadary surga untuk Om Toni


__ADS_3

Papah melajukan motor Mas Ami dengan sangat kencang, saat itu hari masih gelap, waktunya solat subuh sekitar jam 5:30, malahan Papah belum sempat solat subuh, karena ketika di bangun kan, dan mendengar teriakan Mamah, lalu mendapatkan telepon dari Babeh, Papah nya Om Toni yang meminta Papah segera ke RS Hasan Sadikin untuk mendampingi Om Toni yang mengalami kecelakaan, Karena Papah nya Om Toni masih di jakarta, dan tak ada keluarga dekat lain nya di Bandung.


Papah yang tidak memakai jaket, malahan masih memakai piyama nya tak menghiraukan udara dingin yang menusuk tulang nya, dalam pikiran nya, apa yang terjadi semalam? kenapa bekas tidur Om Toni di ruang keluarga berantakan?, kenpa Om Toni bisa kecelakaan mobil?, Kenapa Om Toni pergi tanpa pamit?.


Tibalah Papah di Rumah sakit Hasan Sadikin Bandung, Papah langsung pergi ke tempat UGD dan mendatangi meja Receptionist, menanyakan informasi pasien yang Bernama Toni nugraha, seorang suster memberitahu Papah sebuah ruangan di UGD kebetulan mereka sedang menunggu keluarga dari pasien, untuk persetujuan sebuah tindakan oprasi.


Papah menghampiri Ruangan itu, sudah berdiri di pintu ruangan itu seorang suster laki laki.


"Ruangan Toni nugraha? ".


Papah langsung bertanya pada suster Laki-laki itu.


" Anda keluarga nya?".


Papah mengiyakan dengan mengangguk kan kepalanya, suster itu membuka kan pintu ruangan untuk Papah, Papah setengah berlari menghampiri Om Toni.


"Toni... "


Papah langsung menghampiri ranjang tempat Om Toni berbaring, dan memegang tangan Om Toni yang sedang merintih kesakitan, Om Toni mendengar namanya di sebut menoleh dan menatap Papah.


"Pergi dari rumah itu... lindungi keluarga mu, Buta... Buta... Buta ijo.. ".


Papah tersontak kaget mendengar perkataan Om Toni.


"Apa yang terjadi Ton? Buta itu menyerang mu? Itu yang terjadi Ton? Kenapa kamu bisa kecelakaan mobil Ton?".


Papah tidak bisa membendung air matanya, ketika Om Toni hendak berbicara Om Toni terbatuk-batuk mengeluarkan darah.


"Astaghfirullah... istighfar Ton.. sebut nama Allah... suster suster... ".


Papah histeris berteriak teriak memanggil suster, beberapa suster, dan Dokter masuk.


"Maaf Pak silahkan menunggu di luar, dan ini surat persetujuan oprasi harus segera di tanda tangani, kami tidak bisa menjelaskan nya sekarang nanti dokter yang akan menjelaskan sendiri kepada Bapak, untuk saat ini kami butuh persetujuan pihak keluarga agar kami secepatnya melakukan tindakan operasi berusaha menolong nyawa korban, harus secepatnya pak sebelum terlambat".

__ADS_1


Papah bingung karena hanya dia satu-satunya orang terdekat Om Toni yang berada di rumah sakit.


"Bisa saya pinjam telepon nya sebentar? untuk meminta ijin Ayah nya".


Kata Papah kepada suster yang berbicara dengan nya, dengan selembar kertas persetujuan oprasi di tangan Papah.


"Silakan ke meja Receptionist Pak".


Suster menunjukkan meja Receptionist, tak menunggu lama setengah berlari Papah menuju meja Receptionist.


"Suster saya boleh pinjam telepon nya?, mau menelpon Ayah pasien untuk meminta persetujuan tindakan oprasi".


Suster di hadapan Papah langsung memberikan telepon ruangan itu ke Papah.


"Silahkan Pak".


Papah langsung menekan No ponsel Papah Om Toni, thn 2000 waktu itu sudah ada ponsel tapi masih orang orang tertentu yang memakai, masih jaman nya Nokia dengan game ular kalo tidak salah.


"Aslamu alaikum... Beh.. iya... ini pihak rumah sakit minta persetujuan tindakan oprasi secepatnya, Babeh dimana? oh iya Beh... saya tanda tangani.. baik.. saya tunggu.. baik.. Amiin, asalamualaikum.... ".


Ranjang tempat Om Toni berbaring di dorong oleh beberapa suster laki laki bergerak menuju ruangan oprasi, Papah masih bisa melihat wajah Om Toni matanya masih terbuka, Papah menghampiri Om Toni dan memegang tangan nya, Om Toni yang bibir nya sedang mengucapkan Nama Allah tersenyum, dan menatap Papah, Papah pun tersenyum dan berkata.


"Yang kuat Ton.. bertahan Ton..".


Om Toni tidak menjwab bibir nya kembali mengucapkan nama Allah.


" Allah... Allah... Allah... ".


Masuk lah Om Toni kesebuah ruangan oprasi, pintu di tutup tinggalah Papah sendiri, Papah mengingat semua ucapan Om Toni tadi, pergi dari rumah itu... Buta... selamat kan keluarga mu..., papah terduduk lunglai menutupi wajah nya dengan tangan nya beberapa saat kemudian ada suara memanggil.


"Keluarga nya Toni nugraha... "


Papah beranjak dari duduk nya dan menghampiri, Papah bingung sudah selesai kah oprasi nya? sebegitu cepat nya? padahal Om Toni baru masuk ruangan oprasi.

__ADS_1


"Maaf, Pak... Kita terlambat Nyawa pasien bernama Pak Toni nugraha tidak bisa di selamat kan, kami belum sempat melakukan operasi tapi... ".


Sebelum asisten dokter itu menjelaskan, Papah sudah histeris.


"Tidakk tidakk Tonnnn... Toniiii bangun Tonnnn.. ".


Papah langsung menghampiri Om Toni yang berbaring di ranjang oprasi nya sudah tidak bernyawa, seorang Dokter menepuk pundak Papah dari belakang, dan berkata.


"Sabar Pak.. ikhlas kan.. kita sudah berusaha yang terbaik untuk menolong nya, tapi Allah berkehendak lain,Terima kepergian nya dengan ikhlas hanya itu yang bisa kita lakukan untuk Pak Toni sekarang, agar Pak Toni pergi dengan tenang, terakhir saya melihat dia menyebutkan nama Allah, dan tersenyum... lihat lah Pak... Pak Toni masih tersenyum.. ".


Papah mengangkat wajah nya menoleh ke Dokter yang berbicara , Dokter itu mengangguk dan mengisyaratkan agar papah melihat Om Toni, Papah beranjak menatap Om Toni, yaa Om Toni tersenyum.. wajah nya bersih putih bercahaya, dan tersenyum.. teringat perkataan terakhir Om Toni tadi malam ketika mereka terakhir kali bergadang malam itu Om Toni bilang..


"Aku ingin menikah dengan bidadari surga.. ".


Papah terbengong tertawa kecil lalu menangis... masih teringat ketika papah menertawakan ucapan nya dan berkata... mati dong,.


"Kamu tersenyum cita cita kamu tercapai... Ya Allah berikan bidadari surga untuk Toni... ".


Gumam papah, masih berdiri mematung, lalu datang beberapa suster menghampiri Papah.


"Maaf Pak kami akan mengurus jenazah silakan keluar ".


Papah melangkah gontai berjalan keluar dari ruangan itu, berhenti di ambang pintu ruangan itu, terlihat samar oleh Papah di Koridor seorang wanita menghampiri papah, dengan langkah ragu ragu di tangan kanan nya menenteng tas dan sebuah jaket, wanita itu menghentikan langkah nya sejenak, lalu papah terkulai lemas duduk di ambang pintu ruang oprasi, wanita itu setengah berlari menghampiri papah, wanita itu langsung jongkok dan memeluk Papah.


"Pah... pah.. ".


Pandangan Papah masih samar tpi dia mengenali suara lembut itu, suara istrinya, ketika tesadar yang menghampiri istrinya, Papah langsung memeluk erat istrinya dan menangis sejadi jadi nya.


"Toni... Mah... Toni...".


Mamah membalas pelukan Papah, air mata nya tak bisa terbendung lagi mengelus kepala suaminya walaupun hati nya pun sama merasa kan kehilangan yang amat dalam..


"Sabar Pah...Papah harus kuat... ikhlas kan Pah... ".

__ADS_1


(bersambung)


__ADS_2