RUMAH BEKAS PESUGIHAN BUTA IJo

RUMAH BEKAS PESUGIHAN BUTA IJo
Bab 26 Rahasia yang terungkap 3


__ADS_3

Masih dalam pelukan Papah yang berdiri Mamah menangis, lalu Mas Ami menuntut Mamah, dan Papah ke ruang keluarga tanpa berkata apa apa atau menanyakan ada apa, Mas Ami mungkin segan menanyakan, karena ini masalah pribadi keluarga, istrinya Mas Ami datang menghampiri.


"Ambil minum Mah...".


Pinta Mas Ami kepada istrinya, lalu istrinya Mas Ami pergi ke dapur, dan membawakan segelas air yang di minta Mas Ami untuk Papah, Mas Ami memberi isyarat dengan mengerakan kepala, dan mengedipkan mata nya kepada istrinya untuk meninggalkan Mamah, dan Papah.


"Julian yuk kita main sama Andri di kamar Andri, Teh Liya juga ikut yuu...".


Kata istrinya Mas Ami lalu membawa kami ke kamar nya, kami meninggal kan Mamah, dan Papah berdua di ruang keluarga, Papah terduduk di sopa ruang keluarga dengan Mamah yang di pelukan nya. Papah memegang kepala nya, merasakan pusing berat, dan sakit di kepala karena menahan emosi kebingungan kesedihan, dan segala rasa yang menyakitkan di kepalanya.


"Maap Mah seharus nya Papah mendengar perkataan Mamah, yang selalu melarang Papah untuk tidak meminjam uang sekali pun itu ke Toni sahabat Papah yang sudah Papah anggap seperti sodara, ternyata seperti ini kejadian nya, Papah tidak menyangka Toni seperti itu, Papah seperti tidak mengenalinya."


Papah menutup muka nya dengan kedua telapak tangan nya seperti nya, Papah ingin menangis atau berteriak sejadi jadi nya,.


"Kalo orang lain berbuat seperti ini, tidak akan sesakit ini,Tapi ini Toni Mah...".


Mamah mengelus rambut Papah.


"Sabar Pah ini ujian buat kita, pelajaran buat kita, orang bisa berubah kapan saja Pah".


Papah membuka kedua tangan nya yang di gunakan untuk menutup muka nya, dan melirik Mamah di samping nya, menatap Mamah.


"Toni menginginkan Mamah sejak kapan?, Apa selama ini Mamah merasakan dia menyimpan perasaan untuk Mamah?".


Mamah tertegun...


"Enggak ko Pah, selama ini Toni sangat menghargai Mamah seperti ke kakak nya sendiri, tak pernah berbuat tidak sopan, Mamah tidak pernah merasa ada yang aneh, atau merasa di perhatikan lebih dari seorang kakak".

__ADS_1


Mamah, dan Papah tertegun, mengingat ngingat selama ini kalo memang benar Om Toni menginginkan Mamah semenjak kapan, dan kalo benar Om Toni sungguh pintar menyembunyikan perasaan nya, karena selama Mamah, dan Papah tidak merasa, dan tidak menyadari kalo Om Toni menginginkan Mamah.


"Dari mana kita dapat kan Uang 10 jt dalam seminggu Mah?.".


Papah menarik napas panjang, dan menengadah kan Kepala nya, berharap di atas langit- langit rumah nya ada jawaban untuk smua masalah nya.


"Kita telpon Bapa di Bogor yah Pah?, Kita pinjam uang ke Bapak?".


Mamah menyarankan.


"Engga..., jangan Mah..., Bapak di Bogor jangan pernah sampai tau masalah ini, mau di taro di mana muka Papah, ini menyangkut harga diri Papah sebagai suami, Mah... kita jual rumah ini saja?".


Mamah terdiam, dan menundukan kepala nya.


"Kita cari rumah di kampung kita beli rumah lagi sisa nya untuk modal, kalo di kampung mungkin Mamah bisa jualan kecil-kecilaan di rumah, atau Papah buka usaha apa gitu di kampung".


"Iya Pah.. terserah Papah...".


Mamah dengan nada pasrah.


"Kita harus saling mendukung Mah..., ini Papah lakukan untuk kebaikan kita".


Mamah tersenyum, meyakinkan Papah bahwa Mamah selalu mendukung semua keputusan nya, bahwa Mamah percaya keputusan Papah yang terbaik.


"Tapi Pah menjual rumah itu tidak gampang, apa bisa rumah ini terjual dalam waktu seminggu?".


Papah terdiam, dan menghela napas.

__ADS_1


"Yang terpenting kita sudah berusaha, kita pasang plang rumah ini di jual yah".


Mamah mengangguk lalu tiba tiba Mamah berkata.


"Gimana kalo tawarin ke yang punya vila tempat Papah menjaga vila, dia kan orang kaya siapa tau dia mau membeli rumah kita".


Papah menganggukan kepala nya.


"Iya juga yah Mah, nanti hari Kamis dia datang ke vila, Papah mau minta ketemu sama dia, mudah mudahan dia mau ketemu Papah".


Kata Papah menyetujui pendapat Mamah.


"Papah ngomong dulu ke Bibi yang suka beres-beres di vila, bilang ke Bibi rumah kita mau di jual, siapa tau Bapak yang punya vila minat untuk membeli, kalo minat Papah minta waktu nya Bapak pemilik vila itu untuk mengobrol sama Papah berdua".


Papah mengangguk- nganggukan kepala nya mendengar saran Mamah.


"Iya Mah, nanti malam sebelum Bibi pulang ke rumah nya, Papah mau bilang ke Bibi, Papah harus datang sebelum jam 9, jadi Bibi masih ada di vila, kalo jam 9 Bibi suka buru buru langsung pulang ke rumah nya, gak pernah ngobrol dulu cuma ngasih kunci vila lalu pergi".


Mamah tersenyum, dan mengangguk ,Papah mengusap rambut rambut Mamah, dan mencium kening Mamah.


"Maafin Papah yah mah".


Mamah hanya bisa memeluk Papah tanpa berkata, malam nya Papah pergi ke vila itu jam delapan malam, karena ingin berbicara dulu dengan Bibi untuk menyampaikan pesan nya ke Bapak pemilik vila, Bibi yang mendengar Papah ingin menjual rumah kepada majikan nya, Bibi menyanggupi untuk menyampaikan pesan Papah, setelah itu Bibi pergi pulang ke rumah nya, Papah sendiri lagi di vila itu, Papah mengantar Bibi sampai gerbang lalu mengunci lagi gerbang, Papah melangkah kan kakinya masuk kedalam vila seperti biasa memeriksa setiap ruangan vila, Papah menghentikan langkah nya di sebuah ruangan tempat lukisan wanita itu berada, Papah menatap lukisan itu, apa sungguh wanita dalam lukisan itu nyata, apa selama ini dia hanya berhalusinasi?, Papah menarik napas, dan melanjutkan langkah nya menuju dapur untuk membuat secangkir kopi waktu sudah menunjukkan jam 11:30 malam.


Papah membawa secangkir kopi ke ruang tengah, Papah duduk di sopa ruang tengah sambil menikmati kopinya, dan melihat berita di tivi, tapi perhatian nya teralihkan oleh cahaya dari luar, dari balik gorden dia melihat sepintas cahaya, lalu Papah menghampiri jendela menyibakkan gorden jendela, cahaya itu sudah menghilang, Papah keluar memeriksa sekeliling halaman vila tak ada apapun, Papah kembali masuk ke dalam vila melewati ruang utama menuju ruang tivi, di sana di sopa ruang tengah yang tadi Papah duduki sudah duduk seorang wanita..., yah wanita cantik dalam lukisan itu sudah duduk di sopa menunggu Papah, dia tersenyum ketika melihat Papah datang, Papah menghentikan langkah nya, Papah terdiam terpaku melihat wanita itu mewujudkan dirinya lagi, kali ini Papah harus yakin kalo wanita itu nyata bukan halusinasi, Papah harus meyakinkan dirinya yang di alami nya selama ini bukan hayalan nya semata..


(Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2