RUMAH BEKAS PESUGIHAN BUTA IJo

RUMAH BEKAS PESUGIHAN BUTA IJo
Bab 72 Di dunia lain


__ADS_3

Nenek itu tersenyum pada ku.


"Nenek siapa?."


Tanya ku pada Nenek itu.


"Kaula nu ngageugeuh tangkal caringin(aku yang mendiami pohon beringin ini)."


Ucap Nenek itu, menjawab pertanyaan ku.


"Oohh, Nenek kenal dengan Nenek yang wajah dan tangan nya penuh korengan?, aku pernah bertemu Nenek itu di sini juga, di pohon beringin ini."


Tanya ku lagi, seketika Nenek itu tertawa dan berkata.


"Hihihihi eta teh sarua kaula, hihihihi( hihihi dia itu saya hihihi)."


Jawab Nenek itu lagi, aku pun menghampiri nya berjalan memutari Nenek itu, ingin meyakinkan bahwa dia memang Nenek korengan itu, baju nya, kain samping nya, dan tongkat nya memang sama hanya saja, Nenek yang sekarang di depan ku tidak korengan dan tidak menakutkan, wajah nya bersahabat dan ramah.


"Tapi kemana korengan Nenek? apa sudah sembuh?."


Ujar ku penasaran, Nenek itu tertawa lagi dan berkata.


"Hihihhihi..., lamun kaula borokan, maneh pasti sieun, trus engke si Belang datang deui, (kalo aku korengan kamu pasti ketakutan, terus nanti si Belang datang lagi)."


Jawab Nenek-nenek itu sambil menoleh ke kiri, dan ke kanan, seperti nya dia mengkhawatirkan sesuatu.


"Si Belang? si Belang itu siapa?, kenapa dia datang lagi kalo aku ketakutan?, bagaimana dia tau kalo aku ketakutan?."


Aku memberondongi, Nenek itu pertanyaan.


"Si Belang teh maung hideng bodas nu tadi didieu, maneh oge ningali si belang, mun maneh sieun ngarasa ka ancam, si Belang apaleun ngarasa keun maneh na bakal datang, ngabelaan maneh( si Belang itu Harimau hitam putih yang tadi di sini kamu juga tadi lihat si Belang, kalo kamu takut dan meresa terancam, si Belang pasti tau, merasakan dan akan datang demi kamu)."


Ucap Nenek itu menjelaskan, tapi aku masih tidak mengerti.

__ADS_1


"Tapi kenapa?, siapa dia?."


Ujar ku, dengan wajah yang makin penasaran.


"Ke geus waktuna oge maneh bakalan nyaho saha si Belang, ayeuna mah ceuk si Belang oge can waktuna, kaula teu boga hak ngabejakeun(Nanti sudah waktunya juga kamu bakalan tau siapa si Belang, sekarang seperti kata si Belang juga, belum waktu nya, saya tidak berhak memberitahu)."


Aku termenung, dan aku tau aku tak bisa memaksakan Nenek itu untuk memberitahu ku, aku hanya bisa mengangguk, dan melupakan rasa penasaran ku.


"Jadi Nenek itu sebenarnya korengan nya udah sembuh?, atau Nenek sebenarnya tidak korengan?."


Aku masih penasaran dengan keadaan si Nenek, baiklah kalo si Nenek tak ingin memberitahu kan soal si Belang karena mungkin si Belang punya rahasia, dan si Nenek tidak punya hak untuk memberitahu ku, setidak nya dia bisa menjelaskan tenang dirinya yang masih membuat ku penasaran dengan korengan nya , kemana korengan nya?, Nenek itu tertawa cekikikan mendengar pertanyaan ku.


"Hihihihi dasar budak ngora loba nanya, loba kapanasaran sagala hayang nyaho, tapi alus budak ngora kudu kitu, kudu loba tatanya, ngarah loba ilmu ngarah loba ka nyaho, henteu Nini mah teu korengan tadi mah hayang nyingsieunan hungkul, tapi maneh mah kalah ningalikeun lain sieun, asa di ledek jadi na kaula, hihihihi ( hihihihi dasar anak muda banyak tanya, banyak rasa penasaran, segala ingin tau, tapi itu bagus anak muda harus seperti itu, harus banyak bertanya, biar banyak ilmu biar segala tau, enggak Nenek sebenarnya tidak korengan hanya ingin menakut-nakuti kamu, tapi kamu bukan nya takut malah terus ngeliatin, jadi merasa di sepeliin aku Hihihihi)."


Ucap si Nenek itu sambil dia berjongkok dan duduk di rumput di bawah rindang nya pohon beringin.


"Kadieu diuk didieu, sok rek nanya naon deui asal tong nanya keun si Belang hihihihi (sini duduk di sini, silahkan mau tanya apa lagi, asal kan jangan menanyakan soal si Belang."


Ujar Nenek itu lagi ketika dia sudah terduduk di rumput, Nenek itu melambai kan tangan nya dan menepuk nepuk tanah yang di tumbuhi rumput, menyuruh ku untuk duduk di sebalah nya, aku pun tersenyum dan menghampiri nya.


Ucap ku panjang lebar meminta maaf telah menyinggung perasaan nya, dan menjelaskan kenapa tadi aku terus melihat nya, aku duduk di samping Nenek itu yang sekarang tidak korengan, aku merasa tidak takut lagi dan lebih nyaman sekarang melihat nya tidak korengan, Nenek itu mengangguk angguk.


"Hu uh.. si Belang teu salah milih, maneh boga hate tulus( iyaa si Belang tidak salah pilih, kamu memang punya hati yang tulus)."


Ucap Nenek itu sambil menoleh pada ku dan tersenyum.


"Nenek jadi keliatan cantik senyum seperti itu di tambah lagi korengan nya udah gak ada, aku jadi betah ngobrol sama Nenek jadi kaya ngobrol sama nenek ku sendiri"


Ucap ku, Nenek itu tertawa terkekeh-kekeh aku pun tertawa, udara sangat sejuk, aku dan Nenek itu duduk di bawah pohon beringin yang rindang, di sekeliling ku lihat masih terang seperti nya sore hari, mungkin sekitar jam 4 sore.


Padahal tadi di rumah sudah malam, aku yang menyuruh Papah untuk mengantarkan Ratih pulang karena sudah malam, tapi di sini masih sore hari, di dunia lain ini.


"Nek aku berada di dunia lain yah? Nenek makhluk halus yah?, Nenek bukan manusia kan?."

__ADS_1


Tanya ku, seketika Nenek itu terdiam dan menoleh padaku menatap tajam pada ku, dan berkata.


"Maneh sieun teu?,(Apa kamu takut?)."


Nenek itu balik bertanya, aku menggelengkan kepala ku, dan berkata.


"Kenapa aku harus takut? muka Nenek tidak menyeramkan, Nenek juga makhluk ciptaan Allah".


Nenek itu tersenyum tipis lalu termenung.


"Jadi benar aku sedang di dunia lain, dan Nenek itu makhluk halus?."


Tanya ku lagi ingin kepastian, Nenek itu menoleh pada ku lagi dan mengangguk.


"Nenek sudah lama di beringin ini Nek?."


Aku bertanya sambil menengadah kan kepala ku ke atas, padangan ku menelusuri ke setiap penjuru pohon beringin ini.


"Ratusan taun, samemeh tempat ieu di huni samemeh aya nu ngabangun jalan, bareto tempat ieu leweung, tangkal caringin ieu geus aya ti bareto (Ratusan tahun, sebelum tempat ini berpenghuni sebelum di bangun jalan, dulu tempat ini hutan, pohon beringin ini sudah ada dari dulu)."


Ucap Nenek itu sambil termenung seperti sedang mengingat-ngingat sesuatu.


"Nenek di sini sendiri?."


Seperti tidak pernah habis pertanyaan dalam kepala ku, lagi-lagi aku bertanya, tapi bukan kah kata si Nenek anak muda memang harus banyak bertanya.


"Hmmm... "


Ketika si Nenek itu hendak menjawab pertanyaan ku, aku di kejutkan oleh seseorang, tepat nya seorang wanita memakai gaun hitam, rambut nya panjang hitam menutupi wajahnya nya yang tertunduk.


Dia sepertinya..., kakinya ada di tengah-tengah antara tanah dan pohon beringin, melayang tidak menapak di tanah, aku melihat ke atas ada tali tambang yang terikat ke dahan pohon beringin, dan seperti nya tali tambang itu melilit di kepala wanita itu.


"Nek itu siapa?!."

__ADS_1


Ucap ku setengah berteriak, dan langsung memegang tangan Si Nenek, dan menggeser kan tubuh ku mendekati si Nenek, si Nenek pun menoleh kan pandangan nya ke tempat yang aku tunjuk.


(bersambung)


__ADS_2