RUMAH BEKAS PESUGIHAN BUTA IJo

RUMAH BEKAS PESUGIHAN BUTA IJo
Bab 40 pengakuan Papah


__ADS_3

Kedua Kakak ku yang sudah beranjak remaja menjadi pusat perhatian penduduk Desa itu, kedua Kakak ku memang cantik, mereka berbadan langsing, tinggi, berkulit putih, dan rambut mereka panjang.


Kakak sulung ku rambut nya, lurus panjang, dan hitam, aku dan, teh Eli rambut kami ikal dan, agak ke cokelatan seperti rambut Mamah, hidung Kakak-kakak ku mancung, mata mereka bulat dengan halis, dan bulu mata yang tebal alami.


Penduduk Desa itu menyalami kami, mengucapkan selamat datang dengan senyum ramah dan, tulus walaupun ada sebagian yang terlihat sedikit.. sinis dan seperti sedang membicarakan kami dengan berbisik bisik , tapi kebanyakan sih seperti nya mereka menyukai kami.


Kami membalas sapaan, dan salam mereka, sebagian dari mereka membantu kami mengangkut barang barang dari truk, kebanyakan pemuda, dan bapak-bapak yang membantu menurunkan barang-barang dari truk, ibu ibunya membantu membereskan memasukan ke dalam rumah, dan ada beberapa ibu ibu yang mengantarkan makanan.


Kami duduk di halaman rumah memperhatikan orang orang yang membantu menurunkan, dan, mengangkat barang barang kami masuk ke rumah, aku memperhatikan rumah baru kami, rumah yang sederhana.


Aku dan kakak-kakak ku beranjak dari duduk kami untuk melihat lihat rumah baru kami, bangunan nya setengah tembok, dan setengah lagi kayu, kamar tidur nya ada tiga, tidak ada ruang tamu hanya ruang tengah lalu dapur, dan satu kamar mandi, yah.. apa yang bisa kami harapkan, memang seperti itulah rumah di Desa, tapi rumah nya keliatan nya seperti baru, atau mungkin pemilik nya mengecetnya dulu sebelum kami datang.


Rumah nya cukup nyaman, dan bersih ada pintu ke luar dari dapur, aku membukanya, dan melihat ada sebuah sumur di belakang rumah, aku menghampiri sumur itu.


Mungkin kami mendapatkan air untuk sehari hari dari sumur itu pikir ku, tapi sumurnya di tutup oleh papan yang dipaku, aku melihat dari celah papan ke dalam sumur itu, ada air nya, tapi gak ada timbaan, dan di paku gimna kami mengambil air nya, ketika aku sedang serius nya menyelidiki sumur itu, pundak ku ada yang menepuk.


"Hey lagi ngapain!!"


Aku sontak kaget, dan berbalik.


"Astaghfirullah.. Teh Eli iiiihhh"


Teh Eli tertawa melihat muka ku yang kaget.


"Hahahaha serius amat lagi ngapain, sumur ya..?".


Ucap Teh Eli, lalu ikut melihat lihat sumur itu.


" Iya tapi di tutup gini padahal ada air nya, gak ada timbaan nya juga gimana ngambil air nya?".


Ucap ku, teh Eli mengangguk.


"Ya udah kita tanyain ke yang punya rumah ini, mumpung dia masih ada di depan rumah lagi ngobrol sama Mamah".

__ADS_1


Ucap Teh Eli aku pun mengangguk, menyetujui nya dan, kami pun pergi dari sumur itu menghampiri Mamah di depan rumah yang sedang mengobrol dengan tetangga, dan pemilik rumah ini.


"Mah, itu di belakang rumah ada sumur, tapi ko di tutup gak ada timbaan nya juga, kita ngambil air nya gimna?"


Ucap teh Eli ketika kami sampai di depan kumpulan Ibu-ibu yang sedang mengobrol, Mamah menoleh ke pemilik rumah, pemilik rumah langsung merespon, dan menjawab.


"Itu sumur nya emang gak di pake neng, di tutup karena takut ada binatang, kucing, atau tikus masuk nanti mati bisa bau ******".


Ucap pemilik rumah lalu mengedarkan pandangan nya pada Ibu-ibu yang lain, seperti minta dukungan untuk mengiyakan ucapan nya.


"Tapi ada air nya ko kenapa di tutup?, trus kita dapat air nya dari mana?"


Tanya Teh Eli lagi.


"Air sumur nya keruh gak jernih, nanti ada air dari PDAM, tapi di giliran ada waktu nya setiap rumah dapet giliran dua jam, hanya untuk air minum atau hal hal yang penting aja, kalo mau cuci baju kan air nya harus banyak, neng bisa ke tempat MCK umum di sebelah sana bisa mandi juga di sana".


Pemilik rumah itu menjelaskan, lalu menunjukkan tempat MCK umum, aku menoleh ke Teh Eli.


"Lihat MCK umum nya yuk"


Memang tidak jauh sih cuman terhalang tiga rumah yang berdekatan, kami melewati rumah tetangga kami, mereka sedang berada di depan rumah nya, kami tersenyum, dan memberi salam kesetiap orang yang kami lalui.


Sebuah Bak besar dengan beberapa pancuran air, air nya sangat jernih sepertinya di bawah bak itu ada sumber mata air nya keluar dari dalam tanah.


Tempat mandi umum nya pun bersih tapi tidak ada kamar atau sekat gimana mandi nya?, kami mandi di ruangan terbuka?, gimana kalo ada Laki-laki yang melihat kami mandi?, memang aku masih kecil, tapi Kakak-Kakak ku mereka sudah beranjak remaja, aku saja yang umur ku masih 10 thn waktu itu merasa risi harus mandi di tempat umum.


"Kita mandi nya di rumah aja, kita ambil air dari sini ke rumah pake ember".


Ucap teh Eli, Seperti nya teh Eli memikirkan hal sama seperti yang aku pikir kan, aku mengangguk, menyetujui nya, lalu kami melangkah pergi kembali ke rumah, melewati lagi rumah tetangga tetangga kami, tersenyum, dan minta permisi ketika melewati mereka.


"Cantik-cantik ya anak-anak nya putih putih lagi, tinggi langsing, pada baik lagi ramah ramah, padahal orang kota biasanya sombong".


Ucap salah seorang wanita berbicara ke teman nya yang sedang berkerumun di salah satu rumah yang kami lalui, aku menoleh ke teh Eli, menyadari yang mereka bicarakan adalah kami.

__ADS_1


Hari mulai gelap, warga berangsur-angsur mulai kembali ke rumah nya masing- masing, hanya beberapa pemuda dan bapak-bapak yang masih ada untuk membantu Papah, aku dan Kakak-Kakak ku membereskan barang-barang kami di kamar, aku harus berbagi kamar dengan Kakak ku Teh Eli, kami satu kamar berdua, Kakak sulung ku satu kamar berdua dengan Julian adik ku.


Setelah merasa cukup membereskan nya untuk malam ini, asal tidak terlalu berantakan dan tempat tidur sudah bisa kami tiduri, kami makan malam dengan makanan yang di berikan oleh tetangga kami.


"Bagaimana kalian suka kan tinggal di sini?, memang rumah nya tak sebesar dan, sebagus rumah kita, tapi kalo kalian betah di sini, dan rumah kita ada yang membeli kita akan beli rumah ini dan, membangun nya menjadi besar dan bagus".


Ucap Papah, kami hanya mendengar kan tidak bereaksi apapun tetap melanjutkan makan malam kami.


"Papah tau kalian marah sama Papah, kalian harus tau sekarang, kenapa Papah bersikap dingin mengacuhkan kalian, dan seperti tidak sayang kepada kalian tahun belakangan ini di rumah kita"


Kami menghentikan suapan makan kami lalu, saling pandang, dan mengalihkan pandangan kami ke Papah, menanti penjelasan Papah.


"Bukan karena Om Toni, Papah ikhlas kehilangan Om Toni sama seperti kalian mengikhlaskan nya, bukan karena pekerjaan, Papah hanya mencari kesibukan agar Papah tidak bisa dekat dengan kalian, karena makhluk yang ada di rumah kita, akan menyakiti semua orang orang yang Papah sayang, Papah mengkhawatirkan kalian, semakin Papah menunjukan kasih sayang kepada kalian, makhluk itu semakin tau kelemahan Papah, dan menggunakan kan kalian sebagai alat untuk melemahkan Papah, makhluk itu akan menganggu kalian mencelakai kalian sehingga Papah menyerah"


Papah menghela napas nya, kami tesentak kaget mendengar penjelasan Papah, kami tak bisa berkata apa-apa..


"Jadi selama ini?".


Ucap Mamah tapi tak menerus kan perkataan nya.


" Iya mah Papah sengaja tidak perduli Papah sengaja acuh, kalian pikir Papah senang melakukan nya? Papah terpaksa, makhluk itu tau kalian lah kekuatan, dan sekaligus kelemahan Papah, makhluk itu tau Papah tidak akan kuat melihat kalian terus menerus di celakai oleh nya, satu tujuan makhluk itu membuat papah menyerah, Papah membawa kalian ke sini karena, karena Papah khawatir akan terjadi sesuatu yang buruk ketika Papah pergi, sedangkan Papah sebulan sekali pulang, Papah tidak akan tenang meninggal kan kalian di rumah itu".


Aku beranjak berdiri lalu menghampiri, dan memeluk Papah, air mata ku tumpah tak terbendung kan lagi, Papah membalas pelukan ku, dan menciumi kepala ku, dan pipi ku.


"Maafin Papah yah sayang.. ".


Aku menggelengkan kepala, kakak-kakak ku pun menghampiri memeluk Papah.


"Gak Pah kami yang minta maaf sudah berpikiran yang tidak tidak ke Papah".


Kata Kakak salung ku aku mengangguk mengiyakan, Mamah tersenyum bahagia memeluk Julian..


"Apa makhluk itu gak akan nemuin kita di sini Pah, dia gak akan ngejar kita ke sini kan?".

__ADS_1


Aku bertanya semua terdiam, Papah termenung...


(Bersambung)


__ADS_2