
Papah termenung seperti sedang memikirkan, atau mengingat sesuatu.
"Makhluk itu ingin mengejar kita kemana pun kita pergi tapi, makhluk itu tidak bisa."
Ucap Papah seperti sudah mendapatkan jawaban nya dengan yakin nya Papah menjawab pertanyaan ku.
"Papah yakin dia tidak bisa mengikuti kita? mengejar kita sampai ke sini?."
Mamah masih ragu ingin lebih di yakinkan lagi, Papah tersenyum, dan mengangguk.
"Kenapa Papah bisa se yakin itu?, dia kan makhluk astral Pah, makhluk ghaib bisa melewati ruang dan waktu sesuka mereka."
Tanya Mamah lagi masih ragu, dan khawatir.
"Dia tidak bisa mengejar Toni mah, Papah liat seperti nya dia terbelenggu di rumah itu, dia tidak bisa keluar dari rumah itu, dia sudah ada perjanjian hanya boleh menggoda atau mencelakai orang yang ada di dalam rumah itu, bila orang itu keluar dari rumah dia sudah tidak bisa lagi menjangkau nya."
Ucap Papah, Mamah mengangguk, menyetujui.
"Iya Pah...Mamah ingat, kalo kita di luar kita selalu ada niat untuk me rukiyah rumah itu, atau kita membicarakan tentang kejanggalan di rumah, tapi setelah kita ada di rumah kita seperti tidak pernah terjadi apapun, dan baru sadar kembali ketika makhluk itu meneror atau mencelakai kita, baru kita sadar kehadiran makhluk itu lagi."
Papah tersenyum, dan mengangguk, lalu berkata.
"Alhamdulillah kalian masih baik baik saja sampai sekarang, semoga kalian selalu di lindungi oleh Allah, selama Papah pergi jaga sikap kalian nanti baik baik sama penduduk di sini, bergaul lah dengan mereka bertetanggalah, karena tetangga adalah saudara terdekat kita, kalo ada apa apa yang terjadi sama kalian tetangga yang pertama kali akan datang bantuin kalian, Papah percaya sama kalian, kalian Anak-anak Papah bisa menjaga diri, dan menempatkan diri kalian, tidak sombong harus ramah, dan menghargai orang yang lebih tua, itu yang Papah ajarkan kepada kalian, di rumah kita yang dulu kita tidak bertetangga sekarang di sini kita bertetangga, Papah ingin kalian lakukan apa yang Papah ajarkan, jadi Papah tenang kerja nyari uang nya buat kalian, dan ingat ya jangan nakal jangan bikin Mamah kesel solat nya jangan ada yang kelewat do'ain Papah kerjaan Papah lancar."
Kami Anak-anak nya mengangguk dan tersenyum, kami senang Papah sudah kembali seperti dulu lagi, walaupun sebenarnya Papah tidak pernah berubah, Papah hanya bersikap seolah tak peduli dan tak menyayangi kami hanya karena ingin melindungi kami, karena Papah sayang kami, dan tak ingin makhluk itu menyakiti orang-orang yang Papah sayangi.
"Pah di belakang ada sumur loh, Papah tau gak?"
Ucap ku, seketika Papah mengerutkan kening nya
"Masa? Papah belum tau, Papah belum cek ke belakang, bener Mah di belakang ada sumur?."
Jawab Papah lalu menanyakan kebenarannya ke Mamah yang sedang di dapur, Mamah yang sedang di dapur mendengar Papah bertanya, menghampiri Papah yang berada di ruang tengah, dengan segelas kopi di tangan nya untuk Papah.
"Iya Pah, tapi kata pemilik rumah ini katanya air nya keruh gak bisa di pake jadi di tutup sumur nya."
Papah mengangguk, dan menerima kopi yang di berikan Mamah.
"Pah kita dapet air nya kata nya di waktu, bergiliran di kasih dua jam aja, jadi gak akan penuh, gak akan cukup buat nyuci baju sama mandi jadi kita harus ke tempat MCK umum, mandi di sana gak ada ruangan untuk mandi, kalo mandi keliatan."
Kata Teh Eli mengadu, Teh Eli merasa enggan, dan risi kalo harus mandi di tempat umum karena dia sudah beranjak remaja.
"Masa sih? Teteh belum liat MCK umum nya."
Kata Teh Herti Kakak sulung ku, Teh Herti tadi sedang sibuk beres beres ketika kami pergi ke MCK umum.
"Hmm gini aja deh, Papah mau beli toren buat menampung air, kita bisa isi toren itu dari air yang ada di MCK umum, jadi kalian gak usah mandi di sana"
Ucap papah memberi solusi, Kami hanya saling pandang
belum mengerti.
__ADS_1
"Maksudnya, kita bawain air dari MCK ke rumah?, ngisiin toren gitu Pah?"
Tanya mamah.
"Yah enggak Mah, kasian kalian harus bawain air dari MCK ngisiin toren, suka ada yang bisa di suruh, kita tinggal ngasih upah, biasanya ada akang-akang yang suka kerja di kebun yang bisa di suruh."
Kami tersenyum lega, yah Papah selalu punya solusinya.
"Teh Herti, Teh Eli kalian sekolah di lembang, gak bisa pindah ke sini, karena di sini gak ada sekolah SMP, bangun nya harus lebih pagi karena kalian harus naik angkot ke sekolah, mulai senin aja sekolah nya Papah udah minta ijin ke sekolah kalian kemarin."
Kakak-kakak ku mengangguk tanda mengerti.
"Liya sama Julian sekolah kalian deket, di depan rumah udah lihat belum sekolah nya, besok kalian ikut Papah ke sekolah SD, biar kalian tahu sekolah nya sekalian Papah daftarin sekolah."
Waktu itu, Aku dan Julian satu SD, Julian kelas Dua dan aku kelas Empat SD, Kakak -kakak ku kelas Satu dan kelas Tiga SMP, ke esokan hari nya aku, Papah dan Julian pergi ke sekolah SD untuk mendaftarkan kami sekolah.
Sekolah nya tidak jauh hanya terhalang beberapa rumah, tidak menyebrang jalan juga, setelah mendaftarkan sekolah, Papah pergi ke pasar lembang untuk membeli toren penampung air yang sudah di bicarakan semalam.
Sejam kemudian Papah datang, di belakang mobil Papah ada mobil kap terbuka membawa toren penampungan air, Papah turun membawa beberapa keresek berisi makanan, di dalam mobil Papah masih banyak belanjaan seperti nya Papah membeli sembako untuk kebutuhan di rumah.
"Ini bagiin ke tetangga."
Papah memberi kan dua buah keresek makanan ke Teh Eli untuk membagikan ke tetangga, yang kebetulan mereka sedang berkumpul di depan rumah kami, mereka membuka nya di situ, dan menikmati makanan bersama di depan rumah kami sambil mengobrol, Mamah juga ada di situ, tapi Mamah berpamitan, ketika Papah memanggilnya untuk membawa sembako yang Papah beli untuk di masukan kedalam rumah.
"Saya tinggal dulu sebentar ya... "
Ucap Mamah berpamitan ke tetangga.
Kata salah seorang tetangga bercanda.
"Iyaaa habisin aja awas ya jangan sampai gak di habisin."
Mamah membalas candaan mereka, lalu menghampiri Papah yang mengeluarkan belanjaan di mobil, dan membawa nya masuk, Papah menghampiri supir yang membawa Toren, dan memberi nya uang roko lalu menurunkan toren penampungan air itu, setelah itu Papah pergi ke belakang rumah untuk melihat sumur yang aku bilang semalam, aku, dan Kakak-kakak ku mengikuti Papah melihat sumur itu.
"Toren nya di simpan di atas sumur aja ya? kita tembok sumur nya jadi bener bener ketutup di atas nya kita simpen toren, Papah takut nya Julian naik naik ke sini, kalo di tembok terus di atas nya Di simpan toren jadi aman, Julian gak akan bisa naik."
Ucap Papah ketika kami sedang berada di sumur itu, Papah memanggil tukang untuk menembok sumur itu, di desa tidak susah menemukan tukang mereka masih tetangga kami.
"Kang siapa yah yang bisa di suruh ngambilin air dari MCK buat menuhin toren?."
Tanya Papah ke tukang yang sedang bekerja menembok sumur.
" Saya juga bisa Pak."
Kata tukang itu menyanggupi
"Oh,, ya udah kalo gitu, Akang tiap hari yah tolong isiin toren nya berapa saya harus bayar, mau bulanan apa mau harian?."
Papah senang mendengar tukang itu menyanggupi jadi masalah air sudah beres, Papah tidak mau meninggal kan keluarga nya dengan masalah sedikit pun.
"Sebulan sekali aja Pak, itung itung saya dapet gajian, Bapak pulang nya sebulan sekali kan Pak?, saya kalo di kasih tiap hari abis terus uang nya sama istri saya, itung itung saya nabung ke Bapak sebulan sekali bisa buat beli di luar kebutuhan sehari-hari hehehe."
__ADS_1
Ucap tukang itu sambil tertawa
"Iya udah berapa?."
Ucap Papah sambil menepuk nepuk punggung tukang itu, ikut tertawa mendengar pengakuan tukang yang katanya uang nya abis setiap hari sama istrinya.
"Terserah Bapak aja lah."
Ucap tukang itu merasa tidak enak harus memberi harga.
"Saya biasa di rumah yang dulu kalo bayar air sebulan sekali tuh 10-15 ribu(kalo sekarang mugkin 100-150 ribu) saya kasih Akang 25 ribu (250 rb kalo sekarang) gimana?."
Papah menawarkan upah nya.
"Iya.. iyaa Pak terimakasih."
Ujar tukang itu menerima tawaran Papah.
"Ya udah ini sekalian saya kasih 35 ribu, uang bayar nembok sama air satu bulan, untuk kali ini kasihin dulu ke istri smuanya, biar istrinya senang, ibadah loh kang nyenengin istri, rizki kita akan bertambah, dan barokah kalo kita pandai nyenengin istri, bulan depan terserah akang, duitnya mu di pake nyenengin istri biar rizki nya nambah, dan barokah atau mau di pake sendiri tapi rizki nya mampet hehehe."
Ucap Papah, sambil memberikan uang dan di Terima oleh tukang itu sambil nyengir dan garuk garuk kepala nya yang gak gatal.
"Heheheh iyaaa terima kasih Pak."
Hari minggu sore Papah sudah siap siap untuk pergi ke Cirebon, karena hari Senin nya Papah harus sudah berada di Kantor Dealer cabang baru di Cirebon itu untuk acara pembukaan Dealer.
Papah akan pulang sebulan kemudian, tentu saja kami merasa sedih ketika Papah akan berangkat tapi kami menyembunyikan nya agar Papah semangat kerja nya, kami tau Papah akan lebih sedih ketika kami bersedih.
Kami mencium, dan memberinya semangat ketika pergi, Papah pun tersenyum, dan berangkat ke Cirebon, tinggal lah kami di desa itu bersama tetangga-tetangga kami yang baik, tapi setiap hari apalagi malam selalu banyak pemuda yang sengaja nongkrong di depan rumah kami hanya untuk bermain gitar atau pun mengobrol.
Kata tetangga sih biasanya mereka gak ada tuh berkerumun setiap malam seperti itu di depan rumah biasanya di gardu atau di depan jalan, tetangga bilang
ini mah pemuda pemuda lagi cari perhatian kakak kakak ku.
Tapi kakak kakak ku menjaga jarak, dan memang mereka tidak biasa bergaul dengan laki laki, kakak-kakak ku pulang sekolah mereka makan, tidur siang, bangun solat asyar, bantu bantu mamah kadang mengobrol atau main ke rumah tetangga yang mempunyai anak gadis seumuran mereka, atau anak tetangga yang main ke rumah.
Suatu hari Pemuda-pemuda itu di tegur oleh ketua Rt setempat, kalo mau berkumpul malam malam jangan di depan rumah warga, takut nya ada yang merasa terganggu lebih baik di tempat mereka biasa kumpul, di gardu atau di depan jalan.
Sebagian ada yang menuruti sebagian lagi ada yang nakal, gak nge hiraukan, dan yang suka bikin aku sama kakak kakak ku tertawa kalo ingat dan membicarakan ini lagi, kalau pagi pagi di bawah pintu suka ada surat cinta untuk Kakak kakak ku dari, pemuda pemuda itu.
Suatu hari Mas Ami yang masih mengontrak di ruang garasi rumah kami datang untuk memberikan uang kontrakan ke Mamah, Mas Ami datang bersama istrinya, dan Andri.
Tentu saja Julian senang bisa ketemu lagi dengan Andri, mereka langsung bermain di depan rumah, Julian bercerita ke Andri tentang semua hal baru nya, dan Mas Ami berserta istrinya bercerita ke Mamah tentang suasana rumah kami yang sekarang di kontrakan ke teman Papah.
Katanya mereka sering di ganggu Makhluk-makhluk astral, makhluk makhluk halus itu mengganggu dengan suara- suara, ada yang menyapu tengah malam, ada yang masak di dapur, bikin kopi di dapur, tapi di lihat gak ada siapa siapa, bahkan mereka menampakan diri, berwujud menjadi kuntilanak, pocong, dan genderewo, padahal dulu ketika kami tinggal di situ kami tidak pernah Melihat pocong kuntilanak atau genderewo, makhluk itu menampakan diri dengan berubah menjadi mamah, atau papah atau wujud nya yang asli ya itu buta ijo, seperti nya makhluk itu sengaja menakut-nakuti mereka agar keluar dari rumah itu.
"Bu dulu waktu keluarga Ibu yang tinggal di sana walaupun banyak masalah tapi suasana nya lebih adem, sekarang suasana di rumah gerah Bu...setiap hari ada aja yang kesurupan".
Ucap Mas Ami, Mamah mengerutkan kening nya.
(Bersambung)
__ADS_1