
Papah masih mematung mendengar suara merdu dan lembut di belakang nya, perlahan Papah membalikan badan nya, pandangan nya tertuju pada asal suara, terlihat seorang wanita sedang duduk di kursi meja makan tersenyum padanya, wajah nya teramat cantik mengagumkan, di tambah dengan senyuman nya yang membuat setiap orang terhipnotis oleh nya, memakai baju kebaya berwarna emas keperakan yang menyilaukan.
Papah hanya terpaku melihatnya jelas sekali wanita itu yang berada dalam lukisan, kini menjelma hidup di hadapan, Papah mengerutkan kening.
"Kamu...'
Hanya kata itu yang keluar dari mulut nya, wanita itu tersenyum dan bangkit
sambil berkata.
" Iya kang..., ini aku..."
Wanita itu berkata dan mulai melangkah kan kakinya untuk menghampiri Papah...
"Jangan mendekat..., kamu bukan manusia."
Papah mundur satu langkah ke belakang, wanita itu tersenyum lagi dan berkata.
"Apa bedanya...aku dengan manusia?, kamu bisa melihat ku, bisa menyentuh ku, aku nyata bukan sebuah lukisan."
Wanita itu sambil mulai melangkah menghampiri Papah.
"Jangan mendekat...!."
Papah lagi lagi melarang wanita itu mendekat, dan mundur lagi tapi sudah tidak bisa mundur, karena badan nya mentok ke kitchen shet di dapur itu.
"Kenapa kang?, jangan takut aku tidak akan menyakiti mu, aku hanya ingin kau tau aku ini nyata kau bisa menyentuh ku, bukan kah aku mengagumkan seperti kata mu?."
Wanita itu sambil tersenyum, dan terus melangkah menghampiri Papah.
"Siapa kamu?, kenapa kamu ada di sini?, makhluk apa kamu?."
Papah membrondongi wanita itu pertanyaan, sambil wajah nya menoleh ke kiri ke kanan, matanya mencari jalan keluar untuk untuk pergi dari tempat itu, tapi Papah berada d sudut dapur itu terpojok, satu satunya jalan adalah melewati wanita itu.
"Kenapa Kakang takut padaku?, aku hanya seorang wanita Kang."
__ADS_1
Sambil terus melangkah dengan gemulai, wanita itu menghampiri Papah.
" Tidak kau bukan manusia, sedang apa kamu disini, siapa kamu?."
Wanita itu menghentikan langkah nya, dan tersenyum dengan tatapan yang menggoda.
"Aku tinggal di sini Kang..., kau yang datang padaku."
Papah mengerut kan kening nya, lalu menatap wanita itu tajam.
"Aku di sini bukan untuk mu, aku melakukan tugas ku, aku bekerja di sini untuk menfkahi keluarga ku..., jangan ganggu aku!."
Wajah wanita itu berubah menjadi sedih, lalu dia menundukan kepala nya.
" Aku mengganggu mu Kang?, aku pikir kau senang aku temani, kamu tau Kang kau di sini karena ku, karena keinginan ku kehendak ku, aku ingin kamu di sini karena aku kesepian setiap malam sendirian, tidak ada yang menemani ku..."
Papah mengerutkan kening nya.
"Makasud mu apa?, karena keinginan mu?, kehendak mu?, kenapa harus aku?."
"Ketika kamu pertama kali menginjakkan kaki mu di vila ini, siang itu aku melihat mu, aku mulai menyukai mu, aku ingin kau di sini, aku bisikan pada tukang kebun itu untuk menawarkan mu pekerjaan, betapa senang nya aku ketika kamu menyetujui nya.
Dengan gemulai wanita itu melanjutkan langkah nya lagi, menghampiri Papah.
"Jangan mendekat kata ku..., kamu ini makhluk apa..., kenapa harus aku?, jadi semua ini rencana mu?."
Wanita itu menghentikan langkah nya, lalu bergerak menuju meja makan, menggeser kan kursinya, dan duduk di kursi meja makan.
"Baik lah kalo kamu tidak ingin aku mendekat, duduk lah di kursi, bawa kopi mu kemari kita duduk bersama membicarakan nya."
Sambil tersenyum, dan menunjukan kursi yang ada di sebelah nya wanita itu meminta Papah untuk duduk.
"Tidak aku harus bekerja, tugas ku di sini hanya untuk menjaga vila ini, bukan untuk berbicara dengan mu."
Sambil menggelengkan Kepala nya, dan tertawa wanita itu berkata.
__ADS_1
"Tidak Kang..., vila ini tidak perlu dijaga, vila ini sudah ada dalam pengawasan ku, tidak perlu kau jaga, kau di bayar di sini hanya untuk menemani ku, aku tau bayaran yang kau terima sangat kecil, kamu ingin berapa katakan?."
Papah mengerut kan kening nya, dan menatap wanita itu dengan tajam.
"Untuk menemani mu?, tidak aku disini untuk menjaga vila ini, aku di sini bekerja untuk menafkahi keluarga, kalau untuk menemani mu lebih baik aku berhenti sekarang."
Wajah perempuan itu berubah kesal, dan balik menatap tajam Papah.
"Kenapa kamu begitu keras kepala, ayo duduk di sini kataku."
Mendengar perintah wanita itu bukan nya menuruti, Papah malah balik menantang wanita itu.
"Kalo aku tidak mau kamu mau apa?!."
Wanita itu tersenyum, dan menundukan lagi Kepala nya.
"Kenapa Kang?, kamu tidak ingin berbicara dengan ku?, apa aku terlalu jelek untuk mu?, hanya untuk berbicara dengan ku saja kamu tidak mau."
Dengan nada sedih wanita itu berbicara.
"Kamu bukan manusia, kita tidak punya urusan, jangan ganggu aku, aku di sini hanya melakukan tugas ku untuk menafkahi keluarga ku."
Sekali lagi Papah menegaskan kepada wanita itu, untuk tidak mengganggu nya.
"Tapi aku menyukai mu Kang..., aku hanya ingin berbicara dengan mu, ingin mengenal mu, kamu sungguh sungguh tidak ingin mengenal ku?, bahkan kau tidak menanyakan siapa namaku, kemari lah Kang.. duduk di sini kita saling mengenal, jangan khawatir keamanan vila ini aku menjaga nya untuk mu, tidak ada yang luput dari pengwasan ku, ayoo sini Kang..., duduk lah..., kita saling mengenal."
Kembali dengan suaranya yang merdu, dan lemah lembut wanita itu merayu Papah dengan tatapan menggoda, dan senyum yang indah di bibirnya, mencoba untuk melunakan hati Papah, berharap keinginan nya terpenuhi, Papah terpatung melihat pesona wanita itu, lelaki manapun tidak akan mampu menolak godaan wanita yang mengagumkan di hadapan nya ini, suaranya yang merdu, dan lembut wajahnya yang cantik jelita, pandangan nya yang menggoda, dengan senyuman yang membuatnya semakin menyilaukan siapa pun yang melihatnya.
Papah belum pernah melihat wanita yang secantik, dan mengagumkan seperti di hadapan nya ini, tangan wanita itu melambai-lambai meminta Papah duduk di kursi sebelah nya.
"Ayo Kang ke sini duduk di sini, aku hanya ingin berbicara dengan mu kita saling mengenal, aku tidak akan menyakiti mu, aku tidak akan mengganggu mu, apa pun yang kau ingin kan akan aku berikan, aku hanya ingin berbicara dengan mu, mengenal mu, ayoo Kang.... "
Papah terhipnotis oleh suara nya, oleh tatapan nya, dan senyuman nya yang menggoda, perlahan Papah bergerak, kaki nya melangkah, dengan gontai tapi pasti dia menuju meja makan tempat dimana wanita itu duduk menunggu nya, wanita itu menggerakkan kursi nya dengan tersenyum, dan masih terduduk dia meraih tangan Papah mengajak nya duduk disebelah nya, tangan wanita itu begitu lembut dan hangat, Papah terduduk masih menatap terpukau seakan terhipnotis oleh kecantikan di hadapan nya, yang mengagumkan.
(Bersambung)
__ADS_1