RUMAH BEKAS PESUGIHAN BUTA IJo

RUMAH BEKAS PESUGIHAN BUTA IJo
Bab 38 dia bukan Papah ku.


__ADS_3

Dengan gelisah Papah menunggu apa yang akan terjadi, Apa yang harus di lakukan nya, Papah berpikir untuk menyusul dirinya yang sudah pergi ke kamar, untuk membawa nya kembali ke ruang keluarga menemani Om Toni.


Apa mungkin?, setelah tadi dia berusaha berbicara kepada dirinya yang mengacuh kan nya, bagaimana cara nya?, Apa aku bisa berbuat sesuatu di sini bila terjadi sesuatu pikir Papah.


Ketika Papah sedang sibuk dengan pikiran nya sendiri, perhatian nya teralih kan oleh sesuatu yang muncul di atas langit langit ruangan, sebuah tangan yang besar hitam, dan berbulu, keluar menyentuh sopa, tangan itu membalikan sopa sehingga membuat Om Toni terjungkal dari sopa itu, dan membangun kan nya yang sedang terlelap tidur.


Mata Papah terbelalak melihat tangan besar berbulu itu membalikan sopa, Papah melihat Om Toni yang terbangun, dan meringis, lalu Om Toni terlihat shock setelah melihat makhluk di hadapan nya.


Makhluk besar hitam legam berbulu, wajah nya sangat menyeramkan mata nya merah menyala mulut nya menyeringai menunjukan gigi nya yang bertaring, kepala nya bertanduk, Om Toni terlihat shock mematung, dan tak bisa berkata apa apa,,.


"Aaaaaastagfirullah..".


Ucap Om Toni dengan terbata-bata, makhluk itu mendengar ucapan Om Toni terlihat marah, dan menggerak kan tangan nya ke arah Om Toni membuat badan Om Toni terpelanting menimpa lemari, tivi, dan barang barang yang ada di lemari berjatuhan.


Om Toni sejenak tidak bergerak, lalu menggeliat, dan merintih merasakan badan nya terasa remuk, perlahan Om Toni bangun, Papah yang menyaksikan smua itu matanya terbelalak, shock, badan nya mematung tak bisa bergerak, dan tak bisa berkata kata, ketika melihat buta itu menggerakkan tangan nya membuat Om Toni terjungkal dengan keras menimpa lemari Papah berteriak.


"Toniiiiiiii".


Papah menghampiri Om Toni yang tidak bergerak, dan ketika Om Toni mulai menggeliat, dan merintih kesakitan Papah berkata.


"lariii lariiii tooon lariiiii..".


Om Toni bergerak bangun, dan dengan tertatih berlari pergi meninggalkan ruangan keluarga, membuka pintu ruang utama, dan berhasil keluar, menghampiri mobilnya, dan masuk ke dalam mobil.


Papah mengikuti, dan masuk ke dalam mobil bersama Om Toni, Om Toni melajukan mobil nya dengan kecepatan tinggi, terdengar suara makhluk itu tertawa dengan keras.

__ADS_1


"HAHaHaHaHaHa...... ".


Makhluk itu terdengar tertawa dengan sangat keras, seperti nya makhluk itu merasa sangat puas, Om Toni makin menaikan kecepatan mobil nya, papah yang duduk di sebelah Om Toni menyadari itu.


"Ton istigfar Ton sadar Ton.. kamu sudah selamat Makhluk itu tidak akan mengejar Ton... turunkan kecepatan mobil nya Ton jangan...sudah Ton jangan di gas lagi...".


Tapi Om Toni tidak mendengar, ketika Papah sedang berusaha menyadarkan Om Toni, Papah melihat wajah Om Toni, yang terlihat terkejut mata nya terbelalak, Papah membalikkan badan nya melihat ke depan, dan Papah melihat ada seorang wanita berdiri di tengah jalan.


Itu yang membuat Om Toni menghentikan mobil nya dengan tiba tiba, mengerem nya, dan membuat nya terpelanting ke depan menembus kaca depan mobil nya.


Om Toni berada di aspal, sedangkan mobil nya terjungkal jungkal, dan Papah yang ada di dalam mobil kini sudah ada di luar mobil, Papah berdiri di antara mobil, Om Toni, dan wanita itu yang sedang histeris berteriak, membuat orang orang yang sudah tertidur lelap, terbangun dan berhamburan keluar.


Bukan hanya teriakan wanita itu yang membuat orang-orang di sekitar berhamburan keluar tapi juga, karena suara rem yang mencekit dan mobil yang beberapa kali terjungkal siapa wanita itu?, tidak bukan hantu, wanita itu hanya seorang tuna wisma yang akan menyerbang jalan untuk tidur di depan toko yang biasa dia tiduri karena tidak punya rumah, Papah berlari menghampiri Om Toni yang sudah di kerumini orang-orang.


Papah terbangun dari tidur, karena Mamah membangun kan nya, karena mendengar Papah berteriak teriak memanggil nama Om Toni.


"Pah bangun Pah.. istighfar Pah...".


Papah terbangun, Mamah memberikan segelas air untuk menenangkan Papah.


"Minum air nya... istighfar... Papah mimpi...".


Papah meminum air nya, dan Beristighfar.


"Astaghfirullah hal ajim..., itu bukan mimpi, ".

__ADS_1


Ucap Papah.


Ke esokan hari, dan hari hari berikutnya Papah tidak banyak bicara, dan sering menyendiri, siang hari Papah pergi ke rumah Om Toni, dan pulang ke rumah setelah beres tahlil, Papah sudah mengembalikan uang yg di berikan pemilik vila untuk bayaran nya minggu depan.


Pada hari Minggu sebelum berangkat ke rumah Om Toni, Papah menghampiri vila itu, dan bertemu dengan pemiliknya, pemilik vila mengira Papah datang untuk meminjam uang, tapi Papah memutuskan untuk berhenti menjaga vila, dan mengembalikan uang bayaran di muka, pemilik vila itu terlihat tidak senang, dan kecewa tapi tidak bisa memaksa Papah harus bekerja untuk nya.


Hari demi hari ku rasakan, Papah banyak berubah, tidak seperti Papah ku yang dulu lagi, Papah ku yang hangat penyayang sering bercerita, bermain, bercanda dengan Anak-anak nya, kini Papah dingin, Papah yang sekarang sibuk dengan pekerjaan baru nya di Dealer milik Babeh, Ayah nya Om Toni, Papah pergi pagi pulang malam, tidak pernah sarapan atau pun makan malam bersama lagi, aku hanya melihat nya pagi pagi, itu pun Papah terburu buru tidak menyempatkan untuk sarapan bersama.


Tahun itu aku mulai masuk sekolah SD, dari pertama masuk sekolah Papah belum pernah mengantarkan aku ke sekolah, padahal dulu aku sangat iri ke kedua Kakak ku yang sekolah di antara Papah, dulu Papah pernah bilang.


"Cepet gede nanti Papah antar ke Sekolah".


Aku kecewa, tapi aku tidak mengatakan nya, aku menelpon Kakek ku untuk menjemput ku, Aku bilang aku ingin sekolah di Bogor, ingin tinggal bersama Kakek, dan Nenek ku, tapi aku tidak bilang kalo aku sedih, dan kecewa karena Papah sudah berubah seperti tidak memperhatikan, dan menyayangi kami lagi.


Walaupun Papah ada tapi kami merasa Papah tidak bersama kami, Kakek menyetujui lalu datang menjemput, dan Papah mengijinkan, seakan Papah tidak perduli aku ada atau pun tidak di rumah itu, itulah perasaan ku saat itu.


Satu thn berlalu, Kakek atau tante ku yang selalu mengantarkan aku ke sekolah, setiap hari Kakek mengajar kan aku pelajaran di sekolah membuat PR bersama Kakek, sosok Papah yang aku harap kan ada pada diri Kakek.


Kakek mengganti semua peran Papah ku, mengobati kekecewaan ku namun, Mamah meminta Kakek untuk membawa ku kembali ke Bandung ke rumah kami, dan memindahkan lagi sekolah ku.


Waktu itu aku menginjak kelas 3 SD aku kembali lagi ke Bandung, aku berharap Papah sudah kembali seperti Papah yang dulu, tapi aku salah ternyata Papah masih seperti satu tahun yang lalu.


Ketika aku datang tak ada Pelukan atau sapaan hangat dari nya atau rindu kepada anak yang satu tahun tidak bertemu... aku lari ke kamar ku dan menangis, aku merasa dia bukan Papah ku.


(Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2