
Papah masih terduduk lemas di sopa, Papah melihat jam dinding d ruangan itu sudah menunjukkan jam 3:39 dini hari, papah bangkit dari duduk nya berjalan menuju dapur mengambil segelas air putih di teko, setelah meminumnya papah berjalan menuju wastafel untuk membasuh wajah nya, papah berjalan lagi menuju ruang tengah melewati lukisan itu papah menatap tajam lukisan itu, kini semua nya terjawab ternyata pemilik vila ini bersekutu dengan jin untuk mendapatkan harta, tapi papah masih penasaran bagaimana wujud sesungguhnya jin ini, terngiang di telinga nya perkataan Mayang Sari yang membujuk nya untuk bersekutu dengan nya, terbayang keluarga nya isterinya anak anaknya yang selama ini kesusahan, kekurangan dalam kemiskinan yang hidup seadanya walaupun mereka menghuni rumah mewah tapi jangan kan untuk jajan sudah bisa makan dua kali sehari pun mereka dengan seadanya untung istrinya dapat mengatur keuangan dengan baik membuat masakan yang biasa saja tapi di tangan nya masakan nya bisa menjadi enak, anak anaknya yang tidak manja seadanya mereka mengerti keadaan orang tua, papah menghela napas, sudah lama dia tidak pernah mengajak anak anak nya pergi jalan jalan, berwisata seperti dulu, sekarang jangan kan mengajak mereka jalan jalan berwisata kalo pun ada uang dia harus membayar hutang nya kepada Toni, teringat perkataan Toni yang mengatakan dia bisa membahagiakan istri dan anak anak nya.
__ADS_1
" Yah aku suami yang tidak bisa membahagiakan istri dan anak anak ku"
__ADS_1
Batin papah, Papah menghela napas , tapi Papah yakin semua ada jalan keluar nya semoga dengan menjual rumah nya dia bisa memperbaikinya kehidupan nya, setidaknya hidup di sebuah desa dengan rumah sederhana tapi mempunyai penghasilan dari usaha kecil kecilan, tidak punya hutang dan tanpa teror teror lagi dari makhluk ghaib, hanya itu jalan keluar nya, harap Papah dalam hatinya dia bisa mendapatkan lagi perkerjaan seperti dulu, di sebuah kantor perbankan swasta sesuai dengan bidang nya yang bisa menunjang kehidupan nya dan keluarga nya, tidak pernah terbersit sedikit pun di hati Papah untuk menggadaikan iman nya, papah bersyukur atas smua anugrah yang telah Allah berikan walau pun dengan segala kekurangan istri dan anak anak yang soleh dan soleha yang sabar dan saling melindungi, adalah harta yang tidak semua orang seperti dirinya bisa mendapatkan nya,Papah menghentikan lamunan nya dan melangkah kakinya berjalan menuju ruang tengah, mematikan tivi yang dari tadi menyala lalu Papah menuju ruang utama membuka pintu ruang utama dan melangkah kan kaki nya keluar, mengunci kembali pintu ruang utama ,papah berdiri d depan ruang utama menunggu adzan subuh berkumandang ,kini adzan subuh untuk Papah selain tanda panggilan untuk solat Subuh tapi tanda bahwa tugas nya sudah selesai, seperti biasa sesudah adzan subuh berkumandang beberapa menit kemudian Papah segera berjalan menuju gerbang membuka pintu gerbang dan menunggu Bibi datang untuk memberikan kunci vila ini ke Bibi, setelah memberikan kunci Papah pamit dan berjalan menuju rumah nya, istri nya seperti biasa menyambut kedatangan nya dengan senyuman memberikan kedamaian di hati Papah,Papah berpikir apa dia harus menceritakan kejadian malam ini pada istrinya? tapi istrinya td siang baru mendapatkan hal yang tidak menyenangkan seperti nya tidak tepat nya mmemberitahukan istrinya sekarang hanya akan memberikan kekhawatiran pada istrinya,setelah solat subuh Papah tidur, dalam tidur nya dia bermimpi bertemu dengan Mayang Sari wanita dalam lukisan itu
__ADS_1