
Kami pun solat subuh berjama'ah, sebelumnya Mamah membangun kan Julian yang masih tertidur untuk solat berjemaah dan menjadi Imam, setelah solat berjamaah, seperti biasa kami melakukan rutinitas di pagi hari itu.
Membuka semua gorden dan jendela rumah walaupun matahari belum muncul Meyambut pagi, kami membereskan tempat tidur masing-masing, dan membantu Mamah bersih-bersih rumah.
Walaupun hari itu hari libur sekolah tapi sudah jadi kebiasaan kami, setelah solat subuh runtinitas pagi pun di mulai, ketika Mamah sedang menyiapkan sarapan pagi, aku mendengar adik bungsu ku menangis.
Aku, Teh Eli, dan Julian ketika mendengar suara adik bungsu kami menangis, kami saling pandang lalu berlari saling mendahului ke kamar Mamah untuk menggendong adik bungsu kami, kami senang ketika adik bungsu kami bangun.
Kami selalu berebutan untuk menggendong adik bungsu kami, walaupun akhirnya Teh Eli yang di percaya oleh Mamah untuk menggendong nya, Mamah akan berteriak dan bilang.
"Hati-hati itu bayi bukan boneka, Sama Teh Eli saja di gendong nya".
Mamah akan berkata seperti itu ketika mendengar kami berebutan ingin menggendong adik bungsu kami, setelah mendengar perkataan Mamah barulah kami berhenti rebutan untuk menggendong adik bungsu ku azis, lalu aku dan Julian akan menghampiri adik perempuan kami yang sedang tertidur di tempat tidur Mamah.
Kami akan membangunkan nya, menciumi nya membuat nya geli yang akhirnya adik perempuan ku Neng Yeni terbangun, mungkin karena aku dan Julian sudah mulai menginjak remaja ketika kami mempunyai adik-adik yang masih bayi, kami sudah bisa menjaga adik kami dan kami senang punya adik, kami menikmati moment itu kami sangat menyayangi adik-adik kami.
Setelah Mamah selesai membuat sarapan, kami pun di panggil Mamah untuk sarapan bersama, pagi itu selera makan ku tidak seperti biasanya, karena pagi itu aku mengantuk ingin tidur, ternyata bukan hanya aku Teh Eli juga sama, dan Julian menyadari itu, Julian merasa aneh kenapa aku, dan Teh Eli terlihat mengantuk.
"Teh Eli, Teh Liya,Kalian kenapa?, kaya yang ngantuk gitu makan nya, memang nya kalian semalam gak tidur?, Mah tuh Mah kaya nya Teh Eli sama Teh Liya semalam bergadang deh".
Ucap Julian dan niat nya dia ingin mengadukan kami ke Mamah, Mamah menoleh pada ku dan Teh Eli.
"Setelah solat dhuha kalian tidur".
Ucap Mamah yang sudah tau kenapa aku, dan Teh Eli merasa mengantuk pagi itu, karena kejadian semalam, berarti semalam memang bukan mimpi, kami tidak tertidur, kalo kejadian semalam mimpi berarti kami tertidur dan tidak akan mengantuk pagi ini.
Aku, dan Teh Eli mengangguk, menyetujui usulan Mamah karena kami memang merasa mengantuk sekali, beberapa kali kami menguap di meja makan, sambil tetap menghabiskan makanan yang Mamah buat untuk kami sarapan.
"Ko Mamah gak marah sih, Teh Eli sama Teh Liya tuh ngantuk pagi-pagi karena semalam pasti bergadang bareng di kamar nya Teh Eli atau Teh Liya, pasti ngegosip sampe lupa waktu semaleman bergadang tuh Mah".
Ucap Julian masih usaha, agar Mamah memarahi aku, dan Teh Eli, aku, dan teh Eli kami melirik ke Julian dengan sinis, setelah sarapan kami mandi dan solat dhuha, setelah solat sunat dhuha aku masih terduduk setelah salam membaca doa solat dhuha.
اَللّٰهُمَّ اِنَّ الضُّحَآءَ ضُحَاءُكَ وَالْبَهَاءَ بَهَاءُكَ وَالْجَمَالَ جَمَالُكَ وَالْقُوَّةَ قُوَّتُكَ وَالْقُدْرَةَ قُدْرَتُكَ وَالْعِصْمَةَ عِصْمَتُكَ
اَللّٰهُمَّ اِنْ كَانَ رِزْقِى فِى السَّمَآءِ فَأَنْزِلْهُ وَاِنْ كَانَ فِى اْلاَرْضِ فَأَخْرِجْهُ وَاِنْ كَانَ مُعَسَّرًا فَيَسِّرْهُ وَاِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ وَاِنْ كَانَ بَعِيْدًا فَقَرِّبْهُ بِحَقِّ ضُحَاءِكَ وَبَهَاءِكَ وَجَمَالِكَ وَقُوَّتِكَ وَقُدْرَتِكَ آتِنِىْ مَآاَتَيْتَ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ
Allahumma innad-duhaa'a duhaa'uka wal bahaa'a bahaa'uka wal jamaala jamaaluka wal quwwata quwwatuka wal-qudrota qudratuka wal 'ismata 'ismatuka.
Allaahumma in kaana rizqii fis-samaa'i fa anzilhu, wa in kaana fil ardi fa akhrijhu, wa in kaana mu'assiran fa yassirhu, wa in kaana haraaman fa tahhirhu wa in kaana ba'iidan fa qarribhu bi haqqi duhaa'ika wa bahaa'ika wa jamaalika wa quwwatika wa qudratika, aatinii maa ataita 'ibaadakash-shalihiin.
Artinya :
"Ya Allah, bahwasanya waktu Dhuha itu waktu dluhaMu, kecantikan ialah kecantikanMu, keindahan itu keindahanMu, kekuatan itu kekuatanMu, kekuasaan itu kekuasaanMu, dan perlindungan itu, perlindunganMu".
"Ya Allah, jika rizkiku masih diatas langit, turunkanlah .dan jika ada di dalam bumi, keluarkanlah, jika sukar mudahkanlah, jika haram sucikanlah, jika masih jauh dekatkanlah, berkat waktu dluha, keagungan, keindahan, kekuatan dan kekuasaanMu, limpahkanlah kepada kami segala yang telah Engkau limpahkan
kepada hamba-hamba-Mu yang shaleh".
Masih menggunakan mukena ku, aku gapai lunglai tempat tidur ku ketika kepala ku menempel ke bantal aku langsung tertidur,
aku terbangunkan oleh Ratih yang sudah berada di kamar ku entah sejak kapan.
__ADS_1
"Heeii banguunnn, iihh kesel ah aku pulang nih... liyaaaa!".
Ucap Ratih sambil menggoyang- goyang kan pundak ku, aku melirik ke jam dinding kamar ku sudah menunjukan jam 11:30 siang.
"Iyaa iyaa aku bangun.. ".
Ucap ku lalu bangkit dan duduk di tempat tidur ku.
"Hmm liburan nya tidur teruuus, tapi gak pake mukena juga kali tidurnya".
Ucap Ratih, sambil melirik padaku, aku baru tersadar aku masih memakai mukena selepas solat dhuha tadi.
"Astaghfirullah hal azim, aku belum sempet buka mukena tadi ngantuk banget, udah lama kamu di sini Ra?".
Ucap ku sambil membuka mukena yang masih aku pake.
"Lumayan, abis nya kamu aku tunggu-tungguin katanya mau main ke rumah tapi gak nongol nongol, eh li.. aku baca buku ini, ini kan tulisan kamu, kamu bikin novel?".
Ucap Ratih lagi, lalu menanyakan buku novel yang aku buat ketika aku iseng, ketika terlintas sebuah alur cerita waktu itu aku menulis nya di sebuah buku, karena aku belum punya handphone lagi pula dulu gak ada applikasi platform seperti sekarang, yang memudahkan tersalurkan nya bakat-bakat penulis, aku mengangguk mengiyakan pertanyaan Ratih.
"Kenapa kamu gak coba kirim ke penerbit?".
Tanya Ratih.
" Serius?".
Kata ku sambil tersenyum sinis.
Ucap Ratih ingin meyakinkan ku.
" Aku cuman iseng Ratih... aku bukan penulis novel, aku gak tau caranya gimana jadi penulis novel yang bisa di terbitkan buku nya atau mengirim ke penerbit itu gimana".
Ucap ku sambil berdiri membereskan kan sejadah, dan melipat mukena yang baru saja ku buka sehabis tadi aku bawa tidur selepas solat dhuha.
"Gampang lah kita cari alamat penerbit".
"Dan berharap novel ku diterbitkan menjadi sebuah buku? aku gak mau mimpi kejauhan, penerbit lebih memilih cerita dari penulis novel yang udah punya nama, dari pada nerima tulisan novel ku yang belum tentu laku di pasaran dan di Terima pembaca, penerbit gak kan mau ambil resiko udah keluar modal untuk menerbitkan novel ku dan ternyata novel ku gak laku, mending mereka nerbitin novel karya penulis terkenal udah tau keuntungan nya".
Ucap ku pesimis.
"Lah ko pesimis kaya gitu".
Ucap Ratih kecewa.
"Realistis bukan pesimis".
Ucap ku lagi
"Terserah, aku boleh pinjem buku nya yah?, aku mau baca di rumah, aku belum selesai baca nya penasaran kelanjutan nya, aku suka alur ceritanya".
Aku tersenyum dan mengangguk mengijinkan Ratih meminjam buku tulisan novel yang ku buat sendiri dengan tulisan tangan ku, entahlah apa Ratih sungguh menyukai cerita novel yang ku buat atau dia hanya ingin membuat ku senang?.
__ADS_1
Tapi untuk apa dia ingin membuat ku senang?, aku sedang tidak bersedih, dan Ratih pun bukan seorang teman penjilat, kami berteman apa ada nya saling mengingatkan saling menerima saling mendukung.
"Liyaa.. Liyaa".
Terdengar suara Mamah memanggil ku dari luar kamar ku.
" Iya Mah.. "
Aku menjawab pangilan Mamah, dan membuka pintu kamar ku.
"Bisa tolong Mamah?, kamu pergi ke rumah Tante Ana anterin jamu bersalin ini buat Tante Ana".
Ucap Mamah sambil menunjukkan sebuah kresek hitam pada ku.
"Iya Mah, bentar Liya ganti baju dulu".
Ucap ku menyanggupi, lalu kembali menutup pintu kamar ku.
"Ra kamu mau ikut ke rumah Tante Ana gak? atau mau nungguin di sini?".
Tanya ku Pada Ratih yang sedang menyisir rambut nya di depan kaca rias ku.
"Liat gak aku lagi nyisir rambut, berarti ini aku mau ikut kamu, gak usah kamu bilang juga aku tau kamu mau pergi ke rumah Tante Ana".
Aku hanya tersenyum mendengar jawaban Ratih, lalu aku mengganti pakaian dan mengikat rambut ku, kami pun keluar kamar, aku mengambil jamu yang akan diberikan ke Tante Ana dari Mamah.
"Udah solat dzuhur?".
Tanya Mamah, karena memang sudah waktunya solat dzuhur, ketika aku mau pergi ke rumah Tante Ana.
"Nanti aja di rumah Tante Ana aku ikut solat dzuhur Mah".
Kata ku karena sudah terlanjur ganti baju, dan udah siap berangkat.
"Kamu juga belum makan siang Liya, tadi kamu juga sarapan pagi-pagi cuman sedikit, kamu gak lapar?".
Tanya Mamah lagi.
"Tanggung Mah, nanti aja deh pulang dari rumah Tante Ana aku makan nya".
Ucap ku lagi, Mamah pun mengangguk dan memberikan keresek hitam yang berisi jamu bersalin untuk Tante Ana, aku pun pergi ke rumah tante Ana bersama Ratih, siang itu cuaca sangat panas sekali, sekitar pukul 12:30.
Aku memutuskan berjalan memotong tidak seperti jalan biasanya berjalan di pinggir jalan raya ke rumah Tante Ana yang melewati pasar Lembang, Karena jalan begitu panas aku memutuskan jalan ke tempat yang melewati perkampungan.
Tapi tetap saja panas terasa menyengat siang itu, apa lagi ketika aku berjalan di jalan yang agak menanjak, di sebelah kanan jalan yang menanjak itu, ada kebun dan pemakaman umum, dan sebuah pohon ceringin besar.
Ketika aku sedang berjalan dengan napas yang tersenggal-senggal, karena jalan menanjak, dari arah depan kami ada seorang Nenek yang sedang berjalan menuruni jalan, dan aku berjalan menanjak, aku melihat Nenek itu, baju nya sangat lusuh.
Nenek itu memakai atasan kebaya dan bawahan kain samping yang sudah lusuh dan kulit nya...tangan nya penuh dengan korengan, aku pun melihat wajah nya, wajah nya yang sudah keriput itu pun sama penuh korengan, aku melihat nya dengan rasa iba, tapi seperti nya Nenek itu tidak menyukai aku mengasihani nya, Nenek itu menatap ku dengan sinis.
(Bersambung)
__ADS_1