S'SMK

S'SMK
~Indah~


__ADS_3

" Indahan juga orang yang muji ciptaannya......." Celetuk dari seorang pemuda yang kemarin tidak menjawab pertanyaan Ayu.


Ayu dan Viara menoleh kesumber suwara mereka ingin mengetahui siapa sebenarnya orang itu.


" Lo siapa si sebenernya" Pertanyaan yang muncul dari mulut Viara.


Pemuda itu hanya menatap pemandangan disekelilingnya tak menghiraukan dua gadis manis itu.


" Apa kita kenal sama lo?" sekarang Ayu yang bertanya sedikit berjalan mendekati pemuda itu.


Pemuda menatap sedikit Ayu dan menalingkan wajahnya kembali lalu pergi meninggalkannya Ayu. Ayu ingin mengejar pemuda yang berperawakan tinggi itu tetapi langkahnya terhenti saat ia menginjak sebuah benda. Ia mengangkat ujung sepatu yang ia kenakan diambilah kalung berwarna perak dengan bandul huruf B menambah kecantikan kalung itu, Ayu sangat yakin bahwa pemuda itu pemilik kalung ini saat ia menegakkan pandagannya kembali sosok itu sudah hilang dari penglihatannya.


Hari semakin sore para pendaki memutuskan untuk kembali mengingat cuaca yang tiba- tiba berubah. Para pendaki turun melalui jalur yang sama pada saat awal mendaki. Perasaan cemas Ayu kembali timbul hujan mulai turun. Entah kenapa Ayu yang biasanya tersenyum bahagia karena hujan sekarang tidak nampak senyum manis itu. Hujan mengguyur semakin deras disaat para pendaki melewati trek yang curam. Ayu berada dibelakang Viara dan dibelakangnya dua pemuda aneh bermasker.


Ayu yang sudah kelelahan semenjak tadi ia tak melihat bahwa kakinya menginjak batu yang rapuh seketika " Viaraaaa......." Swara itu mengundang perhatian dari semua pendaki.


Viara langsung melihat kebelakang ia terkejut ia kira Ayu terjatuh sendiri tapi salah satu pemuda itu juga ikut terjatuh bersamanya membuat semua pendaki terlihat kepanikan jurang itu sangat dalam dan curam ditambah hujan deras yang masih mengguyur membuat pencarian semakin sulit.


Sementara itu Ayu dan pemuda misterius itu masih terjebak didalam jurang itu. Pemuda itu membuka matanya ia melihat sekeliling pandangannya terhenti pada gadis mungil disampingnya. Ia berusaha mendudukkan badannya lehernya terasa sakit ia memijat- mijat tengkuknya yang kaku dan berusaha menyadarkan Ayu.Ia menepuk- nepuk pipi Ayu berusaha agar Ayu bisa sadar.


Pemuda memandangi wajah ayu " Bangun gadis mungilku...." ucap pemuda itu.


Ayu yang samar-samar mendengar swara itu berusaha membuks matanya.

__ADS_1


"akhirnya bangun juga mungilku" Pemuda itu menyadari Ayu yang tersadar tapi tak berselang lama gadis yang ada di pangkuannya itu memejamkan matanya kembali tampak wajahnya sangat pucat dan badannya sangat dingin karena hari yang dudah malam. Dibukalah jaketnya dan memakaikannya ke tubuh Ayu.


"Ayu, mungilku kuat ya" Bisikan pemuda itu pada Ayu, Ayu hanya mendengar samar ia berat membuka mata dan mulutnya. Pemuda itu mengambil ponsel yang berada di sakunya ia berusaha mencari pertolongan tapi tidak ada signal sama sekali, yang bisa ia lakukan adalah berdoa meminta pertolongan dan menjaga Ayu agar selalu hangat.


Sebenarnya pemuda itu berinisiatif untuk mencari pertolongan tetapi kakinya terasa sakit untuk sekedar berdiri saja ia tak kuat sudah delapan jam mereka disana pemuda itu mendengar samar-samar terikan orang, mungkin itu para teman-temannya dan penjaga pos ia segera menyahuti dengan swara yang serak ia berusaha sekuat tenaganya. "Toloooongg.........."


" Pak berhenti pak itu ada yang minta tolong mungkin itu mereka pak" celetuk Rendy seorang pendaki rombongan Ayu dan Viara.


Rombongan itupun mencari sumber swara itu dan akhirnya mereka menemukan kedua orang itu.


"Ayuuuu...Pak itu mereka....Pak cepet tolongin temen saya " ucap Viara yang sedari tadi cemas.


Pemuda itu dibantu oleh temannya yang sama-sama mengenakan masker. " Lo nggak papa kan broo".


"Gue nggak papa mending kita langsung bawa dia pergi dari sini". Pemuda itu menegakkan tubuhnya.


Ayu langsung dibawa keklinik yang tidak terlalu jauh, hanya menempuh jarak 30 menit ia langsung ditangani oleh dokter. Viara yang masih merutuki kesalahannya padahal Ayu sudah melarangnya tapi ia tetep kekuh ingin muncak dan semua ini akibat dirinya.


Dokter keluar dari ruang pemeriksaan, Viara langsung menghampiri sang doter ia menanyakan keadaan Ayu. Dokter menjawab bahwa Ayu baik-baik saja ia pingsan karena perutnya yang kosong dan ia mengalami shok ringan dokter pun undur diri dari situ. Viara langsung masuk menemui sahabatnya.


'' Assalamu'alaikum...."


"Wa'alaikumussalam Vi...."

__ADS_1


" Ay gue minta maaf sama lo, gue nggak dengerin kata lo jadi kek gini deh akibatnya.


"Ogah males gue maafin lo"


" Idiiieh masih sakit juga udah judes lagi"


Mereka berdua pun tertawa bersama, keadaan Ayu mulai membaik hingga ia bisa pulang pagi ini. Di dalam mobil Ayu mengeluarkan benda yang mengganggu benakkya sedari pulang dari klinik.


" Wiiih Ay kapan lo beli kalung kek gitu, setau gue lo kan nggak suka ama kek gituan" Viara yang baru masuk taxi itu langsung duduk disamping sahabatnya.


" Mm Vi lo tau nggak siap yang kematin jatuh ama gue?" Ayu menggenggam kedua kalung itu.


"Pemuda yang pake masker yang kemarin pake topi merah, kenapa si" jawab Viara santai.


" Jadi ini kalungnya" Ayu mengangkat kalung perak cantik itu persis seperti yang kemarin bedanya sekarang liontinnya bebentuk huruf R.


"La terus itu yang satunya punya siapa?" Viara masih penasaran.


" Ini milik pemuda yang topi biru" gumam Ayu.


" Ay kok gue ngrasa ada yang aneh deh sama kedua laki-laki kemaren".


Belum sempat Ayu menjawab matanya sudah tertuju pada sosok pria paruh baya yang ada didalam mobil disamping taxinya itu.

__ADS_1


" Diiaa, Nggak-nggak mungkin........"


Bersambung........


__ADS_2