
" Gue aja sama lo Ay" celetuk Dimas menghampiri Ayu.
" Tumben lo nggak mau sama gue?" ujar Fa yang hanya dibalas senyuman oleh Dimas dan berlalu menyusul Ayu yang sudah berlenggang pergi seperti tidak ada yang ditakutkan.
" Udah Bro gue disini" menepuk pundah Fa mereka berjalan dengan hati-hati takut jika ada yang mengetahui, mereka pasti habis hari ini.
Berbeda dengan Andree dan Fa, Ayu dan Dimas berjalan seperti biasa menaiki tangga dan memasuki kelas meletakkan tas mereka. Mereka pun keluar berjalan menuruni tangga hingga mereka dikagetkan swara yang berasal dari arah belakang.
" Ayu,Dimas kalian bolos upacara?" Swara itu beradal dari Pak Sar guru yang mereka hindari.
Mereka membalikkan badan secara bersamaan Keringat Dimas telah membasahi wajah tampannya tak tau lagi ingin beralasan apa karena Pak Sar sudah kebal dengan berbagai alasannya.
" Astaghfirllahal'adzim, kaget saya Pak kalo dateng itu salam dulu Pak, Kalo Dimas kenapa-napa gimana Pak diakan punya jantung" Ayu dan Dimas menggeleng dan ia tersadar apa yang dikatakan Ayu.
"Lo apa-apaan si gue nggak punya penyakit jantung, lo do'a in gue jantungan?" bisik Dimas sedikit menunduk karena tinggi Ayu hanya sebatas bahu.
__ADS_1
Ayu mendongakkan wajahnya " Siapa yang do'ain lo jantungan si gue cuma bilang lo punya jantung, emang ada yang salah ama ucapan gue, kalo lo nggak punya jantung gimana lo bisa hidup coba?"Dimas berfikir sejenak memikirkan itu.
"Assalamu'alaikum cantik, ganteng kalian bolos upacara?" tanya Pak Sar menurunkan nadanya.
" Wa'alaikumussalam wr.wb. Pak Sar" jawab keduanya kompak " Mm, Bapak baru dateng ya, awas lo pak kalo sampe Bu Izmi tau bapak kena hukuman lho?" tanya Dimas.
"Kamu ngancem saya, saya tau kalian juga telat kan?" sarkas Pak Sar ingin menabok Dimas menggunakan tasnya.
" Kita nggak ngancem ya pak, emang bapak tau kalo kita telat buktinya apa? kalo bapak si udah ketahuan telat nah itu masih nenteng tas mau masuk ruangan, " Cekreeek........... Dimas mempotret Pak Sar sebagai barang bukti.
" Yaudah kalian ngapain disini kelapangan ikut upacara!" Pak Sar yang habis meletakkan tasnya mendapati keduanya masih ada di depan ruangannya.
" Kita takut pak, soalnya kan upacaranya udah mulai kita takut dihukum dikira kita telat padahalkan kita nggak telat pak" Ucap Ayu memohon pada Pak Sar.
" Yaudah saya bantu tapi dengan syarat kalo kalian berdua nggak nglaporin saya ingat" Pak Sar berjalan terlebib dahulu. Dimas Ayu pun bertos angin ria, iya bertos angin karena tangan mereka tidak menempel satu sama lain mereka masih ingat batasannya walau hanya beetos atau bersalaman.Mereka berdua pun mengekori Pak Sar menuju ke lapangan
__ADS_1
Sesampainya dilapangan ternyata Fauzi dan Andree sudah berdiri di samping Bu Izmi. Sudah pasti mereka ketahuan oleh guru itu yang killernya lebih dari Pak Sar.
Fauzi yang melihat Ayu dan Dimas dibelakang Pak Sar mengira bahwa ia akan dihukum sama sepertinya.
" Hahah ternyata otak lo juga nggak pinter-pinter amat nyatanya lo juga kena hukum"
"Sory ya abang kali ini lo salah kira, gue sama Dimas....."
" Ayu Dimas kalian baris bersama teman kelas kalian" Ucapan Pak Sar memotong perkataan Ayu.
Andree dan Fa hanya terdiam mendengar itu, melihat keduanya menghampiri baris teman sekelasnya.
Upacara telah usai semua murid meninggalkan lapangan kecuali Andree dan Fa karena mereka dihukum oleh Bu Izmi mencabuti rumput disekitar lapangan. Sontak hal itu menarik perhatian dari semua murid apalagi kaum Hawa yang bersorak ingin menggantikan posisi mereka berdua. Tak jarang juga ada yang membantu mereka mencabuti rumput, lama-kelamaan kerumunan itu tambah banyak Andree dan Fa tidak tahan dengan gadis-gadis gatel yang membuat mereka tidak bisa bergerak leluasa.
Andree dan Fa pun memilih kabur ketika kerumunan itu bertambah banyak lagi. Mereka berdua menuju kekelas mendapati Ayu,Dimas,Viara dan Zahra mentertawakan mereka berdua yang baru masuk dengan nafas ngos-ngosan.
__ADS_1
Bersambung............