
AYU POV
Setelah selesai acara tadi aku memutuskan untuk beristirahat dikamarku berhubung semua teman-temanku sudah pulang sedari tadi.
"Apa maksud Ayah buat mengungkap semuanya dan mengambil hak yang jadi milik gue?" batinnya. Masih terngiang-ngiang akan isi surat itu.
Kalung itu aku ambil, ku perhatikan dengan detail setiap inci kalung itu sepertinya aku pernah melihat kalung yang seperti ini tapi dimana. Aku berfikir keras untuk mengingatnya tapi tidak ada hasil kepala ku sedikit pusing. Aku memutuskan untuk menyimpan kalungku di laci meja sebelah ranjangku, betapa kagetnya aku ketika membuka laci itu ada dua kalung yang sama persis dengan kalungku ini, akhirnya aku mengingat kalung itu ku dapat sewaktu muncak bersama Viara.
Sudah ada tiga kalung ditanganku tapi aku belum mengetahui siapa pemilik kalung itu untuk mendapatkan informasi tentang kebenarannya. Aku memituskan sejak saat ini akan membawa kemanapun ketiga kalung itu.
Aku bingung dengan keadaan ini, dengan cara apa bahkan aku tidak tahu menahu masalah ini, jangan aku Ibu juga tidak tahu tentang ini karena ayah merahasiakannya dari Ibuku. Yang ibu tau dahulu ayah adalah pengusaha sukses tapi entah kenapa semenjak mereka menikah ayah lebih memilih hidup sederhana, ibu hanya bisa mengikuti mau ayah dan tidak mau kepo yang terpenting Ibu masih bersama ayah itu sudah cukup baginya.
Hingga fikiranku tertuju pada satu sahabat ayah yang entah dimana keberadaannya sekarang semenjak kecelakaan itu beliau menghilang bak ditelan bumi aku hanya melihatnya sekilas waktu pulang mendaki entah itu benar atau tidak aku tidak tahu.
__ADS_1
Semua pertanyaan masih terngiang-ngiang di kepala ku. Aku dan Fauzi memulai pencarian pada hari ini karena ia telah berjanji akan membantuku awalnya aku menolah tapi ibu terus memaksa aku hanya bisa mengiyakan keputusan ibuku. Kami memutuskan mencari di tempat ayah bekerja yaitu di pabrik pembuatan pupuk.
" Lo yakin kita bisa dapat informasi disini?" tanya Fauzi sebelum kita turun dari mobil.
" Kita coba aja dulu" Aku turun disusul oleh Fa memandang pabrik yang tidak begitu luas.
Kita berdua langsung menuju kebagian administrasi menanyakan mengenai informasi dari status para pekerja tapi kami mendapat penolakan dari orang tersebut.
" Kamu berikan saja yang gadis ini minta masalah belakang biar saya yang urus" sarkas Fa dengan wajah sangarnya. Aku hanya menautkan alis herang dengan ucapan Fa.
" Eh lo kira, pas muka lo disangar-sangatin bakal ngaruh apa?" reflek gue yang geli liat ekspresi cowok yang jauh tinggi dari pada gue.
Ternyata tebakanku salah orang itu langsung memberikan data-data tentang ayahku, sedangkan Fa ia senyum kemenangan padaku. Aku hanya mengabaikan dan membaca dengan teliti data itu.
__ADS_1
"Gilak bokap lo dulu CEO ekspor impor?"
" Gue juga nggak tau kalo dia dulu CEO tapi kenapa hidup gie mlarat sejak lahir coba?"
" Itu si nasib lo....."
"Ck, apa dulu ayah gue bangkrut ya?"
" Lo jangan nyimpulin dulu kita cari tau semuanya baru lo bisa nyimpulin"
" Au'ah gelap"
Bersambung......
__ADS_1