
Keheningan malam menutup sempurna hati yang gundah. Menenangkan pikirannya yang kacau selama dua minggu ini ia berjalan keluar rumah sekedar mencari angin.
Langit hitam bertabur bintang serta lalu-lalang kendaraan ia berhenti tepat didepan toko baju yang penuh dengan kenangan pahit. Memandang sekilas baju yang dipamerkan. Berbalik badan kearah jalanan, bayangan saat detik-detik naas itu tiba-tiba muncul. Mengembalikan tentang masa keterpurukkan kehilangan orang yang dicintainya.
" Arghhh, kepala gue" Kepala Ayu sakit luar biasa, memegangi kepalanya dan berusaha mengendalikan kesakitannya agar tidak menjadi pusat perhatian orang. Tiba-tiba ada seorang pemuda langsung menggendongnya. Tentu saja Ayu meronta untuk diturunkan.
Pemuda itu mendudukkan Ayu dikursi taman tak jauh dari toko baju" Lo nggak papa?" tanyanya.
" nggak, kalo gue sehat udah gue gaplok lo Dim, brani- braninya langsung nyomot gue" ucap Ayu membenarkan posisi duduknya.
" Eh ogeb, kalo gue nggak nyomot, elu pasti udah jadi daging geprek ketlindes truk. Bukannya makasih udah ditolongin juga" Jawab Dimas kesal, mendudukkan diri disamping Ayu menarik dan ponsel dari saku hoody nya.
Seketika keheningan menyeruak tak ada percakapan antara mereka karena Dimas lebih memilih sibuk dengan game nya dan Ayu hanya berdiam diri.
__ADS_1
Krucuuk......kruucukkk ( anggep aja swara perut)
Tentu Dimas mendengarnya ia memberhentikan game nya, " Makan yuk laper gue" ajaknya.
" Ayok tapi biasa ya lo yang traktir hehe" cengir Ayu. Dimas tak keberatan dengan permintaan Ayu karena itu sudah menjadi kebiasaannya walaupun setiap kali Ayu memesan makanan untuk satu kampung pun Dimas tak merasa keberatan.
***
" Mbak tambah satu porsi lagi ya" Ayu memesan makanan lagi padahal ia sudah menghabiskan empat piring." Dim lo tau nggak kenapa si Fa jarang banget kerumah? padahal lo sama cowok tengil tiap hari kerumah" Tanya Ayu yang masih menyuapkan makanan kedalam mulutnya.
" Nggak iklhas lo nraktir gue, yaudah gue muntahin semua depan lo ni'' Ancam Ayu.
" Ee..etett jangan, gue iklhas suer deh" Dimas mengangkat tangannya membentuk hutuf v " ngapain lo nanyain Fa, lo kangen ya, hayooo ngaku lo" ledeknya pada Ayu.
__ADS_1
Ayu menghentikan aktivitas makannya " Somplak lo, Ada yang mau gue omongin ma kalian termasuk elo"
" Emang lo nggak tau Fa kan balik ke Jakarta dihari lo berantem sama cewek uler terus Andree juga nyusul tadi pagi" tukas Dimas.
" Ooo gitu, mm... gue minta tolong sama elo bisa nggak temenin gue?" bisik Ayu yang masih bisa didengar oleh Dimas.
Sontak Dimas membelalakkan matanya, menelan saliva " Nghak-nggak ogah gue, gue tau gue ganyeng Ay tapi gue bukan cowok murahan"
Ayu cengo mendengar perkataan Dimas ingin rasanya bogeman dilayangkan pada wajahnya, namun ia urungkan " Gobl*k lu pikiran lu 18+ mesum lo, gue cuma minta anterin ke Surabaya, mikir macem-macem lagi gue gibang lu"
"Ya elah ngobrol dong" Dimas menjeda kalimatnya " Bentar deh lo ngapain ke Surabaya? jenguk Diah? apa jangan-jangan ingetan lo udahh....'' tanya Dimas ragu.
Ayu menghbiskan napas kasar " iya gue udah inget semua, bahkan kayaknya gue udah nggak pikun lagi gue inget semua memory dalam hidup gue, jadi gue mohon lo anterin gue ke Surabaya ya tapi gue mohon jangan bilang kesiapa-siapa termasuk Viara sama Zahra"
__ADS_1
" Ok" jawab Dimas mantab