
" Semua ini belum berakhir ndhuk'' Bu Indi tak kuasa menahan air matanya tak ingin kehilangan sosok Arbi untuk kedua kalinya karena ia tahu sang pelaku bukanlah orang sembarangan" Ibu harap kamu tidak melanjutkan langkah mu ini, ini sangat berbahaya ndhuk"
" Bu, waktu saya tinggal beberapa hari, saya mohon" Ayu sudah kehabisan kata-kata agar Bu Indi memberikan jawabannya. Merasa kasihan dengan gadis didepannya, akhirnya ia memberikan jawabannya beserta bukti-bukti kekejaman sang pelaku.
Bersyukur sang pelaku tidak mengetahui jika ada rekaman CCTV, Video beserta foto-foto itu diberikan oleh Arbi ke Indi sebelum Arbi memutuskan untuk pergi tak mau membahayakan wanita yang dicintainya. Alasan Arbi tidak menyerahkan semua bukti itu pada pihak yang berwajib karena ia tahu sang pelaku tidak akan tinggal diam ia akan mencelakai orang-orang yang berada didekatnya.
Memang tak bisa dipungkiri sifat gigih dan pantang menyerah Ayu diturunkan seutuhnya dari Arbi. Dirasa cukup keperluannya dirumah besar itu, Ayu akhirnya pamit. Bu Indi yang khawatir dengan Ayu dia menyuruh Varo untuk mengantar Ayu.
Jalan setapak yang tak rata serta lorong jalan yang agak sepi membuat keduanya merasa canggung. Fokus pada gadis yang ia panggil 'mak kambing' itu, tak menyangka bahwa masalah yang ia hadapi serumit ini.
'' Nggak usah diliatin, ntar gue colok mata lo baru tau rasa" Sarkas Ayu yang risih dengan tatapan Varo.
" Gue kira nyebelinnya udah ilang, ee masih ada aja" Ayu menghentikan langkahnya menampakkan seringainya namun Varo langsung mengalihkan atensinya kepedagang permen kapas diseberang jalan.
__ADS_1
''Pak permen kapasnya dua ya" ujar Varo kepada sang pedagang. Tak membutuhkan waktu lama mereka bisa menikmatinya. Varo mengajak Ayu kepantai yang dulu pernah didatanginya.
Aura kecantikannya nampak terpancar ketika menampakkan senyum diwajahnya. Menunggu sunset mereka banyak bercerita.
" Curut. Umur lo berapa si, Nggak ada niatan buat nikah apa ntar jadi bujang lapuk baru tau rasa lu" Varo tertawa geli mendengar penuturan Ayu yang gamblang." Kenapa ketawa si?"
" Dasar mak kambing, gue masih 20 tahun"
" Ya bisa lah, emang elu raport aja nilai KKM" Rasanya Ayu ingin melayangkan jotosannya diwajah Varo, secara tak langsung ia menyebut Ayu bodoh."Curut, kok elo bisa jadi dokter tetap si di rumah sakit itu?''
" Emang harus banget gue jawab ya, pertanyaan nggak bermutu elo" Lagi-lagi jawaban Varo membuatnya naik pitam. " Bener- jadi bener lo curut ya, gue sumpahin elo jadi bujang lapuk"
Varo nemunjukkan senyum termanisnya " Kan ada elo kenapa harus takut" Malas meladeni Ayu memutuskan untuk meninggalkan Varo.
__ADS_1
**
Tinggal tiga hari waktu yang tersisa, menyalakan laptop, malam semakin larut menyiapkan diri untuk besok.
No Tak Dikenal: Kalau mau ibumu selamat datang kealamat yang saya kirimkan sekarang!
Tanpa fikir panjang Ayu langsung pergi kealamat yang sudah dikirimkan. Ayu sudah tidak bisa berfikir jernih, fikirannya kacau. Sesampainya dilokasi Ayu berlari mencari ibunya. Betapa terkejutnya saat Ayu melihat Bu Mira yang sudah tak berdaya.
" Ibuuuukkkkkk.......... ibu nggak papa kan?" nampak kekhawatiran diwajahnya.
" Hahahaha, ternyata kamu lebih berani dari dugaan saya gadis kecil'' swara tegas yang berada di belakangnya
" Pria ********"
__ADS_1