
"Sama Allah SWT"
" Ooo jadi lo nggak percaya sama mahkluknya gitu?"
" Bukan gitu Fa, nggak semua rasa harus diceritain sama semua orang, dan nggak semua orang harus tau tentang apa yang kita rasain" mata Ayu masih tenang menatap deburan ombak dihadapannya.
Fauzi mengernyitkan dahinya tak menyangka bahwa Ayu yang bar-bar bisa berucap seperti itu, dipandanginya wajah itu, kulitnya yang putih, hidungnya yang mancung, dan dagunya yang lancip membuat semua mata yang ada dipantai itu tertuju padanya.
" Udah jangan diliatin terus, zinah mata, pulang yuk udah sore" ketus Ayu meninggalkan Fa.
Fauzi yang ketauan Ayu langsung salah tingkah ia segera menyusul Ayu tidak ingin kejadian semalam terulang kembali " Woy tungguin".
" Lo tadi kesini naik apa?" selidik Ayu karena dia melihat Fauzi tidak membawa mobilnya.
" Ojol"
" Terus sekarang?"
" Bareng ama lo lah"
__ADS_1
" Ha? nggak salah denger gue?"
Fauzi hanya diam mengambil sepeda yang ada disamping Ayu " Udah yok naik"
" lo apa-apaan si gue nggak mau ah"
" Ya kalo nggak mau gue tinggal dan lo jalan kaki deh ampe rumah Daniel"
Mau tidak mau Ayu menurutinya. Jengkel memang tapi apa daya dari pada ia harus jalan kaki. Fauzi mulai menggoes sepeda pinky itu angin berhembus lembut di wajah keduanya mereka berdua menikmati perjalanan itu hingga sampai dirumah Diah semua orang sudah beberes. Fauzi dan Ayu yang baru tiba saling menatap satu sama lain karena rencana kepulangan mereka baru besok pagi.
"Eh lo berdua cepet siap-siap kita pulang!" Celetuk Andree pada Fauzi dan Ayu.
" Kita majuin jadwal kita pulang!" Andree yang tengah sibuk mengangkat barangnya tapi wajahnya tidak seperti biasanya saat ini wajahnya penuh dengan kekecewaan.
"Tu orang kenapa Dim?" Tanya Fa saat Dimas baru keluar dari rumah Daniel.
" Auk tu gue juga nggak ngerti kenapa habis trima telfon jadi kek gitu". jawab Dimas.
" Telfon dari siapa?" Gumam Fa.
__ADS_1
Mereka berpamitan pada Daniel dan Diah. Merekapun berangkat , kali ini Dimas yang mengemudi karena sepertinya Andree sedang tidak fokus menyetir. Fauzi melirik Andree ia sangat mengenal Andree sedari kecil tak pernah ia murung seperti itu.
Setelah mengantarkan para perempuan kerumahnya masing-masing, Fauzi dan Dimas yang khawatir dengan Andree mereka menemui Andree sore ini tanpa sepengetahuan Andree sendiri. Dimas telah sampai dirumah Andree sedangkan Fa akan datang sebentar lagi.
Dimas masuk ke kamar Andree memperhatikan pria berbadan kekar yang tengah berbaring memainkan ponselnya melihat foto gadis berhijab yang tak asing baginya , gadis itu adalah Ayu entah kenapa Andree meliha foto gadis yang selama ini berdebat dengannya.
" Kenapa si lo deket-deket sama si Fa, gue tau Fa sepupu gue tapi kenapa gue gue jeleus kalo liat lo sama dia padahal gue tau dia nggak bakalan suka ama lo karna dia cinta mati ama ceweknya yang udah nggak ada itu." Gumam Fa yang tentu didengar oleh Dimas yang ada dibelakangnya itu dan tentu juga Fauzi yang menguping dibalik pintu kamar Andree.
" Sejak kapan lo suka ama Ayu?" Diams melempar bantal kearahnya.
" Anjiiir, lo sejak kapan disitu" Andree terperangah kaget.
" Sejak lo ngomong kalo lo jeleous sama Fa deket sama Ayu" memndudukkan dirinya pada sisi ranjang Andree.
"****** banget si gue nggak ngunci pintu, Inget ya Dim Gue nggak mau kalo lo ngasih tau Fa atau cewek sepet soal ini!" ancam Andree.
" Lo belum jawab pertanyaan gue, sejak kapan lo suka ama dia?"
" Gue juga nggak tau kapan rasa itu dateng
__ADS_1
Bersambung........