
Dua puluh menit sudah bu Ratih mencoba memutar kawat ke kanan-kiri agar longgar,tangan nya pun saat ini sudah penuh dengan darah tapi tak di hiraukan nya dia terus berusaha membuka nya agar bisa segera keluar.
"Bos,benar kata bos,si Slamet ganggu janda bos"adu salah satu anak buah nya
"Kamu met nggak berubah-ubah" kesal sang bos
Rumah tua ini terlalu kecil sehingga terdengar apa saja yang di obrolan mereka di luar sana
"Coba Cek lagi,apa sudah sadar nenek tua itu?" perintah sang Bos membuat Bu Ratih kembali berbaring dan menutupi tangan nya yang penuh luka
Crek terdengar pintu terbuka
"Masih bos,tuh masih tidur, mungkin besok juga bangun kalau nggak bangun kita siram air saja" ujar nya sambil menutup pintu nya kembali tanpa melihat kiri kanan.
"Hubungi dulu bos besar itu bos,bilang tawanan aman,dia bisa minta tebusan nya segera, biar sisa uang kita cair"
"Gampang itu,Bos Piter tidak akan pernah ingkar janji,kamu ingat dulu saat dia masih di Indonesia,kita di minta membunuh rekan bisnis nya uang kita langsung di transfer kan" jawab sang bos dan di anggukki anak buah mereka
Bu Ratih sangat ketakutan mendengar nya,siapa lelaki bernama Piter ini,kenapa dia suka membunuh dan menculik?
__ADS_1
Bu Ratih pelan-pelan, berjalan ke arah jendela lagi memutar kawat dan akhirnya lepas.....
Hembusan nafas lega terdengar dari bibir perempuan tua ini.
Hempasan batu dom dan gelak tawa membuat mereka bertiga tidak sadar kalau tawanan nya mencoba melarikan diri.
"Jangan di tutup bos, bagaimana kartu ku bisa keluar"
"Itu resiko mu...nama nya juga permainan,uang jatah mu di kurangi besok untuk bayar hutang "jawab sang bos sambil terkekeh kecil
"Apes....!!!"
Bu Ratih pelan-pelan memanjat jendela lalu turun tapi saat turun kaki nya sedikit tergelincir hingga membuat nya sedikit kesakitan.
Bu Ratih jalan terseok karena menahan sakit,tangan nya terus mengeluarkan darah, hingga dia harus sedikit lagi merobek baju nya, untung dia mengenakan daster hingga mudah di robek
Berjalan menelusuri jalanan sepi membuat bu Ratih semakin ketakutan,hari sudah malam dia tidak tau saat ini dia berada di mana kaki nya terus melangkah menelusuri jalanan gelap,dalam hati bu Ratih hanya bisa berdo'a agar para penculik itu tidak bisa mendapatkan nya,atau mereka tidak menyadari dirinya kabur agar dia bisa lolos.
"Mati lagi" gumam Mita pelan saat melihat ponsel nya tak memiliki baterai lagi
__ADS_1
Mita terus menginjak pedal gas agar lebih cepat sampai karena sudah malam, tubuh nya pun sedikit lelah,hanya kasur empuk yang bisa menenangkan nya hari ini.
Citttt............
Mita menutup mata nya karena ada sesosok wanita yang menyetopnya di jalan gelap ini.
Mita membuka kembali mata nya mencari sosok tersebut tapi tidak ada,apa hanya halusinasi atau makhluk gaib batin Mita,tapi dia yakin ada sosok perempuan yang mendekati mobil nya.
Mita mengatur nafas nya pelan, hendak keluar tapi takut, untung saja ada pengendara lain yang lewat membuat Mita berani keluar.
"Ibu menabrak nya?" tanya pengendara lain
"Tidak pak, ibu ini mendekat kearah mobil saya" jawab Mita ragu, ternyata benar ada seseorang yang tergeletak di depan mobil Mita.
"Bantu bawa ke mobil saya pak,biar saya bawa ke pelayanan kesehatan terdekat
"Di ujung sana ada puskesmas bu,bisa di coba ke sana" jawab seorang ibu-ibu
"Ya,bantu pak,bu....biar saya yang bawa tapi minta tolong ikuti mobil saya ya pak,saya takut!" aku Mita,dia takut jika ini hanya modus belaka karena dia belum melihat siapa perempuan tua itu.
__ADS_1