
"Bu...sakit" ringis Jihan pada sang mertua
Dari pagi tadi Jihan terbaring di ranjang rumah sakit karena akan melahirkan tapi belum juga ada jalan lahir,sang mertua sudah menunggu lama.
"Farel di mana Ji?"
Jihan menggeleng pelan dari semalam suaminya tidak pulang,ntah kemana perginya Farel ponsel pun tidak aktif.
Jihan meremas tangan sang mertua karena menatap rasa sakit..
"Dok,apa tidak ada jalan lain lagi dok, kasihan menantu saya menahan sakit dok"
"Bu,sudah pembukaan dua sabar ya, memang begitu bu, mungkin dedek nya sedang mencari jalan,tarik nafas saja ya" jawab sang Dokter
Perut Jihan terasa di aduk-aduk, bagaimana bisa sesakit ini melahirkan,kenapa masih banyak perempuan ingin melahirkan pikir Jihan,kalau tau begini dia tidak akan mau hamil hanya untuk memberikan keturunan pada Farel lelaki yang sudah menyia-nyiakan hidup nya.
"Sabar Ji, sebentar lagi juga akan keluar" ujar Sang mertua
"Sampai kapan bu, sampai kapan aku harus menahan sakit ini sementara suami ku sendiri acuh pada ku,di saat aku kesakitan oleh perbuatan nya dia malah pergi bersenang-senang dengan perempuan lain" marah Jihan
"Ji...Farel sedang bekerja, tidak baik menuduh suami sembarang Ji"nasehat mama Farel
__ADS_1
"Bu...aku tau bu,aku tau semua perbuatan mas Farel di luar sana,aku selama ini diam karena mempertahankan rumah tangga kami tapi dia malah semakin menjadi-jadi, bahkan tak sekalipun memikirkan nasib ku dan anak ini bu"jawab Jihan mengisak
"Bu...jaga emosi nya bu,jangan marah-marah nanti tenaga ibu untuk melahirkan malah habis" nasehat sang Bidan membuat Jihan terdiam, sakitnya bertambah jika mengingat Farel saat ini
"Tenang...biar baby nya juga tenang mencari jalan lahir" saran sang dokter membuat Jihan menghembuskan nafas panjang
***
"Cincin yang ini kamu suka?" tanya Gio dan di anggukki Mita,Mita memang perempuan yang tidak banyak komentar, apapun yang di berikan Gio dia terima dengan senang hati
"Datang ke sini membuat ku mengingat seseorang yang memberikan hadiah untuk istri nya" ujar Gio membuat Mita menatap Calon suami nya ini
"Siapa?"
"Berarti istri nya termasuk istri yang beruntung" jawab Mita
"Bisa jadi"
"Semoga aku juga begitu nanti nya menjadi istri yang beruntung" goda Mita tersenyum manis
"Pasti....!! aku pasti kan kamu yang pertama dsn utama'' jawab Gio sambil merangkul Mita membuat Mita tersipu Malu
__ADS_1
"Jadi mau yang mana?" tanya Gio lagi
"Ini saja, pilihan pertama seperti nya membuat ku jatuh hati"
"Aku harap itu hanya kata kiasan untuk perhiasan ini bukan pilihan pendamping hidup" ujar Gio sedikit cemberut
"Hahaha.....kamu bisa saja, yang pertama sudah di kubur dalam-dalam dan yang kedua akan menjadi yang pertama bahkan yang terakhir"jawab Mita
"Amiiinnn...." ujar Gio dan Mita serentak
Setelah memilih beberapa perhiasan hingga seserahan Gio mengajak Mita untuk menikmati makan siang, karena seharian di luar membuat mereka lelah.
"Kamu akan kembali ke kantor?" tanya Mita saat melihat Gio melirik jam tangannya
"Iya,ada beberapa berkas penting yang harus aku cek,kamu mau ikut?" tawar Gio dan di jawab gelengan oleh Mita cepat,dia belum siap bertemu dengan karyawan Gio karena mereka belum resmi menikah
"Lalu???"
"Antar kan aku ke butik,ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan"alasan Mita
"Mit,jangan bekerja lagi,aku tidak mau kamu terlihat lelah saat acara pernikahan kita"
__ADS_1
"Iya hanya sedikit pekerjaan "jawab Mita patuh
Gio lelaki yang perhatian menurut Mita, sampai saat ini tak ada kesalahan yang terlihat dari lelaki tampan ini membuat Mita semakin yakin untuk menikah dengan nya.