Sajak Rindu

Sajak Rindu
CHAPTER 1: BERTEMU 1


__ADS_3

PROLOG


Di ketidak sengajaan itu


Membuat kita bertemu pandang


Kebetulan, memang


Kata yang tak pernah disangka


Yang membuatku jatuh hati padamu


***


"Annaaa... tangi ndok, ealah cah wedok ko yo isuk-isuk urung tangi ki piye? (Bangun nak, anak perempuan kok pagi-pagi belum bangun, tuh gimana?)." Suara alarm alami dari sang Ibunda Anin.


"Iyaaa... Buuee... Anna sudah bangun dari tadi. Udah shubuhan, bersih-bersih rumah. Tadi Anna cuma lagi cek email sama kirim laporan mingguan anak-anak." Jelas Anna kepada sang Ibu yang baru saja pulang dari olahraga pagi bersama sang Ayah.


"Oh, ya? Ibu kan ndak tau. Bilang dong dari tadi." Jawab Bu Anin sambil melengos berjalan ke dapur untuk memasak dan membuat teh untuk Ayah.


Kalau sudah perdebatan pagi hari seperti ini, Anna pilih diam deh, daripada dijawab makin panjang urusannya. Anna menyusul Bu Anin masuk ke dapur.


"Bu, Anna kan sudah masak buat sarapan. Ini kita mau masak apaan lagi?"


Anna sudah siap mencuci sayuran, melihat penggorengan bertengger di kompor, ia teringat kembali bahwa ia sudah memasak untuk sarapan tadi. Nasi goreng ikan teri, tumis kangkung dan tempe goreng.


"Oohh, kamu sudah masak toh ndok?" Tanya Ibu Anin seraya melihat masakan Anna yang berada di atas kompor.


"Masak yang ada aja Bue. Tapi ndak tau enak atau ndak. Hehehe..." Ucap Anna dengan senyum manis berlesung pipi tersebut. Persis seperti Ibunya.


Bu Anin melihat anak gadisnya yang sudah dewasa sekarang. Sudah pintar membantu Ibunya. Tinggal nunggu kapan mau di kenalin calon mantu.


***


SEKILAS TENTANG KELUARGA PRAYOGO


Yup. Anna atau nama lengkap Anna Maheswari Prayogo adalah anak sulung dari dua bersaudara.


Anak dari pasangan Ayah Bagaskara Gazhawan Prayogo dan Ibu Anindira Maheswari.


Anna mempunyai seorang adik laki-laki. Anak bontot pasangan dari Pak Bagas dan Bu Anin bernama Cakra Dikara Ghazawan Prayogo.


Anna adalah seorang guru di salah satu sekolah Paud - TK di bilangan Tangerang Selatan. Ia baru menyelesaikan S2 nya dibidang Pendidikan Anak Usia Dini. Ia berkutat dibidang pendidikan kurang lebih sudah 7 tahun. Usianya menginjak 27 tahun, masih betah dengan status single fisabillillah nya.


Daily activity nya adalah mengajar. Senin-Jumat dari jam 7:00-13:00 ia mengajar di TK dan jam 16:00-21:00 ia mengajar di salah satu kampus di Jakarta Selatan.


Sometimes on weekend ia menghadiri atau menjadi tamu pembicara di seminar atau workshop tentang anak-anak usia dini. Anna ini termasuk perempuan yang independent, smart, berani, percaya diri, mudah beradaptasi dengan lingkungan, sosok yang sopan saat bertutur kata, humoris pula, dan hobi banget travelling atau naik gunung. Pokoknya kalau ngobrol sama Anna seru deh.


Ayah Bagas beliau adalah seorang TNI Angkatan Udara. Yang sebentar lagi akan pensiun dikarenakan sudah usia dan kesehatan. Sekarang Ayah Bagas membuka kelas Taekwondo dan Judo. Yang dibantu oleh beberapa anak muda lainnya.


Ayah Bagas termasuk salah seorang yang sangat disiplin kepada anak-anak. Mungkin karena faktor ia seorang angkatan. Meski displin, Ayah Bagas tidak pernah berbicara keras kepada istri dan anak-anaknya.


Ayah Bagas itu blasteran Yogyakarta-Arab-Inggris. Postur badannya yang besar, tinggi, dan tegap membuatnya masih terlihat gagah dan muda.


Kadang kalau lagi di jalan atau di mall-mall, ada beberapa perempuan muda yang masih ngelirik-lirik manja ke Ayah Bagas. Suka di ledekin sama Anna & Dika. Hahaa... gantengnya si bapake sampe tua berarti ya...


Ibu Anindira atau biasa di sapa Bu Anin. Salah seorang Ibu yang rameee pake banget, heboh, ramah, sopan, baik hati, jago masak, seneng banget ngeledekin anak-anaknya. Sosok seorang Ibu dan sahabat untuk anak-anaknya. Bu Anin itu gahooll bingitzzz... ibu-ibu sosmed tapi tau kadarnya. Hahaha... keren banget deh pokoknya.


Dulu, beliau adalah seorang suster di salah satu RS di Yogyakarta. Namun, semenjak menikah dengan Ayah Bagas, ia berganti profesi menjadi Ibu rumah tangga yang punya usaha katering sendiri.


Jangan sedih, Bu Anin ini juga blasteran Yogyakarta-Arab-Jerman. Makanya cantiknya gak ketulungan. Nurun deh ke Anna. Hehe...

__ADS_1


Si anak bontotnya namanya Cakra Dikara Ghazawan Prayogo yang biasa disapa Dika. Sosok laki-laki tinggi besar, tegap, kekar, otot bisep, dan roti sobeknya memperlihatkan copy paste Ayah Bagas. Tapi ini versi juniornya. Hehe...


Dika ini sosok laki yang dingin, arogan, jutek, kalau sama perempuan di luar sana. Tapi kalau di rumah, nge-bully Mba Anna terus. Hahaha... emang gitu kakak-adik mah.


Dika mengikuti jejak Ayahandanya. Ia sedang menempuh pendidikan di Sekolah Penerbangan TNI AU di Yogyakarta. Yang sekarang berusia 20 th. Saat ini Dika di rumah karena sedang libur lebaran. Setelah liburan selesai, ia kembali ke Yogyakarta.


***


Okey, Back to the story.


Weekend gini biasanya Dika kumpul main basket bareng sama temen-temen kompleknya. Karena Dika jarang punya waktu untuk berkumpul dengan teman-temannya. Mumpung liburan.


Seperti sekarang ini. Anna, Bu Anin, dan Ayah Bagas sedang duduk bersantai di teras dengan menikmati teh untuk Ayah Bagas dan Bu Anin serta susu tanpa rasa untuk Anna. Walaupun orang Jawa Anna tidak terlalu suka dengan makanan manis.


"Assalamualaikum." Sapa si anak bontot Dika kepada keluarganya.


"Waalaikumsalam." Jawab serentak Ayah Bagas, Bu Anin, dan Anna si sulung.


"Itu habis ngapain, Le? Kok klambine kembroh kabeh? (Habis ngapain, Nak? Kok bajunya basah semua?)." Tanya Bu Anin kepada Dika.


"Biasa Buee... gedein otot. Hahaha..." Jawab Dika asal seraya salim kepada Ayah Bagas dan Bu Anin. Kalau sama Mbanya? Gak usah ngarep, Dika malah ngetekin Mbanya. Emang durhaka banget tuh anak. Hahaha..


"Iihhh... Dika. Rese deh lo. Kan bau. Idih ketek keringet semua. Mandi sono lo." Ucap Anna dengan bersungut-sungut.


"Apaan sih lo Mba. Berisik pagi-pagi." Jawab Dika sambil menyesap satu gelas susu yang Anna buat tadi. Padahal itu susu buat Anna.


"Ya Allah, ini anak makhluk. Benar-benar deh. Jail banget. Itu susu gue tadi, cumi asin. Iihh, nyebelin." Ucap Anna dengan memonyongkan bibirnya dan pasrah, karena habis susunya. Membuat Ayah dan Ibunya geleng-geleng kepala. Kalau ada berdua berantem. Gak ada dicari-cari. Tom & Jerry banget.


"Sudah, sudah. Itu Ibu mau tanya sama kamu Dika. Dari tadi Ibu perhatiin, kok ada beberapa perempuan ngikutin kamu? Terus mondar-mandir mulu dari tadi. Siapa lagi Dika? Ini rumah berapa kali dipencet belnya. Gegara kamu di rumah." Terang Bu Anin yang heran anak bontotnya ini luar biasa seperti artis. Setiap harinya pasti ada saja yang menitipkan makanan, minuman, atau sepucuk surat. Secret admirer gitu kali ya... gak ngerti deh. Haha...


"Gak tau Bu. Tolak aja." Jawabnya enteng. Orang ganteng mah bebaasss.


Pagi itu Ayah Bagas dan Ibu Anin mengajak Anna dan Dika untuk segera bersiap-siap pergi ke pernikahan saudaranya yaitu Pakde Hadi yang menikahkan anaknya Mba Novi dengan Mas Heru. Di salah satu hotel bilangan Jakarta.


Bu Anin dan Anna siap dengan long dress batik senada, jilbab panjang yang menutupi dada, make-up simple, tas jinjing gold untuk Bu Anin serta sepatu sendal heels nya. Sedangkan Anna dengan sling bag soft brown nya serta soft brown wedges nya. Simple ternyata. Karena Bu Anin dan Anna itu kalau dandan emang simple banget.


"Mba An, lo aja yang bawa mobil. Gue capek." Ucap Dika seraya melemparkan kunci mobil ke Anna.


"Yeee... rese lo. Udah kece cetar membahana gini, disuruh nyetir. Gak bagus banget. Pulangnya lo yang bawa ya." Ucap Anna dengan memonyongkan bibir dan menunjukkan satu jari telunjuknya ke Dika.


"Iye, iye, udah buru bawa." Dika pun masuk ke mobil bagian kursi depan. Sedangkan Anna, sudah berada di belakang kemudi mobil.


Anna meminta Ayah Bagas untuk menjadi navigator nya. Anna gak paham sama jalanan Jakarta. Kalau Anan mengahar di daerah Jakarta, doi lebih pilih naik kendaraan umum. Kalau naik motor gak sanguuupp... gak ngerti jalan daerah Jakarta. Hahaha...


1,5 jam kemudian


Mereka sampai di Gedung Aston Atrium Senen Hotel & Convention Center, Jakarta Pusat.


Capek ya buuukk... 1,5 jam berkendara di ibukota. Jakarta oh Jakarta kau penuh pesona termasuk kemacetannya. Subahanallah..


Anna menurunkan Ayah, Ibu, dan Dika di lobby. Sedangkan ia sibuk untuk mencari tempat parkir. Pikirnya, ia ingin sekalian sholat dzuhur. Setelah berkeliling sekitar 10 menit, Anna memarkir mobilnya yang tidak terlalu jauh dari Masjid.


Anna turun dengan membawa sling bag dan mukena. Ia menyimpan sepatu di rak, kemudian masuk area tempat wudhu wanita. Namun, yang membuatnya heran, setelah berwudhu ia masuk ke Masjid. Masjid itu sepi senyap sekali. Apa karena belum masuk waktu dzuhur ya? Jadi sepi. Yasudahlah. Batin Anna.


Anna mengeluarkan ponsel dan meng-klik aplikasi Al Qur'an. Ia membaca beberapa ayat Al Qur'an hingga memasuki waktu dzuhur. Anna itu suaranya indah sekali. Ia pernah memenangkan lomba tilawah dan bernyayi tingkat kecamatan.


Diam-diam ada sesosok laki-laki yang sejak tadi memperhatikan Anna dengan senyum simpulnya. Cantik sekali perempuan ini, pikir laki-laki tersebut. Suaranya saat membaca Al Qur'an begitu merdu.


Ketika adzan dzuhur, Anna bersiap untuk sholat. Batin Anna, kalau ada imamnya seru nih, bjsa sholat berjamaah. Ucapan hatinya di dengar Allah. Dikirim lah laki-laki yang sejak tadi memperhatikan Anna.


"Assalamualaikum" Sapanya kepada Anna dengan ramah.

__ADS_1


"Waalaikumsalam" Jawab Anna sambil mendongakkan kepalanya dan tersenyum memperlihatkan lesung pipinya tersebut. Yang sontak, membuat laki-laki itu terkejut akan kecantikannya Anna. Badannya bergetar, panas, batin laki-laki tersebut, memohon agar ia jangan kambuh saat ini.


"Mau sholat berjamaah?" Tanya laki-laki itu.


"Boleh, silahkan." Jawab Anna sopan.


Sholat berjamaah dengan laki-laki yang tidak ia kenal, belum pernah berjumpa, hanya berdua saja, di masjid yang besar ini. Aneh? Iya. Aneh. Berasa seperti suami-istri lagi berjamaah. Rasanyaaa aja... statusnya belum tau... 😁


Setelah salam, kemudian keduanya memanjatkan doa dalam hati masing-masing. Si laki-laki tersebut berpamitan kepada Anna saat Anna sedang melipat mukenanya.


"Mari, saya duluan." Ucap laki-laki yang berperawakan tinggi, besar, kekar, dan senyum manisnya kepada Anna.


"Oh, iya. Makasih Mas." Jawab Anna dengan senyum indahnya.


Laki-laki tersebut belum sepenuhnya keluar dari masjid. Ia masih memakai kaos kaki dan sepatu di rak bagian pria. Ia melihat Anna yang sedang memakai sepatu dan agak berlari kecil masuk ke gedung tersebut. Ia pasti datang ke pernikahan ini. Pikir si laki-laki.


Sampai di gedung, Anna menghampiri Ayah dan Ibu, kemudian, bersalaman dengan pengantin dan makan. Ia makan bersama dengan Om, Tante, Bude, Pakde, sepupu-sepupunya. Sedangkan Ayah, Ibu, dan Dika ke masjid untuk dzuhuran.


Yang namanya kumpul keluarga itu pasti gak jauh-jauh pertanyaannya dari kerjaan, sekolah, sama jodoh. Seperti sekarang ini.


"Anna, kerja di mana sekarang?" Tanya salah satu Budenya.


"Masih di sekolah kok Bude. Ngajar." Jawab Anna ramah.


"Oh, guru. Emang gajinya berapa kalau guru? Bukannya kecil ya? Kok kamu mau sih jadi guru?" Ucap salah seorang Budenya yang lain. Anna hanya senyum. Bukan hanya satu atau dua kali Anna diperolok karena profesinya yang sebagai seorang guru. Karena dalam sejarah keluarga Paryogo, gak ada tuh yang namanya jadi guru atau bergelut dibidang pendidikan.


"Heh! Jangan sembarangan kalau bicara. Anna tuh gitu-gitu udah S2 dia. Hebat S2 nya beasiswa." Jawab salah seorang Pakde yang pro dengan Anna.


"Tapi kan tetep aja profesinya guru. Di kelurag Parayogo tuh gak ada ya yang namanya jadi guru. Minim-minimal itu jadi Manager sebuah perusahaan. Kayak anak bontot saya. Ini guru. Apa yang bisa dibanggain? Ngurusin anak orang tapi gak bisa ngurus diri sendiri. Buktinya usia 27th belum nikah. Mau jadi perawan tua kamu, An? Jangan bikin malu keluarga Prayogo dong. Udah cukup profesimu sebagai guru yang bikin malu. Jangan kamu tambah menjadi perawan tua dong." Ucap salah seorang Bude yang berstatus istri jendral itu. Begitu bangga dengan keluarga Prayogo.


Lalu Anna bagaimana? Sakit hati? Banget. Tapi apa Anna melawan? Tidak. Anna hanya diam dan tersenyum. Karena ini bukan sekali, dua kali ia ditertawakan atas profesinya dan status single nya.


Namun, ternyata laki-laki yang tadi sholat berjamaah dengan Anna, mendengarkan semua perdebatan itu. Ia merasa geram sekali. Hari gini masih ada aja orang yang nyinyir sama profesi atau pekerjaan orang lain. Kolot sekali mereka. Pikir laki-laki itu.


Tapi ia sangat salut dengan perempuan yang menjadi makmumnya. Karena ia tak pernah melawan. Hanya mendengarkan dan tersenyum. Kuat sekali hati perempuan itu. Batin si laki-laki tersebut.


Tak lama, Ayah Bagas dan Ibu Anin datang menghampiri mereka. Sebenarnya Ayah Bagas dan Ibu Anin mendengar semua perkataan Budenya Anna itu kepada anak sulungnya.


Karena Ayah Bagas dan Ibu Anin kebetulan bertemu dengan teman masa SMA nya yang sudah hampir 25 tahun tidak bertemu. Jadilah mereka berbincang-bincang seru sekali di dekat meja tempat saudaranya berkumpul.


Ayah Bagas geram sekali mendengar ucapan Budenya Anna. Namun, Bu Anin mencegahnya untuk tidak menanggapi. Karena akan panjang urusannya kalau ditanggapi nanti. Ayah Bagas dan Ibu Anin menghampiri saudaranya sekedar untuk bertegur sapa dan kembali lagi berbincang dengan teman SMA nya tersebut.


Saat itu Anna pamit undur kepada Bude, Pakde, Om, dan Tantenya untuk mengampiri Ayah dan Ibunya yang tengah asyik mengobrol dengan teman SMA nya.


"Assalamualaikum" Sapa Anna sopan kepada Om dan Tante yang sedang duduk bersama Ayah dan Ibu. Dika? Dipojok ruangan lagi asyik ngabsenin makanan di gedung itu. Hahaha...


"Waalaikumsalam" Jawab mereka serentak.


"Eehh... ini, ada siapa? Ayune yo Pah, anakmu to Nin? Iyo Gas? Jiaann... gelem dadi mantuku, cah ayu? (Cantik banget ya, Pa. Anak kamu ya Nin? Iya Gas? Wah... mau jadi menantuku, anak cantik?)." Sapa seorang ibu dengan kehebohannya saat melihat Anna. Iya. Itu Mama Rani.


"Ho'oh. Sek nomer siji wedok. Nomer loro sek mau duwor. (Iya. Yang nomor satu/sulung perempuan. Nomer dua/bontot yang tadi tinggi)." Jawab Bu Anin.


"Wah, wah, Gas. Perjanjian kita bisa dijalankan sepertinya." Ucap Pak Adi. Seorang pengusaha kaya raya. Adicandra Basupati Soenggono.


Siapa yang gak kenal sama Basupati Groups. Yang perusahaannya tersebar di dalam Negeri dan luar Negeri. Yang ibu heboh tadi istrinya. Namanya Rani Gayatri Lestari.


Entah yang mereka perbincangkan apa. Tapi Anna menghampiri Ayah Bagas dan Ibu Anin untuk izin ke masjid karena sebentar lagi memasuki waktu ashar.


Laki-laki tersebut, heran. Kenapa Anna bisa ada bersama dengan Mama Rani dan Papa Adi? Apa perempuan itu kenal sama Mama dan Papa? Pikirnya.


Ketika laki-laki itu ingin menghampiri Mama Rani dan Papa Adi, ia melihat Anna pergi, ia mengurungkan niatnya menghampiri Mama dan Papanya tapi malah mengikuti Anna.

__ADS_1


\*\*\*


__ADS_2