Sajak Rindu

Sajak Rindu
CHAPTER 50: KEJADIAN


__ADS_3

Abi, Eros, dan Pak Manto sampai pada salah satu penginapan di Bandung. Abi segera meminta Eros untuk menghubungi Reno. Ia ingin segera meeting malam ini. Tak ingin menunda-nunda.


"Mba, kami sudah pesan 2 kamar___" Belum sempat Eros meneruskan, Abi memotong perkataannya.


"Ros, kita stay di satu kamar saja. Pak Manto, saya, sama kamu." Ucap Abi dengan tegas.


"Serius Pak? Satu kamar? Saya ngorok lho Pak kalau tidur. Hehehe..." Ujar Eros dengan cengiran kudanya.


"Udah, pesen cepet. Saya mau ke toilet dulu." Ucap Abi.


Eros pun membatalkan kamar sebelumnya yang ia pesan. Kemudian menggantinya dengan kamar yang besar untuk 3 orang.


Tak lama, Abi, Eros, dan Pak Manto sampai di lantai 5 di kamar yang cukup besar. Mereka menempati barang mereka masing-masing.


Abi memberi Eros istirahat. Abi meminta Eros untuk mengatur jadwal meeting setelah dzuhur.


Abi mengambil ponselnya di saku dan segera menelepon Anna. Namun, lama tak ada jawaban.


Hingga ketiga kalinya Abi menelpon, Anna baru menjawab.


"Assalamualaikum, Mas Abi." Sapa Anna dengan suara lembutnya.


"Waalaikumsalam, kesayanganku." Ujar Abi. Yang didengar oleh Eros dan Pak Manto hingga membuat mereka bergidik ngeri.


"Haha... Mas Abi sudah sampai Bandung?" Tanya Anna yang sambil merapikan rapor yang menumpuk.


"Iya, dek. Baru aja masuk kamar hotel. Mas tidur bertiga. Mas Abi, Pak Manto, sama Eros." Jelasnya.


"Lho, kok tumben bertiga? Biasanya Mas Abi maunya di kamar sendirian?" Tanya Anna yang heran dengan sikap suaminya.


"Pak Abi atut sendilian Bu Anna..." Ucap Eros dari balik ponsel Abi dengan suara yang dibuat manjanya.


"Hahaha... Ros, kamu tuh. Bercandain si Boss di gorok kamu." Ucap Anna dengan tawanya.


"Apaan sih. Udah sana." Ucap Abi ketus kepada Eros. Eros hanya tertawa dan ngeloyor pergi menjauh dari Abi.


"Mas... kok galak banget sih. Yang baik dong sayang, bicaranya." Ucap Anna mengingatkan Abi.


"Erosnya iseng, dek." Ujar Abi dengan bersungut.


"Hahaa... Mas Abi, Mas Abi. Mas sudah makan belum?" Tanya Anna.


"Belum. Ini baru mau turun ke bawah. Nyari makan." Ujar Abi.


"Ohh... okay. Have a nice lunch, honey." Ucap Anna.


"Makasih sayang. Nanti Mas telepon lagi, ya." Ujar Abi.


"Okay. Assalamualaikum Mas Abi." Ucap Anna.


"Waalaikumsalam, dek." Ucap Abi sambil menutup percakapan di telepon dengan Anna.


Abi segera turun ke bawah untuk makan siang dan persiapan meetingnya.


"Hai, Abi." Sapa Maya. Si perempuan yang katanya mencintai Abi.


"Oh, hai." Ucap Abi singkat tanpa melihat Maya.


"Kamu makan siang sendiri? Aku temani, ya?" Tanya Maya dengan suara genitnya.


"Tidak. Terima kasih. Meja ini sudah saya pesan untuk 3 orang saja." Ujar Abi dengan ketus.


"Abimanyu, kenapa sih kamu sekarang ketus banget sama aku. Aku hanya berniat baik." Ujar Maya dengan nada tingginya.


"Aku merindukanmu, Abi..." Ucap Maya sembari mendekati dan memegang tangan Abi yang di tepis kasar oleh Abi.


"Maaf. Saya sudah beristri." Ujar Abi ketus dengan tatapan tajamnya ke Maya.


"Apa hebatnya istrimu itu? Dia hanya seorang guru yang tak bisa apa-apa. Dia punya apa? Hingga membuatmu bertekuk lutut seperti ini Abimanyu?" Ucap Maya dengan begitu tajamnya.


Saat itu Eros dan Pak Manto datang memasuki meja makan dengan membawa makanan yang ia ambil di meja prasmanan.


Abi, tanpa menghiraukan Maya segera makan bersama Eros dan Pak Manto. Abi sama sekali tak bergeming. Apapun yang dikatakan Maya, ia hanya diam.


Karena Abi tau semakin ia ladeni, akan semakin menjadi si Maya itu. Karena Maya saat ini sedang butuh perhatian Abi. Dan Abi? Tak sudi sama sekali.


Abi, Eros, dan Pak Manto segera naik ke lantai 5 dan menyiapkan bahan meeting. Pak Manto membantu membawa laptop Abi.


Akhirnya meeting pun di mulai. Mereka akan mulai meeting besok pagi lagi. Malam harinya, Abi tak ingin keluar kamar sama sekali.


"Pak, ayolah Pak. Lihat lampion-lampion itu diluar." Bujuk Eros dan Pak Manto. Dengan malas, akhirnya Abi menuruti mereka.


Abi, Eros, dan Pak Manto senang sekali datang dan melihat lampion yang berjajar cantik di taman hotel.


"Hi, Abi." Ucap Maya yang entah darimana ia muncul kembali.


"Waduh, Pak Manto. Bener nih yang dibilang sama Pak Abi. Bu Maya deketin mulu. Kita kembali ke kamar aja kali ya?" Tanya Eros kepada Pak Manto.


"Iya, Mas Eros. Daripada Pak Abi kambuh nanti sakitnya. Pesannya Bu Anna kan yang penting traumanya Pak Abi gak kumat. Bu Anna gak ada soalnya." Ujar Pak Manto yang agak khawatir.


"Wah... iya. Saya hampir lupa sama traumanya Pak Abi. Ayolah, kita samperin." Ucap Eros yang segera menghampiri Abi.

__ADS_1


"Abi... aku sangat mencintaimu. Tak bisakah kau meninggalkan perempuan itu dan kembali padaku?" Ucap Maya dengan tubuh yang sempoyongan.


Maya mabuk. Bau alkohol tercium menyengat melalui hidung Abi. Tubuh Abi mulai bergetar. Namun, ia tahan. Ia bergerak mundur, tapi...


Chhuup...


Satu kecupan mendarat di bibir Abi. Refleks Abi mendorong Maya menjauh hingga Maya terjatuh di tanah.


"Pak Abi!" Teriak Eros dari jauh.


"Pak, bapak gak apa?" Tanya Eros terengah-engah.


"Saya kembali ke kamar." Ucap Abi dengan suara beratnya dan mengepalkan telapak tangannya hingga memperlihatkan betapa kuat buku-buku jarinya. Abi mengencangkan rahangnya menahan amarah.


Pak Manto yang mengetahui bahwa Bossnya marah besar, ia mundur memberi ruang kepada Abi untuk bergerak.


"Eros, apa bisa kita meeting malam ini? Supaya besok pagi, selesai semua." Tanya Abi yang masih dengan wajah memerah menahan amarah.


"Coba saya hubungi client kita Pak. Saya usahakan kita meeting malam ini." Ujar Eros yang mulai membuka ponsel dan menghubungi client nya.


"Abimanyu!" Panggil Maya yang menghampiri Abi dengan tubuh sempoyongannya.


Abi berhasil menghindar dan pergi menjauh dari Maya.


Saat ini yang ada di pikiran Abi hanya Anna. Ia mengkhianati istrinya. Maya mencium bibir Abi dan melumat hingga dalam.


Abi masuk kamar mandi, mencuci mukanya dan mencuci bibirnya. Ia sangat merasa bersalah pada Anna.


Apa yang harus dia jelaskan kepada Anna. Bagaimana bisa ia mengkhianati istrinya. Abi begitu geram dengan Maya dan merutuki dirinya yang tak bisa menjaga diri.


Hingga Eros mengetuk pintu kamar mandi, Abi mulai membukanya.


"Pak Abi, kita bisa meeting malam ini. Besok pagi kita bisa pulang. Kebetulan client kita juga harus terbang ke New York besok pagi. Jadi kita majukan meetingnya malam ini. Bagaimana Pak?" Tanya Eros.


"Siapkan semuanya. Kita meeting sekarang." Ujar Abi dengan tegas.


Meeting berlangsung lancar. Client mempercayakan semuanya pada perusahaan Abi.


Saat meeting, Eros mendapat panggilan dari Anna. Karena Anna beberapa kali mengubungi Abi tak diangkat.


"Pak Abi, tadi Bu Anna telepon saya. Katanya, beliau menelepon bapak namun tak diangkat-angkat." Ujar Eros kepada Abi.


"Ok. Makasih infonya Eros. Saya segera kembali. Kalian duluan saja ke kamar." Ujar Abi yang pergi menjauh dari Eros dan Pak Manto.


"Assalamualaikum Mas..." Sapa Anna dengan suara lembutnya.


"Waalaikumsalam, dek." Jawab Abi dengan suara yang dibuat setegar mungkin.


*****


Tadinya Anna akan membukanya bersama Abi. Namun, diluar amplop bertuliskan "kuatkan hatimu, Anna." Akhirnya Anna membuka amplop cokelat tersebut.


Betapa terkejutnya Anna yang melihat foto-foto Abi sedang berangkul mesra dengan perempuan lain. Ya, siapa lahi kalau bukan Maya.


Hingga foto yang membuat hatinya semakin teriris. Foto Abi berciuman dengan wanita itu. Pecah sudah tangis Anna. Hatinya begitu sakit.


Setelah menangis puas, Anna melihat foto-foto itu kembali. Ia tak percaya dengan foto-foto yang dikirim itu. Karena ia tau sekali karakter Abi.


Hingga deringan ponsel Anna berbunyi tertera di layar ponselnya "My Husband".


*****


Abi sudah bersiap pagi-pagi setelah shubuh ia mengajak Eros dan Pak Manto segera kembali ke Jakarta.


Hati Abi tak tenang. Ia memikirkan Anna. Kalau ia perempuan mungkin ia akan menangis. Maya tak bisa lagi di tolerir pikir Abi.


Sepanjang jalan, Abi tak banyak bicara. Ia hanya diam seribu bahasa. Abi begitu merindukan Anna.


Abi meminta Pak Manto mengantar Eros dahulu, baru kembali ke rumah.


Setelah perjalanan panjangnya. Abi sampai di rumah.


"Assalamualikum." Sapa Abi.


"Waalaikumsalam. Mas, kok udah pulang? Bukannya besok sampai rumahnya? Kok gak ngabarin Anna?" Tanya Anna dengan bertubi-tubi pertanyaan.


"Iya, Mas sudah keburu kangen sama kamu. Jadi langsung pulang aja. Tanpa ngabarin. Maaf ya..." Ucap Abi seraya ingin memeluk Anna. Namun, Anna bergerak mundur.


"Yaudah, Mas bersih-bersih dulu. Anna siapin makan dulu." Ucap Anna dengan senyum yang terkesan dibuat senang.


Abi bingung dengan sikap Anna. Seharian ini Anna menghindar terus dari Abi. Abi ingin berbincang dengan Anna setelah menyelesaikan pekerjaannya.


Abi masuk ke ruang kerjanya. Ia melihat ada amplop cokelat bertengger di meja kerjanya. Ia membuka amplop cokelat itu karena tulisannya "kuatkan hatimu, Anna."


Sungguh Abi terkejut bukan main. Ia melihat foto-fotonya bersama dengan Maya. Ini semua jebakan.


"Mas, makan malamnya sudah siap. Makan dulu, yuk." Ajak Anna yang berdiri di pintu ruang kerja Abi.


Karena tak ada jawaban dari Abi. Anna menghampiri Abi.


"Mas Abi..." Panggilnya dengan suara lembut.

__ADS_1


"Dek, kenapa kamu gak cerita tentang ini sama Mas Abi?" Tanya Abi dengan menatap lekat wajah Anna.


Anna melihat amplop cokelat itu sudah terbuka. Abi sudah melihat isinya.


"Kapan paket ini sampai sama kamu, dek?" Tanya Abi.


"Semalam Mas. Waktu sebelum Mas Abi telepon Anna." Ujarnya dengan menahan tangisnya.


"Adek, kenapa gak cerita sama Mas Abi?" Tanya Abi dengan menggenggam tangan Anna.


"Dek, Mas sama sekali gak berbuat hal seperti itu. Kamu tau itu kan?" Ujar Abi dengan suara lembutnya.


"Iya, Mas. Anna tau. Biarin Anna sendiri dulu ya. Jangan dibahas dulu. Makan malamnya sudah Anna siapkan." Ucap Anna dengan melepas genggaman Abi dan beranjak pergi dari ruangan Abi.


"Dek, maafin Mas Abi." Ucapnya dengan suara serak. Ia begitu hancur. Melihat Anna menghindarinya seperti ini.


"Anna sudah maafkan. Tapi, Anna butuh waktu untuk sendiri. Maafin Anna Mas... kita harus berjarak dulu." Ujar Anna yang langsung mantap melangkahkan kakinya berlari keluar.


Ia masuk ke dalam kendaraan online yang sudah dipesannya sejak tadi. Anna pergi menjauh dari Abi.


Ia tau tindakannya kekanak-kanakan. Tapi Anna butuh ruang untuk menata kembali hatinya.


Anna butuh waktu untuk menatap kembali suaminya tanpa terlintas gambaran foto-foto tersebut. Hatinya teririsi, hancur berkeping. Sakit sekali melihat foto-foto itu.


Abi tak tinggal diam. Dia melacak keberadaan Anna. Abi melihat GPS itu mengarah ke stasiun kereta.


Abi melacak dari kalung yang ia berikan kepada Anna ketika di Turki. Melihat beberapa kejadian yang dapat melukai Anna. Abi mulai sering mengontrol keberadaan Anna.


Abi tak mengejar Anna. Karena ia tau, Anna butuh ruang untuk menata hatinya kembali. Abi tau, Anna pasti kembali kepadanya.


*****


Yogyakarta


Seminggu kemudian


Anna masuk ke kamar hotel dan merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Setelah istirahat, Anna keluar untuk berjalan-jalan menghirup udara segar Yogya.


Entah mengapa, Anna suka sekali kota ini. Kota yang selalu menarik dikunjungi. Kota yang membuatnya merasa nyaman.


Anna melipir bersinggah di sebuah kedai tempat makan. Ia merasa cacing diperutnya akan meronta keluar jika tak diberi makan.


Anna makan dengan lahap. Ketika melihat menu gudeg dengan krecek, seketika air matanya mengalir.


"Mas Abi... Anna rindu..." Suara isak tangisnya di dengar oleh seorang berpakaian serba hitam.


Selesai makan, Anna ingin kembali ke hotel. Namun, ia menelusuri jalan yang lumayan agak gelap.


Hatinya mulai tak tenang, saat ia memutar badannya sudah ada 3 orang yang menghadang Anna.


Anna di tarik paksa oleh orang-orang tersebut. Anna meminta tolong, kepada siapapun yang dengar, tapi ada pergerakan pertolongan.


"LEPASKAN ISTRIKU !!!" Teriak Abi dengan lantang dan geram.


Tak tinggal diam, Abi meleparkan tinjunya kepada laki-laki yang sedang menggenggam lengan Anna hingga jatuh tersungkur.


Baku hantam malam itu begitu sengit. Pengawal Abi berdatangan dan segera meringkus orang-orang itu.


*****


Flashback on


Mereka adalah suruhan Maya yang ingin mencelakai Anna. Abi tak diam begitu saja ketika mengetahui keberadaan Anna.


Ia mengirim pengawalnya untuk menjaga Anna dari jarak jauh saja. Setelahnya, Abi berangkat ke Yogya dengan pesawat.


Laki-laki yang berpakaian serba hitam duduk tak jauh dari Anna adalah Abi. Abi mendengar semua isak tangis Anna yang bahkan membuat Abi meneteskan air mata pula.


Abi mengikuti Anna dari belakang ketika pulang dari kedai makan. Namun, ia kehilangan jejak Anna karena mengecek ponselnya yang ada pesan dari Eros.


Yang memberi tau bahwa Anna dalam bahaya. Reno mengabarkan kepada Eros bahwa Maya akan menculik Anna. Abi sangat terkejut.


Ia segera menghubungi semua pengawalnya yang berada di Yogya untuk mencari Anna. Abi terus menelusuri jalan yang tadi Anna lewati. Ia mengecek lokasi Anna melalui GPS di ponselnya.


Hingga Abi menemukan Anna di gang kecil yang sedang meronta dari genggaman 3 orang laki-laki berbadan besar. Ketika melihatnya, Abi langsung melayangkan tinjunya.


Flashback off


Abi menggendong Anna yang shock dan sempat hilang kesadaran. Ia membawa ke hotel yang sudah dipesannya.


Abi membaringkan Anna di tempat tidur. Ia tidur sambil memeluk Anna. Malam menjelang, Anna terbangun dan melihat suaminya berada di sampingnya.


Anna menatap lekat Abi. Laki-laki yang sedang berjuang untuknya. Laki-laki yang rela mengalah demi keegoisannya. Pecah sudah tangis Anna.


"Dek..." Panggil Abi dengan mengelus lembut rambut Anna.


"Mm... hiks... hiks..."


"Aku mencintaimu..." Ujar Abi yang mencium puncak kepala Anna.


Anna beringsut memeluk erat Abi. Abi kembali memeluk erat Anna. Jauh lebih erat.

__ADS_1


*****


__ADS_2